Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 28


__ADS_3

“Bang Zayn. Aku tidak mengerti dengan apa yang Abang katakan.” Ucap Zara lalu memalingkan wajahnya.


“Humm, kura-kura dalam perahu.” Ucap Zayn datar.


“Iya, iya. Memang ada.” Zara mengaku. “Tapi aku tidak peduli dengannya.” Lanjutnya.


“Lalu, apa menurutmu aku peduli pada Dokter Nana?”


“Tidak juga.” Jawab Zara. “Bang Zayn, bagaimana Abang bisa tahu tentang Bang Arfa?”


“Paman yang memberitahuku.”


“Oh, aku kira Abang mengenalnya.”


“Memangnya ada apa? Apa dia bermasalah?” Zayn mencari tahu.


“Dia itu aneh. Dia terus saja menggangguku, dia bilang aku pernah menolongnya sewaktu kecil. Padahal tidak ada, aku sama sekali tidak ingat tentang dirinya.” Zara berbicara panjang lebar.


Zayn mendekati Zara lalu menyentuh dahinya.


“Panasnya sudah turun. Pantas saja bicaramu begitu lancar.” Ucap Zayn.


“Hmmm.” Zara menghela nafas lalu memutar bola matanya. “Bang Zayn, terima kasih banyak karena tadi sudah menolongku sekaligus membelaku.” Ucapnya.


“Sama-sama.” Jawab Zayn. “Tentang Presdir bernama Arfa itu, aku akan membantumu jika kamu membutuhkan bantuanku.” Lanjutnya.


“Iya.”


“Sekarang kamu istirahatlah. Aku masih harus memeriksa pasian di ruangan lain.”


“Iya.” Sahut Zara singkat.


Setelah itu Zayn meninggalkan Zara sendirian di ruangannya.


Nana sedari tadi terus memperhatikan ruangan Zayn. Begitu dia melihat Zayn keluar dari ruangannya. Dia bergegas ingin menyerang Zara.


“Kreakk..” Pintu terbuka.


“Apa ada yang tertinggal?” Tanya Zara sembari menoleh.


Zara membelalakkan kedua bola matanya karena yang datang bukanlah Zayn.


“Kamu..” Ucap Zara.


“Iya, aku.” Sahut Nana tidak senang. “Aku ingin tau siapa namamu? Bagaimana kamu bisa menikah dengan Zayn?” Nana bertanya dengan kasar.


Zara tidak menjawab.


“Jawab aku!!” Bentak Nana.


“Namaku Zara, Dokter.” Zara menjawab karena dia malas berdebat. “Aku dan Bang Zayn dijodohkan oleh orang tua kami.” Lanjutnya.


“Hahahahaa, ternyata dijodohkan.” Nana merasa puas. “Itu artinya kamu sama seperti aku, tidak mendapatkan cinta dari Zayn. Hahaha.” Nana bahagia karena ternyata hati Zayn belum dimiliki siapapun.

__ADS_1


“Belum mendapatkan cinta, bukan tidak mendapatkan.” Zara mengoreksi.


Nana terdiam. Lalu menatap Zara dengan tajam.


“Akan aku pastikan kamu tidak memiliki kesempatan itu.” Ucap Nana sinis. “Aku yakin, hingga saat ini kamu pasti belum pernah tidur dengannya.” Nana mencibir.


“Urusan ranjang adalah hal yang sensitif, tidak boleh dibicarakan dengan orang luar.” Jawab Zara.


“Heh, ternyata kamu lancang juga. Aku kira orang yang tertutup rapat sepertimu adalah orang yang polos dan lemah lembut.”


“Aku memang lemah lembut. Tapi jika diperlukan, aku bahkan bisa lebih kasar darimu.”


“Kamu berani melawanku?”


“Kenapa aku harus takut? Bahkan rumah sakit ini bukan milikmu. Jika aku mengadukan perlakuan kurang aj*rmu ini, aku yakin kamu akan di skors.” Zara mengancam. “Dan yang paling diuntungkan adalah aku. Kamu menjauh dari Bang Zayn dan juga mendapatkan reputasi yang buruk, haha.” Zara tertawa kecil.


“Iiihhhh..” Nana merasa kesal lalu pergi meninggalkannya.


Nana pergi dengan tergesa-gesa sehingga ia tidak menyadari bahwa sedari tadi Zayn mendengarkan percakapannya dan Zara.


Baberapa menit yang lalu ada seorang perawat wanita yang melihat Nana masuk ke dalam ruangan Dokter Zayn. Karena ia takut terjadi pertengkaran lagi, ia segera pergi mencari Dokter Zayn.


