
Setelah selesai berkeliling, belanja dan juga makan-makan. Mereka bertiga memutuskan untuk kembali ke rumah.
Aura menelepon Pak Ujang dan meminta untuk dijemput.
Setelah sampai dirumah. Aura hendak segera masuk ke kamar.
“Saya langsung masuk ke kamar ya. Mau mandi.” Ucap Aura.
“Baik, Kak.” Sahut Aurmi. “Terima kasih karena sudah membelikan saya ponsel baru.” Lanjutnya sumringah.
“Saya juga mau berterima kasih, Nyah. Terima kasih karena sudah mengajak saya pergi jalan-jalan, makan diluar dan juga sudah dibelikan barang-barang sebagus ini.” Ucap Rini tak kalah bahagia.
“Iya, sama-sama.” Sahut Aura. “Pakaian yang untuk Bi Sumi dan Pak Ujang jangan lupa diberikan.” Lanjutnya.
“Baik, Nyah.” Sahut Rini.
Setelah itu Aura dan Arumi masuk ke dalam kamar masing-masing.
Arumi duduk di atas katil lalu membuka bag dan mengambil ponsel barunya. Sesungguhnya sedari tadi ia sudah tidak sabar ingin memainkannya.
Senyuman Arumi merekah melihat ponsel yang sudah lama ia ingini kini berada ditangannya dan sudah menjadi miliknya.
Karena Arumi adalah orang yang suka menabung, ia sering menahan diri dari berbelanja barang-barang mahal. Apalagi ponsel merk terkenal itu, ia hanya bisa menginginkannya tanpa pernah membelinya.
Harga ponsel yang mencecah tiga puluh juta bukanlah sedikit bagi Arumi yang hanya karyawan biasa dikantor. Uang sebanyak itu teramat sayang baginya jika harus digunakan untuk membeli sebuah ponsel.
Tapi saat matanya tak lepas dari menatap ponsel tersebut, Aura langsung menawarkan ponsel tersebut. Meskipun Arumi sudah berkali-kali menolak dan minta beli ponsel yang biasa saja, tapi Aura bersi keras ingin membelikan ponsel yang ia sukai.
Tanpa Arumi berkata suka, Aura sudah bisa menebaknya dengan sendirinya.
“Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya aku bisa memiliki ponsel ini.” Gumamnya.
“Kak Aura bagaikan peri yang baik hati hadir didalam hidupku. Sayang sekali Kak Arin tidak mau berteman dengannya.”
Tiba-tiba Arumi teringat dengan Kakaknya.
“Hmm.. Selama ini aku selalu merasa beruntung karena memiliki saudari seperti Kak Arin. Tapi sekarang aku sudah bisa membedakan, kasih sayang seorang Kakak seperti Kak Aura barulah kasih sayang yang benar-benar tulus. Tidak palsu seperti yang ditunjukkan Kak Arin padaku sebelumnya.”
Drrrrrtttt… Drrrrrttttt…
Ponse Arumi berdering.
“Nomor ini masih baru, kenapa sudah ada yang tahu??” Arumi merasa heran.
Panggilan berhenti sebelum Arumi menjawab.
Tidak lama kemudian ponsel Arumi berdering kembali.
Arumi menjawab panggilan tersebut tanpa mengeluarkan suara.
“Assalamu’alaikum.” Ucap seorang pria dan membuat Arumi merasa lega. Karena ia mengenal suara ini.
“Wa’alaikumussalam. Bagaimana Abang tahu nomor baruku?” Tanya Arumi.
“Aku tadi bertanya pada Kak Aura.” Jawab Amir.
“Oh, begitu.” Sahut Arumi.
__ADS_1
“Bagaimana? Suka dengan ponsel barunya?”
“Suka, suka banget malahan. Kak Aura baik banget mau membelikan ponsel mahal ini untukku. Aku bahkan baru mengenalnya dan baru beberapa hari bertemu dengannya.”
“Hahaha. Memang begitulah sifat Kak Aura. Dia menyayangi orang-orang disekitarnya lebih dari yang kita bayangkan.” Ucap Amir sambil tertawa kecil. “Lagi pula Kak Aura juga bukanlah orang yang kekurangan uang. Jadi kamu tidak perlu sungkan.” Lanjutnya.
“Emmm. Bang, boleh belikan hadiah untuk Kak Aura? Sebagai ucapan terima kasih dariku.”
“Tentu saja boleh. Hadiah apa yang ingin kamu berikan padanya?”
“Aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Nanti akan aku beritahu setelah mendapatkan ide.”
“Baiklah. Aku akan lanjut bekerja. Assalamu’alaikum.”
