Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 18.


__ADS_3

Zara pulang ke rumah naik taxi karena tidak meminta Pak Ujang untuk menjemputnya.


“Assalamu’alaikum.” Ucap Zara.


“Wa’alaikumussalam.” Sahut Ayah dan Ibunya.


Keduanya serentak menoleh ke arah Zara.


“Kamu tidak pulang bersama Kakek (Pak Ujang)?” Tanya Aura.


“Tidak, Ibu. Aku naik taxi.” Jawab Zara.


“Pantas saja.” Jawab Aura.


Aura mengetahui hal itu karena Pak Ujang dan Bi Jumi baru saja pamit pergi ke pasar untuk belanja bahan makanan bulanan. Itu artinya Zara tidak di jemput Pak Ujang.


“Ayah dan Ibu sedang apa? Sepertinya sedang serius.” Zara merasa penasaran karena Ayah dan Ibunya sibuk membuka lembaran demi lembaran sebuah album.


“Oh iya, mumpung kamu ada disini, sekalian saja kamu yang memilih.” Ucap Zara sumringah.


“Iya, begitu lebih baik. Dari pada kita berdua pusing memilihkan.” Ucap Rizky yang sependapat dengan Aura.


“Memilih apa?” Tanya Zara.


Aura Memberikan album yang ada ditangannya pada Zara.


Zara memperhatikan isi album tersebut.


“Ini contoh undangan pernikahan?” Zara sedikit kaget.


“Iya, tentu saja.” Jawab Aura.


“Hanya tinggal beberapa hari saja lagi. Ayo cepatputuskan kamu ingin mencetak undangan yang mana?” Rizky menimpali.


“Sebentar Ayah. Aku akan memilihnya terlebih dahulu.” Jawab Zara sambil membolak balikkan album yang ada ditangannya.


Rizky dan Aura tampak sabar menunggu keputusan dari putri semata wayang mereka.


Setelah beberapa menit hening, akhirnya Zara sudah menentukan pilihannya.


“Aku pilih yang ini. Bolehkan Ayah, Ibu?”


Zara menunjukkan sebuah undangan berwarna cream dihiasi oleh bunga-bunga berwarna pink.


“Tentu saja boleh, sayang.” Jawab Aura dengan lembut.


Kemudian Rizky pamit untuk pergi.


“Ayah pergi kemana, Bu?” Tanya Zara.


“Ayah akan pergi menemui Wedding organizer. Untuk membahas persiapan pernikahanmu.” Jawab Aura.


“Kami hanya akan Akad. Untuk apa Ayah sesibuk ini?”


“Walaupun hanya Akad, Ayah ingin semuanya disiapkan secara sempurna.”


“Oh. Aku mengerti.” Zara mengangguk. “Aku mau pergi ke kamarku, Bu. Mau ganti baju.” Lanjutnya.


“Baiklah.” Sahut Aura.


Zara pergi ke dalam kamarnya.


Sementara Aura masih duduk manis di sofa. Ia berencana untuk menghubungi Kakaknya dan menyampaikan hal bahagia ini.

__ADS_1


Tuutt.. Tuutt.. Tuuttt.. Suara panggilan tersambung.


“Assalamu’alaikum.” Ucap Aura.


“Wa’alaikumussalam.” Sahut Mea diseberang sana.


“Bagaimana kabar Kakak?”


“Alhamdulillah baik. Adik?”


“Alhamdulillah Adik juga baik. Kak, in syaa Allah minggu depan Zara akan menikah. Kakak bisa datang?” Aura to the point.


“Ma syaa Allah, Zara sudah mau menikah. In syaa Allah Kakak akan datang. Nanti setelah Bang Rafli pulang kerja, Kakak akan langsung berbicara dengannya.” Mea sumringah.


“Ajak Farhan dan istrinya juga ya, Kak.”


“In syaa Allah.”


Setelah mengucapkan salam. Aura mengakhiri panggilan.


Didalam kamar Arumi.


Ia mengirim pesan teks untuk Amir suaminya.


“Bang, tolong transfer uang untukku.” Tulisnya lalu menambahkan emoji senyum dan mengatupkan kedua tangannya.


Ia merasa gelisah sambil menunggu balasan dari Amir. Ia takut kalau Amir marah, karena beberapa hari yang lalu Amir sudah memberikan uang bulanan untuknya.


Tapi mau bagaimana lagi? Ia sangat membutuhkan uang untuk membayar hutang-hutangnya sebelum ia menikah dengan Amir.


“Uang? Apakah uangmu sudah habis?” Akhirnya Amir membalas pesannya walaupun dengan pertanyaan.


“Uangku masih ada sedikit, tapi aku membutuhkan uang lagi untuk membeli sesuatu.” Arumi membuat alasan.


“Baiklah, berapa yang kamu butuhkan?” Amir membalas chatnya.


