
Pov Icha.
"Ting!" aku terbangun ketika mendengar suara ponselku. Dengan mata yang masih sayu dan setengah sadar, aku mencoba meraih ponsel yang berada di samping tempat tidurku.
Aku lihat ada sebuah pesan masuk melalui messenger. "Dari Lilian. Apakah dia sudah tau kalau aku akan menikah dengan Bang Abdul?" tanyaku di dalam hati.
Dengan jantung yang berdegup kencang, aku buka pesan tersebut.
"Cha, aku mau kita ketemu. Secepatnya!" tulisnya.
Deg! Sepertinya Lilian memang sudah tau hal itu. Bagaimana ini? Aku tidak mau ribut dengan temanku sendiri. "Aku chat Aura saja deh." gumamku dalam hati.
"Assalamu'alaikum, Ra. Lilian ngajak Icha ketemuan, bagaimana donk?" tulisku.
Setelah mengirim pesan untuk Aura, aku masuk lagi ke messenger.
"In syaa Allah. Kapan, Li?" tanyaku pada Lilian.
"Sekarang kalau bisa." balasnya.
"Apa? Sekarang? Icha ajak Aura boleh tidak?" tanyaku lagi.
"Silahkan. Setengah jam lagi aku tunggu di warung bakso Pak Warto."
"Baik, Li." balasku singkat.
Aku melirik jam di gawaiku. Sekarang sudah pukul 14:22WIB.
"Wa'alaikumussalam. Maaf Cha, Aura baru balas. Ya temui saja, jangan takut." tulisnya.
"Iya, Ra. Kamu ikut ya."
"In syaa Allah. Kapan ketemuannya?"
"Sekitar pukul 3 di warung bakso Pak Warto."
"In syaa Allah. Kalau begitu Aura siap-siap sekarang ya. Nanti Aura kabarin kalau sudah berangkat."
"Baik, Ra."
Setelah itu, akupun mulai siap-siap juga. Apapun yang akan terjadi nanti, aku harus bisa menghadapinya. Bagaimanapun juga pernikahan sudah di depan mata.
Aku tau Lilian sangat menyukai Bang Abdullah, dia menceritakan rahasianya itu padaku sudah sejak lama. Hanya saja dia yang tidak mengetahui bahwa aku juga menyukai Bang Abdullah.
Ketika aku tau bahwa aku dan Lilian menyukai orang yang sama, aku mengalah tanpa sepengetahuannya. Aku tidak menyangka kalau ternyata Allah menjadikan Bang Abdullah jodohku.
Jam sudah menunjukkan pukul 14:55WIB. Aku pergi ke warung bakso Pak Warto menaiki sepeda motor kesayanganku. Sesampainya di sana, aku belum melihat siapapun. Lilian dan Aura belum tiba, aku duduk dan menunggu mereka berdua.
"Hi, Cha. Sudah lama menunggu?" tanya Lilian begitu sampai dan langsung duduk berhadapan denganku.
"Tidak, Li. Icha juga baru sampai." jawabku.
__ADS_1
"Aura mana? Tadi kamu bilang mau mengajak Aura juga." tanya Lilian lagi.
"Emm, sepertinya masih di jalan." jawabku sambil celingak-celinguk mencari-cari sosok Aura. "Nah, itu dia." lanjutku sambil menunjuk Aura yang sedang berjalan kaki.
"Alhamdulillah, akhirnya Aura sampai juga. Hari ini cuacanya lumayan cetar ya, bikin gerah." ucap Aura sesampainya di meja kami, lalu dia duduk di sebelahku.
"Ayo kita pesan minum dan bakso. Bakso di sini favoritku." ucap Lilian.
Aku dan Aura menganggukkan kepala kami serentak.
"Bang, sini Bang. Kami mau pesan." ucap Lilian dan memanggil salah satu pelayan.
"Awi, tolong catat pesanan meja nomor 5." perintah Pak Warto pada pekerjanya.
"Baik, Pak." ucap pria yang bernama Awi itu.
"Mau pesan apa Mbak?" tanyanya setelah tiba di meja kami.
"Aku pesan bakso iga dan jus jeruk." ucap Lilian.
"Saya mau Bakso ayam dan es teh manis." ucapku pada Bang Awi. "Aura?" lanjutku.
"Aura mau mi ayam bakso dan jus wortel." jawabnya.
Setelah menulis pesanan kami bertiga, Bang Awi pun pergi meninggalkan kami.
