
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Thank you. *Hug.
Happy Reading.... 💕
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perutku rasanya tidak enak banget, sepertinya aku masih mual karena makan hati ayam yang sangat amis tadi.
Aduh, apa yang harus aku makan agar mualnya hilang?
Ttokk... Ttokk... Ttokk... Suara pintu kamarku di gedor.
"Masuk saja, tidak di kunci." ucapku sambil meremas-remas perutku yang rasanya tidak karuan.
Bi Sumi masuk dan langsung menghampiri aku.
"Nyonya Muda sakit perut?" tanya Bi Sumi begitu menyadari aku terus-menerus memegang perutku.
"Iya, Bi. Sepertinya saya masih mual karena hati ayam itu." jawabku pelan.
"Oh, sini Bibi oleskan minyak kayu putih." ucap Bi Sumi.
"Jangan, Bi. Nanti saya sendiri saja yg oleskan." bantahku dengan lembut karena segan jika Bi Sumi yang mengoleskan minyak kayu putih untukku.
"Kalau begitu biar Bibi oleskan di bagian punggungnya saja." ucap Bi Sumi.
"Baik, Bi. Terima kasih banyak ya, Bi." aku merasa tidak enak jika menolak lagi.
"Iya, sama-sama Nyonya Muda." jawab Bi Sumi.
Bi Sumi membuka resleting bajuku dan mengoleskan minyak kayu putih dengan lembut. Semoga setelah ini, angin di dalam tubuhku bisa berkurang atau bahkan pergi.
"Nyonya Muda, sebelumnya Bibi minta maaf jika Bibi salah." ucap Bi Sumi tiba-tiba.
"Salah apa, Bi?" tanyaku masih tidak mengerti.
"Ini Bibi belikan test pack untuk Nyonya Muda. Besok pagi begitu bangun tidur, Nyonya Muda langsung buat tes urin ya. Ini sudah Bibi bawakan sekalian tempat menampungnya." jawab Bibi menjelaskan maksudnya menemuiku.
"Tes urin? Saya hamil, Bi?" tanyaku sumringah. Meskipun aku belum tau positif atau negatif, tapi ucapan Bi Sumi ini mampu membuatku merasakan bahagia yang teramat sangat.
"Wallau a'lam bishawab. Kalau menurut Bibi kemungkinan besar saat ini Nyonya Muda sedang hamil. Karena Nyonya Muda sering sakit pinggang dan mulai cium bau yang aneh-aneh. Tapi biarpun begitu, besok pagi setelah tes urin, kita baru tau jawaban yang sebenarnya, Nyonya Muda." jawab Bi Sumi sumringah.
"In syaa Allah akan saya lakukan tes urin. Terima kasih banyak ya, Bi. Semoga hasilnya positif." aku benar-benar bahagia. Semoga memang beneran sudah ada malaikat kecil di dalam rahimku.
"Aamiin ya Allah." ucap Bi Sumi. "Bibi permisi mau turun ke bawah ya, Nyonya Muda. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk memanggil Bibi." lanjutnya.
"Baik, Bi. Sekali lagi terima kasih." ucapku.
"Aaaaaaaaahhhhhh... Alhamdulillah ya Allah..." Happy out of control.
Rasanya ingin segera memberitahukan hal ini pada Bang Rizky. Tapi aku masih harus sabar menunggu hingga besok pagi.
Aku memasukkan test pack ke dalam laci agar Bang Rizky tidak melihatnya. Jika aku hamil, ini adalah hadiah terindah dari Allah untuk kami.
Aku coba mengingat-ingat kapan terakhir kali aku datang bulan.
Terakhir aku datang bulan adalah awal bulan lalu, sedangkan bulan ini sudah mau habis. Itu artinya sudah hampir dua bulan aku belum mens lagi.
***
Pagi hari aku bangun lebih dulu dari pada Bang Rizky, bahkan adzan subuh belum berkumandang.
Malam ini tidurku tidak nyenyak seperti malam-malam sebelumnya. Itu karena aku merasa tidak sabar untuk segera melakukan tes urin.
Pelan-pelan aku beranjak dari tempat tidur agar tidak membangunkan Bang Rizky yang masih tertidur pulas.
Aku ambil test pack dan tempat menampungnya dari dalam laci. Lalu aku segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah aku tampung, aku terus memperhatikan hingga muncul garis seperti yang ada di gambar bungkus test pack. Satu garis berwarna merah sudah muncul, jantungku berdebar tak karuan menunggu satu garis lagi menyusul.
