Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Cerita Ryan


__ADS_3

Perasaanku seperti terkatung-katung, bingung harus memutuskan apa. Tiba-tiba saja aku teringat pada Kak Mea. Rasa traumaku bertambah saat mengetahui bahwa mertua Kak Mea juga tidak menyukainya bahkan berprilaku buruk padanya. Mertua Kak Mea sering memfitnah Kak Mea di hadapan Bang Rafli, bahkan juga tega memfitnah Ibu.


Biarpun sebenarnya perasaanku pada Ryan belum mantap, tapi aku tetap akan menerimanya jika memang dia yang Allah pilihkan untukku.


Aku yakin jika Allah yang memilihkan jodoh untukku, aku pasti akan hidup bahagia bersamanya.


Setelah aku selesai menunaikan Sholat Isya, aku tidak menjauhkan diriku dari gawaiku. Aku masih menunggu pesan dari Ryan di aplikasi berwarna hijau.


Sudah 20 menit menunggu, jam sudah menunjukkan pukul 20.35WIB tapi Ryan masih belum menghubungiku.


"Ting!" Handphoneku pun berbunyi. "Akhirnya dia wasap juga." bathinku. Aku langsung meraih gawaiku dan membuka chatnya.


"Assalamu'alaikum, Ra. Maaf ya baru wasap." ucapnya.


"Wa'alaikumussalam, iya tidak apa-apa."


"Belum ngantuk, kan?" tanyanya.


"Ya belum lah. Langsung cerita saja, Yan." pintaku.


"Iya, baik." jawabnya.


Aku tidak membalas lagi, karena aku lihat dia sedang mengetik. Aku dengan sabar menunggu hingga dia selesai mengetik hal yang ingin dia ceritakan padaku.


Sepuluh menit sudah berlalu, akhirnya Ryan mengirim pesan yang sedari tadi ia ketik.


"Waktu itu saya bermimpi kalau saya sedang berada di depan sebuah Masjid. Tidak berapa lama kemudian muncullah sosok seorang wanita.


Wanita tersebut mengenakan pakaian yang serba putih. Dia memakai gamis berwarna putih dan juga memakai jilbab berwarna putih.


Saya melihat wanita tersebut masuk ke dalam Masjid, lalu saya mengikutinya.


Kemudian wanita tersebut masuk ke tempat wudhu' wanita. Saya menunggunya hingga keluar.


Saya masih terus mengikutinya, saya lihat wanita tersebut menunaikan Sholat di dalam Masjid. Setelah dia selesai menunaikan Sholat, saya pun terbangun.


Wanita yang saya buntuti itu adalah kamu, Ra.


Karena saya merasa penasaran akan arti mimpi itu, saya pun pergi menemui seorang Ustadz yang dulu menjadi Murobbi kita ketika masih berada di pondok pesantren. Saya bertanya pada beliau tentang arti mimpi itu.


Beliau mengatakan, 'In syaa Allah dia adalah wanita yang solehah. Dia akan selalu mengingat Allah dalam keadaan susah maupun senang dan dalam keadaan kekurangan maupun berkecukupan. Wallahu a'lam bishawab.'


Itulah yang membuat saya semakin mantap untuk mempersunting kamu, Ra."


Jujur aku senyum-senyum sendiri membaca chat Ryan, siapalah aku ini? Aku belum pantas menyandang gelar wanita yang solehah.


"Ma syaa Allah, luar biasa sekali ceritanya, Yan. Tapi sebenarnya, Aura masih belum pantas menyandang gelar wanita solehah. Karena bagi Aura untuk mendapatkan gelar wanita solehah, kita harus belajar seumur hidup." balasku.

__ADS_1


"Yang Aura katakan itu memang benar. Tapi bagi saya, kamu sudah termasuk kategori wanita yang solehah, Ra." ucap Ryan.


"Terima kasih, Yan. Oh ya, selain itu apa ada petunjuk yang lain?" tanyaku padanya.


"Ada, Ra. Tapi kamu cukup tau mimpi yang itu saja ya. Tidak apa-apa, kan?"


"Owh, iya tidak apa-apa, Yan."


"Hehe, becanda. Saya ada mimpi kalau kamu mengikuti saya terus, kemanapun saya pergi kamu selalu mengikuti saya."


"Memangnya ikut ke mana?" tanyaku. Aku tidak mengerti apa maksud ucapannya.


"Ya kalau saya sedang berkumpul dengan keluarga saya, kamu ikut. Intinya ya kalau saya ke mana-mana kamu selalu ikut." jelasnya.


"Owh begitu."


"Iya, Ra. Jadi kapan nih rencananya kamu mau sholat istikharah?" tanya Ryan.