"Cha, memangnya kabar yang aku dengar itu benar ya? Kamu tidak lama lagi akan menikah dengan Bang Abdul?" tanya Lilian memulai obrolan.
"Congratulation ya. Akhirnya kamu nikah juga, sama orang yang perfect pula." ucap Lilian.
Aku hanya terdiam, tidak tau apakah aku harus bahagia mendengar ucapan selamat darinya.
"Hei, kenapa diam? Kamu takut aku marah ya? Santai saja, Cha." ucap Lilian lagi.
"Jadi Lilian tidak marah nih?" tanya Aura.
"Tidak, kenapa harus marah. Yang berhak memilih adalah Bang Abdul. Kalau dia memang memilih Icha, aku bisa apa?" ucapnya.
"Jadi kamu tidak marah sama Icha, Li?" tanyaku padanya.
"Yaelah, kenapa harus marah? Lagian aku suka Bang Abdul dulu, sekarang mah sudah tidak ada rasa apa-aoa lagi." jelasnya.
"Maaf ya, Li. Icha kira kamu mau kita ketemuan di sini, karena mau marahin Icha." ucapku terus terang padanya.
"Ah kamu mah berlebihan, su'udzon itu namanya." ucap Lilian dan menepuk lenganku pelan.
"Iya, maaf." ucapku.
"Aku mau kita ketemu di sini karena mau mentraktir makan bakso. Siapa tau nanti setelah Icha menikah, kita malah jadi susah buat ketemu." ucap Lilian.
"Iya, betul itu. Setelah Luna menikah juga Aura belum pernah ketemu lagi sama dia." sahut Aura.
__ADS_1
"Oh, begitu. Tapi nanti keep in touch ya, dari wasap ataupun messenger." ucapku.
"In syaa Allah." sahut Aura.
"Tapi aku jealous loh sama kamu Cha. Kapan ya aku di lamar sama pangeran seperti Bang Abdul? Baik, tinggi, putih, pintar, sholeh pula, hurmm." ucap Lilian dan menatap mataku.
"In syaa Allah, Allah telah menyiapkan seseorang yang terbaik buat kamu, Li." ucap Aura.
"Aamiin." sahut Lilian.
"Icha juga tidak menyangka kalau Icha akan menikah dengan Bang Abdullah." ucapku pelan.
"Harusnya kamu bersyukur Cha. Kalau kamu tidak mau, sini kasi sama aku saja. Hahaha." ucap Lilian sambil tertawa kecil. "Jujur saja deh, sekarang kamu pasti sudah fall in love sama dia. Iya kan? Hayo ngaku, hayo ngaku." ucap Lilian menggodaku.
"Hehehe. Iya sih, dikit." ucapku cengengesan.
"Banyak juga tidak ada yang melarang." ucap Aura.
"Yupzz." sahut Lilian.
"Eh, makanan kita sudah datang." ucap Aura ketika melihat pelanyan bernama Awi datang. Ia meletakkan makanan satu persatu di atas meja.
"Silahkan, Mbak." ucapnya setelah selesai menata makanan di atas meja. Lalu pergi meninggalkan kami.
"Makasih, Bang." ucapku.
"Selamat menikmati ya Cha, Ra. Ayo makan, aku sudah lapar." ajak Lilian.
"Iya." sahutku dan Aura serentak.
"Oh ya, Ra. Kamu sudah ada rencana menikah?" tanya Lilian sambil menyantap makanan yang ada di hadapannya.
"Belum, Li. Kalau kamu bagaimana?" Aura balik bertanya pada Lilian.
"Aku, belum juga. Belum ada yang serius sih." jawab Lilian.
"Mungkin yang serius sudah ada, tapi kamu yang terlalu banyak memilih." ucakpku menimpali pembicaraan mereka.
"Tidak kok. Aku tidak pemilih seperti Aura." ucap Lilian.
"Loh, Kenapa malah jadi Aura?" tanya Aura.
"Iya, biarpun kita jarang komunikasi, tapi aku tau kalau kamu sudah beberapa kali menolak lamaran. Benar, kan?" tanya Lilian.
"Iya, benar. Tapi bukan karena Aura pemilih, tapi karena memang belum ketemu dengan yang cocok." jawab Aura.
"Nah, aku juga begitu. Belum ketemu yang pas di hati." ucap Lilian.
"Apa Bang Rizky juga belum cocok sama kamu, Ra?" tanyaku penasaran.
"Rizky? Siapa Rizky?" tanya Lilian.
__ADS_1