Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Aura & Naura


__ADS_3

Aura dan Naura sudah berpisah selama lebih kurang sepuluh tahun karena waktu itu keluarga Naura pindah ke Kota P dan menetap di sana.


Aura dan Naura memiliki nama yang mirip. Panggilan mereka berdua juga sama yaitu “Ra.”


Oleh karena hal itu ketika mereka masih duduk di bangku Madrasah, Aura dan Naura sering di sebut saudara kembar. Sudara kembar yang beda Ayah dan Ibu, hehe.


“Naura. Maaf, Aura tadi tidak kenal dengan kamu karena sekarang penempilan kamu sangat berbeda. Aura juga sudah lupa dengan sorot mata kamu. Sekali lagi Aura minta maaf ya.” Ucap Aura dengan lembut dan penuh penyesalan.


“Iya, tidak apa-apa. Lagi pula kita sudah lama tidak bertemu, hehe.” Jawab Naura.


“Oh ya, kamu dengan siapa?” Tanya Aura.


“Saya sendirian.” Jawab Naura.


“Oh, kalau begitu duduk di sini saja bareng Aura. Banyak hal yang ingin Aura tanyakan.” Pinta Aura. “Kebetulan juga Aura belum menyentuh makanan Aura. Kamu juga pesan makanan ya, Aura yang traktir, hehe.” Lanjut Aura yang terlihat sangat bahagia.


“Beneran ini?” Tanya Naura.


“Iya, bukan cuma basa basi doank.” Jawab Aura sumringah.


“Ok. Sebelumnya, terima kasih ya Aura yang cantik dan baik. Hehe.” Ucap Naura sambil tertawa kecil.


“Iya, hehe.” Aura balas dengan tawa kecil.


Kemudian Naura pergi ke meja kasir untuk menulis pesanannya. Setelah itu ia kembali ke meja Aura.

__ADS_1


“Kalau mau pesan makanan, harus ke sana?” Tanya Aura. “Tadi Aura manggil-manggil Mbaknya.” Lanjutnya.


“Iya tidak apa-apa kalau kebetulan ada Mbaknya yang lewat sini. Kalau tidak ada, kita sendiri yang memesan makanan ke sana.” Jawab Naura.


“Owh, begitu.” Ucap Aura manggut-manggut.


“Iya, hehe.” Sahut Naura yang tersenyum.


Percaya tidak percaya, sorot mata seorang wanita bercadar bisa menggambarkan bahwa ia sedang tersenyum.


“Ra. Sejak kapan kamu pakai cadar/niqab? Apa alasan kamu memakai cadar? Lalu kamu di sini sejak kapan? Ngapain? Kerja atau kuliah? Atau sudah berumah tangga?” Aura menghujani Naura dengan berbagai pertanyaan.


“Wah, wah, wah, banyak banget pertanyaannya. Haha.” Naura tertawa. “Ceritanya panjang, bahkan bisa jadi novel.” Lanjutnya.


“Hmm, baiklah kalau begitu.” Sahut Naura.


Kisahnya di mulai dari sini.


***


Naura adalah nama panggilanku. Aku memiliki seorang sahabat bernama Aisha. Aisha adalah orang Arab yang aku kenal melalui facebook. Dia lebih tua setahun dariku, aku memanggilnya Ukhty.


Suatu hari, Kak Aisha meng-upload sebuah foto wanita yang memakai Niqab. Wanita itu berpakaian serba hitam dan hanya terlihat matanya saja tapi aku tau bahwa wanita itu adalah Kak Aisha. Aku sangat mengenali matanya.


Mulai saat itu, terbersit rasa ingin dihatiku untuk mengenakannya juga. Tapi aku sadar aku hanyalah wanita yang biasa-biasa saja, aku tidak tau dalil-dalilnya, aku tidak tau hadits apa saja yang menganjurkan wanita memakai cadar, namun di satu sisi yang lain aku juga tidak bisa menyurutkan rasa inginku untuk memakainya. Kalaupun aku akan memakainya tanpa memiliki ilmu terlebih dahulu, maka itu sama saja aku ikut-ikutan dan beramal tanpa ilmu.

__ADS_1


Lalu aku sampaikan dilemaku ini pada Kak Aisha.


“Ukhty, are you wearing niqab now?” Tanyaku melalui aplikasi messenger.


“Na’am, Ukhty.” Balasnya.


“Aku juga ingin memakainya, Ukhty. Tapi ilmu agama yang aku miliki masih sangat minim, aku tidak mau memakainya sedangkan ilmuku kosong, aku juga bukan seorang hafidzah, Ukhty.” Tulisku.


“Don’t worry, Ukhty. I am also not a hafidzah, I just a slave of Allah yang berusaha memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jika tidak bisa menghafal, membaca Al-Qur’an setiap hari in syaa Allah that is good enough, Ukhty.” Tulisnya.


“Thank you so much for your advice, Ukhty. In syaa Allah oneday I will wear it, saat aku benar-benar sudah siap.” Balasku.


“And I hope I can meet you in real life, Ukhty. Jika tidak bertemu didunia, maka aku harap kita bisa bertemu di Syurga-Nya.” Tulisnya lagi.


Aku adalah termasuk orang yang beruntung karena bisa memiliki seorang kakak seperti dia, biarpun kita berbeda bangsa, suku, bahkan berbeda bahasa sekalipun, namun Islam lah yang telah menyatukan kami.


Apa lagi yang lebih berharga selain teman yang selalu mengingatkan tentang ketaatan pada Allah?


Sambil menunggu hari itu datang, aku terus menelusuri internet dan membaca buku-buku untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang cadar. Untuk menambah wawasan dan knowledge karena aku tidak berani beramal tanpa ilmu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Assalamu’alaikum teman-teman readers. Beberapa episode ke depan kita akan mengikuti kisah hijrah Naura di negri upin ipin. Semoga bisa menambah wawasan dan ada Ibrah yang bisa di petik dari kisahnya. Terima kasih karena teman-teman readers masih setia membaca novel ini.


With love, author. ❤️

__ADS_1


__ADS_2