Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 11.


__ADS_3

Rizky sedang duduk di sebuah cafe tak jauh dari kantor tempat Amir berkerja.


Ia memesan secangkir kopi pada seorang pelayan. Lalu kemudian menelepon Amir.


“Assalamu’alaikum, Mir. Abang sudah tiba di cafe. Kamu bawalah dia datang kesini.”


“Wa’alaikumussalam. Baik, Bang.” Sahut Amir.


Di kantor, Amir melihat Arumi sedang merapikan meja kerjanya. Ia sendiri terlihat bingung, bagaimana caranya mengajak Arumi pergi menemui Bang Rizky.


Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju meja kerja Arumi.


“Emm, Arumi.” Sapa Amir pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Iya. Ada apa Bang Amir?” Tanya Arumi yang terlihat biasa saja.


“Itu, emm. Saya mau mengajak kamu pergi ke cafe.” Ucap Amir dengan gugup.


“Apa? Cafe? Dalam rangka apa nih?” Arumi sumringah.


“Aku ingin memperkenalkan kamu dengan Abangku.”


“Oh ya? Kenapa?” Arumi bertanya-tanya.


“Jika kamu ingin tahu. Maka ikutlah denganku.” Ucap Amir dengan tegas.


“Hmm. Baiklah, aku akan ikut.” Sahut Arumi.


Amir mengangguk lalu berjalan mendahului Arumi. Arumi mengikuti Amir dari belakang.


Setelah berjalan kurang lebih lima menit. Akhirnya Arumi dan Amir tiba di cafe.


Rizky melambaikan tangannya pada Amir, lalu Amir dan Arumi berjalan menuju meja Rizky.


“Assalamu’alaikum, Bang. Maaf, aku baru selesai kerja.” Ucap Amir sambil duduk disebelah Rizky.


“Wa’alaikumussalam, tidak masalah.” Jawab Rizky. “Jadi, ini wanita yang kamu ceritakan.” Lanjutya.


“Ceritakan?” Tanya Arumi penasaran.


“Ah, itu.” Amir terlihat malu.


“Biar Abang saja yang menjelaskan.” Rizky menengahi mereka berdua.


Amir terlihat lega.


“Jadi, sebelum kita membahas masalah yang lebih serius. Abang ingin bertanya terlebih dahulu padamu. Apa kamu siap?” Tanya Rizky pada Arumi.


Arumi yang masih tidak mengerti hanya bisa menganggukkan kepalanya perlahan.


“Apakah kamu sudah memiliki calon suami?”


“Hah?” Arumi tampak sangat kaget.


“Be-belum sih.” Jawab Arumi gugup.


“Alhamdulillah.” Ucap Rizky. “Hari ini, tujuanku mengundang kamu ke sini bersama Amir adalah untuk bertanya, apakah kamu bersedia menjadi istri Amir?”


“Hah? Maksudnya melamar?” Tanya Rumi.

__ADS_1


“Iya.” Sahut Amir mendahului Rizky.


Arumi menundukkan kepalanya dan terlihat seperti galau memikirkan sesuatu.


Rizky dan Amir saling bertatapan. Isi pikiran mereka berdua sama. Mungkinkah Arumi ingin menolak tapi merasa tidak enak?


“Jika kamu keberatan…”


“Tidak, bukan itu.” Arumi langsung memotong kalimat Amir.


“Lalu kenapa kamu terlihat gundah?” Tanya Amir dengan lembut.


“Aku punya syarat, tidak tau apakah kamu bersedia atau tidak.” Jawab Arumi pelan.


“Apa syaratnya? Katakan saja.” Pinta Amir.


Arumi diam, ia seperti sedang menyusun sebuah kalimat didalam benaknya.


“Aku memiliki seorang Kakak. Jika aku melangkahinya menikah, maka kamu harus memberikan apapun yang ia minta sebagai kompensasi.” Jawab Arumi sembari menundukkan kepalanya.


“Oh, hanya itu. Bukan masalah besar.” Jawab Amir. “Jika aku mampu, aku pasti akan memberikan apapun yang ia inginkan.” Lanjutnya.


“Alhamdulillah, aku senang mendengarnya.” Arumi sumringah.


“Baiklah, hari sudah mau maghrib.” Ucap Rizky. “Sebaiknya kita pulang. Lain kali jika ada kesempatan kami pasti akan menemui Kakakmu.” Sambungnya.


“Baik, terima kasih.” Sahut Arumi.


“Kami akan mengantarkan kamu pulang.” Ucap Amir.


“Ah, tidak perlu. Aku bisa naik taxi. Nanti keburu maghrib.” Ucap Arumi menolak dengan sopan tawaran Amir.


Amir mengantar Arumi ke depan cafe dan mencarikan taxi untuknya. Sementara Rizky menunggu Amir didalam mobilnya.


