Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 13.


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, didalam mobil.


“Zayn, kenapa malam ini kamu sangat pendiam?” Tanya Alisya pada putranya.


“Tidak apa-apa, Ummi.” Jawab Zayn.


“Apa kamu panas dalam?” Tanya Sidik menggoda.


“Tidak juga, Bi.” Jawab Zayn lalu tersenyum tipis.


“Zayn, jika kamu menyesali perjodohan ini, masih belum terlambat untuk membatalkannya.” Ucap Sidik dengan serius.


“Iya, Nak. Katakan saja terus terang jika kamu tidak ridho dengan perjodohan ini.” Bujuk Alisya.


“Aku tidak berfikir seperti itu, Mi, Bi. Aku hanya belum mencintai Zara. Itu saja.” Jawab Zayn untuk menenangkan hati kedua orang tuanya. “Jadi, aku belum bisa terbiasa mengobrol dengannya. Apa lagi selama ini aku hanya akrab dengan Om Amir. Bukan Zara.” Lanjutnya.


“Baiklah, semoga apa yang kamu katakan itu benar.” Sahut Sidik.


Zayn hanya tersenyum.


“Bagaimana mungkin aku membatalkan pernikahan ini hanya karena aku tidak menyukainya. Biar bagaimanapun, aku harus membalas budi atas kebaikan Ummi dan Abi. Jika menikahi Zara dapat membuat mereka berdua bahagia, akan aku melakukannya dengan ikhlas.” Gumam Zayn didalam hatinya.


Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di rumah.


“Bi, Mi, aku langsung masuk ke dalam kamar. Ada berkas pasien yang harus aku pelajari.” Ucap Zayn.


“Iya, Nak. Jangan tidur terlalu larut.” Sahut Alisya.


Sedangkan Sidik hanya menganggukkan kepalanya.


Alisya dan Sidik pun menuju kamar mereka.


“Bang, apa kamu berpikir hal yang sama denganku?” Tanya Alisya setelah mereka berdua duduk diatas katil.


“Memangnya apa yang kamu pikirkan, sayang?” Tanya Sidik.


“Aku merasa bahwa Zayn tidak menyukai perjodohan ini.” Ucap Alisya terus terang.


“Oh, itu. Sebenarnya Abang juga berpikir demikian.”


“Lalu, apakah Zayn menerima perjodohan untuk membalas budi?”


“Sepertinya begitu.” Jawab Sidik. “Tapi sayang tenang saja. In syaa Allah ini juga akan menjadi jalannya menuju bahagia.” Lanjutnya sambil merangkul bahu istrinya.


“Iya. Yang Abang katakan benar. Seiring berjalannya waktu, mereka pasti akan saling mencintai, saling melindungi, saling perduli, dan juga saling membutuhkan satu sama lain. Dengan begitu, pernikahan mereka akan dipenuhi dengan berkah dan kebahagiaan.”


“Aamiin ya Allah.” Ucap Sidik. “Sekarang sebaiknya kita istirahat.” Ajak Sidik.


“Ok.” Sahut Alisya.


***


Keesokan hari dikediaman Rizky.

__ADS_1


Pagi hari setelah selesai sholat subuh, Rizky mengajak Amir mengobrol.


“Mir, pernikahan Zara sudah ditetapkan. In syaa Allah lima minggu kemudian. Yaitu bulan January tahun depan.” Ucap Rizky.


“Alhamdulillah. Aku ikut bahagia mendengarnya.” Sahut Amir.


“Bagaimana jika minggu depan kamu dan Arumi menikah?” Rizky to the point.


“Apa? Abang bercanda?” Amir tampak sangat kaget.


“Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin Abang bercanda untuk hal seserius ini.” Jawab Rizky dengan tegas.


“Ta-tapi, kemarin sore kita…”


“Iya, Abang tahu.” Rizky memotong ucapan Amir. “Kemarin sore kita baru bertanya padanya. Tapi bukankah dia setuju dan mau menikah denganmu? Lalu untuk apa kita tunda-tunda?”


Detak jantung Amir berdetak kencang, ia menelan ludah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Rizky mengerti kekhawatiran Amir.


“Kamu tenang saja, untuk dekorasi, katering, pelaminan, dan lain-lain. Abang akan mencari Wedding Organizer yang sangat professional agar dia bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna meskipun hanya dalam waktu satu minggu.” Ucap Rizky dengan yakin.


“Tapi, sepertinya mentalku belum siap, Bang.” Ucap Amir pelan.


