
Aku teringat lagi dengan kisah-kisah seram yang pernah di ceritakan oleh kakak senior di pesantren.
Kata mereka yang sudah lama tinggal di pondok, ada beberapa kisah seram yang pernah di alami oleh beberapa orang santri dan santriwati.
"Dulu pernah ada akhwat yang lagi mens mandi baghda maghrib." ucap Kak Nana memulai cerita.
Aku menganggukkan kepalaku perlahan dan serius mendengarkan.
"Kalau sedang maghrib otomatis semua orang ada di masjid sholat berjama'ah." lanjut Kak Nana.
"Yang lagi mens cuma dia sendiri, Kak?" tanyaku.
"Iya. Nah, waktu dia mandi sendirian. Katanya tiba-tiba ada yang meluk dia dari belakang. Dia noleh kebelakang, tapi tidak ada siapa-siapa."
"Iiihhh.. Lalu apa yang terjadi, Kak?"
"Dia pingsan."
"Tidak ada yang menolong dia ya, Kak?"
"Tidak ada. Setelah sholat isya kami balik ke pondok, barulah kami tahu kalau dia pingsan." jelasnya.
"Kasihan sekali. Kenapa dia bisa di ganggu ya, Kak?"
"Mungkin karena dia lagi kotor, makanya syaitan suka. Apa lagi mandinya baghda maghrib, tidak bagus."
"Iya ya, Kak. Setelah itu dia masih suka mandi maghrib lagi, Kak?"
"Tidak, mana berani lagi dia sendirian di pondok kalau lagi datang bulan." ucap Kak Nana.
"Ra, dari tadi aku cariin. Ternyata di kamar sama Kak Nana." ucap Luna tiba-tiba.
"Iya, Aura sedang malas mau main ke luar. Di luar cuma ada kegiatan belajar menjahit kan? Aura kemarin tidak ikut daftar." jawabku.
"Iya, baru saja selesai. Bay the way, lagi ngobrol tentang apa?" tanya Luna.
"Sini duduk, kita sedang membahas kisah seram." jawabku.
"Hah? Kisah seram?" tanyanya kaget dan membelalakkan kedua bola matanya.
"Iya, yang pernah terjadi di sini." jelasku.
Lalu dia pun naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelahku.
"Ayo Kak Nana, lanjutin ceritanya." pintaku pada Kak Nana.
"Dulu juga pernah ada yang malas sholat berjama'ah di masjid. Kalau sudah masuk waktu sholat, dia masih santai-santai di pondok." ucap Kak Nana.
"Memangnya tidak di tegur sama Uti, Kak?" tanya Luna.
__ADS_1
"Tidak, dulu peraturan belum ketat seperti sekarang." jawabnya. "Dia bilang pernah malam-malam dia terbangun, mungkin sekitar jam 2 gitu. Dia dengar ada suara orang yang sholat di koridor." lanjutnya.
"Oh, mungkin memang ada yang lagi sholat tahajud, Kak." sahutku.
"Tidak. Tidak ada yang sholat tahajud di koridor. Tapi dia dengar banyak banget yang bilang 'Aamiin' secara bersamaan, seperti banyak orang yang sedang menunaikan sholat berjama'ah." ucap Kak Nana.
"Ih, seram juga ya kak pondok kita." ucap Luna.
"Biasa itu, mungkin teguran buat dia supaya rajin sholat berjama'ah." jelas Kak Nana.
"Selain itu ada kisah apa lagi, Kak?" tanyaku.
"Ada kejadian di pondok putra." jawabnya.
"Siapa, Kak?" tanya Luna.
"Orangnya sudah lulus, sudah tidak tinggal di sini lagi." jawab Kak Nana.
"Dia di ganggu bagaimana, Kak?" tanyaku.
"Waktu itu dia mau sholat tahajud di masjid. Dia bangunin temennya yang satu kamar sama dia. Kata temennya itu duluan saja, nanti menyusul." ucap Kaka Nana.
Setelah itu Kak Nana meraih botol minumnya dan meneguknya beberapa kali. Aku dan Luna masih setia menunggu kelanjutan ceritanya.
"Nah, setelah dia ambil air wudhu', dia langsung pergi menuju masjid. Sesampainya di masjid dia langsung sholat, dia merasa di belakang seperti ada orang yang mengikuti gerakan sholatnya. Dia kira itu temennya tadi yang sudah di belakang." lanjut kak Nana.
