Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Good News II


__ADS_3

Rizky memimpin jalan menuju rumah Lucy, di ikuti oleh 2 mobil polisi dibelakangnya.


Sesampainya di sana, Rizky langsung mengetuk pintu rumah Lucy.


Tokk.. Tokk... Tokk...


Bi Minah membukakan pintu.


“Lucy mana, Bi?” Tanya Rizky.


“Em, Kenapa bawa Polisi, Tuan?” Bi Minah balik bertanya.


“Kami datang untuk membawa Lucy ke kantor Polisi.” Jawab seorang Polisi yang berdiri di sebelah Rizky.


“Kenapa?” Bi Minah kaget dan membelalakkan kedua bola matanya.


“Sudahlah, Bibi jangan banyak tanya.” Ucap Rizky kesal.


“Maaf, Tuan. Non Lucy sudah pergi ke kota B beberapa hari yang lalu.” Jawab Bi Minah pelan.


“Apa?” Rizky kaget. “Berarti dia sudah menduga bahwa Polisi akan datang ke sini untuk mencarinya.” Lanjut Rizky.


Rizky dan Pak Polisi saling bertatapan.


“Bibi tolong beri tau kami alamat lengkap tempat tinggal Lucy di kota B.” Pinta Pak Polisi.


“Baik, Pak.” Ucap Bi Sumi.


“Bapak tidak perlu khawatir, kami pasti akan segera menangkap Nona Lucy dan memasukkannya ke balik jeruji besi.” Ucap Pak Polisi setelah menerima alamat rumah Nenek Lucy.


“Baik, Pak.” Sahut Rizky. “Tapi sebelum menangkap Lucy, sebaiknya Bapak juga menangkap Dona. Dona adalah sahabat baik Lucy, dia juga pasti terlibay dalam hal ini.” Lanjutnya.


“Baik, Pak. Akan kami laksanakan.” Ucap Pak Polisi.


Setelah itu mereka pun bubar, Rizky kembali ke rumah untuk bertemu dengan Aura.


Sedangkan Para Polisi pergi menuju rumah Dona untuk menahannya.


Tokk.. Tokk... Tokk... Polisi mengetuk pintu rumah Dona.


Salah seorang pembantu membukakan pintu.


“Apa Nona Dona ada?” Tanya Polisi tersebut.


“Ada, Pak.” Jawab pembantu Dona.


“Tolong panggilkan.” Pinta Pak Polisi.


Bibi pun bergegas pergi untuk memanggil Dona yang ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


“Non, di depan ada Polisi. Mencari Nona.” Ucap Bibi begitu ia membuka pintu kamar Dona.


“Mencari saya? Mau apa?” Tanya Dona yang kaget.


“Saya tidak tau, Non.” Jawab Bibi.


Dengan tubuh yang gemetar, Dona jalan perlahan-lahan menuju pintu depan dan menemui Polisi.


“Nona Dona, Anda kami tahan!” Ucap Pak Polisi dengan tegas.


“Hah? Salah saya apa, Pak?” Tanya Dona dan membelalakkan kedua bola matanya.


“Anda dan Nona Lucy terlibat dalam kasus yang sama, yaitu mencelakai Istri Pak Rizky.” Jawab Polisi.


“Apa? Maaf Pak, saya tidak tau menahu masalah itu.” Ucap Dona. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menutup pintu rumahnya.


“Maaf, Nona. Anda bisa menjelaskannya di kantor Polisi nanti.” Ucap Pak Polisi yang dengan sigap menahan pintu dan langsung memegang tangan Dona.


“Saya tidak bersalah, Pak. Hiks.” Ucap Dona terisak. Air matanya mengalir deras ketika tangannya di pasang borgol oleh Pal Polisi.


Polisi dengan paksa menyeret Dona masuk ke dalam mobil polisi.


“Kami terpaksa kasar karena Anda tidak bisa di ajak bekerja sama.” Ucap salah satu Polisi.


Dona hanya menangis terisak. Dia benar-benar tidak bersalah, tapi tidak akan ada yang percaya padanya.


Hiks.. Hiks.. Hiks.. Dengan terisak Dona menatap wanita yang ada disekelilingnya. Ada 5 orang Napi yang berada di dalam sel yang sama dengannya. Wajah mereka semua terlihat sangat seram dan menakutkan.


“Heh, anak baru!” Teriak salah seorang Napi.


“Hah....?? hiks.” Dona sangat kaget, ia benar-benar merasa ketakutan.


“Diam!!” Bentak Napi yang satunya lagi.


Dona membalikkan badannya.