Dan Aaaaaaaaaaa positf. Aku kegirangan di dalam kamar mandi.
Aku segera keluar, aku lihat Bang Rizky sudah bangun dan duduk di atas katil. Aku berlari dan langsung memeluk tubuhnya.
"Ada apa Aura sayang? Pagi ini kelihatannya sangat bahagia." tanya Bang Rizky.
"Alhamdulillah, Bang. Hehe." aku sangat bahagia hingga tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi.
"Alhamdulillah apa?" tanya Bang Rizky lagi.
Aku terus saja tertawa bahagia.
"Ada apa sih? Bikin Abang penasaran saja." Bang Rizky mengerutkan dahinya karena merasa aneh melihat tingkahku.
"Hehehehee. Alhamdulillah Aura positif hamil, Bang." ucapku sumringah.
"Sungguh?" tanya Bang Rizky kaget dan membelalakkan kedua bola matanya. Dia juga menggenggam erat kedua tanganku.
"Iya." jawabku dan tersenyum padanya.
Bang Rizky memelukku, lalu ia mengangkat tubuhku dan berputar-putar karena merasa sangat bahagia atas kabar yang barusan aku sampaikan.
"Alhamdulillah. Muahh." Bang Rizky mengecup kening dan pipiku berkali-kali.
Aku tidak pernah menyangka bahwa garis dua mampu membuat kami merasakan bahagia yang sangat luar bisa seperti sekarang ini.
Adzan subuh berkumandang, aku dan Bang Rizky melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Setelah selesai sholat, kami turun ke bawah. Kami akan memberitahu Ummi bahwa aku sedang hamil.
"Ummi, Alhamdulillah Rizky akan segera menjadi Abi." ucap Bang Rizky sumringah.
"Alhamdulillah." Ummi langsung memeluk Bang Rizky. Ummi sangat bahagia saat tau bahwa aku sedang hamil. Ummi juga memelukku dan mencium keningku.
"Jaga diri baik-baik ya. Kalau kepingin makan sesuatu jangan sungkan-sungkan untuk memintanya pada Ummi. Kalau ada apa-apa juga jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan Ummi." ucap Ummi padaku dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"In syaa Allah. Aura tidak akan sungkan, Mi." jawabku.
Hari ini Bang Rizky tidak pergi bekerja karena akan mengantarkan aku pergi ke dokter kandungan.
Sesampainya di rumah sakit, kami langsung masuk ke dalam ruangan dokter untuk memeriksa keadaan janinku.
Dokter bertanya padaku kapan terakhir kali aku mens untuk menghitung umur janin yang ada di dalam rahimku.
"Kandungannya sudah berusia 7 minggu ya Pak, Bu." ucap dokter Lira padaku dan pada Bang Rizky.
"Alhamdulillah." ucapku.
"Ibu ada keluhan apa saja?" tanya dokter.
"Saya sering sakit pinggang, Dok." jawabku.
"Oh, itu hal biasa. Semua Ibu hamil pasti akan merasakan sakit pinggang. Karena tadinya tulang Ibu bengkok dan ketika hamil tulang pingang lama-kelamaan akan menjadi tegak untuk memberi ruang saat janin semakin membesar. Nanti saat sudah samapi 7 bulan pasti akan lebih sakit lagi." Dokter Lira memberi penjelasan padaku.
"Oh, begitu. Apa ada obat untuk mengurangi rasa sakitnya, Dok?" tanya Bang Rizky.
"Tidak ada, Bapak. Lagi pula Ibu hamil tidak boleh sembarangan minum obat. Nanti bisa berpengaruh pada janinnya."
Aku dan Bang Rizky mengangguk tanda mengerti.
"Apa ada keluhan yang lainnya?" tanya Dokter Lira lagi.
"Tidak ada, Dok." jawabku.
Setelah bertemu dengan Dokter Lira baru aku mengerti mengapa rasa sakit pinggang ini berbeda dari biasanya.
Rasa sakit yang bercampur dengan rasa ngilu. Aku yakin aku pasti kuat melewatinya demi bertemu dengan malaikat kecilku.
Setelah menebus Vitamin untukku, aku dan Bang Rizky segera pulang.
"Aura sudah ngidam?" tanya Bang Rizky yang sedang menyetir mobil.
