
“Kamu lihat itu, Dokter Nana masih tidak menyerah mengejar Dokter Zayn.” Ucap seorang perawat yang berbisik pada rekannya.
“Iya, aku melihatnya saja sudah merasa kesal. Dokter Zayn terlalu sabar.” Sahut rekannya.
“Betul. Kalau itu aku, aku tidak akan bersikap sebaik itu.”
“Iya. Aku rasa sampai Dokter Zayn menikah nanti dia juga tidak akan menyerah.”
“Mengapa begitu?”
“Tentu saja karena dia tidak tau malu.”
Cibiran demi cibiran, Nana mendengarnya dengan jelas.
“Diam!!” Teriaknya. Membuat para perawat itu kaget dan merasa takut.
“Dokter Zayn hanya akan menikah denganku. Camkan itu!!” Bentak Nana. Lalu pergi meninggalkan para perawat yang mencibirnya.
Nana pergi dengan kesal, ia langsung masuk ke ruangannya dan mulai menangis.
“Hiks.. Hiks.. Hiks.. Aku sudah dipermalukam beberapa kali tapi kenapa tidak ada sedikitpun rasa simpatimu Zayn?”
“Apa aku sama sekali tidak menarik bagimu?” Nana merasa sedih bercampur kesal.
Setelah selesai menangis, ia mencuci muka lalu pulang ke rumah.
Nana memiliki mobil sendiri, ia mengendarai mobil sendiri dan tidak pernah meminta supir pada Papanya. Itu agar ia merasa lebih leluasa pergi kemana saja.
Sesampainya di rumah, ia langsung memeluk Mamanya. Lalu air matanya kembali mengalir.
“Sayang, ada apa?” Tanya Helda dengan lembut.
“Ma, apa semua pria memang tidak berperasaan? Hiksss.” Nana balik bertanya.
“Ada apa ini? Apa pria itu masih menolakmu?”
Nana sudah berkali-kali menceritakan Zayn pada Mamanya. Sejak ia masih kuliah hingga saat ini.
“Iya, Ma. Zayn.” Jawab Nana pelan.
“Ayo duduk dulu. Baru kemudian mengobrol.” Ajak Helda.
Nana mengangguk.
“Jika dia memang tidak menyukaimu, maka kamu yang harus mencoba untuk melupakannya.” Bujuk Helda.
“Tidak bisa, Ma. Dia begitu perfect, tidak ada duanya. Hikss.” Nana masih terisak.
“Hahahahaa. Kasihan sekali, benar-benar kasihan. Haha.” Angel tertawa bahagia sembari bertepuk tangan. Ternyata sedari tadi ia sudah menguping pembicaraan Helda dan Nana.
“Dasar, kur*ng aj*r! Apa ibumu tidak pernah mengajarimu sopan santun? Menguping itu dilarang.” Nana malah melimpahkan kekesalannya pada Angel.
“Iya, ibuku memang tidak pernah mengajariku sopan santun. Lalu kamu mau apa? Mau membanggakan ibumu ini?” Angel menunjuk Helda.
__ADS_1
“Beraninya kamu menunjuk-nunjuk ibuku seperti itu!” Nana semakin kesal.
“Kenapa tidak berani?” Angel sinis.
“Aku do’akan suatu hari nanti kamu juga akan mencintai pria yang tidak akan pernah mencintaimu!”
“Kamu berani mengutukku seperti itu!!” Angel berteriak karena kesal.
“Sudah!! Cukup!!” Helda menengahi kedua putrinya. “Nana, tidak seharusnya kamu menimpakan amarahmu pada adikmu.” Helda menasehati Nana.
“Dia bukan adikku.”
“Aku juga tidak mau menjadi adikmu.” Sahut Angel. “Ternyata walaupun memiliki Ibu, tidak semua Ibu bisa mendidik anaknya.” Lanjutnya kemudian pergi meninggalkan Helda dan Nana.
“Hmmmm.” Helda menghela nafas. “Sampai kapan kalian akan bermusuhan seperti ini? Mama lelah.” Helda kemudian meninggalkan Nana.
Helda pergi ke kamar untuk menenangkan dirinya.
Nana merasa bersalah pada Mamanya, tapi tidak berani menghampiri Mamanya.
“Sudahlah, nanti aku akan meminta maaf pada Mama.” Ucapnya dalam hatinya.
***
Malam hari.
Rizky dan Aura berada didalam kamar menjelang tidur.
“Ada apa, Sayang?” Rizky menatap mata istrinya.
“Aura bingung. Jika Arumi tidak menyukai kita, mengapa mau tinggal satu rumah bersama kita?”
“Apa dia membuat masalah lagi?”