“Pak!! Tolong keluarkan saya!! Saya tidak bersalah!! Hiks hiks hiks...” Teriak Dona dari sebalik jeruji besi.


Ia memegang besi sel dengan sangat erat, berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya mampu membengkokkan besi-besi itu, agar dia bisa segera kabur dari penjara yang bagai neraka itu.


Salah seorang Napi bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Dona yang masih merengek-rengek bagaikan anak kecil yang tersesat dan mencari-cari keberadaan ibunya.


“Heh, bisa diam tidak?? Berisik banget sih!!!” Teriak Napi tersebut seraya menjambak rambut hitam lurus milik Dona.


“Ah!! Sakit!! Ampun, Bu.” Ucap Dona yang kesakitan.


“Aku bukan Ibumu!” Ucap Napi tersebut dan melepaskan rambut Dona dengan kasar.


“Ampun! Ampun! Hiks..” Tangis Dona semakin pecah karena ia merasakan ketakutan yang luar biasa.

__ADS_1


Ia berjongkok di sudut ruangan. Sambil menahan tangis agar tidak ada lagi yang meneriakinya ataupun berbuat kasar padanya.


“Mama, Papa, Bang Doni, cepatlah datang dan susul Dona. Dona takut di sini sendirian.” Gumamnya di dalam hati.


Malam itu, mau tidak mau Dona harus menginap di penjara.


Orang tua Dona dan Abangnya datang ke rumah Rizky dan menuntut keadilan untuk putrinya.


Mereka masuk ke dalam rumah dengan terbu-buru.


Begitu melihat sosok Rizky, Doni langsung memberikan sebuah pukulan untuk Rizky.


“Astaghfirullah, ada apa ini??” Teriak Ummi yang sangat kaget, ia langsung menghampiri Rizky dan memapahnya.


“Keluarkan adikku dari penjara. Bangs*t!!” Teriak Doni.


“Kami tidak tau kesalahan apa yang dilalukan Dona, kenapa dia bisa masuk penjara atas tuduhan mencelakai istri kamu, Rizky?” Tanya Mama Dona dengan sopan.


“Ma, tidak perlu bersikap sopan dengan orang seperti dia.” Hardik Doni.


“Sebelumnya saya minta maaf pada Om, Tante dan Doni. Dua minggu yang lalu istri saya mengalami keguguran. Hari ini saya dan polisi sudah mengetahui otak dari kasus ini. Seorang pekerja antar makanan online, mengirim kue berisi obat penggugur janin ke sini. Dan yang menyuruhnya adalah Lucy. Selama ini Dona selalu membantu Lucy untuk menyakiti istri saya. Itu sebabnya saya juga memenjarakan Dona.” Jelas Rizky panjang lebar.


“Apa kamu memiliki bukti jika Adikku juga terlibat?” Tanya Doni.


Rizky diam.


“Sudah aku duga, kamu hanya membual!!” Hardik Doni pada Rizky.


“Besok jika Lucy sudah di bawa ke kantor polisi, kita akan tau apakah Dona terlibat atau tidak?” Sahut Rizky. “Sekali lagi saya minta maaf. Sebaiknya Om, Tante dan juga kamu Doni, pulang dulu untuk istirahat. Ini sudah malam. Besok saya akan pergi ke kantor polisi. Jika Dona terbukti tidak beralah, saya janji saya akan mengantarkan dia pulang.” Lanjutnya.


“Baiklah. Saya pegang ucapan kamu!” Ucap Papa Dona dengan tegas.


“Terima kasih, Om.” Sahut Rizky.


“Kalau begitu kami permisi. Maaf jika kedatangan kami kali ini untuk mengganggu ketenangan keluarga Kakak.” Ucap Papa Dona pada Ummi.


“Tidak apa-apa. Kakak yakin ini hanya sebuah kesalah-pahaman.” Ucap Ummi.


“Atas nama Rizky, keluarga kami meminta maaf pada keluarga kamu, Bagas.” Ucap Abi.


“Iya, kami juga minta maaf karena selama ini tanpa sepengetahuan kami, Dona sering membuat ulah di sini.” Ucap Papa Dona seraya menjagat tangan Abi.


Setelah itu keluarga Dona pun kembali pulang ke rumah mereka. Doni yang masih kesal, menunjuk-nunjuk wajah Rizky sebagai peringatan.


“Bang, bagaimana kalau ternyata Dona tidak bersalah?” Tanya Aura pelan, ia sungguh merasa bersalah pada keluarga Dona.


“Besok kita akan tahu Dona bersalah atau tidak.” Jawab Rizky.


Aura mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2