“Iya. Wa’alaikumussalam.”
Panggilan berakhir.
Arumi merebahkan tubuhnya diatas katil lalu berfikir. Hadiah apa yang akan diberikan untuk Aura? Dia tidak kekurangan uang, pasti bisa membeli apapun yang ia inginkan.
Beberapa menit kemudian Arumi beranjak dari tempat tidurnya lalu mengambil handuknya.
Ia pergi mandi, setelah itu wudhu dan lanjut menunaikan sholat Dzuhur empat rakaat.
Setelah selesai, ia meraih ponselnya dari atas nakas.
Ia mulai mengetik lalu mengirim pesan kepada Amir.
“Assalamu’alaikum.” Itulah yang ia tulis lalu menunggu balasan dari Amir.
Di DM maupun Messenger ia mendapati banyak sekali pesan dari Nayya sahabatnya.
“Ah, Nayya.” Arumi kaget namun bahagia karena ternyata ada yang perhatian dan mengkhawatirkannya selain Amir.
Arumi membalas pesan tersebut dengan memberitahukan nomor ponselnya yang baru agar mereka bisa lebih mudah dalam berkirim pesan atau jika ingin mendengar suara satu sama lain.
Ting!!!
Pesan masuk dari Amir.
“Wa’alaikumussalam. Ada apa?” Balas Amir.
“Bang, aku tidak tahu harus memberikan hadiah apa kepada Kak Aura. Apa Abang tahu apa makanan yang disukai olehnya?”
“Tentu saja Abang tahu.”
“Kalau begitu, belikan saja makanan kesukaannya.”
“In syaa Allah.” Sahut Amir.
Malam hari.
Amir pulang dan membawa banyak sekali makanan.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Amir setelah Rini membukakan pintu.
“Wa’alaikumussalam, Tuan.” Sahut Rini.
__ADS_1
“Rin, tolong hidangkan semua makanan ini di ruang tamu.” Pinta Amir.
“Baik, Tuan.” Sahut Rini mematuhi perintah Amir.
Sedangkan Amir pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan bersih-bersih.
“Wah, banyak sekali makanannya?” Aura terlihat bahagia.
Bagaimana tidak? Semua makanan yang terhidang adalah makanan favoritnya.
“Semua ini dari Bang Rizky?” Tanya Aura.
“Tidak, Nyah. Tuan Amir yang membawanya pulang.” Jawab Rini.
“Oh, ya? Tumben.” Aura lalu mengernyitkan dahinya.
Tidak lama kemudian, Rizky tiba. Matanya juga tertuju pada hidangan yang ada diatas meja.
“Wah, sayang. Kamu borong semua makanan faboritmu.” Goda Rizky.
“Bukan Aura, Bang.” Bantah Aura dengan lembut sambil mencubit manja pinggang suaminya.
“Benarkan? Lalu siapa yang membelinya?” Tanya Rizky.
“Aku, Bang.” Sahut Amir.
Aura dan Rizky menolah serentak.
“Dalam rangka apa nih??” Tanya Rizky.
“Siang tadi aku menelepon Arumi lalu dia memintaku membelikan makanan kesukaan Kak Aura sebagai ucapan terima kasihnya karena Kak Aura telah membelikan dia ponsel baru.” Amir menjelaskan.
“Ma syaa Allah.” Ucap Aura. “Tidak perlu repot-repot seperti ini.” Lanjutnya.
“Tidak repot.” Sahut Amir. “Ayo, Kak. Langsung dimakan.”
“Hmmm, makan yang mana terlebih dahulu ini? Semuanya aku suka.” Aura sumringah.
Arumi datang dan ikut duduk bersama mereka bertiga.
“Wah, terima kasih banyak Bang Amir.” Arumi mengucapkan terima kasih pada Amir karena sudah membawakan pesanannya.
“Tidak masalah.” Sahut Amir.
“Arumi, ayo makan. Aku tidak akan sanggup menghabiskannya sendirian.” Ajak Aura.
“Baiklah, kebetulan aku juga sudah lapar. Hehe.” Arumi cengengesan.
Aura, Amir dan Arumi makan bersama.
Sementara Rizky pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian terlebih dahulu.
Setelah itu barulah ia ikut makan malam bersama dengan yang lainnya.
“Alhamdulillah.” Ucap Aura setelah selesai makan. “Kapan-kapan boleh ni makan begini lagi. Tapi jangan mendadak agar bisa mengajak Zara dan Zayn makan bersama.” Lanjutnya.
“Siap, Boss.” Sahut Amir yang disusul oleh tawa bahagia yang lainnya.
__ADS_1