
Sesampainya kami di depan pagar Villa, Bang Rizky turun dari mobil untuk membuka pagarnya.
Saat mobil kami terparkir, keluar seorang Kakek dari dalam Villa.
"Siapa itu, Bang?" tanyaku pada Bang Rizky.
"Oh, itu Kakek yang mengurus Villa ini." jawab Bang Rizky. "Ra, turun di sini ya. Abang mau masukkan mobil ke garasi." lanjutnya.
"Baik, Bang." lalu aku turun dari mobil.
"Selamat datang, Nyonya Muda." ucap Kakek tersebut.
"Terima kasih, Kek. Kakek sendirian di sini?" tanyaku. "Apa iya Kakek sanggup mengurus Villa ini sendirian? Pasti dia kelelahan." gumamku di dalam hati.
"Tidak, Nyonya Muda. Saya bersama Jihan, cucu saya." jawabnya sambil tersenyum.
Lalu Bang Rizky datang membawa koper.
"Mari, Tuan Muda. Saya saja yang membawa kopernya." pintanya.
"Jangan, biarkan Bang Rizky saja yang membawanya. Bang Rizky masih muda, bukan masalah jika hanya membawa koper ini. Hehehe." ucapku sambil cengengesan dan menatap netra Bang Rizky.
"Iya, Kek. Saya saja yang membawanya." ucap Bang Rizky.
"Baiklah. Silahkan." ucap Kakek dan membawa kami masuk ke dalam Villa.
Saat masuk, aku melihat ada seorang gadis yang sangat cantik.
"Tuan Muda dan Nyonya Muda. Perkenalkan ini cucu saya, namanya Jihan." ucap Kakek.
"Oh, ini Jihan." sahutku dan tersenyum pada Jihan.
"Iya, Nyonya Muda." jawab Jihan dan membalas senyumku.
"Saya sudah menyiapkan makan malam. Mau langsung saya hidangkan di meja, Tuan Muda?" tanya Jihan.
"Nanti saja. Kami mau bersih-bersih dan sholat maghrib terlebih dahulu." jawab Bang Rizky.
"Baik, Tuan Muda." ucap Jihan sambil membungkukkan badannya sedikit.
Kemudian aku dan Bang Rizky pergi ke kamar untuk mandi dan sholat secara bergantian.
Jam menunjukkan pukul 19:20WIB. Bang Rizky meminta Jihan untuk menghidangkan makan malam.
"Ini semua kamu yang masak, Han?" tanyaku pada Jihan.
"Benar, Nyonya Muda." jawabnya dan menganggukkan kepalanya perlahan-lahan. "Tidak enakkah, Nyonya Muda?" tanyanya.
"Enak, ini sangat enak. Kamu pinter banget masak." pujiku sambil tersenyum.
"Terimakasih, Nyonya Muda." ucap Jihan.
Setelah itu aku melanjutkan makan dan menghabiskan semampuku. Bang Rizky juga terlihat begitu lahap menyantap makan malamnya.
Setelah selesai makan malam, aku dan Bang Rizky menunaikan sholat Isya empat rakaat.
Kemudian Bang Rizky menelepon Ummi untuk memberi kabar agar Ummi tidak khawatir.
Sementara itu, aku duduk-duduk dan memainkan gawaiku. Beberapa menit kemudian Jihan datang menghampiriku dan membawa cemilan berupa kue basah yang dia masak sendiri.
Semua masakan Jihan enak, cocok sekali kalau dia membuka usaha warung makan ataupun restoran.
"Sini, Kakek dan Jihan juga duduk di sini menemani kami." pintaku pada Jihan dan Kakek.
"Tidak, Nyonya Muda. Kami tidak pantas." ucap Kakek.
"Kenapa?" tanyaku sambil mengernyitkan dahiku.
"Karena kami bawahan." jawab Jihan.
"Ah, tidak perlu sungkan. Kakek boleh menganggap saya sebagai cucu Kakek sendiri. Ini pertama kali saya berkunjung ke sini, saya ingin tau tentang daerah sini. Kakek tidak keberatankan untuk menceritakannya pada saya?" tanyaku pada Kakek.
Aku lihat Kakek dan Jihan saling bertatapan.
"Aura sayang." ucap Bang Rizky tiba-tiba. "Ini sudah hampir pukul sembilan malam, Kakek dan Jihan harus segera kembali ke rumahnya." lanjut Bang Rizky.
"Oh, Begitu. Aura kira Kakek dan Jihan menginap di Villa ini." ucapku.
