Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Kak Mhera


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Maaf baru sempat up 🙏🏻 Terima kasih karena teman-teman readers masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav. Jaga kesehatan dimanapun teman-teman readers berada.


Thank you. 🤗


Happy Reading... đź’•


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku membuka aplikasi berwarna hijau dan melihat banyak chat di grup BFF yang belum aku baca.


“Huffttttt.” Aku menghempas nafas berat.


Rasanya aku ingin membuka kolom chat itu, tapi hatiku terasa berat. Aku belum siap menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.


Bagaimana jika mereka menanyakan kesehatan bayiku? Padahal sekarang bayiku sudah kembali ke syurga. Hikss.


Jika aku ceritakan hal itu pada mereka, mereka pasti akan memberiku begitu banyak pertanyaan. Aku belum siap dan tidak sanggup rasanya untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu.


Untuk saat ini sebaiknya aku abaikan saja dulu, hingga nanti aku sudah merasa siap untuk membagi deritaku pada mereka bertiga.


Setelah keluar dari aplikasi berwarna hijau, aku masuk ke dalam aplikasi biru berlogo F.


Di timelineku muncul satu foto bayi yang hanya nampak bibir dan hidungnya saja, selebihnya wajahnya tertutup oleh kain.


Aku lihat nama akun yang mengunduh foto tersebut. Mataku terbelalak saat membaca namanya.


“Kak Mhera.” Gumamku pelan.


“Ma syaa Allah. Kak Mhera sudah melahirkan anaknya yang kedua. Betapa bahagianya.” Ucapku di dalam hati.


Kak Mhera adalah sahabatku yang berbangsa filipina. Aku buka messenger dan mengirimkan pesan pada Kak Mhera.


“Assalamu’alaikum my Sissy. Ma syaa Allah tabarakallah. Is that your baby?” Tulisku.


(Assalamu’alaikum Kakakku. Ma syaa Allah tabarakallah. Apakah itu anakmu?)


Aku lihat Kak Mhera sedang online. Dia membuka isi chatku dan langsung membalasnya.


“Wa’alaikumussalam my Sissy. Alhamdulillah, that is my second daughter.” Balasnya.


(Wa’alaikumussalam Adikku. Alhamdulillah, dia adalah putri keduaku.)


“Alhamdulillah. I’m happy for you.”


(Alhamdulillah. Aku bahagia untukmu.)


“And how about you, Sissy?” Tanya Kak Mhera.


“Dan bagaimana denganmu, Dik?)


“I’m still waiting, please make Dua for me.” Jawabku.


(Aku masih menunggu, tolong do’akan aku.)


“In syaa Allah.” Balasnya.


“Aura sayang, sebentar lagi kita pulang.” Bang Rizky mengingatkan aku agar bersiap-siap untuk pulang.


“Iya, Bang. Sebentar ya, Aura masih mau balas chat Kak Mhera.” Sahutku.


“Iya.” Bang Rizky mengangguk pelan.


“Sissy, i ned to off. Take care of yourself there. I love you for the sake of Allah. Assalamu’alaikum.” Tulisku dan menambahkan emoji hati dan kiss di akhir kalimat.


(Kak, aku harus pergi. Jaga dirimu di sana. Aku mencintaimu karena Allah. Assalamu’alaikum.)


“Ok my Sissy. You also take care of yourself there. I also love you for the sake of Allah. Wa’alaikumussalam.” Balas Kak Amira yang juga memberikan emoji hati dan kiss di akhir kalimatnya.

__ADS_1


“Baiklah Adikku. Kamu juga jaga dirimu di sana. Aku juga mencintaimu karena Allah. Wa’alaikumussalam.)


Setelah itu aku menutup ponselku. Aku mulai beranjak pelan-pelan dari tempat tidurku.


Aku ambil pakaianku yang baru dan masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.


“Bang, ayo.” Ajakku setelah aku siap dan keluar dari kamar mandi. “Loh, Bang Rizky kemana, Mi?” Tanyaku saat aku menyadari Bang Rizky tidak ada di dalam ruanganku.


“Rizky keluar sebentar. Ayo kita langsung keluar saja.” Jawab Ummi.


“Iya, Mi.” Sahutku.


Ummi menuntunku dan berjalan perlahan-lahan keluar dari rumah sakit.


Aku dan Ummi menunggu Bang Rizky di dalam mobil. Tidak berapa lama kemudian Bang Rizky tiba dan langsung menjalankan mobil.


Setelah kami sampai di rumah, aku ingin langsung masuk ke kamar. Ternyata di rumah ada tamu yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan Ummi.


“Tante dari mana?” Tanya Dona saat ia melihat kami masuk ke dalam rumah.


“Tante habis dari rumah sakit.” Jawab Ummi.


Sebenarnya aku malas ikut mengobrol dengan mereka, apalagi ada Dona. Meskipun Lucy tidak ikut dengannya.


Akhirnya aku membuat alasan agar bisa langsung naik dan masuk ke dalam kamar.


“Bang, Aura capek. Aura mau ke kamar saja, ya.” Ucapku pada Bang Rizky.


“Iya, ayo Abang antar.” Sahut Bang Rizky.


Bang Rizky menggandeng tanganku dan mengantarkanku hingga masuk ke dalam kamar.


“Abang turun ya.” Ucap Bang Rizky setelah ia membantuku untuk duduk di atas ranjang.


“Iya, terima kasih Bang Rizky.” Ucapku.


Setelah Bang Rizky keluar dari kamar. Aku raih gawaiku dan mebuka aplikasi messenger. Aku masih ingin chatting dengan Kak Mhera.


