
Sekitar pukul sebelas siang, Sidik dan Alisya tiba di rumah Rizky.
Aura menyambut kedatangan mereka berdua dengan suka cita.
“Ayo silahkan duduk. Aura akan memberitahu Bang Rizky bahwa Bang Sidik san Kak Alisya sudah tiba.” Ucap Aura.
“Baik, terima kasih.” Sahut Sidik.
Bi Sumi menyuguhkan dua gelas teh untuk Sidik dan Alisya. Bi Sumi juga membawakan beberapa camilan untuk mereka berdua.
Aura menghubungi Rizky.
“Assalamu’alaikum. Bang, Bang Sidik dan Kak Alisya sudah tiba dirumah.” Ucapnya.
“Wa’alaikumussalam. Ok. Abang akan segera pulang.” Sahut Rizky.
Setelah itu Aura duduk di sofa bersebelahan dengan Alisya.
“Kak, Zayn tidak datang?” Tanya Aura memulai obrolan.
“Tidak. Hari ini Zayn ada jadwal oprasi.” Jawab Alisya.
“Wah, semoga oprasinya berjalan dengan lancar ya, Kak.”
“Aamiin ya Allah.”
“Oh ya, silahkan diminum tehnya. Camilannya juga silahkan dinikmati. In syaa Allah Bang Rizky akan sampai sepuluh menit lagi, hehe.” Ucap Aura sumringah.
“Terima kasih.” Sahut Sidik dan Alisya serentak.
Mereka berduapun menyeruput tehnya.
“Oh ya. Bagaimana kuliah Zara?” Tanya Sidik.
“Alhamdulillah lancar. Sekarang Zara sudah semester 4.” Jawab Aura.
“Jurusan apa?”
“Zara memilih jurusan sastra. Karena dia suka menulis dan membaca.”
“Ma syaa Allah.”
Aura tersenyum.
“Lalu bagaimana dengan Hulya?” Tanya Aura.
“Alhamdulillah Hulya sudah mulai terbiasa tinggal di mesir. Hulya masih semester satu tahun ini dan sudah berjalan empat bulan. Awalnya Hulya sering menangis karena rindu pada kami orang tuanya dan juga Zayn Abangnya. Tapi Alhamdulillah setelah satu bulan berlalu ia sudah mulai terbiasa dan sudah memiliki banyak teman disana.” Alisya menceritakan.
“Alhamdulillah, semoga kuliah Hulya di mesir berjalan lancar dan bisa lulus tepat waktu.” Ucap Aura dengan lembut.
“Aamiin ya Allah.” Sidik dan Alisya serentak.
Tidak lama kemudian Rizky tiba.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Rizky.
Semua yang ada disitu menjawab salam Rizky.
“Wah, sepertinya kamu semakin sukses.” Ucap Rizky sambil memeluk Sidik.
__ADS_1
“Alhamdulillah, walaupun suksesnya hanya di badan saja. Hahaha.” Sahut Sidik.
Yang lainnya juga ikut tertawa.
“Ada satu hal penting yang ingin aku sampaikan.” Ucap Sidik.
“Hal apa itu?” Tanya Rizky.
Sidik diam, belum menjawab. Ia terlihat bingung, bagaimana harus mengatakannya pada Rizky.
“Jangan membuatku khawatir.” Ucap Rizky.
“Tidak, ini bukan hal yang harus kamu khawatirkan.” Sidik mencoba menenangkan Rizky.
“Kamu tau, Putra kami Zayn sudah setahun ini menyandang gelar Dokter Speaialis Jantung.” Lanjut Sidik.
“Iya, aku tau.”
“Kamu juga tau selama ini aku ingin sekali menjadi saudaramu.”
“Iya, lalu?” Rizky mengernyitkan dahinya seolah ia sudah tau maksud dari pernyataan Sidik.
“Aku ingin melamar putrimu Zara untuk Zayn putra kami.” Ucap Sidik kemudian. Langsung to the point.
“Apa?” Rizky kaget. “Sid, aku hanya memiliki seorang putri, tega sekali kamu ingin merebutnya dariku.” Ucap Rizky, ia tidak berani menatap wajah Sidik.
“A-aku, aku tidak bermaksud demikian.” Sidik merasa tidak enak mendengar jawaban Rizky.
“Hahahahaaa.” Tawa Rizky pecah. “Aku hanya bercanda.” Ucapnya.
“Apa? Bercanda?” Tanya Sidik yang masih merasa bingung.
“Iya, maafkan aku. Aku tadi hanya bercanda. Aku tentu saja akan merasa senang jika Zayn yang menjadi suami Zara.”
“Iya. Tapi tetap saja Keputusan final ada ditangan Zara.”
“Alhamdulillah, aku lega mendengarnya. Tapi…”
“Tapi apa?” Tanya Rizky.
“Kamu harus menjelaskan asal usul Zayn terlebih dahulu pada Zara.”
