
Arfa sedang berada diruangannya. Sekretarisnya datang dan memberitahukan tentang hasil kerja sama dengan rekan bisnisnya yang baru.
“Baiklah, aku mengerti.” Ucap Arfa setelah sekretarisnya selesai menyampaikan informasi. “Jody, boleh aku bertanya satu hal?” Lanjutnya kemudian.
“Silahkan, Tuan Muda ingin bertanya tentang apa?” Jody mengira bahwa Arfa akan bertanya tentang masalah perusahaan.
“Bagaimana caranya mengejar seorang gadis?”
Jody membelalakkan kedua bola matanya.
“Maaf, Tuan. Aku tidak tau.” Jody jadi canggung.
“Hmmm, aku ingin menikahi dia. Lalu apa yang seharusnya aku lakukan?” Tanya Arfa lagi walaupun pertanyaan pertamanya tidak mendapatkan jawaban.
“Kalau itu, menurutku sebaiknya Tuan langsung saja mendatangi orang tuanya.” Jody memberi saran.
“Hah.” Arfa tiba-tiba jadi semangat bahkan langsung berdiri. “Ini saran yang bagus. Aku akan langsung pergi ke rumahnya sekarang. Siapkan mobil untukku.” Pinta Arfa sumringah.
“Baik, Tuan.” Jody merasa lega karena sarannya diterima oleh Arfa.
Jody langsung meminta supir untuk menjemput Tuan Muda Arfa didepan perusahaan.
Dalam perjalanan menuju rumah Zara, Arfa merasa berdebar. Semangat yang tadinya membara sekarang malah jadi menciut.
Arfa jadi gelisah dan serba salah.
“Selama ini Zara tidak menyukai aku, bagaimana jika kedua orang tuanya juga tidak menyukai aku?” Gumamnya didalam hati. “Tapi aku harus tetap mencoba.” Lanjutnya.
Tidak berapa lama kemudian Arfa tiba dikediaman Rizky.
Mang Jaja membukakan gerbang dan bertanya terlebih dahulu.
“Ada keperluan apa, Tuan?” Tanya Mang Jaja dengan ramah.
“Saya teman Zara. Ingin bertemu dengan orang tuanya.” Jawab Arfa.
Setelah itu Mang Jaja mempersilahkan mereka masuk dan memarkirkan mobilnya. Supir Arfa menunggu di mobil, sedangkan Arfa dengan gemetar melangkah ke pintu rumah orang tua Zara.
“Tokk.. Tokk.. Tokk…” Arfa mengetuk pintu.
“Tokk.. Tokk.. Tokk…” Arfa mengetuk pintu sekali lagi.
Tidak lama kemudian Bi Jumi membukakan pintu untuk Arfa.
“Apa orang tua Zara ada di rumah?” Tanya Arfa.
“Ada. Silahkan masuk, Tuan.” Jawab Bi Jumi.
Bi Jumi mempersilahkan Arfa masuk lalu menunggu di ruang tamu.
Kemudian Bi Jumi pergi ke balkon untuk memanggil Aura.
Arfa duduk di sofa sambil memperhatikan setiap sudut rumah Zara.
“Kamu siapa?” Tanya Aura dengan lembut.
Arfa kaget dan langsung berdiri.
__ADS_1
“Nama saya Arfa, Tante.” Jawab Arfa.
“Owh, Arfa. Silahkan duduk, Nak.” Ucap Aura.
Arfa kembali duduk, Aura juga duduk di sofa.
“Arfa ada keperluan apa?” Tanya Aura.
“Saya datang ke sini ingin…” Kalimat Arfa terputus. Tiba-tiba saja nyalinya menjadi ciut.
Arfa menelan ludah. Keringat dingin mulai mengalir. Ia menggaruk kepalanya padahal tidak merasa gatal. Jari jemari tangannya bergesekan.
“Kamu kenapa? Sedang tidak enak badan?” Tanya Aura yang merasa aneh dengan tingkah laku Arfa.
“Maaf, Tante.”
“Kenapa malah minta maaf?”
“Tante, tujuan saya datang ke sini karena ingin meminta restu dari Tante dan Om.” Ucap Arfa pelan karena gugup.
“Restu? Restu apa?” Tanya Aura yang merasa bingung.
“Saya menyukai Zara, Tante.” Akhirnya Arfa berani mengucapkan kalimat itu.
“Apa?” Aura kaget.
“Maaf jika saya lancang, Tante. Tapi sudah sejak lama saya menyukai Zara.” Arfa berbicara dengan tulus.
“Nak Arfa. Seharusnya Tante yang meminta maaf padamu. Karena Tante dan Om tidak bisa memberi restu.” Ucap Aura.
“Kenapa, Tante? Apakah saya tidak cukup baik buat putri semata wayang Tante?”
