
Pov Aura.
Saat aku sedang melayani pembeli di kios, aku melihat ada sebuah mobil terparkir tepat di depan rumah kami.
Aku lihat Kak Mea dan Bang Rafli turun dari mobil tersebut, bersama seseorang yang tidak aku kenali.
"Ibuuuu, Kak Mea datang, Bu." teriakku dari kios memanggil Ibu yang sedang berada di dapur.
Mendengar teriakanku itu, Ibu pun bergegas keluar untuk menyambut kedatangan mereka.
Kak Mea dan Bang Rafli bergantian menciumi punggung tangan Ibu.
Kemudian Ibu langsung mengajak mereka untuk masuk ke dalam dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
Setelah selesai melayani Bi Yuyun yang berbelanja, aku pun masuk ke dalam rumah, aku segera menuju dapur untuk membuat teh hangat.
Setelah selesai membuat teh, aku pun ikut duduk bersama mereka.
Aku lihat Kak Mea berpindah tempat duduk, ia mendekati Ibu dan menyandarkan kepalanya di bahu Ibu, lalu mengalirlah butiran-butiran bening di kedua pipinya.
"Ada apa ini, Nak? Kenapa Mea menangis?" tanya Ibu.
Kak Mea hanya diam dan tenggelam dalam isakan tangisnya.
"Coba ceritakan pada Ibu, sebenarnya ada apa ini Nak Rafli?" tanya Ibu lagi pada Bang Rafli.
"Saya datang ke sini ingin menggugat cerai Mea, Bu." jawabnya tegas dan to the point.
"Astaghfirullah, cerai? Mengapa?" tanya Ibu kaget, Ibu mengelus kepala Kak Mea perlahan dan mengusap air matanya yang mengalir.
"Bang Rafli termakan omongan Mama." sahut Kak Mea pelan.
"Omongan apa itu?" tanya Ibu.
"Mama memfitnah Ibu. Mama bilang kalau Ibu mengirimkan penyakit untuk Bang Rafli dan juga Farhan." jelas Kak Mea.
"Mengirim bagaimana maksudnya, Kak?" tanyaku yang semakin penasaran.
"Dukun." jawab Kak Mea singkat.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Bang Rafli kurang iman ya? Atau kurang berfikir secara logika? Mana mungkin Ibu melakukan perbuatan syirik nan hina seperti itu." ucapku kesal.
"Jaga mulutmu anak kecil." ucap Bang Rafli, ia menatapku dengan sorot mata yang sangat tajam. Ia pasti sangat tersinggung dengan ucapanku barusan.
"Cukup Rafli, jangan bentak anak-anak Ibu seperti itu. Kamu berasal dari keluarga kaya dan terhormat. Tapi sayang, fikiran kalian rendahan." sahut Ibu.
"Akui saja, Kak. Hal itu memang benar." ucap Om Pandu.
"Maaf, saya tidak pernah mengakui kesalahan yang tidak saya lakukan. Jika kalian percaya pada dukun, silahkan. Tapi kami tidak." ucap Ibu dengan tegas.
Aku lihat Bang Rafli hanya diam dan mengurut-urut dahinya, mungkin ia merasa pusing.
"Kakak lihatlah Rafli, wajahnya saja masih pucat karena sakit kiriman Kakak, sudah empat hari dia sakit. Itu semua karena ulah Kakak." ucap Om Pandu lagi masih menyalahkan Ibu.
"Sakit itu datang dari Allah, bukan datang dari kami." sahutku.
"Diam kamu, jangan ikut campur." ucapnya padaku.
"Maaf Om, saya tidak bermaksud kurang ajar sama Om, apa lagi ikut campur masalah Kak Mea dan Bang Rafli. Saya cuma tidak terima kalau kalian memfitnah kami memakai jasa dukun. Perbuatan hina itu tidak akan pernah kami lakukan." jelasku.
"Mama saya sudah tanya pada orang pintar, dan itulah yang ia katakan." bela Bang Rafli.
Bang Rafli hanya diam, ntah apa yang bermain dalam fikirannya.
"Dengar sekali lagi, Bang. Sakit itu datang dari Allah. Cobalah berobat dengan dokter, bukan tanya-tanya sama orang yang katanya pintar itu. Pintar ngibul." ucapku lagi.
