
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Thank you. *Hug.
Happy Reading... 💕
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di luar kampus, Kakak Firman sedang menunggunya. Firman bergegas menuju pagar kampus untuk menemui Kakaknya tersebut.
"Kak, sudah lama menunggu?" tanya Firman begitu ia sudah tiba di dekat Kakaknya.
"Lumayan lah." jawab Kakak Firman. "Oh ya, yang tadi Rizky bukan sih?" tanyanya.
"Iya, yang tadi Tuan Muda Rizky." jawab Firman. "Kak Ningrum mengenalnya?" sambungnya.
"Iya, Kakak kenal. Calon Abang Iparmu." jawab Ningrum dengan pedenya.
"Hah? Calon Abang Ipar?" Firman kaget. "Bukannya Tuan Muda Rizky sudah menikah?"
"Iya, memang sudah. Aura yang merebutnya dari Kakak." ucap Ningrum tanpa rasa bersalah.
"Oh, Aura nama istri Tuan Muda Rizky." ucap Firman pelan. Lalu dia ingat dengan seseorang yang bernama Aura di masa lalunya. "Kenapa nama Aura begitu familiar ya, Kak?" tanya Firman.
"Apa kamu lupa? Aura adalah anak Bu Ayu yang punya kios itu." jawab Ningrum.
"Oh, Kak Aura anak Bu Ayu. Kalau memang Kak Aura itu yang menjadi istri Tuan Muda Rizky, tidak mungkin dia merebut Tuan Muda Rizky dari Kakak. Pasti Kakak yang ingin merebut Tuan Muda Rizky dari Kak Aura." ucap Firman.
"Firman, kamu itu Adikku. Seharusnya kamu membela Kakakmu ini. Bukan malah berpihak pada Aura yang sok suci itu." ucap Ningrum kesal.
"Justru karna Firman ini Adiknya Kakak, Firman jadi tau seperti apa sifat Kakak. Sudahlah Kak, jangan berusaha merebut suami orang. Jodoh tidak akan tertukar. Tuan Muda Rizky dan Kak Aura sudah menikah, itu artinya mereka berdua berjodoh." Firman menasehati Kakaknya.
"Firman!!" bentak Ningrum. "Kakak datang ke sini bukan untuk meminta pendapatmu, bukan juga ingin mendengar ceramahmu. Kakak datang mau minta uang, Ibu sakit lagi." ucap Ningrum sambil menengadahkan tangannya menunggu Firman memberinya uang.
"Baik, Kak. Maaf." ucap Firman, lalu dia meraih dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang. "Sekarang sudah tanggal tua, Kak. Firman hanya bisa memberi segini saja. Tapi Firman janji, setelah gajian nanti Firman pasti akan datang untuk menjenguk Ibu." sambungnya sambil menyerahkan uang tersebut.
"Baiklah, tidak apa-apa." jawab Ningrum lalu meraih dan menyimpan uang pemberian Firman. "Oh ya, siapa wanita yang bersama Rizky?" tanyanya.
"Dia Jihan, Kak. Salah satu ART di rumah Tuan Muda Rizky." jawab Firman.
"Oh, hanya pembantu." sahut Ningrum.
"Iya, tapi dia calon Adik ipar Kakak, hehe." ucap Firman malu-malu.
"Apa???" kali ini Ningrum yang di buat kaget oleh Firman. "Jangan becanda kamu, Man." ucap Ningrum yang membelalakkan kedua bola matanya karena sangat kaget.
"Siapa juga yang becanda. Firman serius, Kak!" ucap Firman dengan tegas.
"Tidak boleh, Kakak tidak akan pernah setuju kamu dengan Jihan. Dia itu hanya seorang pembantu." ucap Ningrum.
"Bagi Firman tidak masalah jika dia seorang pembantu. Yang penting dia orang baik-baik." jawab Firman.
"Firman, ingat!! Status kamu sudah naik semenjak di angkat sebagai anak oleh Pak Wijaya, seorang pengusaha yang sukses. Please, jangan turunkan lagi statusmu karena mencintai seorang pembantu." Ningrum sangat berharap Adiknya mau menurut dan menjauhi Jihan.
"Kak, status di dunia itu tidaklah penting. Yang paling penting adalah siapa kita di sisi Allah dan setinggi apa Iman kita." ucap Ningrum.
