
Tepat tanggal 25 Maret 2015 aku pergi meninggalkan orang tuaku dan negaraku, pergi menuju negri jiran untuk mencari nafkah dan melanjutkan hidup. Iya, itu adalah alasan utamaku untuk pergi ke Penang Malaysia. Dan saat itu aku pun memulai hidup baruku dan bertemu dengan orang-orang baru.
Aku selalu berharap bahwa Allah akan selalu melindungiku dan keluargaku dimanapun kami berada. Meskipun ini awal perpisahan, dan harus menjalani jangka waktu yang panjang untuk bisa bertemu lagi, semoga Do’a tidak pernah terputus.
Saat cuti kerja, aku dan temanku Lira berniat untuk pergi ke Kompleks Bukit Jambul (Mall) yang berdekatan dengan tempat tinggalku, saat kami berdua sedang menunggu bus, ada 3 orang yang datang dan juga menunggu bus bersama kami, awalnya aku kira mereka adalah orang tempatan (Malaysian) karena salah satu dari mereka memakai jilbab besar berwarna hijau dan memakai cadar berwarna hitam. Saat kami menaiki bus, mereka bertiga duduk berhadapan denganku dan Lira.
Aku mendengar mereka ngobrol menggunakan bahasa indonesia, dan aku jadi tau ternyata aku salah telah mengira mereka orang tempatan.
Sesekali aku bertatapan mata dengan akhwat yang memakai cadar, sungguh aku ingin sekali kenal dengannya. Tapi aku malu untuk menyapanya.
Sebenarnya aku memiliki banyak sekali pertanyaan yang timbul di dalam fikiranku, dia di sini kerja apa ya? Bukannya pekerja kilang (pabrik) tidak dibenarkan memakai cadar? Dia makan minumnya bagaimana ya? Susah tidak ya? Kira-kira wanita bercadar itu susah dikenali apa tidak ya? Karna yang terlihat hanyalah matanya saja.
Setelah kami sampai ke Kompleks Bukit Jambul, aku dan Lira keliling-keliling. Saat Lira membeli kue, aku melirik kedalam sebuah butik. Di butik itu ada banyak sekali gamis berwarna hitam, dan aku juga melihat banyak sekali koleksi cadar dan niqab didalamnya.
“Lira, Kakak masuk ke dalam Glory Boutique itu ya.” Ucapku pada Lira sambil menunjuk kearah butik tersebut.
Lira pun mengangguk. Saat aku masuk kedalam butik, seorang penjaga wanita menghampiriku dan mengucap salam.
“Assalamu’alaikum. Nak cari ape, Dik?” tanyanya.
“Wa’alaikumussalam. Saya mau lihat niqab, Kak.” jawabku malu-malu.
“Owh, boleh. Nak yang macam mana, dik? dekat sini Akak ada jual tiga jenis je. Yang ini half niqab, pakai tali getah (tali karet). Yang ini pula niqab yang nampak mata sahaja. Yang last ini niqab two layer, yang ini best seller Dik, sebab yang layer belakang labuh sampai bawah pinggang.”
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Kakak yang menjaga butik, aku mulai melihat-lihat dan memilih-milih niqabnya.
“Yang ini harganya berapa, Kak?” tanyaku sambil menunjukkan niqab dua layer.
“Yang ini harga dia RM65, Dik.” Jawabnya.
“Ok, Kak. Saya ambil yang ini satu.” Ucapku sambil tersenyum pada Kakak penjaga toko yang memakai niqab.
“Adik nak pakai niqab ye?” Tanyanya sambil membungkus niqab yang mau aku beli.
“Belum tau lagi, Kak. Tapi teringin nak beli. Hehe.” Jawabku sambil cengengesan.
“Owh, tak ape beli dulu, nanti kalau nak pakai dah ada stock.” Ucapnya.
__ADS_1
“Iya, Kak.” Jawabku singkat.
“Adik tinggal dekat mana, Dik?” Tanyanya.
“Saya tinggal di Taman Bunga Merah, sungai dua kak.” Jawabku.
“Adik kenal tak dengan Fitri? Dia orang indonesia, pakai niqab, tinggal dekat taman bunga merah juga. Sekarang ni pun dia ada di sini, baru je dia beli niqab ngan akak tadi.” Ucapnya.
Tiba-tiba aku teringat dengan akhwat yang satu bus denganku tadi.
“Hah? Serius kak? Tapi saya tak kenal lah, Kak. Tadi dia pakai tudung hijau ya kak?” Tanyaku penasaran.
“Iya, pakai tudung hijau.” Jawabnya.
“Kakak ada nomor handphone dia?” tanyaku dengan penuh rasa semangat. Mungkin ini jalan dari Allah.
“Ada, Adik catat la nomor whatsapp dia, nanti kalau ada apa-apa Adik boleh chat dia.” Kakak tersebut mengambil ponselnya dan memberiku nomor telepon Fitri.
“Terima kasih, Kak.” Ucapku sumringah.
“Iya dik, sama-sama.” jawabnya.
“Assalamu’alaikum Fitri, saya Naura. Salam Ukhuwah.” Tulisku.
