Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Rahasia yang Terungkap


__ADS_3

Hari berikutnya...


Pukul 08:44AM, Bang Rizky sudah pergi kerja. Aku duduk di ruang tamu menunggu kehadiran Kak Agatha.


"Nyonya Muda, mau Bibi buatkan minum apa?" tanya Bi Sumi saat melihatku duduk di ruang tamu.


"Erm.. Saya mau jus jeruk, Bi." jawabku.


"Baik, Nyonya Muda. Bibi ke belakang dulu, ya." ucap Bibi.


"Baik, Bi. Terima kasih." sahutku.


Bibi menganggukkan kepalanya lalu pergi ke dapur.


"Aura, sedang baca buku apa?" tanya Ummi yang tiba-tiba datang menghampiriku.


"Eh, Ummi. Aura baca buku yang berisi motivasi, Mi." jawabku sambil tersenyum.


"Kenapa tidak di ruang baca saja membaca bukunya? Kan bisa lebih nyaman." tanya Ummi.


"Aura sekalian menunggu Kak Agatha datang, Mi." jawabku.


"Oh, Agatha mau datang ke sini?" tanya Ummi lagi.


"Iya, Mi. Hehe." jawabku sambil cengengesan.


"Sayang sekali Ummi ada janji dengan teman. Sampaikan salam Ummi pada Agatha, ya." ucap Ummi.


"Baik, Mi. Pasti akan Aura sampaikan."


"Kalau begitu, Ummi pergi dulu ya. Assalamu'alaikum." ucap Ummi.


"Iya, Mi. Wa'alaikumussalam." jawabku lalu mencium punggung tangan Ummi.


Setelah itu, Ummi pergi di hantar oleh Pak Ujang.


Bi Sumi datang membawa jus jeruk pesananku.


"Bi, Chaca mana?" tanyaku.


"Chaca ada di belakang, Nyonya Muda. Sedang menjemur pakaian." jawabnya.


"Owh, begitu." ucapku lalu menganggukkan kepalaku.


"Bibi tinggal dulu ya, Nyonya Muda." ucapnya.


"Iya, Bi." sahutku.


Beberapa menit kemudian, Kak Agatha datang bersama Rasya dan Bella.


"Assalamu'alaikum." ucap Kak Agatha.


"Wa'alaikumussalam, Kak." sahutku lalu pergi menghampiri mereka.


"Ayo cium tangan Ucu." ucap Kak Agatha pada Rasya dan Bella.


Kemudian Rasya dan Bella mencium punggung tanganku secara bergantian.


Aku mengajak Kak Agatha mengobrol, sedangkan Rasya dan Bella pergi bermain di taman belakang rumah bersama Chaca dan Bi Sumi.


"Kak, ada sesuatu yang ingin Aura tanyakan. Aura tidak berani bertanya dengan Bang Rizky tentang hal ini." ucapku.


"Hal apa itu?" tanya Kak Agatha padaku.


"Sebenarnya Bang Rizky ada hubungan apa dengan Lucy?"


"Memangnya kenapa?" tanya Kak Agatha lagi.

__ADS_1


"Lucy selalu mengatakan Aura merebut Bang Rizky darinya. Apa itu benar, Kak?"


"Tentu saja hal itu tidak benar. Rizky tidak pernah suka dengan Lucy. Dia hanya mencintai Aura, bahkan sudah sejak lama." jawab Kak Agatha.


"Hah? Sudah sejak lama?" tanyaku. Aku merasa kaget hingga membelalakkan mataku. Bukankah aku dan Bang Rizky baru saling kenal? Bahkan belum sampai empat bulan.


"Iya, Rizky sendiri yang mengatakannya pada Kakak. Dia bilang, sudah mengagumi Aura sejak di pesantren." jelas Kak Agatha padaku.


"Sejak di pesantren, Kak?" kali ini aku merasa lebih kaget lagi.


"Iya, hehehe. Kamu tidak percaya?"


"Percaya tidak percaya sih, Kak. Hehehe." jawabku sambil tertawa kecil. "Jika itu benar, mengapa Lucy menuduh Aura merebut Bang Rizky?" sambungku.


"Itu karena Papa Lucy rekan bisnis Abi. Suatu hari, Papa Lucy berencana untuk menjodohkan Rizky dan Lucy putrinya. Agar persahabatannya dan Abi menjadi semakin erat.