“Are you there now, Sissy?” Tulisku.


(Apa kamu ada sekarang, Kak?)


“Yes. I’m here Sissy. Very busy to my lil princess. Alhamdulillah alaa kulli haal” Balasnya.


(Iya. Aku di sini, Dik. Sangat sibuk dengan putri kecilku.)


“Sissy, actually i was pregnant. But I loose him before i meet him in this dunya.” Tulisku lalu menyelipkan emoji menangis sebanyak-banyaknya.


(Kak, sebenarnya aku sudah hamil. Tapi aku kehilangan dia sebelum aku bertemu dengannya di dunia ini.)


“Oh Allah. Did you miscarry?” Sepertinya Kak Amira kaget di sana.


(Ya Allah. Apa kamu keguguran?)


“Yes i do, Sissy. And I just got out of the hospital” Balasku.


(Iya, Kak. Dan aku baru saja keluar dari rumah sakit.)


“Laa ba'sa thahuurun in syaa Allah. believe me, Allah will replace it with a better one.” Tulis Kak Amira.


(Sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, in syaa Allah. Percayalah padaku, Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik.)


“Aamiin Ya Mujibassailin. Jazakillah Khairan Katsiiraa, Sissy.”


(Kabulkanlah doa kami, Wahai Tuhan yang menunaikan permintaan orang-orang yang meminta. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang banyak, Kak.)


“Aamiin. Now you are at ease.” Tulisnya.

__ADS_1


(Aamiin. Sekarang kamu sudah tenang.)


“Yea, Sissy. Now I feel better.” Balasku.


(Iya, Kak. Sekarang aku merasa lebih baik.)


Aku hapus air mataku yang mengalir sedari tadi. Aku pegang perutku dan aku elus-elus. Aku masih ingat beberapa hari yang lalu aku mendengarkan suara detak jantungnya untuk yang pertama kali.


Tapi aku tidak menyangka itu akan menjadi yang pertama dan yang terakhir. Sungguh berdosa kamu! Kamu yang membuat anakku pergi dengan cara seperti ini.


***


Di ruang tamu...


“Tante ngapain ke rumah sakit?” Tanya Dona kepo.


“Tante di rumah sakit menemani Aura.” Jawab Ummi.


“Oh, Aura sakit apa Tante?” Tanya Dona lagi.


“Aura baru saja mengalami keguguran.” Jawab Ummi.


“Apa? Keguguran?” Tanya Dona yang histeris.


Rizky yang sedang berjalan menuruni anak tangga mendengar Dona yang histeris di depan Ummi.


“Jangan pura-pura kaget kamu. Apalagi pura-pura khawatir. Jangan-jangan ini semua ulahmu dan sahabatmu itu.” Ucap Rizky.


Dona menoleh ke arah suara Rizky berasal.


“Jangan menuduh orang sembarangan kamu. Menuduh tanpa bukti itu fitnah namanya. Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan. Bagaimanapun juga anak Aura adalah keponakanku, aku tidak mungkin tega menyakiti anak yang tidak berdosa.” Ucap Dona sambil menunjuk-nunjuk Rizky. Dona sangat kesal mendengar ucapan Rizky barusan.


“Sudah, jangan berkelahi.” Ucap Ummi menimpali.


“Maaf, Tante. Sepertinya aku memang datang di waktu yang tidak tepat. Sebaiknya aku pergi saja dari sini.” Ucap Dona. Ia bangkit dari tempat duduknya, meraih handbagnya dan langsung pergi meninggalkan Ummi dan Rizky.


“Hmm.” Ummi menghela nafas.


Rizky hanya menatap Ummi.


“Jihan, Chaca, Bi Sumi, ke sini semuanya!” Rizky berteriak memanggil semua ARTnya.


Dilihatnya Bi Sumi, Jihan dan Chaca berlari-lari kecil menuju tempa ia berdiri.


“Ada apa Tuan Muda?” Tanya Bi Sumi.


“Dengarkan baik-baik apa yang ingin saya sampaikan.” Jawab Rizky.


“Baik, Tuan Muda.” Jawab Bi Sumi di susul anggukkan kepala Jihan dan Chaca.


“Nyonya Muda sekarang sangat sedih, hatinya terluka dan bathin Nyonya Muda tersiksa. Mentalnya akan terganggu jika dia terus berlarut-larut dalam kesedihannya itu. Jadi saya minta pada kalian semua tolong jangan biarkan Nyonya Muda sendiran dan melamun. Hibur Nyonya Muda semampu kalian agar Nyonya Muda bisa segera keluar dari kesedihannya.” Ucap Rizky menjelaskan panjang lebar.


“Apakah separah itu Tuan Muda?” Bi Sumi sangat khawatir dengan Aura.


“Iya, Bi. Karena itu saya sangat mengharapkan kerja sama yang baik dari kalian semua.” Jawab Rizky.


“In syaa Allah kami akan melakukan yang terbaik untuk Nyonya Muda.” Ucap Chaca.


“Iya, benar Tuan Muda.” Ucap Jihan menimpali.


“Baguslah kalau begitu. Lain kali jika ada yang mengantar makanan, jangan langsung diberikan pada Nyonya Muda. Kalian harus membertihaukan hal itu kepada saya terlebih dahulu.” Ucap Rizky.


“Baik, Tuan Muda.” Jawab Bi Sumi di susul anggukkan kepala Jihan dan Chaca.


Dona yang diam-diam bersembunyi disebalik dinding, menguping pembicaraan Rizky dan para ARTnya.


Dona juga sudah tidak sabar ingin menceritakan hal itu pada Lucy sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2