Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Jihan


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Thank you. *Hug.


Happy Reading.... đź’•


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari setelah aku selesai sholat dhuha.


*Ttokk... Ttokk... Ttokk... *Seseorang mengetuk pintu kamarku.


"Masuk, tidak di kunci." jawabku sambil melipat mukena dan sajadahku.


Pintu di buka lalu masuklah Chaca yang membawa nampan.


"Chaca, bawa apaan?" tanyaku sambil tersenyum close up ala-ala iklan pepsodent.


"Ini Nyonya Muda." jawabnya lalu meletakkan piring di atas meja yang terletak di sebelah tempat tidurku. "Tadi pagi sebelum Tuan Muda pergi kerja, dia meminta saya untuk memotong beberapa buah-buahan. Karena Nyonya Muda sedang hamil harus banyak makan buah-buahan agar tidak kekurangan nutrisi." lanjut Chaca menjalskan.


"Oh begitu. Terima kasih banyak, Cha. Kebetulan saya juga sedang kepingin makan buah mangga yang manis banget." ucapku.


"Loh, bukannya kalau sedang hamil pinginnya makan mangga muda atau yang asem-asem ya Nyonya Muda?" tanya Chaca dengan mimik wajahnya yang terlihat bingung.


"Iya, kebanyakan memang seperti itu. Tapi kebanyakan bukan berarti semuanya. Ada juga yang maunya makan mangga yang manis, contohnya saya. Hehee." jawabku menjelaskan dan tertawa kecil.


"Owh, saya baru tau." ucap Chaca sambil mengangguk tanda mengerti.


"Iya, hehe." sahutku lalu mulai memakan buah yang dibawakan Chaca.


Bang Rizky sangat perhatian.


Saat terakhir kali kami periksa ke dokter kandungan, dokter menyarankan agar aku banyak makan buah dan sayur mayur. Tidak aku sangka Bang Rizky nasih ingat sampai sekarang.


"Saya permisi ya Nyonya Muda." ucap Chaca.


"Baik, Cha." jawabku


Lalu Chaca pun keluar dari kamarku. Aku habiskan semua buah yang di bawa oleh Chaca. Setelah itu aku turun ke bawah untuk mengantarkan piring bekas buah yang sudah kosong.


Jihan datang menghampiriku.


"Nyonya Muda." sapa Jihan.


"Iya Jihan, ada apa?" tanyaku.


"Saya ingin minta tolong." ucapnya pelan dan menundukkan wajahnya.


"Tolong apa? Katakan saja, jangan sungkan." pintaku.


"Tolong nasehati saya Nyonya Muda. Saya sudah lelah direndahkan terus menerus." ucapnya dengan nada yang terdengar sangat sedih.


"Baik, ayo kita duduk di sofa atau di mana saja yang menurut kamu tempatnya nyaman." ajakku.


"Di sofa saja juga boleh." jawabnya.


Lalu kami berdua pergi menuju sofa.


"Jihan, kamu pasti masih sedih karena dibully ya?" tanyaku.


"Iya, Nyonya Muda." jawabnya.


"Tapi kamu jangan pernah membalas perbuatan mereka ya. Karena...


“Orang muslim adalah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari (keusilan) lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari).


Kita hanya memiliki dua tangan dan ini tidak cukup untuk menutupi mulut-mulut mereka, lebih baik kedua tangan ini digunakan untuk berdo'a agar Allah melembutkan hati kita dan bisa mendidik hati untuk lebih bersabar dengan semuanya.


Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassalam bersabda : "Manla yarham wa layurham." Artinya "Barang siapa tidak menyayangi maka tidak disayangi." (H.R. Al Bukhari).


Sebaik apapun kita kepada orang lain, pasti tetap ada yang tidak suka kepada kita. Begitu juga sebaliknya, sejahat apapun kita pada orang lain, tetap ada yang suka. Jadi, lebih baik kita menjadi seperti apa yang Allah suka.


Jika kita membenci orang yang menyakiti kita, maka kita lah yang rugi karena dalam Hadits Bukhari di atas disebutkan "Siapa yg tidak menyayangi maka tidak disayangi." Jika kita tidak menyayangi orang lain, maka Allah pun tidak menyayangi kita.


