
Hari yang dinanti-nanti oleh Bu Ajeng akhirnya tiba. Hari ini anaknya akan menikah dan menjadi istri dari orang yang terpandang dan kaya raya.
“Anak Mama cantik banget.” Ucap Bu Ajeng memuji kecantikan Marsya yang sudah mengenakan gaun pengantin berwarna putih.
“Iya donk, siapa dulu Mamanya.” Ucap Marsya balik memuji Bu Ajeng.
Kemudian mereka berdua tertawa bahagia.
***
Di luar rumah Rizky sudah banyak mobil berjejer, para tamu undangan sudah hampir tiba semuanya. Mereka sedang asik menikmati makanan pembuka yang sudah disajikan. Tenda berwarna putih melindungi mereka semua dari panas terik matahari pagi.
“Lima belas menit lagi pukul sepuluh tepat. Itu artinya acara akan segera dimulai.” Ucap salah seorang tamu pada temannya.
“Iya, aku sudah tidak sabar ingin melihat istri kedua Tuan Muda Rizky.” Sahut temannya.
“Betul. Aku dengar cara berpakaiannya sangat berbeda dengan istri pertamanya.”
“Wah, Aku jadi semakin tidak sabar ingin membuktikan rumor itu benar atau tidak.
Di saat para tamu sedang asik dengan perbincangan mereka masing-masing, ada Mang Jaja yang tiba-tiba terpana melihat sosok seorang wanita yang sedang menggendong gadis kecil. Disebelahnya ada seorang wanita yang sudah sepuh dipapah oleh seorang anak laki-laki.
“Nek, kita jauh-jauh datang ke sini hanya untuk undangan?” Tanya anak laki-laki tersebut, namanya adalah Amir.
Amir bertanya seperi itu karena ia melihat tenda yang besar, banyak mobil berjejer dipinggir pasar, ada banyak orang dan juga ada banyak makanan.
“Kita datang ke nikahannya sopo iki Nduk?” Tanya si Mbok pada wanita yang ada disebelahnya.
“Ntahlah, Mbok. Saya tidak tau ada acara apa didalam.” Jawab wanita tersebut.
Mereka kemudian menghampiri pos sekuriti.
“Mang Jaja.” Panggilnya.
Mang Jaja hanya diam bagai patung.
“Mang Jaja.” Panggilnya lagi sedikit teriak.
“I-iya, Nyo-nyo… nya.” Jawabnya terbata seakan-akan tak percaya, kini Nyonya Muda Aura ada dihadapannya. Bahkan dipelukannya ada gadis kecil yang sangat mirip dengan Tuan Muda Rizky.
“Ini ada acara apa ya?” Tanya Aura.
Mang Jaja akhirnya tersadar, ia segera keluar dari pos.
“Ini gawat Nyonya.” Ucap Mang Jaja dengan panik dan berdiri tepat dihadapan Aura.
“Apanya yang gawat?” Tanya Aura heran.
Belum sempat Mang Jaja menjawab, Chaca keluar memanggil para tamu.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, silahkan masuk ke dalam, Akad akan segera dimulai.” Ucap Chacha mengumumkan.
“Akad?” Tanya Aura kaget. “Siapa yang menikah, Mang?” Lanjutnya.
Mang Jaja tidak menjawab, ia lari menghampiri Chacha.
“Cha, ayo.” Ajaknya.
“Kemana, Mang?” Tanya Chacha sambil mengikuti Mang Jaja.
Setelah langkah kaki Mang Jaja berhenti, Chacha kaget.
“Ya Allah.” Teriaknya. “Nyonya Muda.” Lanjutnya histeris.
Sebagian tamu yang masih berada di dekat pintu masuk, menoleh karena teriakan Chacha.
__ADS_1
“Cha, ayo bawa Nyonya masuk. Sebelum terlambat.” Perintah Mang Jaja.
“Beri tau saya terlebih dulu, ini siapa yang akan menikah?” Tanya Aura lagi.
“Nyonya ikut masuk saja. Nanti Nyonya akan tau.” Jawab Chacha lalu ia menarik tangan Aura.
“Mbok..” Ucap Aura.
“Tenang saja Nyonya, saya yang akan membawa si Mbok masuk ke dalam.” Sahut Mang Jaja.
