
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Thank you. *Hug.
Happy Reading.... 💕
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bulan berikutnya...
Sudah beberapa hari ini pinggangku sering sakit, sepertinya tidak lama lagi aku akan datang bulan, hmm.
Sebaiknya aku pergi menemui Bi Sumi dan minta tolong padanya agar mengurut pinggangku sebentar.
"Bi, Bibi sibuk?" tanyaku pada Bi Sumi.
"Tidak, Nyonya Muda. Apa ada yang Nyonya Muda butuhkan?"
"Tidak, Bi. Saya mau minta tolong Bibi mengurut pinggang saya. Dari kemarin sakit." jawabku.
"Oh, baiklah. Tunggu sebentar, Bibi mau ambil minyak urut dulu di dalam kamar Bibi." ucapnya.
Lalu Bi Sumi pergi ke belakang untuk mengambil minyak urut.
"Ayo, Nyonya Muda. Bibi urut di kamar Nyonya Muda saja." ajak Bi Sumi begitu ia menghampiriku.
"Baik, Bi." sahutku.
Lalu kami berdua naik ke atas dan masuk ke dalam kamarku.
Aku buka pakaianku dan memakai sarung. Kemudian aku telungkup di atas karpet.
Bi Sumi pun mulai mengurut pinggangku.
"Ternyata Bibi bisa urut." ucapku.
"Iya, Nyonya Muda. Tapi tidak terlalu pintar." ucap Bi Sumi merendah.
Aku diam dan menikmati urutan Bi Sumi.
Sudah begitu lama di urut tapi rasa sakitnya belum juga hilang. Tangan dan jari-jari Bi Sumi pasti sudah pada pegal-pegal. Sebaiknya berhenti saja, kasihan Bi Sumi.
"Bi, sudah cukup." ucapku.
Bibi pun berhenti mengurut pinggangku. Lalu aku pakai lagi pakaianku lengkap dengan jilbabnya.
"Terima kasih banyak, Bi." ucapku.
"Iya, sama-sama. Kalau Nyonya Muda masih merasa sakit, panggil saja Bibi. Bibi tidak keberatan mengurut Nyonya Muda lagi." ucap Bi Sumi. Dia begitu perhatian padaku.
"Baik, Bi." jawabku.
Setelah Bi Sumi keluar dari dalam kamarku, aku baringkan tubuhku di atas kasur yang empuk.
__ADS_1
Sakit pinggang tadi yang aku rasakan kini sudah lenyap entah ke mana. Terima kasih banyak Bi Sumi.
Tiga hari kemudian pinggangku sakit lagi, kali ini rasanya lebih sakit dari yang sebelumnya. Kalau saja Bang Rizky ada di rumah, aku pasti sudah mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk periksa.
Tapi sekarang Bang Rizky sedang bekerja, aku takut dia khawatir berlebihan jika sekarang aku cerita padanya.
Sekarang sudah waktunya makan siang. Perutku sudah mulai keroncongan, sepertinya cacing-cacing sudah mulai demo di dalam. Kemudian aku pergi ke dapur dan melihat-lihat isi lemari makan.
"Hueekkk... Bau banget. Apa ada makanan basi ya?" aku langsung menutup mulut dan hidungku.
"Bi sumii...." aku memanggil Bi Sumi.
"Bi, di dalam lemari makan ada lauk yang basi. Tolong di buang ya." pintaku dengan lembut agar Bibi tidak tersinggung.
"Apa iya Nyonya Muda?" Bi Sumi bertanya seolah-olah tidak percaya dengan ucapanku. "Padahal semua lauk masih baru. Apa iya sudah ada yang basi." sambung Bibi lalu membuka pintu lemari makan.
Bi Sumi mulai menghidu makanan satu-persatu, mencari lauk manakah yang sudah basi.
"Tidak ada yang basi, Nyonya Muda. Semuanya masih bagus." ucap Bibi setelah memastikannya.
"Tapi tadi saya cium bau aneh, Bi. Seperti bau makanan basi." ucapku. Aku jadi bingung, atau jangan-jangan hidungku yang sedang bermasalah.
Bibi pun terlihat bingung.
"Chacaaaa.... Jihaaann.... Sini sebentar, Nduk." teriak Bi Sumi memanggil Chaca dan Jihan.
Jihan dan Chaca pun datang menghampiriku dan Bi Sumi.
"Coba kalian periksa, makanan yang mana yang sudah basi." perintah Bi sumi.
"Tidak ada yang basi, Bu." ucap Chaca.
"Coba Nak Jihan periksa." pinta Bibi.