__ADS_1
"Tidak." jawab Bang Rizky dengan lembut.
"Besok pagi-pagi sekali, saya dan Jihan akan datang ke sini dan Jihan akan mengajak Nyonya Muda jalan-jalan. Agar bisa lebih mengenal tempat ini." ucap Kakek.
"Baik, Kek. Terima kasih." ucapku dan tersenyum.
Setelah itu, Kakek dan Jihan pun berpamitan untuk pulang.
"Ini, tadi kami ada membeli sedikit makanan ringan. Kamu bawa pulang ya. Untuk cemilan di rumah." ucapku pada Jihan sambil menyodorkan satu kantong plastik berisi makanan ringan.
"Wah, terima kasih. Nyonya Muda baik sekali." ucap Jihan sumringah.
"Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan." ucapku.
Setelah Kakek dan Jihan pergi, aku dan Bang Rizky masuk ke dalam rumah.
"Rumah Kakek jauh, Bang?" tanyaku.
"Tidak terlalu jauh." jawabnya.
"Apa tidak bahaya kalau pulang malam-malam begini?" tanyaku lagi.
"In syaa Allah tidak apa-apa. Biasanya Kakek akan pulang sebelum maghrib, tapi karena kita ada di sini, Kakek jadi pulang malam." jawab Bang Rizky menjelaskan.
"Owh, begitu." ucapku sambil manggut-manggut. "Bay the way, Jihan cantik ya, Bang. Pinter masak pula." lanjutku.
"Oh ya?"
"Iya."
"Tapi kalau menurut Abang, Bidadari Abang ini yang paling cantik." ucapnya lalu menggendongku dan membawaku masuk ke dalam kamar. "Ayo tidur, hari ini sangat melelahkan." lanjutnya.
"Iya, Abang pasti capek banget karena sudah nyetir selama berjam-jam, di tambah lagi berkelahi dengan begal itu." ucapku.
Tidak lama kemudian kami pun langsung terlelap. Aku selalu tidur dalam pelukannya, lengannya menjadi bantal ternyamanku selama berada disisinya.
Bunyi alarm membangunkanku pukul 04:30WIB, aku sengaja menyetel alarm untuk bangun dan siap-siap sholat subuh. Begitu juga dengan Bang Rizky, ia terbangun karena mendengar bunyi alarmku.
Kami berdua bangun dan langsung berwudhu' secara bergantian. Saat waktu sholat sudah masuk, kami berdua menunaikan sholat subuh berjamaah.
Pagi ini kami makan nasgor alias nasi goreng spesial. Bukan aku yang memasaknya, tapi Chef Rizky, hehehe. Bang Rizky menjadi chef, sedangkan aku menjadi cook helper.
"Tidak masalah. Semua masakan Abang tidak perlu diragukan lagi rasanya." jawabku.
"Kalau bagi Aura semua makanan mah pasti rasanya enak." ucap Bang Rizky sambil tersenyum.
"Tentu saja. Kita tidak boleh menghina makanan." ucapku.
Bang Rizky menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan pendapatku.
"Oh, ya. Aura ada kerupuk yang cocok buat teman nasi gorengnya." lalu aku beranjak dari tempat duduk pergi mengambil kerupuk.
"Ini." ucapku sambil menaruh beberapa kerupuk di piring. Bang Rizky pun tersenyum melihatku.
Tepat pukul tujuh, Jihan datang bersama Kakek. Kakek mengendarai sepeda motor yang sudah termasuk butut. Sedangkan Jihan mengendarai sepeda.
"Ayo, Ra. Kita ambil sepeda kita." ajak Bang Rizky.
"Oh, kita juga naik sepeda." ucapku sumringah.
"Iya. Ayo kita ambil di garasi."
Lalu aku mengikuti Bang Rizky masuk ke dalam garasi untuk mengambil sepeda.
"Bersihkan dulu, Ra. Sedikit berdebu karena sudah lama tidak di pakai." ucap Bang Rizky.
"Baik, Bang. Ini sepedanya Kak Agatha?" tanyaku.
"Iya." jawabnya lembut.
"Pantesan warna pink, hehe." ucapku sambil cengengesan.
Senang sekali rasanya bisa jalan-jalan di kebun teh menaiki sepeda. Pagi-pagi begini pasti udaranya masih sangat menyegarkan.
Sebelum berangkat, Bang Rizky memakaian aku topi kupluk dan juga syal di leher. Meskipun aku sudah pakai jilbab dan jaket, tapi tetap saja dia khawatir. Supaya aku nanti tidak kedinginan dia menambahkan kupluk dan syal.
