
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Terima kasih. *Hug.
Happy Reading....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama aku berada di Villa, aku tidak pernah sekalipun menelepon Ibu. Lebih baik aku telepon Ibu sekarang, untuk bertanya kabar.
Aku raih gawaiku dan segera menelepon Ibu.
Tuutt... Tuutt... Tuutt... Tuutt... Pertanda panggilan tersambung.
"Assalamu'alaikum, Dik." ucap Ibu di seberang sana setelah menjawab panggilan dariku.
"Wa'alaikumussalam. Sudah beberapa hari ini Adik tidak mendengar kabar dari Ibu. Apa Ibu baik-baik saja?" tanyaku pada Ibu.
"Alhamdulillah Ibu baik-baik saja. Adik sendiri bagaimana keadaannya di sana? baik-baik juga, kan?"
"Alhamdulillah Adik juga masih dalam lindungan Allah, Bu." jawabku. "Apa Ibu sedang sibuk?" lanjutku.
"Tidak, Nak. Beberapa hari ini kios sepi pembeli." jawab Ibu.
"Owh begitu. Apa Ibu butuh uang?" tanyaku lagi.
"Tidak, Dik. Alhamdulillah uang Ibu masih ada. Jangan khawatir." jawab Ibu.
"Kalau Ibu butuh uang untuk belanja barang-barang di kios, jangan segan-segan minta pada Adik ya, Bu." ucapku.
"In syaa Allah." jawab Ibu. "Oh, ya. Bagaimana perlakuan Rizky dan keluarganya? Semuanya baik pada Adik, kan?" tanya Ibu.
"Iya, Bu. Alhamdulillah semuanya baik." jawabku.
Yang membuatku sakit hati bukanlah Bang Rizky dan keluarganya, tetapi Lucy dan Dona. Tapi tidak perlu aku ceritakan hal itu pada Ibu, aku takut membuat Ibu khawatir seperti dulu saat memikirkan Kak Mea. Lebih baik aku menceritakan hal-hal yang membuatku bahagia.
"Oh ya, Bu. Kemarin selama empat hari Adik dan Bang Rizky menginap di Villa." ucapku.
"Oh ya? Di mana?" tanya Ibu.
"Di daerah pegunungan, Bu. Tempatnya indah banget. Udaranya juga sejuk, bahkan lebih sejuk dari pada tempat tinggal kita." jawabku menjelaskan pada Ibu.
"Oh begitu. Adik suka tempatnya?" tanya Ibu lagi.
"Iya, Bu. Adik suka banget sama tempatnya. Apalagi di sana Adik dapat teman baru. Namanya Jihan." jawabku sumringah.
"Owh, syukurlah. Ibu ikut bahagia mendengarnya." ucap Ibu.
"Iya, Bu." sahutku.
"Kemarin malam Kak Mea dan Bang Rafli menginap di rumah, Dik." ucap Ibu.
"Oh ya?" tanyaku.
"Iya, katanya mau ajak Farhan main-main ke pantai. Jadi mereka menginap di rumah Ibu dua malam." jawab Ibu.
"Ada pergi ke rumah Ayah juga, Bu?" tanyaku.
"Ada. Farhan yang mengajak ke sana. Katanya mau main PS sama Om Rafa." jawab Ibu.
Ayahku sudah memiliki dua orang anak dari Ibu Tiriku. Yang laki-laki bernama Rafa dan yang perempuan bernama Nala.
"Owh begitu. Ayah, Ibuk, Rafa dan Nala semuanya dalam keadaan sehat kan, Bu?" tanyaku.
"Iya, Alhamdulillah sehat-sehat semuanya." jawab Ibu. "Adik, sekarang sedang apa?" tanya Ibu.
"Adik cuma duduk-duduk saja di kamar, Bu. Terkadang Adik bosan di rumah terus. Tapi Adik juga takut kalau keluar sendiri." jawabku.
"Tidak apa-apa. Nanti kalau sudah punya anak, Adik pasti tidak akan merasa bosan lagi." ucap Ibu.
"Iya sih, Bu. Tapi Adik masih belum hamil, Bu." ucapku pelan.
"Dik, rezeki anak itu datangnya dari Allah. Banyak-banyak berdo'a dan meminta pada Allah. In syaa Allah tidak lama lagi Adik pasti akan hamil. Khusnudzon terus ya." ucap Ibu menasehatiku.
"In syaa Allah, Bu." sahutku.
"Dik, ada pembeli yang datang. Ibu tutup dulu ya teleponnya."
"Baik, Bu. Ibu jaga diri baik-baik di sana. Assalamu'alaikum."