“Tadi siang, Aura mendengar dia tertawa hingga berteriak. Lalu Aura menghampirinya ke kamar. Tapi dia malah marah. Aura bisa melihat dengan jelas dari sorot matanya bahwa dia tidak menyukai Aura.”
“Sabar ya sayang. Kita lihat beberapa bulan ini, jika Amir tidak bisa mendidiknya maka Abang yang akan turun tangan.” Rizky membujuk istrinya. “Sebagai seorang lelaki Amir memang termasuk lemah. Tapi jika kita langsung membantunya, itu tidak akan membuatnya belajar menjadi laki-laki yang tegas dan berani.” Lanjutnya.
“Iya, yang Abang katakan memang benar. Aura akan lebih bersabar lagi. Mulai sekarang Aura tidak akan mencampuri urusannya. Apapun yang terjadi padanya, Aura hanya akan membiarkannya.”
“Begitu lebih baik, Sayang. Jika dia tidak ada keperluan dengan Aura, sebaiknya Aura menghindarinya saja. Biarkan dia sendiri yang menyapa Aura terlebih dahulu.”
“Baik, Bang. Aura akan menuruti apa yang Abang katakan.”
Setelah itu Rizky mengecup dahi Aura dan mulai memejamkan mata bersama-sama.
Sementara itu di kamar Arumi dan Amir.
Amir memberanikan diri bertanya Arumi.
“Sayang, apa yang kamu beli hari ini?” Tanya Amir dengan lembut.
“Mamp*s, aku harus beri alasan apa nih?” Arumi gelisah.
__ADS_1
“Emm, itu…” Arumi masih bingung harus memberikan alasan apa.
“Sebenarnya, aku gunakan uang itu untuk membayar hutang.” Mau tak mau Arumi terpaksa harus mengatakan yang sebenarnya.
“Apa? Kamu punya hutang?” Amir sangat kaget mendengar pengakuan Arumi. “Berapa banyak hutangmu?” Tanyanya kemudian.
“Iya. Lima…” Arumi terdiam.
“Lima? Lima juta lagi?” Tanya Amir yang sangat penasaran.
“Lima, ratus, juta. Setiap bulan aku harus membayar lima belas juta.” Arumi menjawab dengan pelan.
“Astaghfirullah..” Amir teramat sangat kaget. Ia Istighfar berkali-kali agar emosinya tidak meledak dan tidak kasar pada Arumi.
“Kenapa kamu merahasiakan hal ini dariku?” Tanya Amir setelah berhasil mengontrol emosinya. “Lalu untuk apa uang sebanyak itu?”
“Maaf, aku tidak berani mengatakannya padamu.” Arumi tertunduk lesu.
“Dia sangat sabar, aku tidak salah menikah dengannya.” Ucap Arumi di dalam hatinya.
“Lalu untuk apa uang itu?” Tanya Amir sekali lagi.
“Kak Arin pernah ingin membuka butiknya sendiri, tapi sayangnya butiknya tidak berjalan lancar, ia bangkrut lalu hutang-hutangnya ia timpakan padaku karena aku sudah menikah denganmu.” Arumi menjadikan Kakaknya sebagai kambing hitam.
“Kakakmu? Apa benar begitu?” Amir tampat tak percaya.
“Iya, kalau kamu tidak percaya. Tanya saja pada orang yang memberi pinjaman. Dia pasti tau siapa yang meminjam uang padanya.” Arumi coba menghilangkan kecurigaan Amir.
“Huffttt! Baiklah, aku percaya padamu. Besok kita akan menemuinya lalu melunasi hutang-hutang Kakakmu.”
“Benarkah? Terima kasih banyak, Bang Amir. Kamu memang suami yang sangat baik dan penyabar.” Arumi memeluk Amir.
“Ngomong-ngomong. Kapan kamu akan memperkenalkan aku dengan Kakakmu?”
“Masalah itu… Sebenarnya Kak Arin malu bertemu denganmu karena masalah hutang ini.”
“Hmm, baiklah. Aku akan memakluminya.”
“Terima kasih.” Ucap Arumi. “Boleh aku bertanya?” Tanyanya.
“Boleh, tanya saja.”
“Kenapa kamu sangat ingin bertemu dengan Kak Arin?”
“Hanya ingin kenal dengan Kakak Ipar, apa tidak boleh? Apalagi dia adalah keluargamu satu-satunya.”
“Boleh. In syaa Allah jika Kak Arin sudah siap, kita berdua akan menemuinya.”
“Ok.” Amir setuju. “Sekarang sebaiknya kita istirahat.”
“Baik.” Arumi menurut.
“Masalah hutangku sudah terselesaikan. Setelah ini aku tidak perlu pusing lagi memikirkan hutang-hutangku. Akhirnya aku bisa bernafas lega.” Ucap Arumi didalam hatinya.
__ADS_1