"Kek, kami pergi sekarang, ya." ucapku pada Kakek berpamitan.
__ADS_1
"Baik, hati-hati di jalan, Tuan Muda dan Nyonya Muda." ucap Kakek.
"In syaa Allah, Kek." sahut Bang Rizky.
"Jihan, bawa Tuan Muda dan Nyonya Muda melalui jalan yang aman-aman saja, ya." perintah Kakek pada Jihan Cucunya.
"Iya, Kek." jawab Jihan.
Lalu kami memulai perjalanan. Di mulai dengan Jihan, kemudian aku dan yang paling belakang Bang Rizky.
Ah, udaranya terasa sangat menyegarkan, rasanya aku ingin tinggal di sini dan tidak mau kembali lagi ke kota.
Ternyata Bang Rizky benar, daerah pegunungan memang sangat sejuk. Alhamdulillah tadi Bang Rizky memberiku kupluk dan syal, kalau tidak pasti aku sudah menggigil di sini.
"Aura, jangan ngebut." ucap Bang Rizky dari belakang.
"Aura tidak ngebut, Bang." sahutku.
Tiba-tiba Jihan berhenti. Lalu aku dan Bang Rizky juga ikut berhenti.
"Ada apa, Han?" tanyaku.
"Lihat itu, Nyonya Muda. Di sana ada rumah pohon. Kita bisa melihat pemandangan lebih jelas dari atas sana."ucapnya sambil menunjuk rumah pohon yang dia maksud.
"Wah, bagus sekali ada tempat seperti itu." ucapku bersemangat. "Kita boleh pergi ke sana kan, Bang?" tanyaku pada Bang Rizky.
"Iya, boleh." jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Ayo, Han. Kamu yang memimpin jalan." pintaku pada Jihan.
"Baik." jawab Jihan singkat.
Hurmm.. Meskipun rumah pohon itu terlihat dekat, tapi ternyata butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke sana.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga." ucapku sambil menghirup udara segar dan menikmati pemandangan yang luar biasa indah.
"Tempat seperti ini sangat cocok untuk Tadabbur Alam. Benar tidak?" tanyaku pada Bang Rizky.
"Absolutely true. Dengan begitu kita bisa lebih bersyukur atas segala nikmat dan keindahan ciptaan Allah." jawab Bang Rizky.
"Iya." jawabku singkat.
(Tadabbur Alam adalah sebuah proses untuk merenungi dan menghayati segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, yang telah diciptakan oleh-Nya, yang bertujuan untuk lebih mengenal alam, lebih dekat dengan alam, sehingga bisa menjaga dan melestarikan keberadaannya.)
Angin sepoi-sepoi berhembus, memberikanku rasa nyaman dan membuatku betah berlama-lama di atas sini.
"Aura lupa bawa minum." ucapku.
"Saya ada, di sepeda. Sebentar saya ambilkan." ucap Jihan. Lalu ia turun ke bawah untuk mengambil botol minumnya.
"Ini, Nya." ucap Jihan sambil menyodorkan botol minum miliknya. "Belum saya minum sedikitpun." lanjutnya.
"Terima kasih, Jihan." ucapku sambil tersenyum padanya.
"Sama-sama, Nyonya Muda." ucap Jihan dan membalas senyumku.
Tak terasa sudah hampir dua jam kami berada di atas rumah pohon menikmati pemandangan dan menangkap beberapa gambar untuk kenang-kenangan.
"Ayo pulang, besok kita jalan-jalan lagi." ajak Bang Rizky.
"Baik, Bang." jawabku.
Lalu kami bertiga turun dari rumah pohon.
Aaaaahhh... Aku hampir terjatuh.
"Aura sayang, hati-hati." ucap Bang Rizky dibelakangku dan mulai merasa khawatir.
"Iya, Abang tidak perlu khawatir." sahutku.
Kemudian aku jalan beberapa langkah lagi.
Aduuuhhh... Terasa seperti ada yang menggigit kakiku barusan. Aku lihat ke bawah dan ternyata
"Uuulaaaarrrrrr!!!!!!!" teriakku histeris. Ular tersebut langsung pergi entah ke mana.
Dengan sigap Bang Rizky menyingkap rok gamisku, dan menggulung celana leging yang aku pakai.
__ADS_1
Terlihat di sana ada bekas gigitannya yang memerah. Bang Rizky membuka tali pinggangnya dan langsung mengikatnya di betisku agar bisanya tidak menyebar.
Ah, kepalaku pusing, pandangankupun semakin kabur. Apa aku akan mati??