"Iya, Adik juga jaga diri baik-baik di sana. Wa'alaikumussalam." sahut Ibu lalu mematikan telepon.
Senang sekali rasanya saat tau bahwa Ibu dalam keadaan sehat wal afiat.
Hari ini Bang Rizky sudah kembali kerja, tadi pagi ia berangkat kerja berdua dengan Abi. Aku di rumah hanya bersama Bi Sumi, Chaca dan Jihan. Sedangkan Pak Ujang pergi mengantarkan Ummi pengajian.
Ting!! Bunyi pesan masuk. Aku abaikan dan melanjutkan membaca buku.
Ting!! Ting!! Ting!! Ting!! Ting!! Ting!! Banyak banget bunyinya. Aku jadi penasaran, pesan dari siapakah itu?
Aku tutup buku dan meraih ponselku. Aku lihat ada sebuah group baru. Nama group tersebut adalah BFF.
Anggotanya hanya ada empat orang, yaitu aku, Icha, Luna dan Lilian.
Aku mulai membaca chatnya dari atas.
"Assalamu'alaikum, guys. Tidak apa-apa kan kalau aku buat group wasap seperti ini?" tulis Lilian. "Aku kangen kalian... Aaaaaaaaaaaa" lanjutnya dan menyelipkan emoji menangis.
"Wa'alaikumussalam. Tidak apa-apa, Li. Malah bagus ada group seperti ini. Aku juga kangen kalian." balas Luna.
"Wa'alaikumussalam, Icha juga suka ada group seperti ini. Mari berpelukaaaaannn." tulis Ica dan menyelipkan emoji peluk.
"Kaliah sih, tega banget ninggalin aku sendirian. Huwaaaaaa." tulis Lilian dan menyelipkan emoji menangis sebanyak-banyaknya.
"Makanya buruan suruh pangerannya datang melamar." balas Luna dan memberikan emoji tertawa.
"Pangeran apa? Pangeran kodok?" tanya Lilian.
"Pangeran berkuda putih donk!" ucap Icha.
"Jaman now kagak ada pangeran berkuda putih, Cha." balas Lilian.
"Bay the way, Aura mana? Kenapa tidak muncul-muncul?" tanya Luna.
"Assalamu'alaikum, Aura hadir." tulisku.
"Wa'alaikumussalam, panjang umur Aura. Baru di omongin langsung muncul orangnya." ucap Lilian.
__ADS_1
"Aamiin, panjang umur. Hehe." tulisku.
"Auraaaaaa akhirnya muncul juga." tulis Luna.
"Iya, gimana kabar dedek bayi di dalam perut?" tanyaku.
"Alhamdulillah sehat." jawab Luna.
"Ma syaa Allah. Kamu sudah mau jadi Ibu, Lun?" tanya Lilian.
"Alhamdulillah, iya. Do'akan kami berdua sehat terus ya. In syaa Allah tiga bulan lagi HPL." jawab Luna.
"Aamiin Allahumma Aamiin." tulisku.
"Bahagianya sebentar lagi bakalan jadi seorang Ibu." tulis Lilian.
"Alhamdulillah." tulis Luna. "Bay the way any way bus way. Wkwkwkk. Icha dan Aura bagaimana?" lanjutnya.
"Icha Alhamdulillah sudah hamil dua bulan." jawab Icha.
"Aura?" tanya Luna.
"Aura masih belum. Do'akan semoga Aura juga segera mendapatkan amanah dari Allah." jawabku.
"Aamiin ya Rabb." tulis Icha.
"Ah kalian, malah ngomongin anak. Ingat donk guys, di sini ada yang masih jomblo. Huwaaaaa." tulis Lilian dan menyelipkan emoji menangis.
Luna membalasnya dengan emoji tertawa.
Aku balas dengan emoji cium.
Sedangkan Icha memberikan emoji peluk.
"Oh ya, Ra. Bang Rizky kerja apa? Manager hotel bukan sih?" tanya Luna.
"Iya benar. Kamu tau dari mana, Lun?" tanyaku.
"Owh, Mas Yusuf yang memberi tahu aku. Dia lihat dari kartu nama yang diberikan Bang Rizky tempo hari." jawabnya.
"Wah, tidak di sangka. Ternyata Rizky manager hotel. Hotel xxx ya?" tanya Lilian.
"Iya benar. Bagaimana kamu tau, Li?" tanyaku pada Lilian.
"Sepupuku ada yang kerja di hotel itu. Dia bilang managernya baik, namanya Rizky." jawab Lilian.
"Owh, Begitu." tulisku.
"Iya." balas Lilian.
"Teman-teman, kalau ada kabar apa-apa jangan lupa kasi kabar dalam group ini." pinta Icha.
