Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
New Life Just Begun


__ADS_3

Saat keluar dari mobil, aku dan Ibu masih terpaku menatap istana yang ada di depan kami saat ini.


"Ini Rumah Rizky, Dik?" tanya Ibu padaku.


"Sepertinya, Bu." jawabku.


"Rumahnya bagus banget, Dik." ucap Ibu.


"Tapi Bang Rizky tidak pernah cerita kalau rumahnya sebagus ini, Bu. Aura kira Bang Rizky juga dari kalangan menengah seperti kita." sahutku .


Tiba-tiba ada seorang Bapak-bapak yang mendatangi kami.


"Sini tasnya Nyonya Muda, saya bawakan masuk ke dalam." ucapnya sambil mengulurkan kedua tangannya dan hendak meraih tas yang aku pegang.


"Hah? Nyonya Muda? Maaf, Nyonya Muda siapa, Pak?" tanyaku pada Pria paruh baya itu.


"Jangan becanda donk, Nya. Nyonya sudah menjadi istri Tuan Muda kami. Tentu saja kami harus memanggil Nyonya Muda." ucapnya menjelaskan padaku.


Nyonya Muda? Aku sama sekali tidak terbiasa dengan panggilan ini. Apalagi yang menyebutku Nyonya Muda, usianya jauh lebih tua dari pada aku.


"Bu, Ra, ayo masuk. Kenapa masih berdiri di sini?" tanya Bang Rizky. "Tasnya berikan saja pada Pak Ujang, beliau nanti yang akan mebawanya ke kamar kita." lanjutnya.


"Owh, Iya, Bang." ucapku masih tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini.


Aku memberikan tasku pada Pak Ujang. Lalu aku, Ibu dan saudara yang ikut dari kampung, mengikuti Bang Rizky masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum, Miiiii. Kami sudah sampai, Mi." ucap Bang Rizky memanggil Ummi.


"Wa'alaikumussalam. Ayo duduk, silahkan." sahut Ummi yang menyambut kami dengan baik.


"Terima kasih." ucap Ibu.


Kemudian kami semua duduk di sofa ruang tengah. Banyak cemilan yang sudah disiapkan di atas meja dan juga syirup dua teko dengan rasa yang berbeda.


"Silahkan dinikmati cemilannya, jangan sungkan-sungkan. Kita sudah menjadi keluarga sekarang." ucap Ummi.


Kami hanya mengangguk dan mulai mencicipi cemilan.


Setelah itu, Ummi mengajak kami untuk makan siang di meja makan. Ada wanita paruh baya dan seorang remaja yang menata makanan di atas meja. Mereka berdua adalah ART di rumah ini.


Setelah selesai makan siang, kami lanjutkan mengobrol. Ummi memintaku untuk memanggilnya Ummi seperti Bang Rizky. Begitu juga panggilan untuk Abi.


"Abi tidak ada di rumah ya, Bang?" tanyaku.


"Iya, tidak ada. Hari ini Abi banyak kerja." jawab Bang Rizky.


"Oh ya, Rizky kerja di mana?" tanya Pamanku.


"Rizky kerja di hotel milik Abi, sebagai Kitchen Manager." jawabnya.

__ADS_1


"Loh, bukannya Abang Chef?" tanyaku heran. Aku masih ingat dengan sangat jelas saat aku membaca proposal ta'aruf dari Bang Rizky, di situ dia tulis bahwa pekerjaannya adalah chef.


"Iya, terkadang Abang juga jadi chef sambil mengawasi staff dapur." jawabnya sambil tersenyum close up.


"Owh, begitu." ucapku sambil menganggukkan kepalaku perlahan-lahan. "Kenapa tidak di tulis secara detail, sih." gumamku di dalam hati.


Beberapa jam sudah berlalu..


"Hari sudah sore, kami pamit ya, Nak." ucap Ibu.


"Iya, Bu. Ibu hati-hati di jalan." ucapku pada Ibu sambil mencium punggung tangannya.


"Paman, hati-hati nyetir, ya." ucapku pada Paman sambil mencium punggung tangannya.


Kemudian aku lanjut menciumi punggung tangan sanak sudara satu persatu, dan di susul oleh Bang Rizky.


Ingin rasanya aku meminta Ibu untuk menginap di sini. Tapi tidak mungkin karena kalau pulang besok, mobil yang di rental harus di bayar double.


