Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Flashback..


__ADS_3

Flashback…


Saat Aura melompat dari mobil, sesampainya di bawah ia langsung tak sadarkan diri karena kepalanya terbentur oleh batu yang cukup besar. Aura lalu hanyut terbawa arus sungai yang lumayan deras.


Setelah hanyut selama satu jam, ia lalu diselamatkan oleh seorang anak laki-laki bernama Amir. Amir sedang mandi sambil menemani Neneknya mencuci pakaian.


“Nek, ada mayat hanyut!!” Teriak Amir. Walaupun ia merasa takut, ia tetap memegang Aura dan membawanya ke tepi sungai.


“Opo? Mayat?” Tanya si Mbok.


“Iya, Nek. Ini, lihat.” Jawab Amir.


Si Mbok lalu memegang pergelangan tangan Aura dan merasakan denyut nadinya.


“Masih hidup iki, Le.” Ucap si Mbok.


“Iya to Mbok? Alhamdulillah. Ayo kita tolong.” Sahut Amir.


Kemudian si Mbok dan Amir berusaha memasukkan tubuh Aura ke dalam gerobak bersama cucian.


Amir yang saat itu masih berusia 10 tahun dengan sekuat tenaga menarik gerobak dan membawa Aura ke gubuk mereka yang sudah reot. Amir adalah anak yatim piatu dan dirumah itu ia hanya tinggal berdua dengan Neneknya.


Gubuk mereka sangat sederhana dan letaknya lumayan jauh dari desa. Tapi tidak terlalu jauh dari sungai. Karna itu si Mbok selalu mencuci dan mandi bersama Amir di sungai.


“Le, cepat kamu panggilkan dokter atau bu bidan.” Perintah si Mbok.


“Nggeh, Nek.” Jawab Amir lalu berlari menuju desa untuk mencari dokter yang biasa mengobati dia dan neneknya.


Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya Amir kembali bersama dengan dokter wanita. Si Mbok juga sudah selesai mengganti pakaian Aura dengan yang kering.


Dokter tersebut langsung memeriksa Aura.


Setelah memeriksa bagian kepala Aura, dia pun membalutnya.


“Sepertinya benturannya cukup keras, semoga setelah dibalut lukanya bisa segera kering.” Ucapnya.


Lalu ia Lanjut memeriksa bagian tangan, kaki dan juga perut.


“Tapi Alhamdulillah kandungannya tidak mengalami masalah apapun.” Ucapnya.


Si Mbok dan Amir hanya diam dan memperhatikan dokter Nayla memeriksa Aura.


“Ini obat yang harus ia makan nanti.” Ucap dokter Nayla sambil menyerahkan beberapa obat. “Lalu ini salep yang harus dioleskan pada bagian yang lebam.” Lanjutnya sambil menyerahkan sebuah krim pada Amir.


“Baik. Terima kasih Bu Dokter.” Ucap Amir.


“Sama-sama.” Jawabnya.

__ADS_1


Setelah si Mbok membayar biaya pengobatan Aura, Dokter Nayla pamit dan kembali ke klinik tempat ia bekerja.


Kemudian dengan sangat hati-hati si Mbok mengoleskan salep pada bagian yang lebam, tapi sebelum itu ia menyuruh Amir keluar dari kamar karna Amir harus tau batasan Aurat wanita yang tidak boleh dipandang sembarangan.


Setelah pingsan selama tiga jam, akhirnya Aura bangun.


Dipandanginya sekelilingnya. Ada dinding tepas yang terbuat dari bambu, atap yang terbuat dari daun rumbia, tempat tidur yang terbuat dari papan dan hanya beralaskan tikar, selimut yang ia kenakan juga sudah usang.


“A-aku di-ma-na.” Ucapnya terbata sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.


Saat itu si Mbok datang untuk melihatnya.


“Alhamdulillah Nduk, kamu sudah siuman.” Ucap si Mbok sumringah.


“Ne-nek si-apa?” Tanyanya terbata dan masih memegang kepalanya.


“Panggil saja si Mbok.” Jawabnya. “Kalau si Mbok boleh tau, nama kamu sopo Nduk?” Tanyanya.


“Nama?” Aura terlihat bingung. Lalu ia menggelengkan kepalanya perlahan-lahan.


“Ya sudah ndak apa-apa. Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur saja.” Pinta si Mbok lalu membetulkan selimut Aura.


Pagi hari saat Aura bangun, dokter Nayla sudah ada disebelahnya.


