Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2 : eps 1. Zara.


__ADS_3

Aku awali hariku dengan senyuman. Alhamdulillah, hari ini usiaku sudah genap dua puluh tahun.


Aku melihat pemandangan subuh hari melalui jendela kamarku. Lampu-lampu jalan dan lampu rumah menghiasi dan menerangi hari yang masih gelap gulita. Sesekali lampu mobil melintas menambah keindahan alam.


“Mimpi yang aku alami barusan, hehee.” Aku terus saja senyum-sanyum sendiri.


Sesekali aku menutup wajahku karena merasa malu. Padahal di dalam kamar ini hanya ada aku. Jika wajahku memerah juga tidak akan ada yang melihatnya.


“Pangeran berkuda putihku, kapan kamu akan datang? Aku sudah dua puluh tahun hari ini. Berapa lama lagi aku harus menunggumu?”


Aku bertambah malu saat kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja.


“Pangeran?”


“Aku bahkan tidak menyukai siapapun. Bagaimana mungkin ada pangeran yang datang begitu saja? Hhmmm.”


“Sudahlah, Adzan sudah berkumandang. Sebaiknya aku segera membersihkan diri lalu menunaikan sholat.”


Pukul tujuh pagi aku keluar dari kamarku.


“Astaghfirullah?” Aku kaget melihat ada meja didepan pintu kamarku.


Kemuadian rasa kaget dengan cepat berubah menjadi rasa bahagia.


Aku tersenyum lebar melihat ada kue yang begitu besar diatas meja tersebut.


Disana juga ada beberapa hadiah.


“Ayah, Ibu. Keluarlah.” Ucapku dengan manja.


“Barakallah fi umrik, kesayangan Ibu.” Ucap Ibu padaku dengan penuh kasih sayang. Setelah itu Ibu mengecup keningku.


“Semoga panjang umur dan bahagia selalu.” Sambung Ayah.


Aku memeluk mereka berdua secara bersamaan.


“Aduh, anak Ibu. Masih begitu manja. Padahal usiamu sudah genap dua puluh tahun. Hehe.” Ucap Ibu sembari tertawa kecil.


“Mau berapapun umurnya, dia tetap akan menjadi putri kecil kita.” Ucap Ayah.


“Tentu saja!” Sahutku.


“Hari ini adalah hari ulang tahunmu, kamu ingin hadiah apa dari Ibu dan Ayah?” Tanya Ayah.


“Aku tidak ingin apapun, Ayah, Ibu. Aku hanya ingin melihat kalian berdua terus sehat dan bahagia.” Jawabku sambil tersenyum.


“In syaa Allah, sayang.” Ucap Ibu lalu mengelus pipiku dengan lembut.


“Hari ini Ayah yang akan mengantarkan tuan putri pergi ke kampus.” Ucap Ayah.


“Kenapa? Ayah tidak sibuk?” Tanyaku. Karena biasanya aku akan pergi bersama Om Amir.


“Karena Om kamu sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Hari ini katanya ada meeting dadakan dikantor tempat Om kamu bekerja.” Jawab Ayah menjelaskan.


“Owh, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang.” Ajakku.


“Sarapan terlebih dulu sayang.” Pinta Ibu.


Aku melirik jam yang melingkar dipergelangan tanganku.


“Baiklah.” Aku pun tersenyum.

__ADS_1


Kami bertiga pergi menuju meja makan.


‘Bi Sumi, terima kasih.” Ucap Ibu pada Nenek.


“Sama-sama Nyonya Muda.” Sahut Nenek.


“Ayo kita mulai sarapan.” Ajak Ayah.


Aku dan Ibu mengangguk.


Seperti biasa, Ibu pasti akan mengambilkan nasi dan lauk untuk Ayah. Aku kapan ya bisa seperti itu? Hehe.


Melihat hubungan Ibu dan Ayah yang begitu romantis dan selalu bahagia saat bersama, membuatku juga ingin merasakannya. Merasakan nikmatnya kasih sayang antara dua insan yang saling mencintai.


Tapi, siapa yang akan mau mencintaiku dengan tulus seperti cinta Ayah pada Ibu?


Tidak mudah untuk mendapatkannya bukan?


Dengan sekian pertanyaan dan perasaan yang bergejolak dalam hatiku, aku bahkan tidak sadar bahwa aku sudah menghabiskan sarapanku.


“Sayang, sejak tadi kamu diam saja. Apa yang kamu fikirkan, Nak?” Tanya Ibu dengan lembut.


“Emm.” Aku bingung harus memberikan alasan apa. “Oh ya, Aku sedang berfikir, hari ini ada ulangan atau tidak? Aku lupa.” Jawabku agak gugup.


“Oh, kamu bisa periksa jadwal mata kuliah.” Sahut Ayah.