Aku, Bang Rizky dan Ummi menghantar Ibu dan keluarga hingga masuk mobil dan keluar dari pagar. "Semoga selamat sampai tujuan ya Allah." do'aku di dalam hati untuk mereka.


Setelah Ibu pulang, Ummi mengumpulkan seluruh ART untuk diperkenalkan denganku.


"Perkenalkan, ini Aura. Istri Tuan Muda." ucap Ummi pada semua ARTnya.


"Aura, yang itu Pak Ujang, dia bekerja sebagai tukang kebun dan juga supir." ucap Ummi.


"Yang Itu Bi Sumi, istrinya Pak Ujang. Yang itu Chaca, anak tunggal Pak Ujang dan Bi Sumi. Mereka berdua ART dan tinggal di sini. Kamar mereka ada di belakang." lanjut Ummi.


"Jika Nyonya Muda membutuhkan sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk memintanya pada saya, Nya." ucap Bi Sumi.


"Baik, Bi." jawabku.


"Lalu yang Terakir adalah Mang Jaja. Dia sekuriti." ucap Ummi.


Aku menganggukkan kepalaku.


"Kami naik ke atas ya, Mi. Mau mandi dan istirahat sebentar." ucap Bang Rizky pada Ummi.


"Iya." jawab Ummi singkat dan tersenyum pada kami.


Kemudian Bang Rizky menggandeng tanganku sambil menaiki tangga.


"Abang takut Aura jatuh?" tanyaku setelah melewati anak tangga yang terakhir.


"Iya, tapi bukan itu alasan Abang menggenggam tangan Aura." jawabnya sambil membuka pintu kamar.


Ma syaa Allah, kamarnya luas banget. Seluas ruang TV di rumah Ibu. Sepertinya ini tiga kali lipat lebih besar dari pada kamarku di kampung.


"Kalau bukan karena takut jatuh, lalu karena apa?" tanyaku.

__ADS_1


"Karena Abang tidak mau lagi melepaskan Aura, cinta hati Abang." jawabnya. Tiba-tiba ia meletakkan kedua tangannya dipinggangku, aku pun refleks meletakkan tanganku di lehernya, lalu ia mengangkatku dan menjatuhkanku di atas kasur.


"Boleh Aura tau, apa yang Abang sukai dari Aura?" tanyaku padanya yang saat ini sedang berada di atasku dan menatap wajahku.


"Banyak." jawabnya singkat.


"Apa saja itu?" tanyaku lagi dan menatap kedua bola matanya.


"Salah satunya karena Aura sangat lembut. Berbeda dengan yang lainnya." jawabnya lalu mengecup pipiku pelan.


"Lalu? Apa lagi?" tanyaku.


Ia menyingkirkan raganya dari atas tubuhku dan berbaring di sebelahku.


"Aura cantik, sholeha, low profile, pandai menjaga jarak dengan yang bukan mahram Aura, dan pasti Aura juga pintar." jawabnya sambil menatapku.


"Tapi kalau seandainya semua yang Abang katakan itu tidak benar, bagaimana?" tanyaku lagi.


"Tidak apa-apa. Karena bagi Abang yang paling penting adalah, saat ini Aura sudah menjadi istri Abang." jawabnya.


Aku hanya tersenyum padanya.


"Aura mandi duluan gih." pinta suamiku.


"Abang saja yang mandi duluan, Aura mau beresin pakaian yang tadi Aura bawa."


"Pakaian? Tadi sudah di susun di lemari oleh Chaca. Sudah beres." ucapnya.


"Hah? Kapan?" tanyaku merasa heran.


"Tadi. Di sini ada ART, jadi Aura tidak perlu melakukannya sendiri." ucapnya sambil tersenyum padaku.


Aku membalas senyumannya.


Setelah itu aku meraih handukku dan akan langsung pergi ke kamar mandi.


"Kamar mandi di bawah ya, Bang?" tanyaku. Aku lupa kalau aku belum tau di mana letak kamar mandinya.


"Kenapa mandi di bawah? Di sini saja, Ra." jawab Bang Rizky.


"Di sini? Di mana?"


"Itu pintu kamar mandi." ucap Bang Rizky sambil menunjuk sebuah pintu.


"Oh, ternyaya di kamar Abang ada kamar mandi." ucapku sambil manggut-manggut.


"Iya, hehe." ucapnya sambil cengengesan. Mungkin ia merasa lucu melihat tingkahku.


Aku langsung meninggalkan Bang Rizky dan masuk ke kamar mandi. Aku merasa sangat malu.

__ADS_1


__ADS_2