"Cara bicaramu itu sudah sama seperti Aura. Menyebalkan!" ucap Ningrum kesal. "Sebaiknya Kakak langsung pulang saja. Jangan lupa jenguk Ibu." sambung Ningrum lalu pergi meninggalkan Firman.
"Baik, Kak." teriak Firman mengiringi kepergian Kakaknya.
"Hmm ya Allah. Sampai kapan Kak Ningrum akan terobsesi dengan orang kaya. Semoga saja tidak lama lagi Engkau jatuh cintakan dia pada orang tepat, agar bisa merubah Kak Ningrum menjadi orang yang lebih baik lagi. Aamiin Allahumma Aamiin."
Sesungguhnya Firman tidak suka dengan sikap Kakaknya tesebut. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tetaplah Kakak kandung Firman. Hanya bisa terus mendo'akannya diam-diam agar suatu hari nanti Kakaknya bisa berubah.
***
Di rumah Aura.
"Ummi mau pergi?" tanya Aura begitu melihat Ummi sudah berpakaian dengan rapi.
"Iya, hari ini Ummi ada undangan di pesta pernikahan anak teman Ummi. Aura di rumah saja, ya. Jaga kesehatan dan kandungannya." jawab Ummi.
"Baik, Mi. Sebentar lagi juga Bang Rizky pulang." sahut Aura.
"Oh ya? Kenapa cepat sekali? Ini masih siang." tanya Ummi.
"Bang Rizky izin keluar sebentar untuk mengantarkan Aura check kandungan, Mi. Alhamdulillah sudah genap empat bulan." jawab Aura.
"Owh begitu." Ummi mengangguk-anggukkan kepalanya lalu meraih hand bag nya. "Ummi pergi sekarang ya." lanjutnya.
"Baik, Mi. Hati-hati di jalan." ucap Aura.
"In syaa Allah." sahut Ummi.
Kemudian Ummi pun pergi bersama Pak Ujang.
Pak Ujang adalah supir yang selalu stand by di rumah. Karena Bang Rizky dan Abi selalu mengendarai mobil sendiri.
Aura pergi ke dapur untuk memotong buah mangga, lalu tidak diizinkan oleh Bi Sumi.
"Nyonya Muda, biar Bibi saja yang mengupas buah mangganya, ya." ucap Bi sumi lalu mengambil pisau dan buah mangga dari tangan Aura.
"Bibi, Aura juga bisa." jawab Aura.
"Iya, tapi selama masih ada Bibi, biar Bibi saja yang melakukannya untuk Nyonya Muda." ucap Bi Sumi yang tersenyum pada Aura.
Aura pun membalas senyum Bi Sumi.
"Baiklah. Terima kasih, Bi." sahut Aura.
__ADS_1
Lalu Aura pergi ke depan dan menonton televisi sambil menunggu Bi Sumi datang membawakan buah mangga untuknya.
Tidak lama kemudian Bi Sumi datang.
"Ini buah mangganya, Nyonya Muda." ucap Bi Sumi lalu meletakkan sepiring buah mangga di atas meja.
"Terima kasih, Bi." ucap Aura.
"Sama-sama, Nyonya Muda." sahut Bi Sumi.
Aura pun mulai memakan buah mangga sambil menonton film india.
Setelah ia selesai makan buah mangga, ia mendengar suara mobil suaminya memasuki pekarangan rumah.
Aura langsung pergi keluar untuk menemui Rizky.
"Aura sayang, sudah siap?" tanya Rizky begitu ia melihat Aua keluar dari rumah.
"Sudah. Aura begini saja, tidak perlu ganti baju lagi." jawab Aura.
"Baiklah, ayo langsung berangkat." ajak Rizky.
"Iya." sahut Aura.
Lalu mereka berdua masuk ke dala mobil dan langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui Dokter Kandungan.
Karena Rizky dan Aura sudah membuat janji dengan Dokter Lira, mereka tidak perlu mengantri dan langsung masuk ke dalam ruangan.
"Halo Aura." sapa Dokter Lira.
"Halo juga Dokter Lira." jawab Aura.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Dokter Lira.
"Alhamdulillah baik." jawab Aura.
"Ada keluhan apa saja?"
"Tidak ada keluha apa-apa, Dok. Cuma masih ada mual dan muntah beberapa kali." jawab Aura.
"Ok. Kalau begitu silahkan naik ke atas tempat tidur dan berbaring." perintah Dokter Lira.
"Baik, Dok." sahut Aura.
