Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Aku Tega?


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Terima kasih. *Hug.


Happy Reading....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah selesai dinner, kami singgah lagi di Musholla untuk menunaikan sholat isya. Setelah itu kami kembali pulang ke Villa.


Saat dalam perjalanan, aku memikirkan Lucy dan Dona.


"Bang, apa tidak sebaiknya kita beli sesuatu untuk Lucy dan Dona?" tanyaku pada Bang Rizky.


"Tidak perlu." jawabnya sambil mengemudi.


"Tapi kasihan kalau nanti malam mereka kelaparan."


"Tidak apa-apa. Mereka tidak akan meninggal kalau tidak makan sekali ini saja." ucap Bang Rizky.


Aku hanya diam.


"Inilah yang membuat Abang semakin mencintai Aura." lanjut Bang Rizky.


"Apa?" tanyaku dengan lembut.


"Aura tetap baik, sangat baik. Bahkan pada orang-orang yang sudah menyakiti Aura." jawabnya lalu tersenyum manis.


Aku hanya membalas senyumnya tanpa berkata apapun.


Saat kami tiba di Villa, Bang Rizky langsung memasukkan mobil ke dalam garasi. Sedangkan aku langsung masuk ke dalam untuk segera istirahat di kamar. Tapi sebelum aku masuk ke dalam kamar, langkah kakiku terhenti ketika mendengar suara Lucy.


"Hey, queen wanna be. Dari mana saja kamu?" tanyanya dengan nada yang jauh dari kata sopan.


"Dinner." jawabku singkat.


"Aku dan Dona kelaparan di sini. Kamu enak-enakkan makan malam romantis dengan Rizky!" bentaknya.


Aku ingin menjawab ucapannya itu, tapi sudah di jawab oleh Bang Rizky duluan.


"Bukankah tadi siang saya sudah menyuruh kalian untuk pulang. Kalau kalian menurut, pasti tidak akan kelaparan di sini." sahut Bang Rizky.


"Ky, kamu tega banget membiarkan kami kelaparan." ucap Dona. "Kamu seorang chef, tolong masakkan sesuatu untuk kami." pinta Dona memelas.


"Maaf, saya lelah. Saya ingin istirahat." ucap Bang Rizky lalu meraih tanganku dan mengajakku masuk ke kamar.


"Tapi Ky..." panggil Dona. Bang Rizky tidak menghiraukannya.


"Ayo kita pergi ke kampung terdekat untuk beli makan." Dona mengajak Lucy untuk pergi.

__ADS_1


Tiba-tiba Bang Rizky menghentikan langkah kakinya. Lalu ia menoleh ke arah Lucy dan Dona.


"Saya hanya ingin mengingatkan kalian. Kampung terdekat juga lumayan jauh. Apa lagi jalanan di sini sepi, para begal pasti sudah berkeliaran. Sebaiknya kalian berhati-hati." ucap Bang Rizky lalu tersenyum.


"Iiiihhhh...!!!" ucap Dona kesal dan membantingkan bok*ngnya di atas sofa.


Begitu juga dengan Lucy, bibirnya langsung manyun mendengar peringatan yang Bang Rizky berikan.


Aku tersenyum geli melihat tingkah mereka berdua. "Bang Rizky memang paling bisa memberikan mereka pelajaran." gumamku di dapam hati.


Saat berada di dalam kamar, Bang Rizky langsung mengganti pakaiannya dan bersih-bersih. Begitu juga denganku.


Sebenarnya aku tidak tega pada mereka, tapi Bang Rizky melarangku membantu mereka berdua.


Jam sudah menunjukkan pukul 10, aku dan Bang Rizky mulai memejamkan maka kami berdua.


Aku terbangun pukul 2 pagi. Aku berencana akan menunaikan sholat tahajud dua rakaat.


Saat aku akan pergi berwudhu, aku mendengar suara berisik-berisik. "Mereka sedang menonton televisi, apa tidak tidur?" gumamku di dalam hati.


Setelah aku selesai sholat, aku pergi menghampiri Lucy dan Dona.


"Kalian tidak tidur?" tanyaku dengan lembut.


"It's not your business, bit*h!!" jawab Lucy galak.


"Oh. Saya tau itu bukan urusan saya, tapi kamu tidak perlu menyebut saya seperti itu." ucapku.


"Saya sama sekali tidak tersinggung. Karena kita sama-sama tau, siapa jal*ng yang sebenarnya." jawabku masih dengan lemah lembut.


