Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Kampus


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Thank you. *Hug.


Happy Reading.... 💕


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Jihan memberanikan diri pergi ke kampus walaupun sebenarnya dia masih sangat malu atas kejadian yang menimpanya kemarin.


"Salsa..." panggil Jihan begitu ia melihat punggung Salsa teman baiknya.


"Eh, Jihan. Baru sampai?" tanya Salsa.


"Iya. Ayo ke kelas bareng." ajak Jihan.


"Ayo." ucap Salsa dan tersenyum pada Jihan.


Buukkk!!! Seseorang melemparkan pena pada Jihan.


"Auchh. Apa itu barusan?" Jihan kaget dan mencari-cari benda yang tiba-tiba mengenai kepalanya. "Pena siapa ini?" tanya Jihan lalu berjongkok untuk memungut pena tersebut.


"Ada apa, Han?" tanya Salsa.


"Ada seseorang yang nimpuk saya pakai pena ini." jawab Jihan sambil menunjukkan sebuah pena pada Salsa.


Salsa meraih pena tersebut.


"Wooyy!! Pena siapa ini??" teriak Salsa agar mengetahui pemilik pena tersebut.


"Punyaku." jawab Kanaya.


"Hahaha. Cuma di timpuk pakai pena saja sudah heboh." Friska mentertawakan Jihan.


Lalu spontan Salsa melempar pena yang ada ditangannya dan mengenai bahu Friska.


"Heh, berani kamu ya!" bentak Friska.


"Cuma di timpuk pakai pena saja sudah heboh." Salsa mengulangi ucapan Friska.


"Kamuu!!!" Friska sangat kesal.


Tapi Jihan dan Salsa tidak menghiraukannya. Mereka berdua pergi meninggalkan Kanaya dan Friska.


Sesampainya di dalam kelas, Salsa dan Jihan duduk bersebelahan.


"Apes bener hari ini. Masih pagi sudah di timpuk pena. Sungguh rezeki yang tidak disangka-sangka." ucap Jihan sambil merapikan buku-bukunya.


"Kesialan yang tak terduga itu namanya, Jihan." ucap Salsa.


"Hahaha. Tapi kamu lihat tidak ekspresinya Friska tadi?" Jihan teringat pada ekspresi Friska saat di timpuk Salsa pakai pena.


"Lihat. Pasti sekarang dia masih kesal setengah mati." jawab Salsa.


"Kamu berani banget membalasnya." ucap Jihan.


"Kalau tidak di balas, mereka semakin semena-mena." ucap Salsa. "Tapi apa benar kamu berasal dari kampung?" tanya Salsa.

__ADS_1


"Iya." jawab Jihan. "Apa kamu malu berteman dengan saya karena saya gadis miskin yang berasal dari kampung?" tanya Jihan. Dia mulai merasa tidak nyaman.


"Bagiku tidak masalah. Asalkan kamu baik, aku pasti mau berteman sama kamu." jawab Salsa.


"Terima kasih, Sa." ucap Jihan.


"Sama-sama. Lalu kamu tinggal di mana? Tinggal di kos atau kontrakan?" tanya Salsa.


"Saya tidak ngekos. Saya bekerja sebagai ART di rumah Tuan Muda Rizky." jawab Jihan.


"Owh, sepertinya nama ini tidak asing." ucap Salsa.


"Kamu kenal dengan Tuan Muda Rizky?" tanya Jihan.


"Sepertinya iya, tapi saya juga tidak bisa memastikannya." jawab Salsa.


"Oh, kalau begitu kapan-kapan kalau ada waktu luang saya bawa kamu main ke rumah. Di rumah juga ada Nyonya Muda yang super baik. Kamu pasti akan merasa senang jika bertemu dengannya." ucap Jihan


"Baiklah, kapan-kapan aku mampir." ucap Salsa.


Mata kuliah pertama pun di mulai.


Hari ini Jihan hanya ada dua mata kuliah saja. Setelah selesai kelas, Jihan pun bergegas pulang agar tidak di ganggu lagi oleh Kanaya.


"Salsa, saya sudah tidak ada mata kuliah lagi. Saya pulang duluan, ya." ucap Jihan.


"Oh, ya sudah. Saya masih ada satu mata kuliah lagi." sahut Salsa.


"Baiklah, saya permisi." ucap Jihan.


"Iya, hati-hati di jalan." ucap Salsa.


"Always, hehe." salsa tertawa kecil.


Jihan pun bergegas menuju gerbang kampus yang jaraknya lumayan jauh dari ruangannya.


"Jihaann." teriak seseorang.


Karena Jihan tidak kenal dengan suara ini, apalagi suara pria, Jihan pun mengabaikannya begitu saja.


"Jihaann." panggilnya sekali lagi.


Jihan tidak berhenti, dia malah semakin mempercepat langkah kakinya.