“Aku hanya minta lima belas juta. Terima kasih, sayang.” Tulis Arumi.


“Ok.” Balas Amir singkat.


“Yyeeaaaayyyyy!! Akhirnya aku bisa membayar hutangku.” Arumi girang.


Tidak lama kemudian masuk sms pertanda ada transferan yang masuk.


Arumi semakin bagahia. Apalagi ketika melihat Amir melebihkan uangnya sebesar lima juta.


“Enak banget jadi istri orang kaya. Hahahahaa.” Arumi tertawa bahagia.


Suara tawanya itu terdengar hingga telinga Aura yang masih berada diruang tamu.


“Ada apa dengan Arumi?” Karena merasa penasaran, Aura berinisiatif menghampirinya.


Tokk.. Tokk.. Tokk.. Aura mengetuk pintu kamar Arumi.


Arumi membuka pintu dengan wajahnya yang ketus.


“Ada apa?” Tanyanya sinis.


“Aku mendengar suara teriakan dari kamarmu, kamu tidak apa-apa?” Tanya Aura.


“Oh, jadi kamu kepo. Hmpphh!! Aku sedang bahagia. Kenapa malah datang menggangguku?” Arumi tampak kesal.


“Maaf, aku permisi.” Aura merasa bahwa ia tidak disukai, maka ia langsung meminta maaf lalu pergi meninggalkan Arumi.

__ADS_1


Arumi pun langsung menutup pintu. Ia bergegas ganti pakaian lalu pergi keluar.


Di kantor Amir.


Amir sedang memikirkan Arumi.


“Kenapa Arumi jadi seboros ini? Baru saja beberapa hari berlalu. Sudah minta uang lagi padaku.”


“Padahal sebelum menikah ia pernah mengatakan padaku bahwa ia memiliki tanbungan hampir seratus juta.”


“Hal itu bahkan sempat membuatku bangga karena ia pandai menabung. Apakah itu semua dusta?”


“Kenapa kamu sangat pandai menipu, Arumi.” Amir merasa sangat kecewa pada pilihannya.


Ingin rasanya ia meluahkan segalanya pada Bang Rizky atau Kak Aura. Tapi ia merasa malu. Sudah setua ini harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi ini adalah masalahnya dan istrinya.


***


Di rumah sakit.


Dokter Zayn dan Dokter Nana sedang melakukan Operasi bypass jantung (CABG).


Keluarga pasien menunggu dengan cemas didepan ruangan oprasi. Semuanya terus menerus berdo’a demi keselamatan anggota keluarganya.


Dua jam berlalu, Akhirnya operation berakhir.


Dokter Zayn dan Dokter Nana keluar dari dalam ruangan operasi.


“Bagaimana keadaan Ibu saya, Dok?” Tanya seorang wanita remaja.”


“Iya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?” Tanya seorang Pria yang merupakan suami pasiennya.


“Alhamdulillah operation berjajalan lancar. Pasien akan segera dibawa keruangannya.” Jawab Dokter Zayn dengan ramah. Sementara Dokter Nana hanya diam saja disebelahnya.


“Terima kasih Dokter.” Sahut Ayah dan Anak itu serentak.


“Sama-sama.” Jawab Dokter Zayn kemudian mengundurkan diri.


Ia berjalan menuju ke ruangannya. Sementara Dokter Nana juga terus mengikutinya.


Karena Zayn sadar diikuti oleh Nana, ia akhirnya menghentikan langkah kakinya lalu membalikkan badannya menghadap Nana.


“Dokter Nana, mengapa Anda terus mengikutiku?” Tanya Zayn dengan sikapnya yang dingin.


“Kenapa? Apa aku tidak boleh ikut denganmu?” Nana balik bertanya.


“Tentu saja tidak boleh!” Jawab Zayn ketus. “Operasi sudah berakhir, itu artinya kita sudah tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi.” Lanjutnya.


“Ta-tapi, tapi aku…” Nana bingung harus bicara apa. “Aku masih ingin bersamamu.” Lanjutnya dengan wajah yang memerah karena malu mengakuinya.


“Ini rumah sakit, tolonglah bersikap professional.” Ucap Zayn dengan tegas.


“Tapi Zayn..” Nana memanggil Zayn yang berlalu pergi meninggalkannya.


“Sudah aku katakan, ini rumah sakit.” Ucap Zayn masih terus berjalan.


“Um, maksudku, Dokter Zayn, maukah kamu makan siang denganku?” Ajak Nana yang masih tidak mau menyerah meskipun sudah dicueki Zayn.


“Tidak. Aku akan makan siang bersama Dokter Ronald.” Zayn langsung menolaknya.


Setelah ditolak oleh Zayn, akhirnya Nana menghentikan langkahnya.


Saat itu ia sadar bahwa ada beberapa pasang mata yang menyaksikan kejadian itu. Bahkan ada beberapa perawat yang membicarakannya.

__ADS_1


__ADS_2