"Ternyata bukan ya, Kak?" tanya Luna.
"Abang itu tidak takutkah, Kak?" tanyaku penasaran.
"Awalnya dia takut, tapi kan dia mikirnya kalau temennya juga ada di belakang. Eh, setelah selesai salam, dia lihat ke belakang tidak ada siapa-siapa. Langsung lari balik ke pondok putra."
"Temennya sedang apa, Kak?" tanyaku.
"Temennya masih tidur. Hahaha." ucap Kak Nana dan tertawa. "Tapi kalau kata ustadz, itu jin baik yang ikut sholat sama dia." lanjutnya.
"Kalau aku yang jadi dia, sudah pasti tidak jadi sholat dari awal." ucap Luna.
"Sama, Lun. Hehehe." sahutku cengengesan.
"Kalau sholat tahajud memang seperti itu. Pasti ada godaannya, yang membuat kita tetap mau lanjut sholat ataj tidak."
"Kakak pernah?" tanya Luna.
"Tidak pernah sih. Tapi ada dulu temen sekamar Kakak yang selalu di goda." jawabnya.
"Di goda??" tanyaku.
"Iya, Kakak salut banget sama dia. Setiap kali dia sholat tahajud sendirian, ada perempuan yang memandangi dia ketika sholat. Sewaktu dia duduk antara dua sujud, perempuan itu selalu muncul di hujung sajadahnya. Dia biasa saja, tetap melanjutkan sholatnya sampai selesai. Setelah selesai sholat, perempuan itu pergi. Imannya mantap banget, kan?" jelas Kak Nana panjang lebar.
__ADS_1
"Iya, Kak." jawabku.
"Aku salut banget Kak sama dia." ucap Luna.
"Iya, kalau Kakak yang di gituin, pasti Kakak sudah lari. Hurmm." ucap Kak Nana.
"Ternyata banyak juga ya Kak kejadian seram di sini." ucapku.
"Iya, jadikan pelajaran."
"Baik, Kak." ucapku dan Luna serentak.
Aku pernah mendengar ceramah seorang ustadz, waktu itu ada acara maulid di pesantren.
Ustadz itu bilang, dulu pernah ada santri di pondok putra yang bisa melihat makhkuk halus.
Setiap kali ada orang yang mengantuk saat mendengar ceramah, dia pasti tertawa.
Saat di tanya oleh ustadz, dia mengatakan ada yang duduk di mata orang itu, makanya dia jadi ngantuk.
Aku jadi introspeksi diri, aku juga pernah ngantuk ketika mendengarkan ceramah, jangan-jangan waktu itu ada syaitan yang duduk di mataku. Astaghfirullah!!
"Kruukk.!" wah, perutku sudah bunyi. Sudah dulu deh throwback masa-masa di pesantren.
"Bu, Ibu sudah makan, Bu?" tanyaku pada Ibu yang sedang menonton televisi.
"Belum, Ibu belum lapar. Adik makan saja duluan." jawab Ibu.
"Iya, Bu." sahutku. Lalu aku pergi ke dapur untuk mengambil makan malamku. Malam ini aku makan masakanku sendiri, hehe.
Setelah selesai makan, aku bantu Ibu untuk menutup kios. Karena pembeli sudah tidak ada lagi.
Tidak terasa sudah pukul 10 malam. Mataku sudah terasa berat, tapi masih ingin berselancar di dunia maya.
"Ting!!" ada pesan masuk di aplikasi berwarna hijau.
"Assalamu'alaikum, Ra." isi chat atas nama Icha.
"Wa'alaikumussalam. Iya, Cha." balasku.
"Lagi apa, Ra? Sudah ngantuk belum?" tanya Icha.
"Lagi rebahan di kasur, mata sudah lumayan berat nih, hehe." balasku terus terang.
"Oh gitu. Icha mau ngomong sesuatu nih, boleh tidak?" tanyanya lagi.
"Iya boleh, Cha. Ngomong saja." jawabku.
"Ini tentang Rizky." tulisnya.
__ADS_1
"Hah? Rizky?" batinku. Sudah seminggu ini aku tidak mendengar kabarnya.