“Arumi gadis yang sangat sopan dan lemah lembut. Mengingatkan aku pada Aura. In syaa Allah Amir tidak salah dalam memilih pasangannya. Dan aku yakin Arumi dan Aura pasti akan menjadi Kakak Adik yang akur.” Ucap Rizky pada diri sendiri sambil mengawasi Amir dan Arumi.


Tidak lama kemudian Amir masuk ke dalam mobil Rizky. Mereka berdua langsung pulang ke rumah dengan perasaan lega dan bahahagia.


Di rumah Arumi.


“Assalamu’alaikum, aku pulang.” Ucap Arumi begitu ia masuk.


Tidak ada seorangpun yang menjawab salamnya.


“Sepertinya Kak Arin tidak ada dirumah.” Gumamnya.


“Ntah bagaimana reaksi Kak Arin nanti saat ia mengetahui bahwa aku akan melangkahinya menikah. Semoga Kak Arin Ridho ya Allah. Aamiin.”


Arumi pergi mandi lalu lanjut sholat maghrib. Setelah itu ia lanjut tilawah.


Setelah tilawah beberapa halaman, ia mendengar suara pintu terbuka. Arumi pun menyudahi tilawahnya lalu pergi menemui Arin.


Dilihatnya Arin duduk di depan tv sambil memegang kepalanya.


“Kakak kenapa? Pusing?” Tanya Arumi.


“Tidak ada. Hanya memikirkan sesuatu.” Jawab Arin.


“Oh, begitu.”

__ADS_1


Lalu Arumi diam. Ia sedang menyusun kalimat untuk menyampaikan berita bahagia ini pada Kakaknya.


“Kak.”


“Iya.”


“Jika aku menikah lebih cepat darimu, bagaimana?” Tanya Arumi pelan.


“Apa? Menikah?” Arin tampak sangat sangat kaget mendengar kata menikah ini.


“I-iya, Kak.” Jawab Arumi gugup.


“Menikah dengan siapa?” Tanya Arin antusias.


“Dengan Amir.”


“Amir? Siapa pria itu?”


“Dia rekan kerja aku di kantor, Kak.”


“Lalu bagaimana latar belakang keluarganya?”


“Dia adik Tuan Muda Rizky.”


“Tuan Muda Rizky? Yang punya bisnis hotel bintang lima itu?” Arin membelalakkan kedua bola matanya.


“Iya, benar. Kakak mengenalnya?”


“Tidak kenal, tapi dia cukup terkenal. Seban itu Kakak familiar dengan namanya.” Jawab Arin.


“Beruntung sekali Arumi akan menjadi bagian dari keluarga Tuan Muda Rizky. Aku sangat iri.” Gumam Arin di dalam hati.


“Lalu, apakah setelah menikah nanti kamu tidak akan kerja lagi?” Tanya Arin.


“Aku belum membahas hal ini dengan Amir.” Jawab Arumi.


“Baiklah, aku merestui kalian berdua.” Ucap Arin sembari mengelus kepala adiknya. “Setelah kedua orang tua kita tiada, aku adalah tempatmu bersandar. Sekarang sepertinya posisiku akan segera digantikan.” Lanjutnya.


“Kakak, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Kakak.” Ucap Arumi lalu memeluk Arin.


“Kak, apakah tidak ada pria yang Kakak sukai, mungkin kita bisa menikah bersamaan.” Ucap Arumi tiba-tiba.


“Plak.” Arin menyentil dahi Arumi. “Apa kamu kira menikah itu semudah memilih baju di butik?”


“Ahehee, tentu saja tidak.” Jawab Arumi. “Aku hanya sedang berfikir, mungkin saja ada seseorang yang Kakak sukai dalam diam, seperti aku sebelumnya.” Lanjutnya.


“Maksudmu? Kamu sudah lama menyukai Amir?” Arin sedikit kaget mendengar omongan Arumi.


“Iya, Kak. Ntah sejak kapan aku mulai menyukainya. Dia seorang pria yg baik, sholeh, dia bahkan tidak pernah menatap genit rekan kerjanya yang wanita. Tidak seperti kebanyakan pria diluar sana.” Jawab Arumi serius. “Jadi, aku sering mendo’akannya diam-diam, hehe. Alhamdulillah Allah mengabulkan Do’aku itu.” Lanjutnya sumringah.


“Ma syaa Allah, adikku ini pintar sekali menyimpan rahasia.” Ucap Arin sambil menyubit pipi Arumi berkali-kali.


“Aduuh duh. Sakit, Kak.” Ucap Arumi dengan manja.


“Tau sakit. Lalu mengapa tidak pernah menceritakannya pada Kakak? Apa kamu takut Kakak akan merebutnya darimu?”


“Tentu saja tidak. Kakak adalah orang yang paling baik. Tidak mungkin melakukan hal itu.” Ucap Arumi lalu tersenyum lebar.


Arin dan Arumi saling bertatapan mata, saling melempar senyum lalu berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2