Awalnya Lucy dan Rizky sama-sama menolak perjodohan itu. Karena Rizky sama sekali tidak tertarik pada wanita manapun selain Aura.


Hingga akhirnya suatu hari Lucy main ke hotel dan Lucy bertemu dengan Rizky. Lucy langsung jatuh cinta pada Rizky karena ketampanannya. Lalu Lucy membujuk Papanya agar menjodohkan mereka lagi.


Sudah beberapa kali Papanya membujuk Rizky, tapi Rizky selalu menolak. Abi dan Ummi juga mencoba membujuk Rizky, tapi Rizky menolaknya dengan tegas dan berkata 'Suatu hari nanti Rizky pasti akan menemukan cinta Rizky.'


Dan Aura adalah cinta yang Rizky maksudkan." jelas Kak agatha panjang lebar dan detail.


"Owh, begitu. Lumayan rumit juga ya, Kak." ucapku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. "Tapi, kenapa Bang Rizky bisa suka sama Aura, padahal belum saling kenal?" lanjutku.


"Kalau itu sebaiknya Aura tanya langsung saja pada Rizky."


"Baik, Kak."


"Aura jangan takut saingan sama Lucy, dia sama sekali bukan tipe Rizky. Lucy wanita yang kasar, sedangkan Aura sangat lembut. Kalau kalian berdua main film, Aura cocok berperan sebagai bawang putih sedangkan Lucy berperan sebagai bawang merahnya, hahahahah." ucap Kak Agatha dan tertawa.


"Hahahh. Kakak bisa saja." ucapku yang ikut tertawa. "Kak, mau Aura ambilin minum apa? Sampai lupa nawarin minum, keasikan ngobrol sih." lanjutku.


"Jangan, biar Kakak minta sama Bi Sumi saja." jawabnya. "Biii...... Bi Sumi....." teriak Kak Agatha memanggil Bibi.


"Bi, jangan lari-lari, nanti jatuh." ucapku. Tak tega rasanya melihat wanita paruh baya ini.


"Iya, Nyonya Muda." ucap Bibi sambil menganggukkan kepalanya.


"Tolong buatkan saya jus buah naga ya, Bi." pinta Kak Agatha.


"Baik, akan segera Bibi buatkan." sahut Bibi.


"Anak-anak sedang apa di belakang, Bi?" tanya Kak Agatha.


"Sedang makan kue dan minum jus alpukat, Nyonya pertama." jawab Bibi.


"Owh, ya sudah kalau begitu." ucap Kak Agatha.


"Baik, Bibi permisi ya Nyonya." ucap Bibi.


"Iya." sahut Kak Agatha.


Setelah Bibi pergi kebelakang, aku dan Kak Agatha melanjutkan obrolan kami.


"Oh ya, Kak. Tadi Ummi titip salam. Aura hampir saja lupa menyampaikannya." ucapku.


"Iya ya, Kakak baru saja mau tanya Ummi mana? Dari tadi Kakak tidak melihatnya." sahut Kak Agatha.


"Tadi Ummi bilang sudah ada janji ketemu sama teman, Kak. Tapi Aura tidak tau Ummi pulang jam berapa." jelasku padanya.


"Iya, tidak apa-apa. Ummi memang sering mendapatkan undangan makan bersama teman-teman Ummi."


"Owh, begitu." ucapku sambil manggut-manggut.


"Oh ya, Ra. Tentang kejadian kemarin, lain kali Aura harus menjaga jarak dengan Lucy dan Dona, ya. Demi kebaikan Aura." ucap Kak Agatha menasehati aku.

__ADS_1


"Kakak tau tentang kejadian kemarin?" tanyaku merasa sedikit kaget.


"Iya, Rizky yang menceritakannya pada Kakak." jawabnya. "Jahat sekali mulut mereka, hufffttt." lanjutnya dan merasa kesal.


"Iya, Kak. Aura juga tidak menyangka mereka bisa berbuat seperti itu pada Aura." ucapku pelan.