Coba bayangkan, jika ada seseorang yang membuat sebuah gambar bunga kemudian ada yang kurang suka dengan hasil karyanya itu, lalu dia berkata "Iiih, bunganya jelek." Orang yang paling sakit hati adalah orang yang menggambar bunga itu. Begitu juga ketika kita menghina dan mencemooh manusia, hakikatnya kita telah menghina Allah karena Allah yang telah menciptakan manusia.


Dan ada satu lagi nasehat yang berbunyi "Kama tadiinu tudaanu" artinya "Sebagaimana kamu memperlakukan maka begitu juga kamu akan diperlakukan." Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Jika kita baik pada orang lain, in syaa Allah orang lain juga akan baik kepada kita. Begitu juga sebaliknya, jika kita jahat pada orang lain maka orang lain pun akan jahat pada kita.


Jika Kanaya itu jahat pada Jihan, bisa jadi dikemudian hari akan ada orang yang juga jahat padanya. Yang penting Jihan jangan membalasnya, agar orang yang baik pada Jihan jumlahnya lebih banyak dari pada yang tidak baik." aku menasehati Jihan panjang lebar.


"In syaa Allah, Nyonya Muda. Tapi terkadang saya ingin membalasnya. Saya takut suatu hari nanti kesabaran saya terkikis habis." ucap Jihan.


"Jihan sayang, yang namanya kesabaran itu tidak ada batasnya. Jika masih ada batasnya, bukan sabar namanya." ucapku.


"Begitu ya, Nyonya Muda." ucapnya pelan.


"Iya." sahutku.


"Pantas saja Nyonya Muda tidak pernah membalas kejahatan Nona Lucy dan Nona Dona." ucap Jihan membandingkan aku dan dirinya.


"Oh, itu. Saya yakin sebenarnya mereka berdua adalah orang yang baik. Hanya saja Lucy belum bisa ikhlas saya menikah dengan Bang Rizky." jawabku.


"Kalau begitu bukankah Nona Lucy termasuk egois." ucap Jihan.


"Iya. Tapi kita tidak bisa merubah sifat orang lain jika dia sendiri tidak mau merubahnya. Bahkan Allah juga tidak merubah suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri." jawabku.


*"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri." (Q.S. Ar-Ra'd:11). *


"Iya, yang Nyonya Muda katakan memang benar." jawab Jihan. "Lalu bagaimana dengan Firman? Dia masih saja terus mendekati saya dan minta saya untuk jadi temannya."

__ADS_1


"Kalau mau berteman boleh-boleh saja selama kalian masih menjaga batas. Tapi kalau Jihan tidak mau, maka coba Jihan tolak dengan sopan." jawabku.


"Iya Nyonya Muda. Terima kasih atas semua nasehat yang Nyonya Muda berikan. Sekarang saya sudah merasa lebih baikan. Nyonya Muda jangan pernah bosan untuk menasehati saya, ya." ucap Jihan.


"In syaa Allah. Selama saya bisa membantu, saya pasti akan membantu. Tetap jadi Jihan yang baik hati ya, tekun belajar agar semua nilai mata kuliah Jihan hasilnya bagus dan memuaskan." aku coba menyemangatinya.


"In syaa Allah, sekali lagi terima kasih banyak Nyonya Muda." ucapnya lalu tersenyum padaku.


"Iya, sama-sama." jawabku dan membalas senyumannya.


"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (H.R. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).


"Ya Allah, jauhkanlah Jihan dari orang-orang yang berniat menyakitinya. Aamiin ra Rabb." do'aku di dalam hati.


Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa hari sudah sore. Tiba-tiba aku kepingin donat paha ayam yang Bang Rizky beli tempo hari setelah kami makan sate.


Aku langsung menelepon Bang Rizky dan memintanya untuk membelikan aku donat tersebut.


*Ttuutt... Ttuutt... Ttuutt... *Panggilan tersambung.


"Assalamu'alaikum Aura sayang." ucap Bang Rizky begitu ia menjawab panggilan dariku.


"Wa'alaikumussalam Bang Rizky sayang." sahutku. "Aura kepingin donat paha ayam nih." aku langsung to the point.