“Wa’alaikumusssalam. Salam Ukhuwah juga, Naura siapa ya?” tanya Fitri.
“Fitri tadi di bus yang pakai cadar dan jilbab hijau ya?” Aku balik bertanya padanya.
“Iya, kamu yang di bus tadi ya? Berdua sama temannya?” Dia langsung bisa menebak siapa aku.
“Iya, Fit.” jawabku sambil menyelipkan emoji ketawa.
Setelah aku basa basi dengannya, akupun mulai to the point dan mulai bertanya dengannya mengenai niqab.
“Fit, saya mau tanya tentang niqab boleh tidak?” Tanyaku.
“Iya boleh, tanya saja. kamu mau pakai niqab ya?” Ia menebak-nevak.
__ADS_1
“In sya Allah mau pakai. Di kilang Fitri boleh pakai niqab?” Balasku.
“Sebenarnya tidak boleh, jadi kalau didalam kilang kita tidak pakai niqab, kita seperti orang biasa, tapi kalau Fitri di kilang biasanya pakai facemask, Ra. Pergi kerja juga pakai facemask saja, tapi kalau misalnya pulang kerja mau singgah dimana-mana Naura siapkan saja niqabnya bawa dari rumah, nanti bisa di pakai ketika di dalam bus. Kalau kita mau kemana-mana dari rumah kita pakai niqab. Cuma kalau mau ke kilang saja kita tutup muka kita pakai facemask.” Fitri menjelaskan panjang lebar.
“Owh, begitu. Terima kasih ya Fitri atas penjelasannya.” Balasku.
Setelah mendapat penjelasan dari Fitri, aku mengalami dilema selama beberapa hari. Apa mungkin aku melakukanya? Sebentar pakai, sebentar buka, seolah- olah aku mempermainkan kain penutup wajah ini, meskipun ini sunah. Hingga akhirnya aku teringat pada satu qaidah fiqih.?“Jika bisa mengerjakan separuhnya, maka jangan tinggalkan sepenuhnya.”
Kalimat itu menyentuh hatiku dan membangkitkan kembali semangat hijrahku. Akhirnya aku siap, siap menjadi wanita setengah cadar selama berada di negri jiran ini, lalu aku niatkan di dalam hatiku, “In syaa Allah aku akan memakainya full time ketika aku sudah kembali ke indonesia nanti.” Aku memang tidak secantik putri dan tidak juga secantik bidadari, tapi aku tetaplah seorang wanita dengan sebesar-besarnya fitnah bagi pria.
Seminggu setelah aku chat dengan Fitri, aku bertemu langsung dengannya. Fitri menceritakan tentang pengalamannya saat pertama kali memakai niqab.
“Ra, Abah Fitri pernah bilang sama Fitri begini. ‘Kalau berani-berani jangan takut-takut, kalau takut-takut jangan berani-berani.’ Artinya, kalau sudah berani mengambil keputusan, jangan takut untuk menghadapi resikonya. Tapi kalau takut menghadapi resikonya, jangan berani- berani buat keputusan. Jadi, sekarang Naura sudah membuat keputusan untuk memakai cadar, jadi apapun rintangannya nanti Naura harus berani menghadapinya. Tapi kalau naura merasa takut untuk menghadapi resiko di kemudian hari, lebih baik jangan dipakai sekarang.” Fitri menyampaikan nasehat Abahnya padaku dengan lembut.
“Begitu ya. Terima kasih atas nasehatnya. In syaa Allah saya siap untuk menghadapi apapun resikonya. Saya yakin dan percaya, in syaa Allah, Allah akan memudahkan niat yang baik.” Jawabku.
“Aamiin ya mujibas sailiin. Oya, kamu tau tidak kalau wanita yang memakai cadar tidak dibenarkan untuk masuk ke dalam Bank?” Tanya Fitri.
“Tidak tau.” Jawabku.
“Fitri dengar-dengar katanya kalau pakai cadar tidak boleh masuk ke dalam Bank.” Ucapnya.
“Ma syaa Allah, sampai segitunya?” tanyaku sambil menatap matanya.
“Iya, Ra. Tapi Fitri belum pernah mencoba masuk Bank, jadi Fitri tidak tau benar atau tidaknya hal itu.” ucapnya.
Kemudian kami pergi makan siang. Saat itu adalah pertama kalinya aku akan makan sambil menggunakan niqab.
“Ra, kamu sudah tau bagaimana caranya makan?” Tanya Fitri pelan.
“Belum, Fit. Hahaha” jawabku sambil tertawa kecil.
“Ya sudah, sini Fitri ajarin.” Ucapnya.
Aku pun kemudian duduk disebelahnya.
“Kalau mau makan, tangan kiri kita memegang kain cadarnya, lalu di buka sedikit. Kemudian masukkan nasinya pelan-pelan, boleh dari samping boleh juga dari bawah, ikut kamu saja gimana enaknya.” Fitri menjelaskan sambil mempraktekkan.
__ADS_1
Aku pun kemudian mencoba seperti yang dijelaskan oleh Fitri, karena ini adalah first time aku makan ketika pakai cadar, aku belum pandai dan belum terbiasa akhirnya kain cadarku kotor terkena kuah gulai dan sambal.