"Meskipun Kakak dan Dona sepupu, kami sama sekali tidak akrab. Dona jadi sering main ke sini karena menemani Lucy untuk bertemu Rizky. Tapi Rizky selalu menghindar setiap kali mereka datang. Jadi, Aura juga harus menghindar jika mereka datang. Percaya pada Kakak, mereka berdua sangat berbahaya. Dulu pernah ada kejadian..." tiba-tiba kalimat Kak Agatha terputus. Ntah apa yang terlintas dalam fikirannya hingga membuatnya berhenti bercerita.


"Kejadian apa, Kak?" tanyaku penuh dengan rasa penasaran.


"Sebebarnya Kakak di larang oleh Rizky untuk mengungkit masalah ini. Kalau Rizky sampai tau, dia bisa marah sama Kakak." jawabnya.


"Begitu ya, tapi Aura sudah terlanjur penasaran, Kak. Ceritakan saja pada Aura, Kak. Pleaseee." ucapku coba nembujuk Kak Agatha agar ia mau menceritakan hal itu padaku.


"Baiklah. Tapi Rizky tidak boleh tau. Janji." pintanya.


"Iya, Kak. Aura janji." ucapku meyakinkan Kak Agatga.


"Dulu pernah ada seorang wanita yang bisa di bilang suka sama Rizky. Kakak lupa namanya siapa. Wanita itu pernah mengirim bucket bunga ke rumah ini untuk Rizky. Hal itu diketahui oleh Lucy, dan akhirnya dia marah besar. Tau apa yang dia lakukan?" tanya Kak Agatha padaku.


"Tidak tau, Kak." jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku perlahan.


"Dia menyewa beberapa preman untuk mengganggu dan melec*hkan wanita tersebut. Tapi Alhamdulillah ada orang baik yang menolongnya. Hingga akhirnya para preman itu digebukin warga." jelas Kak Agatha dengan wajah serius.


"Astaghfirullah. Lucy setega itu, Kak?" tanyaku dengan nada kaget.


"Iya." jawab Kak Agatha singkat.


"Lalu apa yang terjadi pada gadis itu, Kak?" tanyaku lagi.


"Dia di kirim ke luar kota oleh orang tuanya. Sampai sekarang dia masih tinggal di sana bersama Kakek dan Neneknya." jawab Kak Agatha.


"Aura baru tau ada orang sekejam itu di dunia nyata. Biasanya Aura hanya melihatnya di film." ucapku pelan.


"Dimana-mana pasti ada orang yang seperti itu, jika orang itu tidak takut dosa." ucap Kak Agatha. "Tapi Aura jangan khawatir, Kakak sangat mengenal Rizky dan tau sifatnya. Dia sangat mencintai Aura, jadi Kakak yakin dia pasti akan selalu melindungi Aura." lanjutnya sambil mengelus-elus bahuku dengan lembut.


"Iya, Kak. Aura juga bisa merasakannya." ucapku dan tersenyum padanya.


Tak terasa hari sudah siang dan sudah waktunya untuk lunch. Aku dan Kak Agatha pergi menuju meja makan.


"Bi, tolong makanannya dihidangkan ya, Bi." pinta Kak Agatha pada Bi sumi.


"Baik, Nyonya Pertama." sahut Bibi.


Kemudian Bibi mengajak Chaca untuk menghidangkan makanan di atas meja.


Sedangkan Kak Agatha pergi ke taman belakang menjemput Rasya dan Bella.


Kak Agatha menyuruh Rasya dan Bella untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan.


"Ma, Bella tidak terlalu lapar. Tadi sudah makan kue. Bella makan nasinya sedikit saja." ucap Bella.


"Anak ini, masih kecil saja sudah bijak." ucapku di dalam hati.


"Iya." sahut Kak Agatha. "Rasya makan nasinya juga sedikit saja?" tanya Kakak pada putranya.


"Iya, Ma." jawab Rasya dan menganggukkan kepalanya.


Lalu kami semua mulai menyantap makan siang.


Setelah kami selesai makan, Ummi pulang.


"Rasya, Bella. Nenek kangen." ucap Ummi.


"Neneeekkk........" teriak Bella dan Rasya secara bersamaan. Lalu mereka berdua berlari menuju Neneknya. Ummi pun menciumi kening cucunya satu-persatu.


Adzan dzuhur berkumandang. Aku meminta izin untuk naik ke atas dan melaksanakan sholat.

__ADS_1


__ADS_2