Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 42.


__ADS_3

Arumi mengobrol bersama Ustadzah Amina sementara Zayn dan Zara sedang makan siang bersama.


“Bang, sepertinya Bibi tidak tau kalau ada wanita yang menggantikannya menikah dengan Om Amir.” Ucap Zara pelan agar Arumi tidak mendengarnya.


“Sepertinya begitu.” Jawab Zayn. “Nanti kita harus bertanya pelan-pelan padanya.” Lanjutnya.


Zara mengangguk.


Setelah selesai makan, Zara dan Zayn kembali ke ruang tamu. Mereka duduk bersebelahan.


“Bibi, apa Bibi masih ingat dengan kejadian yang menimpa Bibi? Kejadian yang menyebabkan Bibi bisa koma seperti kemarin.” Tanya Zayn.


Arumi mengangguk.


“Bisa Bibi ceritakan kepada kami bagaimana kejadiannya?” Tanya Zayn lagi.


“Bisa. Tapi kalian juga harus jujur padaku jika aku bertanya tentang Bang Amir.” Pinta Arumi.


“Tentu saja.” Sahut Zayn tegas.


“Malam itu, setelah aku chat dengan Bang Amir. Kakakku datang, ia masuk ke dalam kamarku dan memberiku segelas jus.” Ucap Arumi lalu terdiam.


Suasana menjadi hening dan sunyi. Zara, Zayn, Ustadz Ridwan, Ustadzah Amina bahkan Maryam juga ikut diam menantikan cerita Arumi selanjutnya.


“Aku, hikss.” Arumi menangis.


“Aku tidak tau ini benar atau salah. Tapi sepertinya ini ada hubungannya dengan Kak Arin.” Lanjut Arumi.


“Malam itu, setelah aku meminum jus buah yang diberikannya, kepalaku menjadi pusing.”


“Lalu, Bibi tidak bisa mengingat apapun?” Tanya Zara penasaran.


“Iya, benar.” Jawab Arumi. “Setelah itu aku mungkin pingsan, aku tidak mengingat apapun.” Lanjutnya.


“Lalu saat sadar Bibi sudah ada disini?” Tanya Zayn.


“Tidak.” Jawab Arumi sembari menggeleng pelan. “Aku sempat sadar satu kali. Tapi saat itu aku seperti berada didalam mobil yang membawaku pergi entah kemana. Tangan dan kakiku di ikat. Mulutku ditutup dengan kain.” Lanjutnya.


“Saat itu aku setengah sadar. Samar-samar aku mendengar dua orang sedang berbicara. Mereka berkata ‘Boss Arin memerintahkan kita untuk mebun*hnya dan membuang may*tnya. Apa tempatnya masih jauh?’. Saat itu aku kaget mendengar nama Boss yang mereka sebut. Aku terisak dan air mataku mengalir deras. Karena mendengar isakanku mereka menyadari bahwa aku telah sadar.”


“Mereka memberhentikan mobilnya lalu mengeluarkan aku dari mobil, mereka berdua memuk*li aku beberapa kali. Hingga akhirnya menik*mku. Setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi. Hiks hiks hiks.”


“Astaghfirullah.” Zara, Zayn, Ustadz Ridwan, Ustadzah Amina dan Maryam Istighfar berkali-kali mendengar cerita Arumi.

__ADS_1


Ustadzah Amina yang berada disebelah Arumi memeluk Arumi sembari mengelus-elus punggungnya.


“Bi, boleh aku tau siapa itu Boss Arin?” Tanya Zayn.


“Dia adalah… Ka-kakku.” Jawab Arumi terbata karena menangis. “Dia sau-dara kembar-ku.” Lanjutnya.


“Apa? Kembar?” Zara dan Zayn kaget.


“Iya.” Arumi menghapus air matanya. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya.


“Aku sangat menyayanginya. Aku bahkan tidak tau apa alasannya melakukan hal sekeji itu padaku.” Ucap Arumi. Suaranya terdengar serak.


“Bi, ada hal penting yang harus kami sampaikan pada Bibi. Tapi Bibi harus kuat mendengarnya.” Ucap Zara dengan lembut.


Arumi mengangguk pelan.


“Apa Bang Amir kecewa karena aku tidak hadir saat pernikahan?” Tanya Arumi menebak. Ia menundukkan kepalanya. Tatapannya kosong.


“Bukan, Bi.” Zayn menimpali. “Tapi, hari itu Om Amir tetap menikah. Ia sudah menikah dengan seseorang yang wajahnya sangat mirip dengan Bibi.” Ucap Zayn dengan sangat hati-hati.