Karna si Mbok sudah sepuh dan kakinya sakit, ia jalan perlahan dan harus dipapah, jika tidak ia harus menggunakan sebuah tongkat.
Chacha dengan tergesa-gesa menarik tangan Aura, sesampainya ia di dalam ia langsung memanggil Rizky.
“Tuan Muda!” Chacha memanggil Rizky.
Rizky menoleh.
Melihat Rizky duduk bersanding dengan wanita lain dan akan mengucapkan ijab qabul, hati Aura sangat hancur. Ia merasa sangat kecewa.
“Tidak seharusnya aku kembali ke sini. Aku sudah tidak diharapkan lagi.” Ucap Aura dalam hatinya. Dengan Air mata yang berlinang, Aura pergi meninggalkan Chacha.
Rizky yang tadinya bengong karena terlalu bahagia melihat Aura, akhirnya sadar dan segera mengejar Aura.
“Aura!” Teriak Rizky.
Aura tidak memperdulikannya. Ia malah mempercepat langkahnya hingga ia bertemu dengan si Mbok, Amir dan Mang Jaja.
“Mbok, ayo kita pergi saja dari sini.” Ajak Aura.
“Lha, nopo Nduk?” Tanya si Mbok.
Kemudian Rizky datang dan memeluk Aura serta gadis kecil yang terus berada digengongan Aura.
“Abang mohon, jangan pergi lagi.” Ucapnya dengan tangis bahagia.
Zara, anak Aura menangis histeris karena merasa takut pada pria yang ada didekatnya.
“Saya bilang lepaskan! Kamu membuat anakku merasa takut!” Teriak Aura. Kesopanannya hilang karena mendengar tangisan Zara.
“Anakmu?” Tanya Rizky kaget.
Aura hanya mengangguk, lalu ia menggandeng tangan si Mbok dan mengajaknya untuk pergi.
“Saya kira selama ini kamu hilang ntah kemana dan hidup dalam bahaya atau bahkan hidup menderita. Tapi ternyata kamu hidup bahagia dengan laki-laki lain dan bahkan sudah memiliki seorang anak. Lalu sekarang kamu datang ke sini untuk memerkan hal itu?” Ucap Rizky berteriak pada Aura. Rasa kecewanya hanya bisa ia ungkapkan lewat air mata yang mengalir deras.
Aura menghentikan langkah kakinya. Dadanya sesak mendengar ucapan Rizky.
“Apa selama ini kamu pernah memikirkan saya? Apa selama ini kamu pernah mencari saya? Bahkan anakmu tumbuh tanpa seorang Ayah, kamu juga tidak tau. Dan dengan usianya yang masih sekecil ini, kamu ingin memberikan dia seorang Ibu Tiri.” Ucap Aura dengan linangan air mata, rasa kecewanya pada Rizky teramat sangat dalam. Terlebih lagi mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut Rizky.
“Kamu lupa pada janjimu dulu? Kamu janji tidak akan poligami. Lalu apa ini? Kamu ingin menikah lagi.” Lanjutnya, karena terus-terusan menangis, penyakit Asma Aura kambuh lagi. Ia merasa kesulitan bernafas.
Rizky tidak menyadari hal itu.
Aura segera mengatur nafasnya dan mulai mengontrol emosinya agar Asmanya tidak kambuh sepenuhnya. Karena Asma Aura bukan Asma akut, maka Aura masih bisa menahannya.
Aura tidak ingin melanjutkan perdebatan antara dirinya dan Rizky.
Marsya datang dan menggandeng tangan Rizky.
“Sudah, biarkan saja dia pergi. Ayo kita lanjutkan Akadnya.” Ucap Marsya.
“Diam!” Bentak Rizky. “Kamu tau bahwa saya tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Dari dulu hingga kini saya hanya mencintai satu wanita. Yaitu Dia!” Ucap Rizky dengan tegas sembari menunjuk wajah Aura.
Sontak hal itu membuat Aura kaget.
__ADS_1
Rizky berjongkok dihadapan Aura. Ia mengatupkan kedua tangannya.