"Sepertinya belum, Bang. Aura masih belum kepingin makan sesuatu." jawabku.
"Oh, kalau Aura ingin makan sesuatu langsung bilang sama Abang, ya. Pasti akan langsung Abang belikan." pintanya.
"Baik, Bang. Tanpa Abang minta juga pasti akan Aura bilang kalau Aura ingin makan sesuatu." sahutku lalu tersenyum padanya.
"Sebelum kita pulang ke rumah, kalau Abang bawa Aura jalan-jalan, mau tidak?" tanya Bang Rizky.
"Mau." jawabku dengan semangat.
"Haha." Bang Rizky tertawa kecil melihat ekspresiku.
Bang Rizky membawaku pergi ke sebuah tempat yang belum pernah aku kunjungi.
Setelah dua jam perjalanan akhirnya kami sampai.
"Aura tidak salah lihat jam, kan? Dua jam perjalanan baru sampai di sini." aku kaget. Aku tidak sadar sama sekali karena tadi aku sempat tertidur diperjalanan.
"Iya, tidak salah." jawab Bang Rizky.
"Tidak apa-apa. Abang sudah lama tidak ke sini, tiba-tiba kepingin. Makanya Abang bawa Aura ke sini." Jawab Bang Rizky.
"Owh." jawabku singkat. Lalu aku memperhatikan sekeliling.
"Tempatnya bagus, kan?" tanya Bang Rizky.
"Iya. Bagus banget." jawabku.
"Ayo kita duduk-duduk di Gazebo. Nanti Aura lelah kalau berdiri terus." ajak Bang Rizky.
"Iya." sahutku.
Ma syaa Allah, Gazebonya bagus banget. Dihiasi kain transparan berwarna putih dan di kelilingi tumbuhan yang berwarna hijau. Kedua netraku terasa sangat sejuk memandangnya.
"Gazebonya cantik." ucapku.
"Iya, tapi lebih cantik Bidadarinya Abang." sahut Bang Rizky.
"Hahahah." aku hanya balas dengan tawa.
"Aura duduk di sini sendiri dulu ya." ucapnya.
"Abang mau ke mana?" tanyaku.
"Abang mau pergi beli minum sebentar." jawabnya.
"Oh, baiklah. Tapi jangan lama-lama, ya." ucapku.
"Siap laksanakan, Ibu Negara." sahut Bang Rizky lalu memberikan hormat padaku.
"Hahaha." aku hanya membalasnya dengan tawa.
Kemudian Bang Rizky beranjak dari tempat duduknya.
"Aura mau minum apa?"
"Erm.. Aura mau jus alpukat saja. Setau Aura jus alpukat bagus untuk Ibu hamil. Bagus juga untuk menguatkan janin." jawabku.
"Ok, Abang tinggal sebentar, ya."
"Iya." sahutku. Bang Rizky pun pergi membeli jus.
Tadi pagi aku belum sempat memberitahu Ibu kalau aku hamil. Mumpung sekarang ada waktu, sebaiknya aku langsung menelepon Ibu. Fikirku.
Ttuut.. Ttuut.. Ttuut.. Ttuut.. Panggilan tersambung.
"Assalamu'alaikum, Adik." ucap Ibu di seberang sana.
"Wa'alaikumussalam. Ibu, bagaimana kabarnya?" Tanyaku.
__ADS_1
"Alhamdulillah Ibu sehat, Adik sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah Adik juga sehat, Bu. Adik mau memberitahu Ibu sesuatu." jawabku.
"Apa itu?" tanya Ibu.
"Alhamdulillah Adik sudah positif hamil , Bu. Sudah 7 minggu." jawabku dengan bahagia.
"Alhamdulillah. Ibu senang sekali mendengarnya, Nduk." sahut Ibu.
"Iya, Bu. Terima kasih karena Ibu selalu mendo'akan Aura." ucapku lembut.
"Tidak perlu mengucapkan terima kasih, Nduk. Semua Ibu pasti akan mendo'akan anaknya tanpa di pinta dan tanpa syarat." ucap Ibu.
Aku sungguh terharu mendengar ucapan Ibu itu.
"Ma syaa Allah, Bu."
"Adik sudah periksa ke dokter?" tanya Ibu.
"Sudah tadi, Bu. Alhamdulillah kita berdua baik-baik saja." jawabku.
"Syukurlah kalau begitu."