“Oh, itu. In syaa Allah, kamu tenang saja. Walaupun dia bukan darah dagingmu, tapi kami sudah menganggap dia sebagai keluarga.” Ucap Rizky meyakinkan dan menenangkan Sidik.
“Alhamdulillah. Syukron, Ky. Aku sangat senang mendengarnya.” Sidik tersenyum bahagia sambil menatap istrinya.
Alisyapun ikut bahagia mendengar hasil pembicaraan Rizky dan Sidik.
Aura juga tak kalah bahagianya. Namun ia tiba-tiba teringat dengan Amir yang belum memiliki calon istri.
“Apakah nanti Zara benar-benar akan mendahului Amir?” Gumam Aura didalan hatinya.
Aura permisi lalu pergi ke dapur.
Ia membantu Bi Sumi menghidangkan makanan untuk makan siang bersama dengan tamunya yang tidak lama lagi akan menjadi besannya.
Setelah selesai, ia mengajak Rizky, Sidik dan Alisya untuk makan bersama.
Rizky merasakan kekhawatiran Aura, hal itu terlihat sangat jelas diwajahnya. Hanya saja ia belum ingin bertanya karena masih ada Sidik dan Alisya.
__ADS_1
Untuk sementara Rizky hanya bisa menerka-nerka, apakah yang dikhawatirkan istrinya?
“Mungkinkah ia belum rela Zara menikah? Atau mungkinkah baginya Zara masih terlalu muda untuk menikah?” Rizky bertanya-tanya didalam hatinya.
Selesai makan siang bersama, Sidik dan Alisya pamit pulang.
“Aku tunggu kabar baik darimu.” Ucap Sidik.
“In syaa Allah aku akan langsung memberimu kabar jika kami sudah membicarakan hal ini dengan Zara.” Sahut Rizky.
Mereka mengantar Sidik dan Alisya hingga memasuki mobil.
Setelah itu Rizky langsung bertanya pada Aura.
“Sayang, apa yang kamu khawatirkan?”
“Hah?” Aura terkejut. “Abang menyadarinya?” Tanyanya.
“Tentu saja, kita sudah lama hidup bersama. Abang tau betul seperti apa istri Abang.”
“Ayo kita bicarakan didalam.” Ajak Aura.
Rizky mengangguk.
Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.
“Aura sedang memikirkan Amir, Bang.”
“Amir? Ada apa dengan Amir?”
“Malam tadi kami bercanda. Dan dalam candaan itu Zara berkata ‘Om, jangan sampai aku mendahului Om dalam berumah tangga’. Sepertinya candaan itu akan menjadi nyata.” Jawab Aura menjelaskan.
“Owh, begitu rupanya.” Ucap Rizky mengerti. “Lalu apakah sayang sudah bertanya pada Amir, apakah dia memiliki calon?” Tanyanya kemudian.
“Sudah, Bang. Tapi Amir bilang belum memiliki kenalan yang cocok dengan kriterianya.” Jawab Aura. “Tapi, saat Aura bilang ingin mencarikan calon untuknya, dia seperti malu-malu. Apa mungkin sebenarnya ia menyukai seseorang tapi malu mengatakannya?”
“Bisa jadi. Bila ada kesempatan Abang akan membicarakan hal ini dengan Amir. Aura sayang tenang saja.” Ucap Rizky. “Sekarang Abang harus kembali bekerja.” Lanjutnya sembari mengecup dahi Aura dengan penuh kasih.
“Baiklah. Abang hati-hati dijalan.” Lalu Aura mengecup punggung tangan suaminya.
Setelah berpamitan dengan Aura, Rizky bergegas pergi kembali ke hotel.
Aura menemui Bi Sumi. Dilihatnya Bi Sumi sedang duduk termenung di pondok dekat taman belakang.
“Bi.” Sapa Aura dengan pelan agar tidak mengagetkan Bi Sumi.
“Iya, Nyonya Muda. Ada yang bisa Bibi bantu?”
“Tidak ada, Bi.” Jawab Aura, kemudian dia duduk disebelah Bi Sumi. “Bi Sumi sedang memikirkan apa?” Tanyanya.
“Itu, Nya. Saudara Bibi ada yang minta dicarikan pekerjaan di kota.” Jawab Bi Sumi.
“Oh ya? Laki-laki atau perempuan, Bi?”
“Perempuan, Nyah.”
“Kalau jadi ART disini kira-kira saudara Bibi mau nggak ya?” Aura langsung bertanya seperti itu.
“Ma syaa Allah, pasti mau donk, Nyah.” Bi Sumi sumringah.
__ADS_1
“Alhamdulillah. Kalau begitu Bibi ajak saja dia bekerja disini agar pekerjaan Bibi ada yang bantu mengerjakan.”
“Alhamdulillah, terima kasih banyak Nyonya Muda. Bibi pasti akan segera mengajak dia untuk bekerja disini.” Bi Sumi terlihat sangat bahagia dan bersyukur.