Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Mereka Lagi


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Thank you. *Hug.


Happy Reading.... 💕


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu itu Aura sedang sholat dzuhur. Selesai sholat, Aura lanjut membaca Al-Qur'an. Setelah ia selesai membaca beberapa halaman, Aura meninggalkan ruang sholat dan berencana akan naik ke atas untuk beristirahat di kamar.


Tapi tiba-tiba ada tamu yang datang mencarinya. Mereka berdua adalah orang yang selalu ingin membuat Aura sakit hati.


"Halo queen wanna be, sudah lama kita tidak berjumpa." sapa Lucy.


Aura menoleh ke arah Lucy dan Dona. Aura hanya tersenyum lalu ia pun duduk di sofa.


"Aura, kami punya sebuah rahasia." ucap Dona.


Aura sama sekali tidak tertarik dengan rahasia yang mereka maksud. Lalu Aura hanya diam dan tidak menghiraukannya.


"Sepertinya telinga Aura bermasalah ya, Na." ucap Lucy pada Dona.


"Sepertinya." jawab Dona.


"Tapi aku yakin, jika dia mendengar rahasia ini dia pasti akan mengeluarkan suaranya yang sok sok lembut itu." ucap Lucy sinis.


"Ayo buruan katakan, Cy." pinta Dona.


Aura hanya memperhatikan tingkah Lucy dan Dona. Bagi Aura, mereka bukanlah teman dan juga bukan musuh.


Lucy dan Dona bagaikan dua insan yang malu mengakui bahwa sebenarnya mereka ngefans dengan Aura. Itu sebabnya mereka selalu meluangkan waktu untuk menemui Aura.


Lucy jalan perlahan dan duduk tepat di sebelah Aura.


"Kamu mandul. Benar, kan?" bisik Lucy pada Aura.


Raut wajah Aura berubah. Mimik wajahnya menggambarkan rasa sakit yang mendalam.


"Jaga ucapanmu!!" ucap Aura pada Lucy dengan tegas.


"Waw, ampuh banget. Aura langsung mau membuka mulut dan mengeluarkan suaranya. Hahaha." ucap Dona terbahak-bahak.


Aura bangkit dari tempat duduknya, ia pergi meninggalkan Lucy dan Dona. Aura sadar, seharusnya dari awal dia tidak perlu mendengarkan omongan mereka berdua.


Aura juga sadar bahwa mendengarkan omongan mereka berdua hanya membuang-buang waktunya dan menyakitinya. Sama sekali tidak bermanfaat.


"Yang aku katakan itu memang benar. Sudah hampir setahun kalian menikah. Tapi kamu belum juga hamil." teriak Lucy.

__ADS_1


Langkah kaki Aura berhenti setelah melalui beberapa anak tangga.


"Ini bukan tentang berapa lama kami sudah menikah, tapi Allah yang menentukan kapan aku akan hamil." jawab Aura.


"Eh, bawa-bawa nama Allah segala." ucap Lucy. "Sebenarnya kamu malu mengakuinya, hahaha." lanjutnya lalu tertawa. Dona pun ikut tertawa.


Aura diam, dia lanjut melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


"Heh, Aura. Lucy bersedia untuk menggantikanmu memberikan keturunan untuk Rizky." ucap Dona.


"Boleh saja, asalkan Bang Rizky bersedia." jawab Aura.


Lucy langsung lompat kegirangan mendengar jawaban Aura. Ia mengira bahwa Aura mau menerimanya menjadi madu.


Karena terlalu bahagia, Lucy langsung pergi menemui Rizky di hotel.


Tanpa minta izin terlebih dulu, Lucy langsung masuk ke dalam ruangan Rizky.


"Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Rizky yang tidak senang dengan kedatangan Lucy.


"Aku punya kabar bahagia." jawab Lucy.


"Hal yang membuatmu bahagia bukanlah hal yang penting bagiku." ucap Rizky.


"Aku sudah berhasil meyakinkan Aura untuk menerimaku sebagai madunya." ucap Lucy dengan percaya diri.


"Hahahahahahhh." Rizky mentertawakan Lucy.


"Saya sedang mentertawankan ucapanmu. Haha." jawab Rizky.


"Kenapa?" tanya Lucy yang sedang bingung.


"Aura tidak akan pernah mau dipoligami." jawab Rizky.