"Baik." tulisku.
Setelah itu tidak ada balasan apa-apa lagi dari mereka. Aku letakkan ponselku di atas kasur.
Ya Allah, perasaan apa ini? Kenapa rasanya sakit? Perasaan ini sangat tidak enak. Apa Aura merasa iri dengan Luna dan Icha yang saat ini sedang hamil?
Tidak, aku tidak boleh merasa cemburu apalagi iri dengan rezeki yang mereka miliki. Jauhkan rasa iri dengki dari hati Aura ya Allah, jauhkan.
Aku lihat Bi Sumi sedang masak dengan Jihan.
"Sedang masak apa, Bi?" tanyaku.
"Eh, ada Nyonya Muda. Ini sedang masak semur ayam." jawab Bi Sumi.
"Wah, enak tuh." ucapku. Lalu Bi Sumi tersenyum saat menatapku.
"Bi, di sekitar sini ada tidak yang menjual mi ayam bakso?" tanyaku lagi.
"Ada. Apa Nyonya kepingin makan mi ayam bakso?" Bibi balik bertanya padaku.
"Iya, Bi." jawabku.
"Sebentar Bibi suruh Chaca membelikan." ucap Bibi lalu memanggil anaknya Chaca. "Chaaaaaaa....." teriak Bi Sumi.
"Saya, Bu." sahut Chaca.
"Sudah selesai nyetrika baju?" tanya Bi Sumi.
"Sudah, Bu. Baru saja." jawab Chaca.
"Tolong pergi belikan mi ayam bakso untuk Nyonya Muda." pinta Bi Sumi.
"Baik, Bu." ucap Chaca lalu pergi.
"Tunggu, Cha." panggilku.
"Iya, Nyonya Muda. Ada apa?" tanyanya.
"Saya mau ikut." jawabku.
"Jangan Nyonya Muda." ucap Bi Sumi.
"Iya, sebaiknya Nyonya Muda tunggu di rumah saja. Saya saja yang pergi membelinya." pinta Chaca.
"Tidak apa-apa. Saya merasa sedikit bosan. Jadi saya mau ikut supaya bisa jalan-jalan keluar." ucapku.
"Owh, baiklah kalau begitu. Tapi kita hanya berjalan kali dan tempatnya lumayan jauh." jelas Chaca.
"Tidak masalah. Tapi tunggu sebentar, saya pamitan sama Bang Rizky terlebih dulu." ucapku.
Chaca mengangguk. Lalu aku menelepon Bang Rikzy.
"Assalamu'alaikum. Ada apa Aura sayang?" tanya Bang Rizky setelah menjawab telepon.
"Wa'alaikumussalam, Bang. Aura izin keluar sebentar ya. Mau beli mi ayam bakso." jawabku.
"Aura pergi sendiri?" tanyanya.
"Tidak, Aura pergi dengan Chaca." jawabku.
"Oh, ya sudah. Hati-hati dan jangan lama-lama pulangnya." ucap Bang Rizky.
"Baik, Bang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." jawab Bang Rizky. Lalu aku mengakhiri panggilan.
__ADS_1
"Ayo berangkat, Cha." ajakku.
"Iya, Nyonya Muda." sahut Chaca.
Kemudian aku dan Chaca keluar melalui pintu pagar yang ada di belakang. Ini pertama kalinya aku pergi keluar dan jalan kaki.
"Suasana di kota tidak terlalu buruk ya, Cha." ucapku.
"Iya, Nya." jawabnya.
"Cha, kamu anak tunggal ya?" tanyaku.
"Sebenarnya tidak, Nya. Saya anak pertama. Setelah itu Ibu ada hamil dua kali lagi, tapi keguguran. Kalau tidak, saya pasti sudah memiliki dua Adik." jawabnya menjelaskan padaku.
"Owh, begitu. Maaf ya, saya tidak tau." ucapku merasa menyesal karena sudah bertanya tentang hal itu.
"Tidak apa-apa, Nyonya Muda. Lagi pula saya senang karena Nyonya Muda mau menjadi saudari saya." ucapnya dan tersenyum.
Aku pun membalas senyumannya.
Setelah berjalan agak jauh. Akhirnya kami sampai di sebuah warung makan.
"Di sini tempatnya, Nyonya." ucap Chaca.
Lalu kami berdua masuk ke dalam. Aku duduk di kursi sedangkan Chaca pergi memesan mi ayam bakso untukku.
"Cha, beli 4 bungkus." ucapku.
"Apa tidak kebanyakan, Nya?" tanyanya kaget. Mungkin dia mengira semua itu untukku.
"Tidak." jawabku singkat.
Lalu Chaca pun memesan mi ayam bakso sebanyak empat bungkus.