"Iya, Bu. Sudah dulu ya, Bu. Adik sekarang di luar sama Bang Rizky." ucapku.
"Owh, ya sudah. Jaga kesehatan Adik di sana. Jangan malas-malas makan. Sekarang Adik makan bukan hanya untuk Adik saja, tapi juga untuk yang di dalam pertut Adik." Ibu menasehati aku.
"In syaa Allah, Bu. Ibu juga di jaga kesehatannya." jawabku.
"Iya. Ibu tutup ya. Assalamu'alaikum." ucap Ibu.
"Wa'alaikumussalam." sahutku.
Lalu tiba-tiba Bang Rizky muncul.
"Aura bicara dengan siapa? Barusan Abang seperti dengar suara Aura." tanya Bang Rizky lalu meletakkan dua jus di atas meja. Ia pun duduk disampingku.
"Aura barusan bicara dengan Ibu di telepon." jawabku.
"Oh, Aura bilang pada Ibu kalau sekarang sedang hamil?" tanya Bang Rizky lagi.
"Iyaaaa.. 100 persen benar. Hehe." jawabku sambil cengengesan.
Kemudian aku mengambil segelas jus alpukat yang barusan dibawakan Bang Rizky.
"Yang Abang minum jus apa, Bang?" tanyaku setelah selesai minum beberapa teguk.
"Ini just for you, haha." jawab Bang Rizky sambil tertawa.
"Iiihh, Aura serius nanya." ucapku kesal.
"Maaf, Abang cuma becanda. Ini jus bayam tomat jeruk." jawabnya.
"Hah? Bisa gitu?" tentu saja aku heran. Baru kali ini aku mendengar ada jus bayam, apa lagi di mix sampai 3 jenis.
"Bisa donk. Abang juga sudah biasa buat ini di kitchen hotel." jawab Bang Rizky dengan santai.
"Oh, Aura baru tau. Hahaha, ketinggalan zaman." aku tertawa karena kaerena malu.
"Hahaha. In syaa Allah kapan-kapan Abang buatkan di rumah." ucap Bang Rizky.
"Ok boss." sahutku.
Setelah selesai menikmati pemandangan dan menghabiskan jus masing-masing. Kami berdua memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Bang, kalau nanti Aura ketiduran lagi, bagaimana?" tanyaku dengan lembut.
"Tidur saja, tidak masalah." jawab Bang Rizky yang sedang fokus mengemudi.
"Abang tidak bosan sendirian?" tanyaku lagi.
"Bosan sih, tapi bukan berarti Abang harus melarang istri tercinta Abang untuk tidur." jawabnya dengan lembut.
"Aura sudah mulai ngantuk." ucapku pelan.
"Silahkan tidur my queen."
"Hehe, terima kasih my king." sahutku.
Kemudian aku pejamkan kedua mataku dan perlahan-lahan mulai terlelap.
Saat aku terbangun, mobil kami sudah masuk ke dalam pekarangan rumah.
"Pas banget, Aura bangun saat kita sudah sampai rumah." ucap Bang Rizky ketika melihat sepasang mataku sudah terbuka.
"Iya." jawabku pelan. Aku masih merasa lemas karena baru bangun tidur.
"Ayo Abang bantu turun." ucap Bang Rizky.
Kemudian Bang Rizky membukakan pintu mobil untukku dan memapahku masuk ke dalam rumah.
"Dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Ummi begitu kami masuk.
"Tadi Rizky bawa Aura jalan-jalan. Maaf jika sudah membuat Ummi khawatir." jawab Bang Rizky.
"Oh, tidak apa-apa. Sekarang ajak Aura istirahat di kamar. Wanita yang sedang hamil muda harus banyak-banyak istirahat." ucap Ummi.
"Baik, Mi." jawab Bang Rizky.
Lalu kami berdua naik ke atas dan langsung masuk ke dalam kamar.
Betapa beruntungnya aku sebagai seorang istri dan menantu. Saat aku hamil, suami dan mertuaku memberikan perhatian mereka lebih banyak dari pada sebelumnya.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau telah memberikan Aura keluarga yang luar biasa baik.
"Nak, Umma sangat bersyukur karena sekarang kamu sudah hadir dalam hidup Umma. Semoga kita berdua selalu dalam lindungan Allah, agar kita juga bisa bertemu di dunia. Aamiin yamujibas saailiin." ucapku sambil mengelus-elus perutku dengan lembut.
__ADS_1