“Aura sayang, Abang mohon, jangan pergi lagi. Tidak ada hari yang Abang lalui tanpa memikirkan Aura. Apa yang terjadi hari itu sepenuhnya adalah karena kecerobohan Abang. Setiap hari Abang lalui dengan perasaan menyesal dan perasaan ingin mati saja. Segala cara sudah Abang lakukan untuk melacak keberadaan Aura. Tapi lagi-lagi karena kecerobohan Abang, Abang gagal menemukan Aura. Bahkan Abang tidak tau jika waktu itu Aura sedang mengandung anak kita.” Ucap Rizky dengan suara parau.
“Tolong, beri Abang kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Wanita itu tidak memiliki tempat di hati Abang. Percayalah!.” Rizky mencoba meyakinkan Aura.
Para undangan yang ada saat itu hanya menjadi penonton setia.
“Jadi maksudmu…?”
“Iya, aku membatalkan pernikahan ini.” Pertanyaan Marsya langsung dijawab oleh Rizky bahkan sebelum ia selesai mengatakannya.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu para undangan. Saya sekeluarga meminta maaf atas kekacauan yang terjadi hari ini. Sekali lagi saya minta maaf, acara hari ini sampai di sini saja.” Ucap Ummi.
Lalu para tamu undanganpun bubar.
Bi Sumi memeluk Chacha dengan erat serta tak henti-hentinya ia mengucap syukur karena Nyonya Muda yang baik hati sudah kembali bahkan membawa seorang Nona Muda yang cantik jelita.
“Kami tidak bisa menerima hal ini.” Ucap Papa Marsya.
“Katakan saja, berapa jumlah uang yang anda inginkan sebagai kompensasi?” Tanya Kak Agatha terus terang.
“Lancang!” Teriak Papa Marsya.
“Jangan pernah kamu membentak Anak saya!” Bentak Ummi.
Perdebatan yang sengit hampir saja terjadi antara dua keluarga itu.
Lalu Bu Ajeng menengahi.
“Baiklah, kami ingin 3 Milyar.” Ucap Bu Ajeng tanpa rasa bersalah, apatah lagi malu.
Agatha dan Ummi membelalakkan kedua mata mereka.
Begitu juga dengan Aura, Mbok, Amir, Bi Sumi dan Chacha.
Namun bagi Rizky, uang sebanyak itu tidak sebanding dengan rasa bahagianya pasca kepulangan Aura dan Anaknya.
Rizky berlari-lari kecil menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil selembar cek lalu menuliskan nominal yang diinginkan oleh Mama Marsya.
Setelah itu ia segera turun dan menyerahkan selembar kertas pada Bu Ajeng. Bu Ajeng dengan bahagia menerima cek tersebut.
“Kami tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi. Ayo kita pulang.” Ajak Bu ajeng pada anak dan suaminya.
“Aku tidak mau, aku tetap ingin menikah dengan Rizky!” Ucap Marsya berteriak.
“Hei, Nona. Kami sudah tau tujuanmu masuk ke dalam keluarga ini bukankah hanya demi uang? Sekarang kalian sudah mendapatkannya. Jadi biarkan adikku hidup bahagia bersama anak dan istrinya.” Ucap Kak Agatha sinis.
“Tapi aku mencintainya.” Ucap Marsya menunjuk Rizky.
“Dan aku mencintainya.” Rizky juga menunjuk Aura. “Hatiku sudah dipenuhi oleh mereka berdua, tidak ada tempat untukmu.” Lanjutnya.
Marsya menangis sesenggukkan mendengar ucapan Rizky. Papa dan Mamanya menggandeng tangannya dan membawanya pergi dari sana.
Ummi menghampiri Aura dan memeluknya. Ummi mengambil Zara dari gendongan Aura. Dan Alhamdulillah Zara langsung mau digendong oleh Neneknya.
“Cucu Nenek. Siapa namanya?” Tanya Ummi mengajak ngobrol Zara.
“Alina Zara, Nek.” Sahut Aura sambil tersenyum dan mengelus lembut kepala putrinya yang berusia 2 tahun itu.
Kak Agatha juga memeluk Aura dengan haru.
“Akhirnya Adik kesayangan Kakak sudah kembali.” Ucap Agatha dengan bahagianya. “Tapi mengapa lama sekali?” Tanyanya penasaran.
“Panjang ceritanya, Kak.” Jawab Aura.
__ADS_1
Mereka semua duduk di ruang tamu dan sudah siap untuk mendengarkan cerita Aura.
Sebelum itu, Chacha dan Bi Sumi menyiapkan makanan ringan dan juga minuman.