
Setelah aku berfikir keras, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan segala hal yang ada di dalam benakku.
Aku masuk ke dalam kolom chatku dan Bang Rizky.
"Assalamu'alaikum, Bang. Ada hal yang ingin Aura sampaikan." tulisku. Setelah aku pandangi beberapa menit, aku kirim pesan tersebut.
Tiba-tiba aku merasa deg-degan, lalu aku langsung meletakkan gawaiku disebelahku.
Ah, sebenarnya aku merasa sangat malu untuk mengakui hal ini. Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus mencoba untuk bisa terbuka dengannya.
Setelah 10 menit menunggu, Bang Rizky akhirnya membalas chatku.
"Wa'alaikumussalam, Ra. Silahkan, katakan saja, Ra." tulisnya.
"Hurmm.. Sebaiknya aku langsung to the point saja." ucapku di dalam hati.
"Abang kerja sebagai seorang chef ya?" tanyaku.
"Iya, kenapa?" tulisnya.
"Sebenarnya Aura tidak pandai masak, Bang. Karena Abang adalah chef, Aura jadi merasa malu."
"Malu? Kenapa harus malu? Haha."
"Iya, karena Aura seorang wanita, tapi kalah sama Abang. Masakan Aura pasti tidak seenak masakan Abang. Bahkan mungkin Abang hafal banyak resep, sedangkan Aura tidak." jelasku.
"Tidak masalah, jika Aura mau belajar pasti lama-kelamaan bisa jago masak." balasnya.
"Iya, tapi untuk saat ini Aura tidak bisa memanjakan perut Abang seperti wanita yang lainnya."
"Kalau Aura tidak bisa melakukannya, tidak masalah. Karena saya bisa memanjakan perut Aura."
"Kalau begitu jadi terbalik donk, Bang. Seharusnya Aura yang melakukan hal itu, bukan Abang."
"Apakah Aura tau makanan kesukaan saya?" tanyanya.
"Tidak." jawabku.
"Saya sangat suka rebusan dan sambal ulek." tulisnya.
"Hah? Serius, Bang?" tanyaku. Aku benar-benar kaget ketika membaca tulisannya tersebut.
"Iya, karena menurut saya makanan seperti itu lebih sehat. Saya juga kurang suka makanan yang bersantan, tapi kalau sekali sekala tidak apa-apa." balasnya.
Ya Allah, Aura jadi merasa beruntung, hehehe. Allah maha baik, menyatukan Aura (yang tidak bisa masak makanan yang mewah) dengan Bang Rizky yang ternyata suka makanan sederhana.
"Lagi pula nanti Aura tidak akan masak di rumah kami." lanjutnya.
"Kenapa begitu? Apa Abang yang akan masak setelah pulang kerja? Hehe." tanyaku.
__ADS_1
"Tidak juga." balasnya.
"Oh ya, Bang. Ada satu hal yang ingin Aura bicarakan, serius."
"Iya, tafadhol. Saya malah suka kalau Aura mau terbuka dan terus terang pada saya."
"Iya, Bang. Apa nanti setelah menikah kita akan tinggal di rumah orang tua Abang?" tanyaku. Sejujurnya aku sangat takut pertanyaanku ini akan menyinggung perasaannya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku butuh jawabannya.
"Iya, kenapa?" balasnya.
Deg! Hatiku merasa tidak nyaman ketika dia menjawab iya.
"Kenapa harus tinggal bersama orang tua? Apa Abang tidak ingin mandiri? Ngontrak rumah juga tidak masalah." tulisku.
"Memangnya kenapa?"
"Aura takut." jawabku.
"Takut apa? Coba Aura jelaskan pada saya. Apa yang Aura takutkan?"
Aku bingung, kira-kira jika aku ceritakan secara detail padanya tentang trauma masa kecilku, apa itu sama saja dengan aku membuka aib Nenek dan Mertua Kak Mea?
"Ermm.. Ada hal yang membuat Aura trauma, Bang. Aura tidak bisa menceritakan semuanya pada Abang. Tapi intinya, ada mertua yang tidak menyukai menantunya, hal itu membuat mertuanya menjadi semena-mena dengan menantunya." jelasku, aku coba untuk mempersingkat cerita.
"Oh, begitu. In syaa Allah, Ummi tidak seperti itu. Ummi sangat baik terhadap siapapun."
"In syaa Allah. Abang sangat yakin."
"Oh ya, boleh Aura tau mengapa Abang ingin menjadikan Aura sebagai teman hidup Abang?" tanyaku.