“Sepertinya sudah tidak sempat, Yah. Nanti aku periksa di kampus saja.” Ucapku.


Setelah berpamitan dengan Ibu. Aku dan Ayah berangkat.


Ayah mengantarkan aku pergi ke kampus sambil mengobrol.


“Di kampus, ada pria yang menyukaimu?” Tanya Ayah.


“Kenapa Ayah bertanya seperti itu?”


“Ayah hanya merasa sepertinya ada seseorang yang terus mengawasimu.”


“Siapa?” Tanyaku lagi. “Wait, wait, wait, Ayah memata-matai aku?” Sambungku.


“Bukan memata-matai, sayang. Ayah hanya menyiapkan beberapa orang pengawal pribadi untuk kamu. Tapi secara diam-diam.” Ayah menjelaskan.


“Pengawal pribadi? Untuk apa Ayah?”


“Tentu saja untuk menjamin keselamatan kamu, sayang. Ini juga usul dari Ibumu, jadi kamu tidak bisa menolak.”


“Hmm, baiklah. Ayah dan Ibu memang sangat menyayangiku.” Aku tersenyum.


“Pertanyaan Ayah tadi dijawab donk.” Pinta Ayah.


“Ah itu.. emm..” aku bingun harus bilang apa pada Ayah.


Ayah mengernyitkan dahinya.


“Mungkin dia memang suka, Yah. Tapi aku nggak.”


“Oh ya?”


“Iya. Aku tidak suka dengan laki-laki seperti itu. Tiap hari terus mengganggu. Mungkin maksud dia ingin PDKT ya Yah. Tapi aku jadi risih dan ilfil.”


“Apa perlu Ayah membereskannya?”

__ADS_1


“Tidak Ayah, jangan. Biarkan saja dia, nanti dia pasti akan capek sendiri.”


“Baiklah.”


“Tapi jangan beritahu Ibu, aku tidak ingin Ibu khawatir.”


“Ok, tuan putri.”


“Hehe.” Aku tertawa kecil.


Setelah mengantarkan aku, Ayah langsung pergi ke Hotel.


Sepeti biasa, banyak mata yang menatapku aneh.


Meskipun mereka menatapku seperti itu, aku tidak masalah. Aku masih tetap merasa nyaman mengenakan pakaian besar dan juga cadar yang menutupi wajahku.


Aku melangkahkan kakiku menuju ruanganku.


Aku duduk disebelah sahabat baikku, Nayla.


“Assalamu’alaikum Nayla, sudah lama?” Sapaku.


“Wa’alaikumussalam, Zara. Emm, sekitar lima belas menit.” Jawabnya sambil melirik jam tangannya.


Nayla satu-satunya sahabatku sejak semester 1. Walaupun ia seorang wanita dengan free hair, ia tidak pernah menatapku dengan tatapan yang aneh seperti kebanyakan mahasiswa dikampus ini.


“Zara, kamu sudah sarapan?” Tanyanya.


“Sudah.” Jawabku.


“Tapi aku belum. Ayo temani aku sarapan di kantin. Masih ada satu jam sebelum kelas dimulai.”


“Apa? Satu jam. Bukannya kelas akan dimulai lima belas menit lagi?” Aku kaget.


“Seharusnya seperti itu. Tapi tadi ada pemberitahuan kalau dosen kita akan datang terlambat.” Jawab Nayla dengan tenang.


“Oh, baiklah. Ayo.” Ajakku lalu beranjak dari tempat dudukku.


“Ok.” Sahutnya. Lalu ia menggandeng tanganku.


Tidak berapa lama kemudian kami sampai di kantin. Aku langsung duduk dipojokan, sedangkan Nayla pergi membeli makanan.


Saat Nayla datang membawa makanannya. Ia menyodorkan a cup of coffee favoriteku.


“Apa ini?” Tanyaku.


“Tentu saja kesukaanmu, hehe.” Jawabnya sambil tersenyum.


“Waaa. Terima kasih.” Sahutku sumringah.


Tiba-tiba di luar kantin terdengar suara berisik.


“Waaahh, Abang tampan itu datang lagi.” Ucap seorang wanita.


“Benar, Abang tampan ini pasti mencari wanita aneh itu.” Sahut wanita yang satunya.


“Ada apa diluar, berisik sekali.” Ucapku.


“Ada apa lagi kalau bukan ada pangeranmu.” Sahut Nayla mengejek.


“Hussshh.. Dia bukan pangeranku.” Bantahku jutek.

__ADS_1


“Aduh, aduh, malah jadi bad mood princess. Maaf ya.” Ucap Nayla sambil mengelus kepalaku dengan lembut.


“No problem, ada kopi dihadapanku. Siapapun tidak akan bisa merusak moodku, haha.”


__ADS_2