"In syaa Allah. Nanti pasti Aura kabarin kalau sudah." jawabku.


"Ok, Ra." ucapnya.


Setelah mendengar cerita Ryan, perasaanku padanya mulai bertambah. Ntah mengapa, aku merasa sangat senang karena jawaban dari Sholat Istikharah yang Ryan kerjakan sangatlah baik.


Hanya aku saja yang belum tau bagaimana hasilnya. Secepatnya aku akan melakukan Sholat Istikharah dan meminta petunjuk pada Allah.


"Raaaa,, ini ada Luna." teriak Ibu.


Mendengar hal itu akupun segera keluar dari dalam kamar dan langsung berlari menghampiri Luna. Aku yakin, Luna pasti bawa kabar baik.


"Hi, Lun." sapaku dan langsung duduk di sebelah Luna.


"Ini, Ra. Aku mau memberikan undangan." ucapnya sembari menyodorkan sebuah undangan. Di sana tertulis nama Luna Pratiwi dan Muhammad Yusuf.


"Wah, ma syaa Allah. Secepat ini, Lun?" aku kemudian menatap Luna dan membelalakkan kedua mataku.


"Iya, lebih cepat lebih baik, Ra. Jangan kaget gitu dong, matanya udah kayak mau makan orang saja, hahah." ucapnya dan tertawa lepas, ia terlihat sangat bahagia.


"Iya, masih belum percaya kalau sebentar lagi sahabat Aura bakalan jadi istri seseorang, hehe." ucapku cengengesan.


"Aku Do'akan supaya kamu cepat menyusul ya."


"Aamiin Allahumma Aamiin."


"Calonnya sudah ada belum?" tanya Luna.


"Belum, kemarin kamu bilang mau mencarikan untuk Aura." ucapku dan nyengir kuda.

__ADS_1


"Owh iya ya, hampir lupa." sahutnya dan spontan menepuk jidadnya.


"Hayooooo. Mentang-mentang sudah mau sold out malah lupa sama janji sendiri." ledekku.


"Hehe, tenang saja, Ra. Aman itu. Semuanya bisa di atur, tapi tunggu acara walimahanku selesai dulu ya." ucapnya.


"Iya, Lun. Tidak usah buru-buru. Santai saja, hehe."


"Siap boss."


"Nanti bakalan tidak ada lagi donk yang menemani Aura duduk-duduk di pinggir pantai, hurmn." ucapku sambil memonyongkan bibirku.


"Jangan manyun gitu donk Aura sayang, ntar tambah cantik akunya jadi jealous, eh." ucapnya coba menghiburku.


"Aura jadi ingat ucapannya Mbak Ika."


"Yang mana, Ra?"


"Yang itu loh, Lun. Mbak Ika pernah bilang 'Cantik kalau sudah laku'. Nah, yang sudah laku kamu, berarti kamu yang cantik. Bukan Aura, haha." ucapku sambil tertawa.


"Ah itukan Mbak Ika cuma becanda ngomongnya, Ra. Aslinya mah cantikkan kamu dari pada aku. Hehe."


"Siapa yang lebih cantik itu tidak penting, yang penting baik hati. Seperti kamu, Lun. Bbaiiiiikkkk banget."


"Memuji nih ceritanya."


"Bukan memuji, tapi menyatakan yang sebenarnya."


"Bisa saja kamu, Ra." ucapnya lalu memelukku erat.


Air mata kamipun tumpah dalam dekapan hangat seorang sahabat. Tak lama lagi aku akan berpisah dengan Luna, kami akan hidup berjauhan.


Tapi tidak mengapa, karena aku yakin Luna akan menjalani sisa hidupnya bersama orang yang tepat.


"Kenapa malah jadi menangis sih?" ucapnya sambil menghapus air matanya yang masih mengalir.


"Kamu sih, meluk-meluk segala. Jadi mewek kita." ucapku yang juga menghapus air mata di kedua pipiku.


"Hehe, maaf. Aku terbawa perasaan." ucapnya. "Ya sudah, Ra. Aku pamit dulu ya. Masih mau menyelesaikan sisa undangan yang ada di rumah." lanjutnya.


"Memangnya kamu yang nyebarin undangannya, Lun?"


"Tidak sih, ada yang khusus untuk menyebarkan. Kamu spesial karena kamu sahabat aku, makanya aku sendiri yang mengantarkan undangannya ke sini."


"Owh begitu. Terimakasih banyak sahabat baik Aura."


"Iya sama-sama. Aku pamit pulang ya. Daaahh. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam." sahutku. Sedih iya, seneng juga iya. Sahabat baikku kini sudah menemukan pangerannya. Giliranku ntah kapan.


__ADS_2