“Bagaimana perasaanmu?” Tanya dokter Nayla.


“Itu wajar, kepalamu mengalami benturan yang sangat keras.” Ucap Dokter Nayla. “Lalu apa kamu tidak ingat namamu?” Tanyanya lagi.


“Tidak.”


“Kalau begitu apa kamu ingat nama Ibumu?”


“Tidak.”


“Nama saudaramu?”


“Tidak.”


“Nama suamimu?”


“Suami?”


“Iya, sekarang kamu sedang mengandung hampir dua bulan.”


“Saya, tidak tau.”


“Kalau begitu dugaan saya benar, kamu lupa ingatan. Saya tidak tau sampai kapan kamu akan bisa ingat kembali semuanya. Apa lagi ini bukan kampung halamanmu, jadi kemungkinan besar kamu akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa mengingat kembali siapa dirimu dan dari mana asalmu. Hanya saja saya juga tidak bisa memprediksi berapa tahun kamu akan seperti ini.” Ucap dokter Nayla panjang lebar.

__ADS_1


Aura hanya diam mendengarkan penjelasan dokter Nayla. Wajahnya memancarkan kesedihan.


***


Aura dijaga oleh si Mbok dengan sepenuh hati. Si Mbok tidak membedakan anatara Amir dan Aura.


Setelah satu minggu berlalu akhirnya Aura bisa sembuh dan beranjak dari tempat tidur.


Hari-hari yang di lalui oleh Amir dan si Mbok adalah menanam padi dan berbagai macam sayuran disekitar gubuk mereka.


Sawah dan ladang yang mereka garap adalah milik juragan Aryo. Orang terpandang dan terkaya di desa. Bahkan tanah tempat berdirinya gubuk mereka juga tanah milik juragan Aryo.


Setiap kali panen, si Mbok harus membagi hasil panennya dengan juragan Aryo. Itu adalah imbalan yang diminta oleh juragan sendiri.


Selama Aura tinggal bersama si Mbok dan Amir, Aura ikut membantu mereka menggarap sawah dan ladang. Hal itu membuat Aura mengimbas masa lalunya saat sedang menggarap sawah bersama Ibunya.


Setiap kali ia mengingat masa lalunya, kepalanya akan menjadi pusing. Hal itu sering kali membuat si Mbok merasa khawatir.


Suatu hari juragan Aryo datang untuk melihat hasil panen si Mbok.


“Gimana hasil panen tahun ini, Mbok?” Tanya Juragan Aryo yang berdiri di belakang si Mbok.


“Alhamdulillah semua hasil panennya memuaskan, juragan. Tidak ada yang gagal panen karena hama seperti tahun kemarin.” Jawab si Mbok sumringah.


“Bagus kalau begitu.” Juragan terlihat sangat bahagia.


“Loh, ini siapa?” Tanya juragan ketika ia melihat Aura datang membawa hasil panen untuk disatukan dengan hasil panen yang lain.


“Cah Ayu ini cucu saya, juragan.” Jawab si Mbok.


“Cahayu? Cucu?” Juragan kaget tak percaya, ia membandingkan antara Amir dan Aura, tidak ada kemiripan pikirnya.


“Iya, lebih tepatnya istri cucu saya. Dia menitipkan istrinya yang sedang hamil untuk sementara tinggal disini.” sahut si Mbok menjelaskan, seakan tau isi kepala juragan Aryo.


“Owh, begitu.” Juragan manggut-manggut.


Seperti itulah kehidupan Aura sehari-hari.


***


Satu minggu pasca hilangnya Aura, anak buah Rizky sampai ke desa tempat tinggal Juragan Aryo.


Mereka bertanya pada warga sekitar sembari menunjukkan photo Aura. Namun tidak ada satupun warga yang pernah melihat wajah tersebut.


Karena selama seminggu ini penduduk desa yang pernah melihat Aura hanyalah Juragan Aryo dan Dokter Nayla.


Salah seorang anak buah Rizky melihat ada sebuah pondok yang terletak diantara ladang. Ia pun ingin mendatangi pondok tersebut, setelah ia melihat pondok itu lebih dekat ternyata hanyalah sebuah pondok yang sudah reot. Ia kemudian berfikir bahwa tidak mungkin ada penghuninya.

__ADS_1


Kemudian dia pergi meninggalkan pondok tersebut. Padahal di pondok itulah Aura tinggal bersama si Mbok dan juga Amir.


__ADS_2