“Apa?” Arumi sangat kaget. Ia langsung berdiri dan menatap wajah Zayn.


Zayn berdiri perlahan.


“Bibi, tenanglah.” Ucap Zayn.


“Jadi, Bang Amir menikahi Kak Arin.” Arumi menebak.


Arumi terdiam. Tapi rasa kecewanya sangat dalam. Air matanya mengalir lagi. Arumi menggigit bibirnya.


Ia malu jika harus menangis berkali-kali dihadapan semua orang. Tapi air matanya tidak bisa ia tahan.


“Lalu untuk apa aku hidup? Hiks. Kakakku tidak menyayangi aku, ia ingin menyingki*kanku. Bahkan Bang Amir sudah menikah dengan Kakakku.” Arumi terisak, ia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.


“Sabarlah, Nak. Semua ujian ini In syaa Allah akan menaikkan derajatmu dihadapan Allah.” Ucap Ustadzah Amina sembari mengelus punggung Arumi.


“In syaa Allah, Allah pasti sudah menyiapkan hikmah yang indah dibalik kejadian ini.” Ustadz Ridwan menimpali. “Kamu ikutlah pulang bersama dengan Nak Zayn dan Nak Zara. Selesaikan masalahmu dan Kakakmu.” Lanjut Ustadz Ridwan.


“Baik, Pak.” Jawab Arumi. “Tapi, jika Bang Amir sudah tidak menyukai aku bagaimana?”


“Kita akan tahu setelah bertemu dengannya.” Ucap Zara.


Setelah selesai mendengar cerita dari Arumi. Zayn dan Zara sudah mendapatkan kesimpulan dari kejadian ini.

__ADS_1


“Saudara kembarnya ingin menyingki*kannya pasti karena ingin menjadi istri Om Amir.” Zara dan Zayn memiliki pendapat yang sama.


Setelah dua malam berlalu, Zayn dan Zara membawa Arumi pulang ke kota.


“Aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Bapak, Ibu dan juga Maryam yang sudah merawatku selama ini. Aku juga ingin meminta maaf karena sudah merepotkan kalian semua selama sebulan setengah ini. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian. Sehat selalu Bapak, Ibu dan Maryam. Semoga Allah selalu melindungi kalian dimanapun berada.” Ucap Arumi.


Arumi memeluk Ustadzah Amina lalu mencium punggung tangannya.


Setelah selesai berpamitan, Zayn, Zara dan Arumi memulai perjalanan ke kota.


“Bang, apa kita tidak melaporkan hal ini pada polisi terlebih dahulu?” Tanya Zara.


“Tidak.” Jawab Zayn sembari fokus menyetir. “Kita tidak memiliki bukti apapun. Jadi sebaiknya kita menemui Tante Arini dan yang lainnya terlebih dahulu.” Lanjutnya.


“Baiklah kalau begitu.” Sahut Zara.


Dalam perjalanan, Zara dan Arumi tertidur hingga tiba di apartment.


“Alhamdulillah ada satu kamar lagi yang bisa ditempati oleh Bibi.” Ucap Zayn didalam hatinya.


Setibanya di apartment, Zara membawa Arumi masuk ke dalam kamar yang selama ini kosong.


“Bi, untuk sementara Bibi bisa tinggal bersama kami disini. Ini adalah kamar Bibi.” Ucap Zara. “Tapi maaf, belum sempat dibersihkan.” Lanjutnya.


“Tidak apa-apa.” Sahut Arumi. “Nanti aku akan membersihkannya. Aku sangat berterima kasih karena kalian berdua sangat baik denganku.” Lanjutnya lalu tersenyum.


“Sama-sama. Bibi tidak perlu sungkan, jika butuh apa-apa katakan saja padaku. Sekarang Bibi istirahatlah terlebih dahulu.”


“Baik. Kalian berdua juga istirahatlah.” Sahut Arumi.


Zara mengangguk lalu keluar dari kamar Arumi.


Ia lihat Zayn duduk disofa.


“Sini.” Panggil Zayn.


Zara menurut lalu menghampiri Zayn.


“Untuk sementara waktu kita harus tinggal didalam kamar yang sama. Agar Bibi Arumi tidak berpikir yang bukan-bukan.” Ucap Zayn.


“Baiklah, aku mengerti. Tapi aku tidak mau tidur di lantai.”


“Siapa juga yang memintamu untuk tidur di lantai?”

__ADS_1


“Hahaha.” Zara tertawa kecil sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Sementara itu Zayn menghubungi Aura Cafe & Resto, ia meminta agar mereka mengantarkan makanan untuk porsi tiga orang.


__ADS_2