"Oh, nanti pulang kerja Abang belikan, masih bisa menunggu, kan?" tanya Bang Rizky.


"Iya, masih. Tapi Aura mau donat paha ayam yang kita beli waktu itu." jawabku.


"Yang kapan? Bukannya semua donat sama saja?" Bang Rizky bingung.


"Iya sih sama saja. Tapi Aura maunya donat paha ayam yang kita beli setelah makan sate waktu itu." jawabku.


"Oh yang itu. Apa harus donat yang itu? Yang lain tidak bisa?" tanyanya lagi.


"Tidak boleh. Aura maunya donat yang itu. Aura maksa nih, hahaha." jawabku lalu tertawa.


"Hahaha. Iya iya, Abang belikan yang itu. Ternyata ngidam itu seaneh ini." ucap Bang Rizky.


"Makasih ma prince, hehehe." ucapku cengengesan.


"Iya, sama-sama my angel."


"Kalau begitu Aura tutup teleponnya ya. Assalamu'alaikum." ucapku.


"Iya sayang. Wa'alaikumussalam." jawab Bang Rizky. Lalu aku mengakhiri panggilan.


Bang Rizky, because of you now i know that prince charming exists.


***


Setelah Rizky selesai mengerjakan pekerjaannya, ia pun langsung meluncur ke toko kue yang ia datangi tempo hari bersama Aura.


"Sekalian buat stock, jika nanti Aura kepingin lagi dia bisa langsung memakannya." ucap Rizky pada diri sendiri.


Saat Rizky sedang sibuk memilih-milih donat, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampirinya.


"Assalamu'alaikum. Bang Rizky, kan?" tanya pria itu.


"Wa'alaikumussalam, iya." Rizky langsung menoleh ke arah sumber suara. "Eh, Ryan. Tidak saya sangka bisa bertemu kamu di sini." ucap Rizky.


"Iya, Bang. Saya juga tidak menyangka." jawab Ryan. "Abang beli donat?" tanyanya.


"Iya, istri saya sedang ngidam. Dia kepingin makan donat ini." jawab Rizky to the point.


"Wah, ternyata Bang Rizky sudah menikah. Selamat ya, Bang." ucap Ryan.


"Terima kasih. Alhamdulillah sudah. Istri saya sepertinya dulu teman sekelas kamu." ucap Rizky.


"Oh ya? Siapa namanya?" tanya Ryan penasaran.


"Namanya Asyifahani Aura." jawab Rizky.


"Oh, Aura?? Istri Abang??" Ryan hampir histeris mendengar nama istri Rizky.


"Iya, kenapa?"


"Tidak apa-apa, Bang. Sudah lama saya tidak ada mendengar kabar Aura. Ternyata sudah menikah dengan Abang, hehe." jawab Ryan sambil cengengesan.


Rizky tidak tau bahwa dulu sebelum Rizky melamar Aura. Ryan sudah melakukannya terlebih dulu, namun lamarannya di tolak oleh Aura.


"Saya sudah selesai, saya duluan ya." ucap Rizky pada Ryan setelah membayar donat yang ia ambil.


"Baik, Bang. Hati-hati di jalan." ucap Ryan.


"In syaa Allah." sahut Rizky.


Lalu Rizky keluar dari toko kue, masuk ke dalam mobil dan lansung pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Rizky meminta Chaca untuk menaruh semua donat di dalam Tupperware.


"Cha, kebetulan ada kamu. Tolong taruh di wadahnya, Tupperware juga boleh. Nanti juga tolong hantarkan ke kamar, untuk Nyonya Muda." ucap Rizky pada Chaca.


"Baik, Tuan Muda." ucap Chaca lalu meraih kantong plastik yang diberikan oleh Rizky padanya.


Rizky pun langsung naik ke atas, masuk ke dalam kamar dan menemui istrinya.


"Aura, Abang pulang." ucap Rizky begitu dia masuk ke dalam kamar.


Dilihatnya Aura sedang merenung, menatap keluar jendela.

__ADS_1


"Aura sedang melihat apa?" tanya Rizky.


Aura menoleh lalu tersenyum pada Rizky. Diraihnya tangan kanan Rizky dan mencium punggung tangannya.


"Mana donat paha ayam buat Aura?" tanya Aura.