"Jihan, saya panggil apa kamu tidak dengar?" tanya Firman saat sudah berada di sebelah Jihan. Nafasnya sedikit ngos-ngosan karena lari-lari mengejar Jihan.


"Oh, kamu. Tolong jangan ganggu saya, saya tidak mau Kanaya mengganggu saya lagi." ucap Jihan memohon lalu menangkupkan kedua tangannya.


"Apa kamu takut dengannya?" tanya Firman.


"Saya tidak takut. Saya hanya ingin belajar dengan tenang di kampus ini." jawab jihan.


"Maaf, karena saya kamu jadi tidak tenang belajar di kampus ini." ucap Firman.


Jihan hanya diam karena tidak tau harus berkata apa.


"Apa kita boleh berteman?" tanya Firman.

__ADS_1


"Tidak." jawab Jihan singkat.


"Mengapa tidak boleh?" tanya Firman lagi. Ada rasa kecewa di dalam hatinya karena Jihan langsung menolaknya.


"Karena saya hanyalah gadis yang berasal dari kampung." jawab Jihan pelan. Ada sedikit rasa malu di dalam hatinya ketika mengatakan hal itu pada Firman.


"Tidak masalah bagi saya. Karena saya juga berasal dari kampung, sama seperti kamu." ucap Firman dan tersenyum pada Jihan.


"Loh, bukannya kamu anak pengusaha?" tanya Jihan yang sedang bingung.


"Bukan. Kamu salah faham." jawab Firman. "Boleh kita duduk sebentar dan mengobrol?" pinta Firman.


Jihan menganggukkan kepalanya. Lalu mereka berdua pun duduk untuk mengobrol.


"Saya hanya anak angkat. Bukan anak kandung." ucap Firman mulai terus terang pada Jihan.


"Owh begitu. Kalau kamu hanya anak angkat. Lalu bagaimana dengan orang tua kandung kamu?" Jihan mulai kepo.


"Orang tua saya hanya tinggal Ibu. Sedangkan Bapak saya sudah lama meninggal. Sekarang Ibu hanya tinggal berdua dengan Kakak perempuan saya." jawab Firman menjelaskan. "Kanaya juga mengira saya adalah anak kandung pengusaha, padahal saya hanyalah anak angkat." sambungnya.


"Owh, maaf saya tidak tau kalau Bapak kamu sudah tidak ada." ucap Jihan pelan.


"Tidak apa-apa. Lagi pula saya tinggal bersama orang tua angkat saya juga sambil kerja." ucap Firman. "Oh ya, kamu tinggal di mana?" tanya Firman.


"Saya tinggal di rumah Tuan Muda Rizky dan menjadi ART." jawab Jihan.


"Wah wah wah. Bukan hanya gadis kampung, tapi juga seorang pembantu." tiba-tiba Kanaya dan Friska datang, mereka berdua mendengar pengakuan Jihan.


"Hahahahahaha. Memalukan." Friska mentertawakan status Jihan.


"Iya, memangnya kenapa? Yang penting kerjanya halal." Firman membela Jihan. "Dan yang paling penting, Jihan lebih baik dari pada kalian berdua. Pakaiannya jauh lebih sopan dan kata-kata yang keluar dari mulutnya juga yang baik-baik saja. Dia tidak pernah menghina siapapun. Sangat berbeda dengan kalian berdua." sambungnya.


"Bela saja terusss!" ucap Kanaya kesal.


"Nay, saya mohon biarkan Jihan belajar dengan tenang di sini." pinta Firman pada Kanaya.


"Never!!" jawab Kanaya.


"Nay, jangan seperti ini. Perbuatan kamu sangat tidak baik." ucap Firman.


"Terserah aku mau bersikap seperti apa. Lagi pula aku sudah pernah bilang sama kamu, selama kamu masih suka sama dia, selama itu juga aku akan terus membencinya." ucap Kananya dengan nada marah dan menunjuk-nunjuk Jihan.


Jihan menatap Firman, begitu juga dengan Firman.


Jihan tidak mengatakan sepatah katapun, ia langsung lari meninggalkan Firman, Kanaya dan juga Friska.


"Kamu lihat, dia tidak menyukaimu." ucap Kanaya.


"Aku tau. Dan itu bukan urusanmu." ucap Firman. Lalu Firman pun pergi meninggalkan Kanaya.


"Kita lihat saja. Sampai kapan kamu akan terus mengabaikanku. Huhh." ucap Kanaya.


"Kamu serius mau terus ngejar dia?" tanya Friska.


"Iya, jika seorang Kananya sudah jatuh cinta maka aku akan terus berusaha mendapatkannya. Tidak ada kata give up dalam kamusku." jawab Kanaya dengan mantap.


"Baiklah, terserah kamu saja. Ayo pulang." ajak Friska.

__ADS_1


"Ayo." ucap Kanaya.


__ADS_2