"Helloooooo!!! Kita di sini bertiga, aku dan Dona punya dua vote, sedangkan kamu hanya satu vote. Itu artinya aku menang. Apa kamu tidak bisa menerima kenyataan?" tanya Lucy padaku.


"Hah? Bukankah kamu yang tidak bisa menerima kenyataan? Bang Rizky sudah menjadi suami saya. Tapi kamu masih saja mengejarnya." ucapku.


"Itu hakku untuk mengejar pria mana saja." sahut Lucy.


"Bahkan yang sudah punya istri." ucapku.


"Apa sapahnya? Toh di dalam islam laki-laki boleh menikah sampai empat kali. Laki-laki boleh poligami." ucap Lucy.


"Betul." sahut Dona membela sahabatnya.


"Yang kamu katakan itu memang benar. Tapi sebelum menikah, Bang Rizky sudah berjanji tidak akan poligami." ucapku.


"Tidak masalah, yang sudah menikah juga masih bisa bercerai. Aku akan menunggu hari itu tiba." ucap Lucy dengan PDnya.


"In syaa Allah cerai tidak akan terjadi di antara kami berdua!!" sahutku dengan tegas.


"Heh, jangan sombong dulu kamu. Cerai bukan hanya cerai hidup, tapi juga bisa cerai mati." ucapnya lalu melotot.

__ADS_1


"Astaghfirullah, apa dia ingin aku mati?" gumamku di dalam hati.


"Kenapa diam?" tanya Lucy. "Kalau di fikir-fikir ya, kamu tidak jauh lebih baik dariku." lanjutnya.


"Apa maksudmu?" tanyaku.


"Contohnya sekarang ini, kamu tega membiarkan aku dan Dona kelaparan." jawab Lucy.


"Bukankah tadi kamu bilang itu bukan urusanku." ucapku lalu aku membalikkan badanku dan membelakangi mereka. "Tadi saya berencana untuk menawarkan beberapa snack, tapi sepertinya kalian tidak mau dan tidak membutuhkannya." ucapku setelah jalan beberapa langkah.


"Tunggu!! Kami mau." ucap Dona.


"Na, apaan sih?" ucap Lucy tidak terima.


"Mendingan sekarang kita mengalah dulu, demi perut." jawab Dona.


“Huuuffffttt!!!! Baiklah." jawab Lucy kesal.


Kemudian aku masuk ke dalam kamar, aku lihat Bang Rizky sedang sholat tahajud. "Apa Bang Rizky mendengar omongan mereka?" tanyaku di dalam hati.


"Ah, sudahlah. Jangan difikirkan." gumamku di dalam hati. Lalu aku ambil beberapa snack untuk aku berikan kepada Dona dan Lucy.


"Saya tau ini tidak akan membuat kalian kenyang. Tapi lumayan bisa mengganjal perut sampai pagi." ucapku lalu menyodorkan snack yang aku bawa.


Mereka berdua meraihnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku lihat mereka memakan snack tersebut dengan sangat lahap. Mereka pasti merasa sangat lapar.


"Kalau masih kurang, di dapur ada mi instan." ucapku.


"Lalu kenapa kamu masih berdiri di situ? Pergi sana masak untuk kami." perintah Lucy.


"Aura bukan pembantumu." ucap Bang Rizky tiba-tiba. "Seharusnya kalian bersyukur dia masih peduli pada kalian. Tapi kalian berdua malah ngelunjak." lanjutnya.


"Siapa bilang kita ngelunjak? Kita biasa saja. Benar kan, Na?" ucap Lucy pada Dona.


"Benar." ucap Dona membenarkan ucapan Lucy. "Kamu tidak usah lebay deh, Ky." lanjutnya.


Aku lihat Bang Rizky sedang menahan amarahnya.


Bang Rizky meraih tanganku dan membawaku masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar aku coba menenangkan Bang Rizky, hingga kami berdua kembali terlelap.


Pukul 07:40WIB, Dona dan Lucy bersiap-siap untuk pulang.


Aku dan Bang Rizky hanya memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.


"Lebih baik kami pulang, dari pada kelaparan di sini." ucap Dona.


"Betul." sahut Lucy.


"Whatever! Kalau mau pulang, ya pulang saja. Tidak ada yang melarang." ucap Bang Rizky.

__ADS_1


Mendengar ucapan Bang Rizky tersebut, Dona dan lucy segera pergi dari hadapan kami berdua.


__ADS_2