Saat Dokter Lira mengecek tensi Aura, Rizky hanya menyaksikannya dari tempat duduknya.
"Tensinya 10/70. Bagus." ucap Dokter Lira. Lalu Dokter Lira mengambil alat bernama Doppler untuk mendengarkan Detak Jantung Janin.
Dokter Lira menyingkap gamis Aura hingga nampak bagian perutnya. Kemudian ia mengoleskan sebuah krim lalu mulai mencari posisi detak jantung janinnya.
*Sssrrrtttt.... Sssrrrttt... Deg deg deg deg... Sssrrrtttt.... Deg deg deg... *Begitulah suara yang dikeluarkan oleh Doppler.
Aura sangat bahagia ketika mendengar suara detak jantung anaknya untuk pertama kalinya.
Aura dan Rizky sama-sama tersenyum bahagia. Lalu Rizky membelai kepala Aura dengan lembut.
"Detak jantungnya juga normal." ucap Dokter Lira setelah ia selesai. Dokter Lira membantu Aura menurunkan gamisnya dan menyimpan Doppler ke dalam tempatnya.
"Alhamdulillah." ucap Aura dan Rizky serentak.
Dokter Lira kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Rizky membantu Aura turun dari tempat tidur.
"Vitaminnya masih ada?" tanya Dokter Lira pada Aura.
"Masih, Dok. Tapi sudah mau habis." jawab Aura.
"Ok, kita tambah vitaminnya." ucap Dokter Lira lalu menyerahkan selembar kertas berisi nama vitamin yang harus di tebus.
"Terima kasih, Dok." ucap Aura dan mengambil kertas tersebut.
"Terima kasih, Dok." ucap Rizky juga.
"Iya, sama-sama. Sehat terus ya Ibu dan Janinnya." sahut Dokter Lira lalu tersenyum pada Aura dan Rizky.
Kemudian Rizky dan Aura meninggalkan ruangan Dokter Lira. Rizky pergi ke bagian penebusan obat untuk membeli Vitamin. Sedangkan Aura duduk di ruang tunggu.
Setelah Rizky mendapatkan Vitamin untuk Aura, dia mengantarkan Aura pulang ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, Aura terus saja tersenyum bahagia sambil mengelus-elus perutnya dengan lembut.
"Bahagia banget calon Umma, hehe." ucap Rizky yang curi-curi pandang pada Aura sambil mengemudi.
"Iya, Alhamdulillah. Aura memang bahagia banget. Di tambah lagi tadi Aura dengar suara detak jantungnya." ucap Aura sumringah.
"Alhamdulillah, Abang juga bahagia banget." sahut Rizky.
"Oh ya, Abang sudah siapkan nama atau belum?" tanya Aura.
"Belum." jawab Rizky yang terus fokus mengemudi.
"Kita buat kesepakatan ya. Kalau anak kita nanti laki-laki, Abang yang akan memberinya nama. Tapi kalau anak kita perempuan, Aura yang akan memberinya nama. Bagaimana?" Aura meminta persetujuan Rizky.
"Ok, Abang setuju." jawab Rizky. "Memangnya Aura sudah siapkan nama untuk anak perempuan?" tanya Rizky.
"Belum sih." jawab Aura.
"Hehe." Rizky tertawa kecil mendengar jawaban Aura istrinya.
Akhirnya mereka berdua tiba juga di rumah. Rizky mengantarkan Aura masuk ke dalam rumah, lalu Rizky berpamitan untuk kembali lagi ke hotel.
__ADS_1
"Abang langsung pergi ya sayang. Aura langsung makan siang saja." ucap Rizky.
"Iya. Abang hati-hati di jalan."
"Iya. Abang pergi ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." sahut Aura.
Kemudian Rizky kembali lagi ke hotel untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Bibi siapkan makan siang ya untuk Nyonya Muda." ucap Bi Sumi.
"Iya, Bi." jawab Aura lembut.
Lalu Bi Sumi pergi ke dapur untuk mengambilkan sepiring nasi beserta lauknya untuk Aura si bumil. Bi Sumi juga menyiapkan air hangat satu gelas.
"Silahkan Nyonya Muda." ucap Bi Sumi setelah meletakkan makan siang Aura di atas meja makan.
"Terima kasih banyak, Bi." ucap Aura.
"Sama-sama Nyonya Muda." sahut Bi Sumi. Lalu Bi Sumi meninggalkan Aura dan membiarkannya menyantap makan siangnya dengan tenang.