“Kalau begitu siapkan mentalmu dari sekarang, jangan lemah seperti itu. Semangatlah menjemput masa depan yang indah.” Rizky menyemangati Amir. “Hari ini sebaiknya kamu langsung memberi tahukan Arumi. Agar dia juga bisa membahas hal ini dengan Kakaknya.” Lanjutnya.


“Baik, Bang.” Amir menghela nafas lega.


Saat sedang sarapan bersama. Rizky menyampaikan kabar bahagia itu pada Zara dan Aura.


“Apa? Serius?” Zara sangat kaget, ia membelalakkan kedua bola matanya.


“Tentu saja serius.” Jawab Rizky dengan santai.


“Alhamdulillah, akhirnya Om ku tidak akan jomlo lagi.” Zara sumringah.


“Alhamdulillah, Kakak ikut bahagia untukmu.” Ucap Aura pada Amir.


“Iya, Kak. Apalagi aku, sudah pasti sangat bahagia, hehe.” Amir cengengesan.


Setelah selesai sarapan. Rizky pergi ke hotel. Sementara Amir mengantarkan Zara sampai kampus baru kemudian pergi ke kantornya.


Di kantor Amir bergegas masuk dan mencari Arumi.


Ia mencari ke meja kerja Arumi, namun Arumi tidak ada. Lalu ia mencarinya di kantin.


Ia lihat Arumi sedang duduk bersama rekan kerjanya.


“Apa aku harus ke sana?” Amir tampak bingung.


Jika dia to the point lalu ditolak didepan umum, dia pasti akan sangat malu.


Ia tetap berdiri di tempat itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Lalu tanpa sengaja Arumi menoleh ke arahnya. Arumi mengernyitkan dahinya melihat tingkah laku Amir.


“Aku pergi ke sana sebentar.” Ucap Arumi pada rekannya.


Ia beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Amir.


“Bang Amir, sedang apa?” Sapa Arumi.


“Eh, Arumi.” Amir sedikit kaget. Tapi segera mengambil kesempatan untuk mengajak Arumi berbicara. “Duduk disini sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan.” Mereka berduapun duduk di kursi yang kosong.


“Ingin berbicara mengenai hal apa?” Tanya Arumi yang penasaran.


“Pagi tadi Bang Rizky…” Ucapannya terputus. “Tapi kamu harus janji jangan kaget, jangan teriak dan jangan marah.” Lanjut Amir dengan serius.


“Iya, tergantung sih.” Sahut Arumi dengan wajah bingung.


“Tergantung? Maksudnya?”


“Tergantung apa yang akan Abang sampaikan.”


“Emm, Bang Rizky menyarankan agar kita menikah minggu depan.” Ucap Amir pelan dan perlahan agar Arumi tidak kaget.


“WHAT?????” Arumi histeris.


Arumi bahkan berdiri dengan spontan.


“Hussstttt.. hussssttt.. husssttt.” Amir menyuruh Arumi untuk diam. “Pelankan suaramu.” Pinta Amir.


“Ada apa Arumi? Apa Amir berlaku tidak sopan padamu?” Tanya Nayya teman Arumi.


“Tidak, Nay. Aku tadi hanya kaget saja. Haha.” arumi tertawa kecil.


“Oh, syukurlah. Jika dia berani macam-macam padamu beritahu saja aku.” Ucap Nayya. “Aku mau kembali ke meja kerja.” Lanjutnya.


“Ok. Terima kasih atas perhatiannya, Nay.” Sahut Arumi.


Nayya mengangguk lalu pergi meninggalkan Amir dan Arumi.


Arumi mengehela nafas.


“Bang Amir setuju?” Tanya Arumi.


“Aku tentu saja setuju, jika kamu setuju.” Jawab Amir.


“Kalau begitu, aku juga setuju.” Ucap Arumi lalu tersenyum manis.


“Alhamdulillah. Terima kasih Arumi.” Amir sumringah.


“Aku yang seharusnya berterima kasih karena Bang Amir mau mempersuntingku.”


Setelah selesai berbicara, keduanya meninggalkan kantin lalu mulai bekerja seperti biasanya.


“Aku tidak sabar ingin memberi tahu Kak Arin tentang pernikahan yang dadakan ini. Kira-kira seperti apa reaksinya? Aku juga penasaran kompensasi apa yang akan diminta Kak Arin pada Bang Amir. Semoga bukan hal yang sulit untuk dipenuhi. Aku juga berharap Kak Arin bisa segera bertemu dengan jodohnya.” Gumam Arumi didalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2