"Ada, nanti diantarkan Chaca." jawab Rizky.


"Oh, ok. Terima kasih, Bang." ucap Aura.


"Sama-sama." jawab Rizky. "Abang mau nandi dulu ya." lanjutnya.


"Iya, Bang." sahut Aura.


Saat Rizky berada di dalam kamar mandi, Chaca datang.


*Ttokk.. Ttokk.. Ttokk... *Chaca mengetuk pintu kamar.


"Masuk saja." ucap Aura.


Chaca membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Saya mau mengantarkan ini, Nyonya Muda." ucap Chaca lalu meletakkan Tupperware di atas nakas.


"Oh iya. Terima kasih ya." ucap Aura.


"Sama-sama. Saya permisi Nyonya Muda." jawab Chaca.


"Iya." sahut Aura.


Kemudian Chaca pun keluar dari kamar Aura.


Aura meraih Tupperware yang tadi di bawa oleh Chaca.


"Wah, banyak banget." ucap Aura sumringah setelah ia membuka tutup tupperware.


Aura langsung menyantap donat paha ayam yang sudah ia inginkan sejak dua jam yang lalu.


Saat Rizky keluar dari dalam kamar mandi, dilihatnya Aura yang sedang asik menyantap donat.


"Jangan dihabisin ya Aura sayang. Nanti malam malah tidak selera makan nasi." ucap Rikzy.


"Iya, Bang. Aura masih makan tiga ini." jawab Aura.


"Tiga?? Sudah dulu, besok-besok di makan lagi." Rizky kaget.


"Baik, Bang." jawab Aura lalu menutup Tupperware yang ada dipangkuannya.


Setelah Rizky selesai memakai pakaian. Ia duduk disebelah Aura.


"Abang tau tidak? Tadi siang Jihan meminta Aura untuk menasehati dia." ucap Aura.


"Menasehati?" tanya Rizky sambil mengelus-elus rambut Aura.


"Iya. Sepertinya dia sangat sedih karena di bully temannya. Aura takut semangat belajarnya jadi surut karena hal itu. Apalagi sekarang dia masih semester 1, bagaimana dia bisa bertahan sampai 8 semester jika belajar tidak tenang." ucap Aura.


"Aura tidak usah khawatir ya. In syaa Allah besok Abang sendiri yang akan memata-matai Jihan di kampus." ucap Rizky menenangkan Aura yang terlihat gusar.


"Sungguh?" tanya Aura.


"Iya. Tapi hal ini harus dirahasiakan dari Jihan." jawab Rizky.


"Baik." sahut Aura.


"Janji." pinta Rizky.


"Iya, Aura janji." jawab Aura.


"Aura tanya Jihan gih, besok berangkat ke kampus pukul berapa dan pulang pukul berapa." perintah Rizky.


"Baik, bos." jawab Aura.


Lalu Aura pun beranjak dari tempat duduknya. Ia turun ke bawah sekalian membawa Tupperware dan menyimpannya di dalam kulkas.


Aura pergi ke kamar belakang untuk mencari Jihan.


"Jihaann." panggil Aura.


"Saya di sini, Nyonya Muda." sahut Jihan dari taman mini.


Lalu Aura pun keluar dan menemui Jihan.


"Jihan besok berangkat ke kampus pukul berapa? Dan pulang pukul berapa?" tanya Aura.


"Besok saya pergi pukul setengah sepuluh pagi dan selesai pukul dua siang." jawab Jihan.


"Owh, baiklah." sahut Aura.


"Memangnya ada apa, Nyonya Muda?" Jihan merasa ada yang aneh.


"Tidak ada apa-apa Jihan. Saya hanya ingin bertanya, hehe." jawab Aura sambil tertawa kecil.


Jihan pun tersenyum pada Aura.


Setelah itu Aura kembali ke kamarnya dan memberitahukan jadwal Jihan kepada Rizky.


"Bang, tadi Jihan bilang besok dia akan pergi pukul setengah sepuluh pagi dan akan selesai kuliah pukul dua siang." ucap Aura.


"Ok, besok Abang pasti akan mengawasinya di kampus." ucap Rizky.

__ADS_1


"Good luck." sahut Aura dan tersenyum manis.


__ADS_2