
“Baru saja Ayah membahas dia beberapa menit yang lalu. Sekarang orangnya malah muncul. Males ah!” Ucap Zara didalam hatinya.
“Kelihatan dari wajahnya, Zara pasti BT karna Bang Arfa datang.” Ucap Nayla dalam hatinya sambil memperhatikan Zara.
“Disini rupanya.” Ucap Arfa.
Zara dan Nayla menoleh secara bersamaan.
“Disini rupanya jodohku.” Ucap Arfa lagi.
Zara langsung memalingkan wajahnya. Ia menunduk lalu mengaduk-aduk kopi yang ada dihadapannya.
“Wah, Zara sedang minum kopi. Akan aku temani.” Ucap Arfa. Ia terus saja berbicara meskipun Zara acuh tak acuh padanya.
“Ngapain sih? Gak perlu.” Ucap Zara.
Arfa juga acuh tak acuh, ia tetap saja pergi membeli kopinya sendiri.
Walaupun Arfa begitu tergila-gila pada Zara, ia tetap sopan padanya. Ia tak pernah sekalipun duduk disebelah Zara. Setiap kali ia datang, dia pasti akan duduk disebelah Nayla.
Sebelum Arfa kembali, Zara buru-buru menghabiskan kopinya.
“Pelan-pelan, Ra. Masih panas tuh.” Ucap Nayla khawatir.
“Nggak, udah nggak panas koq.” Sahut Zara.
Arfa kembali lalu duduk disebelah Nayla.
Dilihatnya Nayla sudah menghabiskan sarapannya dan Zara juga sudah menghabiskan kopinya.
“Selamat menikmati kopinya, Presdir. Kami mau pergi ke kelas. Haha.” Ucap Nayla sambil tertawa kecil.
Arfa tampak kecewa.
Zara jadi tidak tega. Bagaimanapun Arfa sebenarnya orang yang baik.
“Hmm.. Presdir seperti Bang Arfa ini, apa sangat senggang? Pagi-pagi begini bukannya pergi ke kantor malah minum kopi di kantin kampus. Mana bikin geger ciwi-ciwi disini.” Ucap Zara sambil memainkan gawainya.
Tiba-tiba Arfa tersenyum lebar karena Zara mau mengajak ia berbicara.
Ia menyeruput kopinya terlebih dahulu baru kemudian menjawab Zara.
“Jawab Nona. Saya memang ada banyak kerjaan di kantor. Tapi demi Nona, saya bisa menundanya.” Ucap Arfa.
Nayla cekikikan mendengar gaya bicara Arfa.
“Kenapa selalu panggil Nona?” Tanya Nayla.
“Tidak apa-apa. Nanti setelah menikah aku pasti akan mengganti panggilannya menjadi istriku atau sayangku.”
“Heh, mulai halu.” Ucap Zara. “Kami pergi duluan.” Lanjutnya lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Baiklah, lain kali aku akan datang menemui kalian lagi.”
“Tidak ada lain kali.” Sahut Zara.
Arfa tersenyum. Ia bahagia karena pagi ini sudah bertemu dengan Zara walaupun hanya beberapa menit.
__ADS_1
Setelah Zara dan Nayla pergi, ia menghabiskan kopinya lalu pergi.
Disana masih ada banyak wanita yang memperhatikannya, tapi ia sama sekali tidak perduli.
Sesungguhnya ia adalah orang yang sangat dingin dan tegas, ia hanya akan bersikap ramah pada Zara.
Ia memperhatikan suasa kampus yang telah ia tinggalkan selama 3 tahun. Semuanya masih sama.
Arfa hanya berjarak tiga tahun dari Zara. Arfa memiliki alasannya sendiri mengapa ia mengejar Zara.
Sekarang Arfa sudah menjadi Presdir di perusahaan milik Papanya. Ia tentu digilai oleh banyak wanita, namun ia tak tergoda sedikitpun.
Ia tetap memilih Zara yang bahkan Arfa sendiri tidak pernah melihat seperti apa wajah Zara.
***
Kediaman Rizky.
Setelah selesai makan malam. Rizky dan Aura mengobrol di ruang baca.
“Bang, Bi Sumi sudah sepuh. Sepertinya sudah saatnya kita menambah ART untuk meringankan pekerjaan Bi Sumi.” Ucap Aura mengusulkan.
Setahun yang lalu ART mereka bernama Lastri berhenti karena akan menikah.
Chacha juga setelah menikah tinggal bersama suaminya dan hanya tersisa Bi Sumi, Mang Jaja dan Pak Ujang.
“Iya, akan Abang carikan ART yang baik untuk menemani Bi Sumi.” Jawab Rizky.
“Yang sudah menikah juga tidak apa-apa, Bang.” Ucap Aura lagi.