"Hai, kamu Aura kan?" tiba-tiba ada seseorang yang menyapaku.
"Iya." jawabku singkat.
"Aku Ningrum. Apa kamu masih ingat?" tanyanya.
"Iya, saya ingat. Ningrum yang dulu teman saya di Madrasah, kan?"
"Benar. Aku kira kamu sudah lupa denganku." ucapnya.
"Tidak. Saya tidak lupa." lalu aku tersenyum padanya.
"Nyonya Muda. Ini sudah siap. Ayo kita langsung pulang." ajak Chaca.
"Hah? Nyonya Muda?" tanya Ningrum.
"Iya." jawabku. "Kenalkan, ini Chaca. Dia salah satu ART di rumah." lanjutku.
"Salam kenal. Saya Chaca." ucap Chaca dengan sopan.
"Oh, salam kenal juga." sahut Ningrum. "Kalau boleh tau, nama suami kamu siapa?" tanyanya.
"Nama suami saya Rizky Mahesa Putra." jawabku.
"Oh, begitu." jawabnya lalu manggut-manggut.
"Kita berpisah di sini ya. Saya mau pulang." ucapku berpamitan pada Ningrum.
"Iya, sampai jumpa lagi." ucap Ningrum.
Lalu aku dan Chaca berjalan pulang ke rumah. Diperjalanan Chaca bertanya padaku tentang Ningrum.
"Dia siapa, Nya?" tanya Chaca.
"Dia teman saya di Madrasah." jawabku. "Kenapa?" lanjutku.
"Tidak apa-apa, Nya. Saya merasa ada aura negatif saat berdiri disebelahnya." jawab Chaca.
"Oh ya? Mungkin hanya perasaan kamu saja." ucapku.
"Semoga saja begitu." sahutnya.
Apa benar yang dikatakan Chaca? Kalau memang begitu, kenapa hanya dia yang merasakannya? Ah sudahlah. Munkin hanya perasaan Chaca saja.
Setelah kami sampai di rumah. Bi Sumi dan Jihan sudah selesai memasak untuk makan malam.
Aku duduk di meja makan. Chaca mengambilkan mangkuk dan sendok untukku.
"Sini, saya saja yang menuangkannya." pintaku saat Chaca hendak menuangkan mi ayam bakso ke dalam mangkukku.
"Baik, Nyonya." jawabnya.
"Itu yang tiga bungkus lagi untuk kamu, Jihan dan Bi Sumi. Panggil mereka dan ajak makan di sini bersama saya." perintahku.
"Hah? Benarkah?" tanyanya kaget.
"Iya, kamu kira saya sanggup menghabiskan semuanya. Hahaha." jawabku sambil tertawa.
"Baik, terima kasih banyak, Nyonya Muda." ucapnya sumringah.
Lalu Chaca pergi memanggil Ibunya dan juga Jihan untuk makan mi ayam bakso bersamaku.
Setelah selesai makan, Bi Sumi membuat jus jeruk untukku.
"Terima kasih, Bi." ucapku.
"Bibi juga mau mengucapkan terima kasih karena sudah membelikan mi ayam bakso." ucap Bi Sumi.
"Sama-sama, Bi." jawabku lalu tersenyum padanya.
Jihan dan Chaca juga mengucapkan terima kasih. Padahal ini hanya sebungkus mi ayam bakso. Tapi bisa membuat mereka merasa bahagia sampai segitunya.
Terkadang yang membuat mereka bahagia bukan apa yang di beri. Tapi karena mereka merasa dihargai.
***
Di warung bakso tempat Aura dan Ningrum bertemu.
"Tidak aku sangka Aura adalah istri Rizky. Anak seorang pengusaha yang sukses. Kalau saja dulu Ibuku tidak putus dengan Pak Kholiz dan menikah dengannya. Pasti saat ini aku sudah menjadi Nyonya di rumah itu. Ibuku malah menikah dengan bapakku yang miskin itu. Tapi tenang saja, aku pasti akan segera merebut apa yang seharusnya menjadi milikku, karena aku tidak seperti Ibuku. Kamu tunggu saja Aura, aku pasti akan merebut Rizky darimu. Jangan panggil aku Ningrum kalau aku tidak bisa melakukannya." ucap Ningrum.
Ibu Ningrum adalah mantan Abi Rizky. Mereka sempat hampir menikah, tapi tidak jadi karena Ibu Ningrum mengkhianati Abi Rizky.
Ningrum selalu mengeluh dengan kehidupannya yang serba kekurangan. Hingga akhirnya Ibunya menceritakan tentang hubungannya dan Abi Rizky di masa lalu.
__ADS_1