Dua jam kemudian...
Di depan pintu gerbang ada seorang kurir laki-laki yang mengantarkan sekotak kue.
"Permisiiii...." ucap kurir tersebut.
Mang Jaja datang menghampiri si kurir.
"Ada apa, Kang?" tanya Mang Jaja.
"Saya mau mengantarkan paket kue. Tadi ada yang memesan kue dan meminta saya untuk mengantarkannya ke alamat ini." jawab si kurir dan memberikan selembar kertas kepada Mang Jaja.
"Iya benar. Yang tertulis di sini memang alamat rumah ini." ucap Mang Jaja setelah membaca isi kertas tersebut.
"Kalau begitu, silahkan di terima kue nya." kurir itu memberikan sekotak kue pada Mang Jaja.
"Baik. Terima kasih, Kang." ucap Mang Jaja.
"Sama-sama." sahut si kurir.
Kemudian kurir tersebut pergi meninggalkan rumah Rizky. Mang Jaja masuk ke dalam rumah dan menyerahkan kue tersebut.
"Neng Chaca. Ini teh ada paketan kue, untuk Nyonya Muda." ucap Mang Jaja pada Chaca di dapur.
"Owh. Terima kasih, Mang. Nanti langsung saya berikan pada Nyonya Muda." ucap Chaca lalu menerima sekotak kue dari tangan Mang Jaja.
"Kalau begitu saya kembali ke pos ya Neng Chaca." ucap Mang Jaja.
"Iya, Mang. Silahkan." jawab Chaca.
Chaca langsung menyerahkan sekotak kue tersebut kepada Aura.
"Nyonya Muda. Tadi Mang Jaja bawa kue ini, katanya buat Nyonya Muda." ucap Chaca lalu meletakkan kue dihadapan Aura.
"Oh ya? Dari siapa?" tanya Aura yang sedang bingung. "Saya tidak ada memesan kue." lanjutnya.
"Coba di buka dulu, Nyonya Muda. Mungkin di dalam ada nama pengirimnya." Chaca memberi saran.
"Ok, kita buka." sahut Aura.
Lalu Aura membuka kotak kue itu.
"Ma syaa Allah, kue nya cantik banget. Iya kan, Cha?" Aura minta pendapat Chaca.
"Iya, Nyonya Muda. Cantik banget, jadi sayang mau di makan. Haha." jawab Chaca dan tertawa kecil.
"Pasti Bang Rizky yang mengirim kue ini. Mungkin dia mau kasi surprise." ucap Aura sumringah.
"Pasti itu." sahut Chaca. "Saya ambilkan piring dan sendok ya Nyonya Muda." lanjutnya.
"Iya." sahut Aura.
Chaca bergegas pergi ke dapur untuk mengambilkan piring kecil, sendok dan pisau kue untuk Aura.
"Ini, Nyonya Muda." ucap Chaca lalu menyerahkan piring, sendok dan pisau kue.
"Terima kasih, Cha." ucap Aura.
"Sama-sama, Nyonya Muda." sahut Chaca. "Oh iya, saya lupa ambil air minum. Saya tinggal sebentar ya, Nyonya Muda." lanjutnya.
"Iya, Cha. Maaf ya ngerepotin." ucap Aura.
"Tidak apa-apa." sahut Chaca. Lalu Chaca pergi ke dapur dan meinggalkan Aura.
Aura yang merasa sangat bahagia sudah tidak sabar ingin segera mencicipi kue yang terlihat sangat lezat itu.
Aura mengambil sedikit dan menaruhnya di atas piring. Kemudian Aura mulai memakannya hingga kue yang ada dipringnya habis ludes.
"Aaahh.. Perutku sakit sekali..." tiba-tiba saja perut Aura sakit.
"Aaaaaarggghhhhh.... Sakit... Tolong..." teriak Aura.
Aura terus merasakan sakit yang luar biasa dibagian perutnya hingga ia jatuh pingsan.
Saat Chaca kembali dari dapur membawakan segelas air, ia langsung panik melihat Aura yang sudah tergeletak di lantai.
__ADS_1
Lebih panik lagi saat ia melihat ada darah yang merembes di bagian belakang baju Aura.
"Iiibbbbuuuuuuuuuuuuuu.... Nyonya Muda berdaraaaaaahhhh..." Chaca teriak-teriak sambil berlari mencari Ibunya di belakang.