"Biar saja kalau dia tidak mau. Kalau kamu mau dia tidak akan bisa berbuat apa-apa." ucap Lucy.


"Bagaimana bisa kamu berfikir bahwa saya mau poligami? Saya sama sekali tidak akan pernah menduakan Aura." ucap Rizky.


"Tapi dia tidak bisa memberikanmu keturunan." ucap Lucy yang sudah mulai kesal.


"Memangnya kamu siapa? Kamu tidak bisa langsung memvonis Aura tidak bisa memberikan saya keturunan." bantah Rizky.


"Kalian menikah sudah hampir genap satu tahun. Tapi dia masih belum juga hamil." ucap Lucy.


"Masih satu tahun. Walaupun seumur hidupnya dia tidak hamil. Itu bukanlah masalah bagiku." jawab Rizky dengan sungguh-sungguh.


"Kamu keterlaluan, Ky." ucap Lucy yang mulai meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Terserah kamu mau bilang apa." sahut Rizky.


"Kamu tau? Walaupun aku sangat sakit hati karena kamu menikahinya, aku masih tetap mau menjadi yang kedua. Tapi kenapa pengorbananku tidak ada artinya bagimu, Ky? Hiks... Hiks... Hiks..." ucap Lucy dalam isak tangisnya.


"Lucy, saya tidak pernah memintamu untuk menyukai saya. Bahkan saya tidak pernah bersikap baik padamu, seharusnya kamu bisa menyadari bahwa dirimu bukanlah orang yang penting dalam hidup saya." ucap Rizky coba menenangkan Lucy.


"Tapi kita berdua sudah lebih sudah saling kenal, bahkan kita juga sudah dijodohkan. Lalu dia datang dan merebut kamu dariku." ucap Lucy.


"Kamu salah, Cy. Saya lebih dulu mengenal Aura dari pada kamu. Saya tidak menerima perjodohan itu juga karena saya sudah lebih dulu mencintai Aura. Saya mencintai Aura sudah sejak lama, saat saya masih di pondok. Waktu itu saya masih berusia 14 tahun." Rizky menjelaskan dengan detail pada Lucy.


Air mata Lucy mengalir semakin deras setelah mendengar penjelasan Rizky tersebut.


"Lucy, di luar sana pasti ada seorang pria yang tulus mencintai kamu. Percayalah." ucap Rizky.


Air mata Lucy masih mengalir deras, bahkan Lucy sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi karena hatinya sangat sakit.


Lalu Lucy pergi meninggalkan ruangan Rizky tanpa berkata apa-apa lagi.


Ia langsung pergi keparkiran, masuk ke dalam mobil dan menangis sejadi-jadinya.


Dona yang sedari tadi menunggunya di dalam mobil, merasa terkejut melihat sahabatnya kembali dengan deraian air mata.


"Apa yang terjadi? Rizky menyakitimu?" tanya Dona yang sedang panik.


Lucy tidak menjawab. Dia hanya menangis di dalam pelukan Dona.


Dona mencoba menenangkan Lucy dan mengelus-elus bahunya perlahan-lahan.


Walaupun Dona tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, hatinya merasa sedih melihat temannya menangis seperti itu. Lalu Dona pun ikut menangis.


Beberapa menit kemudian, Lucy sudah mulai merasa tenang.


"Lagi-lagi dia menolakku, Na." ucap Lucy pelan dan suaranya serak.


"Sudahlah, Cy. Jangan terus siksa hatimu seperti ini. Sebaiknya kamu move on saja, lupakan Rizky." ucap Dona menasehati Lucy.


"Tapi aku tidak bisa melakukannya, Na."


"Kamu pasti bisa. Carilah orang baru yang mampu mengobati luka hatimu." ucap Dona.


Lucy hanya diam.


"Maafkan aku , Cy. Tapi ini demi kebaikanmu, kamu harus bisa menerima pria lain." lanjut Dona.


"Semoga memang ada yang mampu membuatku move on dari Rizky." jawab Lucy.


Dona tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Dona mulai berfikir bawha dia harus membantu Anton untuk menaklukkan hati Lucy.

__ADS_1


Dengan begitu Lucy tidak akan pernah lagi mengalirkan air matanya untuk Rizky. Pria yang sama sekali tidak pernah pedulu padanya.


Memang tidak mudah baginya untuk segera move on, tapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin.


__ADS_2