"Ada banyak hal yang saya sukai dari Aura." jawabnya.
"Banyak? Apa saja, Bang?" tanyaku lagi.
"Setelah menikah akan saya ceritakan segalanya." jawabnya. "Ra, bulan depan tanggal 5, in syaa Allah saya dan keluarga akan mengunjungi rumah Aura." lanjutnya.
"Hah? Mau berkunjung? Dalam rangka apa, Bang?" tanyaku. Seketika itu jantungku langsung berdebar-debar dibuatnya.
"Mau melamar Aura." jawabnya.
Aduuuhhh.. Debaran jantungku terasa semakin kencang.
"Tapi sebelumnya Aura minta maaf, Bang. Aura mau melaksanakan sholat istikharah terlebih dulu. Boleh kan?"
"Iya, tentu saja boleh. Setelah sholat, jika Aura merasa yakin dengan saya. Saya bolehkan langsung melamar?"
"Iya, Bang. Boleh." jawabku. "Kita udahan dulu chatnya ya, Bang. Sudah malam." sambungku.
"Iya. Assalamu'alaikum." tulisnya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam." balasku.
Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhh Iiibbbuuuuuuuuuuu... Aura pasti mimpi Bang Rizky mau datang untuk melamar.
Tapi, masih ada rasa yang mengganjal di dalam hatiku. Apa aku harus percaya dengan apa yang Bang Rizky katakan, bahwa Ummi tidak akan sama seperti Nenek dan Mertua Kak Mea.
"Dik, ayo bantu Ibu tutup kios." pinta Ibu saat menghampiri aku di dalam kamar.
"Oh, iya. Ayo, Bu." ajakku.
Lalu kami berdua berjalan menuju kios beriringan, kami rapikan semuanya lalu mengunci kios. Setelah selesai, Ibu pergi menutup pintu yang paling depan dan menguncinya. Agar tidak ada lagi pembeli yang masuk.
"Bu," panggilku. "Ibu sudah ngantuk?" tanyaku pada Ibu saat Ibu menoleh ke arahku.
"Belum, ada apa?"
"Sini, Bu. Aura mau bicara." aku mengajak Ibu untuk duduk di ruang tengah.
"Mau bicapa apa?" tanyanya. "Oh, Ibu tau. Mau bicara tentang isi proposal, ya kan?"
"Iya, Bu. Lalu Bang Rizky bilang, in syaa Allah bulan depan tanggal 5 mau berkunjung ke sini untuk melamar." jelasku.
"Ma syaa Allah, secepat itu?" ucap Ibu sedikit kaget.
"Iya, Bu. Tapi Aura sudah bilang pada Bang Rizky, kalau Aura akan melaksanakan sholat istikharah terlebih dahulu." jelasku pada Ibu.
"Iya, bagus itu. Sholat dan minta pendapat Allah terlebih dulu." ucap Ibu menyemangati aku.
"Iya, Bu. Ayo tidur, Bu. Besok harus bangun pagi-pagi seperti biasa, hehe." ucapku cengengesan.
"Iya." sahut Ibu.
Lalu aku masuk ke dalam kamarku. Aku baringkan tubuhku di atas katil. Biasanya aku akan langsung tertidur, tapi malam ini tidak.
Aku beranjak lagi dari tempat tidurku, aku pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. "Aku sholat istikharah dulu saja, baru kemudian coba tidu lagi." gumamku di dalam hati.
Akhirnya aku melaksanakan sholat isrikharah dan meminta petunjuk dari Allah.
Setelah selesai, aku baringkan lagi tubuhku di atas tempat tidurku. Mataku masih belum bisa terpejam. Aku masih mengingat Bang Rizky dan wanita yang bernama Lucy itu.
Suatu hari nanti aku pasti akan bertanya pada Bang Rizky, siapa wanita itu?
Aku perhatikan saat Bang Rizky muncul di sampingku waktu itu, wajahnya berubah. Aku bisa melihat dari raut wajah dan tatapan matanya, ada rasa suka dalam dirinya untuk Bang Rizky.
Raut wajah dan tatapan mata yang sama seperti milik Luna ketika membicarakan Yusuf dan sama juga seperti raut wajah dan tatapan mata Icha ketika membicarakan Bang Abdul.
Aku hapal betul dengan keduanya. Aku sangat yakin bahwa aku pasti tidak salah dalam menilai hal tersebut.
Jika nanti benar seperti apa yang ada di dalam fikiranku, semoga Lucy tidak memusuhiku, sama seperti Lilian yang justru mendukung hubungan antara Icha dan Bang Abdul.
__ADS_1