"Abang sudah ke dokter, tapi masih belum sembuh juga. Sebab itu Mama Abang bertanya pada orang pintar." jawab Bang Rafli.
"Kalau masih belum sembuh, berarti belum rezeki Abang buat sembuh. Atau mungkin tidak serasi dengan obatnya." timpalku.
Dia hanya diam, mungkin bingung antara mengiyakan ucapanku atau menyalahkan perbuatan Mamanya.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, aku segera beranjak dari tempat dudukku dan bergegas menuju kios, "Mungkin ada yang mau membeli sesuatu." batinku.
Saat aku sampai di kios, aku melihat Papa dan Mama Bang Rafli masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum." ucap Papa Bang Rafli.
"Wa'alaikumussalam." sahutku. Aku segera mengulurkan tanganku dan menciumi punggung tangan mereka satu-persatu.
__ADS_1
"Kedatangan saya ke sini ingin meminta maaf pada Ibu Ayu atas fitnah istri saya. Pasti Rafli sudah mengatakannya." ucap Papa Bang Rafli.
"Iya, Rafli sudah mengatakannya dan saya sangat terkejut mendengar hal itu." sahut Ibu.
"Mama buruan minta maaf, Ma." perintah Om Haris pada istrinya.
"Mama tidak bersalah, Pa." sahut Mama Bang Rafli.
"Tapi kalau menurut Rafli, Mama memang harus minta maaf, Ma." ucap bang Rafli. "Saya juga mau minta maaf pada Ibu. Maafkan saya karena terbawa emosi." ucapnya pada Ibu.
"Iya Nak Rafli, Ibu tidak marah. Tapi Ibu tidak suka kalau Nak Rafli membuat anak Ibu meneteskan air matanya." jawab Ibu dan menoleh ke arah Kak Mea.
Aku tatap wajah Kak Mea, air matanya sudah mulai berhenti mengalir. Namun meninggalkan bekas sembab.
Aku tidak pernah berfikir, bahwa ada orang seperti Mama Bang Rafli ini. Mertua Ibu kejam, mertua Kak Mea juga kejam. Bagaimana dengan mertua Aura nanti ya Allah? Kejam juga kah?
"Mea, maafkan Abang." ucap Bang Rafli.
Kak Mea hanya menganggukkan kepalanya. Mungkin masih berat rasanya untuk mengeluarkan suara.
"Apa sebaiknya Mea tinggal di sini saja untuk sementara? Agar dia bisa menenangkan dirinya." ucap Ibu.
"Saya rasa tidak perlu. Biarkan Mea ikut pulang bersama Rafli. Rumah mereka tidak lama lagi siap, jadi mereka bisa hidup mandiri." sahut Om Haris.
"Benarkah? Berarti nanti Rafli tidak satu atap lagi dengan orang tuanya?" tanya Ibu.
"Benar, Bu. Nanti Rafli dan Mea akan tinggal di rumah kami sendiri." jawab Bang Rafli.
Ibu tersenyum bahagia dan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Bang Rafli. Ibu pasti merasa sangat lega karena akhirnya Kak Mea tidak akan tinggal satu atap lagi dengan mertuanya.
Setelah masalah ini selesai dan Mama Bang Rafli sudah mengakui kesalahannya, akhirnya mereka semua berpamitan untuk pulang. Takut kemalaman katanya kalau masih berlama-lama di rumah kami.
"Alhamdulillah, Dik. Ibu sangat bahagia mendengar Mea dan suaminya akan tinggal di rumah sendiri." ucap Ibu padaku.
"Iya, Bu. Adik juga ikut senang karena akhirnya Kak Mea bisa menjauh dari mertuanya yang cerewet itu." sahutku.
"Tapi Ibu masih merasa aneh, kenapa orang pintar itu bisa mengatakan kalau Ibu mengirim penyakit untuk Rafli dan Farhan."
"Biarlah, Bu. Sepintar-pintarnya dia, tetap saja dia hanya manusia biasa tempatnya salah. Yang penting keluarga Bang Rafli percaya sama kita, Ibu tidak melakukannya." ucapku sambil tersenyum pada Ibu. Ibu pun membalas senyumanku.
__ADS_1
Semoga hari-hari sulit dalam hidup Kakakku bisa segera berakhir. Menikah itu untuk bahagia, bukan untuk menderita.