Setelah itu Dokter Zayn bergegas datang dan mendengarkan percakapan mereka dari luar.


“Ternyata aku yang khawatir berlebihan. Dia sendiri saja sudah bisa menghadapi Nana.” Ucap Zayn dalam hatinya.


Setelah Nana keluar dari ruangannya. Zayn pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan Zara didalam ruangannya sudah mulai mengantuk.


Sore hari setelah jam praktek Zayn berakhir. Dia pulang ke apartment bersama Zara.


“Apa kamu masih merasa tidak enak badan?” Tanya Zayn setelah mereka masuk ke dalam apartment.


“Masih merasa lemas. Aku lapar, Bang. Makanan dirumah sakit tadi tidak sanggup aku habiskan.”


“Kenapa?”


“Nafsu makanku tidak ada.”


“Emm, kalau begitu akan aku pesankan makanan online.”


“Baik. Terima kasih, Bang.” Ucap Zara.


“Sama-sama.” Sahut Zayn.


Setelah memesan makan online untuk Zara. Zayn masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan berganti baju.


Sedangkan Zara berbaring di sofa menunggu kurir mengantarkan pesanan Zayn.


***


Satu minggu sudah berlalu, Arthur menghubungi Rizky.

__ADS_1


Ponsel Rizky berdering.


“Halo.” Ucap Rizky.


“Tuan, saya sudah mendapatkan beberapa informasi mengenai wanita itu.”


“Oh. Ceritakan padaku.” Pinta Rizky.


“Setelah saya bertanya pada beberapa tetangga, mereka mengatakan bahwa disana tinggal dua saudara kembar. Si Kakak bernama Arini, Adik bernama Arumi. Mereka kembar identik. Sangat sulit dibedakan melalui bentuk tubuh, wajah bahkan suara. Yang membuat mereka bisa dibedakan adalah sifatnya dan juga gayanya. Arumi wanita yang lembut dan memakai jilbab. Sedangkan Arini free hair dan juga kasar.” Arthur bercerita panjang lebar.


“Hmm. Aku mengerti.” Ucap Rizky. “Lalu dimana saudara kembarnya?” Tanyanya kemudian.


“Kata tetangganya itu, Arumi sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Sedangkan Arini sudah satu bulan lebih tidak pernah kembali ke kontrakan. Mereka juga tidak tahu pasti ke mana Arini pergi.” Jawab Arthur.


“Baik. Terima kasih, Arthur. Jika ada informasi lainnya tolong segera beritahu aku.” Pinta Rizky.


“Baik, Tuan.” Sahut Arthur.


Setelah itu panggilan berakhir.


Rizky menghubungi nomor Amir.


“Amir, ada kabar mengenai Arumi.” Ucap Rizky setelah Amir menjawab panggilan.


“Benarkah?” Amir sumringah.


“Iya.”


Kemudian Rizky menceritakan semua yany diberi tahu oleh Arthur.


“Itu artinya aku memang sudah menikahi Arini, bukan Arumi.” Ucap Amir yang kesal.


“Abang juga berpikir demikian. Karena Kakakmu sering cerita pada Abang bahwa sikap Arumi kasar padanya dan Zara.”


“Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?”


“Maaf, kami memang merahasiakannya darimu karena kami berpikir Arumi memang bersifat kasar seperti itu. Jadi, kami memakluminya.”


“Arrgghh… Aku kesal sekali mendengarnya.” Amir mengepal tangannya. “Tapi, dimana keberadaan Arumi yang sebenarnya? Aku ingin segera menceraikan Arini dan menjemput Arumi.” Lanjutnya.


“Kamu harus sabar dulu, Mir. Jangan sampai dia mencurigai pergerakan kita.” Pinta Rizky. “Agar dia tidak mencelakai Arumi lagi.”


“Baik, Bang. Kebetulan beberapa hari ini aku akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Aku harap Abang dapat menceritakan padaku setiap gerak gerik Arini.” Ucap Amir. “Mungkin saja suatu hari nanti dia akan pergi menemui Arumi.”


“Iya. Kamu tenang saja. Abang sudah menugaskan pengawal rahasia untuk mengawasinya. Tidak lama lagi Abang bisa mengetahui kegiatannya sehari-hari diluar.”


“Baik, Bang. Terima kasih atas bantuan Abang.”


“Iya, sama-sama. Kamu harus sabar dan tetap tenang.”


“Baik, Bang.”


Setelah itu panggilan berakhir.

__ADS_1


“Huffttt.” Amir menghela nafas.


“Kenapa aku bisa terkecoh oleh Arini? Dan mengapa dia tega merebut calon suami Adiknya sendiri?”


__ADS_2