“Apa?” Hati Arfa hancur. Cinta yang ia kejar selama ini ternyata sudah menjadi milik orang lain. “Ta-tante serius?” Tanya Arfa gugup.
“Benar. Untuk apa Tante berbohong.”
“Kalau begitu aku permisi, Tanye. Maaf karena sudah mengganggu Tante.” Ucap Arfa lalu berlari-lari kecil menuju pintu utama.
Aura sampai heran melihatnya.
Arfa memasuki mobil lalu menutup wajahnya yang sudah basah karena air matanya tak bisa ia tahan.
“Kenapa aku bisa begitu terlambat?” Ucapnya kesal.
“Tuan, Anda kenapa menangis? Apa perlu saya turun tangan pada keluarga ini?” Tanya supir Arfa.
“Tidak, aku menangis bukan karena mereka memperlakukan aku dengan buruk. Aku hanya sedang sakit hati. Ayo pulang ke rumah. Aku tidak ada mood mau kembali ke perusahaan.”
“Baik, Tuan.”
Arfa mencoba untuk menenangkan dirinya lalu menghapus air matanya.
Sesampainya di rumah, ia pergi menemui Mamanya.
“Mama, Mama..” Arfa mencari sosok Ibunya.
“Ada apa sayang?” Ibu Arfa sedang menuruni anak tangga.
__ADS_1
“Mama.” Mata Arfa kembali berkaca-kaca.
Indah memandangi wajah putranya yang terlihat sembab.
“Kamu menangis? Kenapa?” Indah menjadi khawatir.
“Ma, wanita yang aku cintai itu sudah menikah dengan pria lain. Hatiku hancur, Ma.” Arfa to the point lalu memeluk Ibunya.
Indah tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengelus punggung putranya agar bisa merasa lebih tenang.
“Ma, aku…” Kalimat Arfa terputus.
“Sabar sayang. Di dunia ini, tidak semua hal bisa kita dapatkan.”
“Tapi bagiku ini tidak adil. Dia sangat tau bahwa aku menginginkannya, kenapa dia malah memilih pria lain?”
Braakkk!!! Arfa memikul meja.
Indah kaget.
“Ma, maafkan aku. Aku mau menenangkan diriku di kamar. Aku harap Mama tidak menggangguku.”
“Iya, Nak.” Indah mengangguk.
Arfa berlalu pergi meninggalkan Indah.
“Jika di dunia ini kita bisa mendapatkan apapun yang kita minta. Maka Mama pasti akan meminta agar saudaramu ada disini bersama kita.” Tanpa sadar air matanya menetes.
***
Satu minggu berlalu begitu cepat. Amir kembali ke kota M dan langsung menemui Rizky di hotel.
“Assalamu’alaikum, Bang.” Amir masuk ke dalam ruangan Rizky.
“Wa’alaikumussalam, Amir.” Rizky menghampiri Amir lalu memeluknya. “Kapan tiba di kota M?” Tanyanya.
“Baru saja. Dari bandara aku langsung menuju ke sini. Tetapi barang-barangku sudah di bawa pulang oleh Pak Ujang.” Jawab Amir.
“Owh, istirahatlah dulu. Aku akan meminta staff mengantarkan minuman untuk kita.” Ucap Rizky.
“Baik, Bang.” Sahut Amir lalu duduk di sofa.
Rizky menelepon Supervisor Cleaning Service dan meminta seseorang untuk mengantarkan minuman untuk mereka berdua.
“Bang, selama satu minggu ini Abang tidak pernah menghubungi aku. Apakah tidak ada hal aneh yang dilakukan oleh Arumi?” Tanya Amir.
Tanpa basa basi ia langsung menanyakan tentang Arumi. Memang itulah tujuannya kenapa ia ingin secepatnya menjumpai Rizky.
“Ada, pengawal rahasia yang Abang tugaskan untuk memata-matai Arumi pernah melapor pada Abang satu kali.” Rizky menceritakan apa yang disampaikan oleh pengawal rahasianya satu minggu yang lalu.
“Bang, apakah tujuannya menikah denganku adalah harta?”
“Kenapa kamu bisa berpikir demikian?” Rizky balik bertanya.
“Karena selama ini Arumi tidak pernah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Tetapi ia sering meminta uang dariku meskipun aku sudah memberikan uang bulanan untuknya. Aku bahkan pernah melunasi hutang-hutangya yang bernilai tujuh ratus juta.” Jawab Amir menjelaskan.
“Ma syaa Allah, sebanyak itu?” Rizky kaget.
__ADS_1
“Iya, Bang. Aku yakin tujuannya menikah denganku hanya karena ingin mendapatkan uang dariku.” Amir tertunduk lesu.