Lalu Jihan menghidu bau makanan satu persatu.
"Benar, Buk. Tidak ada makanan yang basi." Jihan membenarkan ucapan Chaca.
Aku masih bingung, lalu aku coba membuka pintu lemari makan sekali lagi.
Aaaahhh ini benar-benar aneh. Baunya sudah tidak ada lagi.
"Oh iya, tidak ada. Maaf ya, mungkin tadi saya salah." ucapku. Aku jadi malu.
"Iya, Nyonya Muda. Tidak masalah." ucap Jihan.
Lalu Jihan dan Chaca melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.
"Nyonya Muda mau makan?" tanya Bi Sumi.
"Iya, Bi." jawabku.
"Biar Bibi saja yang ambilkan, Nyonya Muda tunggu di meja makan saja." ucap Bibi.
__ADS_1
"Baik, Bi." lalu aku pergi menuju meja makan.
Tidak lama kemudian Bibi datang membawakan makan siangku. Bibi juga menuangkan segelas air putih untukku.
Di dalam piringku ada lauk tauco jeroan, ikan goreng dan juga sayur. Aku mulai menyantap makananku.
"Hueekkk!!! Aihh... Amis banget hati ayam ini." aku memuntahkan makanan yang baru masuk ke dalam mulutku.
"Astaghfirullah. Ada apa Nyonya Muda? Masakan Bibi tidak enak ya?" Bibi kaget melihatku.
"Bi, kenapa hari ini hati ayamnya amis banget. Saya sampai mual." ucapku.
"Apa iya? Padahal tadi sebelum masak, Bibi sudah memberinya jeruk nipis supaya bau amisnya hilang." Bibi merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Bi. Mungkin ada yang salah dengan mulut saya." ucapku. Aku tidak mau membuat Bibi jadi merasa tidak enak.
Aku lanjutkan menyantap makan siangku dan aku sisihkan tauco yang membuatku jadi mual.
***
Bi Sumi sudah mulai curiga dengan keadaan Aura, majikannya itu. Lalu diam-diam Bi Sumi pergi ke Apotik untuk membeli test pack.
"Ibu dari mana?" tanya Chaca pada Bi Sumi.
"Ibu tadi pergi ke Apotik sebentar." jawab Bi Sumi.
"Ke Apotik? Ibu sakit?" tanya Chaca lagi.
"Ibu bukan beli obat, Ibu beli test pack." jawab Bi Sumi.
"Hah? Test pack? Alhamdulillah, itu artinya Chaca bakalan punya Adik ya, Bu." Chaca merasa sangat bahagia.
"Astaghfirullah, test pack ini bukan untuk Ibu, Nduk." Bi Sumi ngelus dada di kira hamil lagi.
"Kalau bukan untuk Ibu. Lalu test pack itu untuk siapa?" tanya Chaca yang sedang bingung.
"Ini untuk Nyonya Muda." jawab Bi Sumi.
"Wah, Alhamdulillah Nyonya Muda sudah hamil." ucap Jihan yang tiba-tiba nongol.
"Hussstttt!! Ini belum pasti. Bukan Nyonya Muda yang meminta Ibu pergi membeli test pack ini. Ibu yang punya inisiatif sendiri karena hari ini tingkah Nyonya Muda sedikit aneh." ucap Bi Sumi menjelaskan.
"Aneh bagaimana, Bu?" tanya Chaca.
"Beberapa hari ini Nyonya Muda sering sakit pinggang. Kemudian tadi Nyonya Muda cium bau makanan basi, padahal kita sudah periksa dan tidak ada makanan yang basi. Dan ketika Nyonya Muda makan siang, Nyonya Muda muntah karena katanya hati ayam itu amis banget." jawab Bi Sumi panjang lebar.
"Kalau begitu kita Do'akan saja. Semoga Nyonya Muda benar-benar hamil." ucap Jihan.
"Aamiin ya Allah." ucap Bi Sumi dan Chaca secara bersamaan.
"Ya sudah, Ibu mau masuk ke dalam. Mau minta Nyonya Muda untuk tes urin besok pagi saat bangun tidur." ucap Bi Sumi.
"Memangnya tidak boleh langsung tes sekarang, Bu?"
__ADS_1
"Boleh-boleh saja. Tapi kalau mau hasil yang lebih akurat, tes urin dilakukan saat baru bangun tidur." jawab Bi Sumi.
Lalu Bi Sumi bergegas masuk ke dalam dan naik ke atas untuk menyerahkan test pack tersebut pada Aura.