Aura melihat suaminya sedang sibuk menekan-nekan tombol dilaptopnya.
“Pasti sedang sibuk.” Gumamnya di dalam hati.
“Bang, Aura mau pergi menemui Zara. Abang lanjutkan saja pekerjaan Abang.” Ucapnya kemudian.
“Iya, sayang.” Ucap Rizky lalu tersenyum.
Baru saja Aura hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba Handphone Rizky berdering.
Mendengar nada dering Handphone Rizky, Aura kembali menoleh ke arah suaminya.
“Hallo! Assalamu’alaikum.” Ucap Rizky.
“Wa’alaikumussalam. Apa kabar saudaraku?” Ucap sahabat Rizky.
“Alhamdulillah masih dalam lindungan Allah. Kamu sendiri bagaimana, Sid?” Tanya Rizky.
“Alhamdulillah sama sepertimu.” Sahut Sidik diseberang sana. “Ky, in syaa Allah besok aku dan istriku akan berkunjung ke rumahmu.” Sambungnya.
“Ma syaa Allah, baik Sid. Aku pasti akan menantikan kedatangan kalian.”
“Baik, Ky. Aku tutup ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Sahut Rizky.
“Siapa, Bang?” Tanya Aura. Setelah Rizky meletakkan gawainya.
__ADS_1
“Sidik.” Jawab Rizky sumringah. “Besok dia akan datang berkunjung.” Lanjutnya.
“Ma syaa Allah, dengan Kak Alisya?”
“Iya. Tapi Abang tidak tau apakah Zayn dan Hulya juga akan datang.”
“Oh, begitu.” Aura manggut-manggut.
“Abang lanjutkan saja lagi pekerjaan Abang. Aura akan menemui Bi Sumi untuk membicarakan menu makanan besok. Hehe.”
“Iya, sayang.”
Kemudian Aura meninggalkan Rizky yang sedang serius mengerjakan pekerjaannya.
Aura pergi menemui Bi Sumi lalu membicarakan menu yang harus disiapkan besok untuk menyambut kedatangan Sidik dan istrinya.
Setelah itu ia melihat Zara yang sedang bercengkrama dengan Amir.
“Zara, Amir. Sedang apa kalian? Sepertinya sangat bahagia.”
“Ibu, lihat nih. Om Amir memberiku hadiah ulang tahun. Ternyata isinya boneka. Lucu banget ini, Bu.” Sahut Zara sumringah.
Ia memamerkan boneka pemberian Amir.
“Amir, Zara sudah dua puluh tahun. Kenapa masih diberi boneka? Hehe.” Tanya Aura sambil tertawa kecil.
“Zara jangan terlalu cepat dewasa ya. Agar kamu bisa terus berada disekitar kami. Karena kalau sudah dewasa pasti akan ada seseorang yang akan membawamu pergi dari sini.” Ucap Amir.
“Ah, Om Amir bisa saja bercandanya ini, Bu.”
“Hmm. Yang Om Amir katakan tidak salah.” Aura terlihat sedih. “Tidak tau berapa lama lagi kamu akan menemani kami disini.” Lanjutnya sembari mengelus pipi Zara.
“Hmm.. Om membuat Ibu sedih.” Ucap Zara dan terlihat kesal.
“Maaf, Om tidak bermaksud membuat Ibu Zara bersedih.”
“Aku tau bagaimana caranya membuat Ibu tidak sedih lagi.” Ucap Zara yang tiba-tiba bersemangat.
“Bagaimana?” Tanya Amir menanti-nanti.
“Om harus segera menikah. Agar Ibu bisa memiliki teman. Haha.” Zara tertawa dengan keras.
“Apa?” Aura dan Amir serentak. Mereka sama kagetnya mendengar ucapan Zara.
“Om, jangan sampai aku melangkahi Om dalam berumah tangga. Hahahahaa.” Ucap Zara kemudian ia kabur. Ia berlari-lari kecil menuju kamarnya.
“Hmm.. Anak ini.” Ucap Amir.
“Yang dikatakan Zara tidak salah. Usiamu sudah hampir tiga puluh tahun.” Ucap Aura. “Kapan kamu akan mencari istri?” Tanyanya.
“Kak, aku tidak memiliki kenalan yang cocok dengan kriteriaku. Aku tidak tau harus memilih siapa.” Jawab Amir.
“Apa kamu mau Kakak yang mencarikannya?” Goda Aura.
“Ermm, itu terserah Kakak saja.” Ucap Amir malu. “Aku permisi, Kak.” Lanjutnya.
“Hahahahh. Ngeblush dia.” Aura tertawa kecil melihat Amir yang malu. “Tapi siapa yang akan aku jadikan calon Amir? Hmm.” Lanjutnya sambil berfikir.
__ADS_1