
Another song that I love, you are the reason by Calum Scott.
There goes my heart beating
'Cause you are the reason
I'm losing my sleep
Please come back now.
And there goes my mind racing
And you are the reason
That I'm still breathing
I'm hopeless now.
I'd climb every mountain
And swim every ocean
Just to be with you
And fix what I've broken
Oh, 'cause I need you to see
That you are the reason.
Saat ini aku sedang menyusun proposal ta'aruf sambil medengarkan lagu you are the reason, lagu yang juga aku sukai.
*Dulu aku sering mendengar kata cinta gila* dan cinta buta tapi tidak mengerti apa artinya. Hingga diriku sendiri mengalami hal tersebut.
Seperti kalimat yang terdapat pada lirik lagu di atas 'Cause you are the reason.' Iya, Aura adalah alasan mengapa aku bisa mengerti arti cinta gila.
*Dan aku juga pernah mendengar lirik lagu yang seperti ini 'I love you love you love crazy'* di salah satu film india tahun 2004 yang berjudul Fida. Dari film ini aku dapat menyimpulkan bahwa, cinta yang berlebihan bisa membuatnya tidak sadar bahwa sebenarnya ia hanya dimanfaatkan oleh orang yang ia cintai.
Cinta gila bisa juga di bilang cinta yang berlebihan, berlebihan juga bisa di bilang lebay, tapi aku tidak bermaksud lebay dalam mencintainya. Karena cinta yang sesungguhnya adalah cinta kepada Allah sang pemberi cinta, cinta yang tidak di dasari oleh rasa cinta kepada-Nya, maka pasti akan menjadi cinta yang salah dan sia-sia.
Sepuluh tahun sudah berlalu, aku masih menyimpan perasaan pada Aura. Dalam waktu sepuluh tahun ini, aku masih mendo'akan orang yang sama. Meskipun waktu itu aku hanya sebatas mengaguminya.
Dalam sepuluh tahun, tidak terhitung sudah berapa banyak wanita yang aku temui. Di kampus hingga di tempat kerja. Mulai dari yang malu-malu mendekatiku hingga yang agresif. Tidak ada satupun yang bisa menggantikan Aura di hatiku.
Meskipun setelah aku lulus dari pesantren aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya, rasaku untuknya masih tetap ada, hanya untuknya.
Tampang yang menjual bukanlah suatu hal yang bisa menjadikanku seorang playboy.
Setelah selesai mengetik proposal yang akan aku serahkan pada Aura, akupun pergi untuk mengeprintnya.
"Mbak, tolong print ya. Judul filenya proposal ta'aruf." ucapku pada penjaga konter sambil menyerahkan flashdisk milikku.
__ADS_1
"Baik, Mas. Tunggu sebentar ya." jawabnya. Ia mengambil flashdisk yang aku letakkan di atas meja lalu pergi menuju komputernya.
Akupun duduk di kursi yang sudah di sediakan. Sambil menunggu dia selesai, aku menelepon Kakakku.
"Assalamu'alaikum." ucap Kak Agatha dari seberang sana.
"Wa'alaikumussalam." jawabku. "Kakak di rumah, Kak?" tanyaku.
"Iya, kenapa?"
"Rizky mau ke rumah Kakak, sebentar lagi."
"Oh, ya sudah. Datang saja." ucap Kak Agatha.
"Iya, Kak. Rasya dan Bella mau di bawakan makanan apa, Kak?" tanyaku.
"Apa saja, yang penting halal." jawabnya.
"Ok, Kak. Assalamu'alaikum." ucapku mengakhiri obrolan.
"Iya, wa'alaikumussalam." sahutnya.
Setelah itu aku menutup telepon. Rasya dan Bella adalah keponakanku, anak Kak Agatha. Aku dan Kak Agatha hanya dua bersaudara.
"Mas, ini sudah selesai." ucap penjaga konter dan mebuatku sedikit kaget.
"Oh, iya. Berapa Mbak totalnya?" tanyaku. "Sekalian sama klip kertasnya satu." sambungku.
"Semuanya jadi Rp.8.000.00, Mas." jawabnya.
"Terima kasih ya, Mbak." ucapku padanya lalu membereskan kertas dan mengambil uang kembalian.
Setelah selesai dengan urusan print, aku pergi menuju mini market. Aku mau membeli beberapa makanan ringan untuk keponakanku.
Aku mengambil snack, susu kotak dan es krim, masing-masing dua agar nanti Rasya dan Bella tidak rebutan.
Kemudian aku pergi menuju rumah Kakakku, lebih kurang memakan waktu lima belas menit perjalanan mengendarai sepeda motor.
"Tok... Tok... Tok... Assalamu'alaikum, Kak." ucapku sambil mengetuk pintu sesampainya aku di rumah Kak Agatha.
"Wa'alaikumussalam." sahutnya dari dalam. Tidak berapa lama kemudian iapun membuka pintunya. "Ayo masuk." ajak Kak Agatha.
"Iya, Kak." sahutku, lalu aku masuk dan terus menuju ruang TV untuk menyerahkan makanan yang aku bawa pada kedua keponakanku.
"Rasya, Bella. Ini Om bawakan makanan, bagi-bagi ya, jangan rebutan." ucapku pada mereka.
"Eh, Om Rizky kapan datang?" tanya Rasya yang berusia 6 tahun.
"Baru sampai." jawabku.
"Wah, terika kasih ya, Om. Sudah di bawakan makanan ini." ucap Bella yang masih berusia 4 tahun.
__ADS_1
"Iya, terima kasih ya, Om." ucap Rasya.
"Sama-sama." jawabku sambil mengelus-elus kepala mereka berdua secara bersamaan.
Setelah mereka mengambil jatahnya masing-masing, merekapun pergi meninggalkan aku dan lanjut menonton televisi.
Aku pergi menuju sofa dan duduk, menunggu Kak Agatha datang menghampiriku.
"Ini Kakak buatkan jus jeruk." ucapnya dan duduk tidak jauh dari diriku.
"Terima kasih, Kak." sahutku yang langsung meneguk jus jeruk buatan Kakakku tersayang.
Setelah minum beberapa teguk, aku meletakkannya di atas meja. Lalu aku pun membuka tas ranselku dan mengeluarkan proposal yang baru saja aku print.
"Apa ini?" tanya Kak Agatha saat aku menyerahkan proposal tersebut.
"Baca saja, Kak." jawabku setelah dia meraihnya.
Kak Agatha pun mengamati tiap-tiap kalimat dengan seksama, ia buka perlahan lembar demi lembar.
"Kamu mau melamar ya, Ky?" tanyanya setelah ia selesai membaca proposalku.
"In syaa Allah, Kak. Do'akan ya, semoga dia mau menerima lamaran Rizky." jawabku dengan sedikit gugup.
"Iya, pasti Kakak do'akan. Bay the way, dia siapa?" tanyanya lagi.
"Dia teman Rizky waktu sekolah di ponpes dulu, tapi Adik kelas." jawabku.
"Oh, teman kamu. Sudah akrab?"
"Belum sih, Kak. Berteman saja belum, apa lagi akrab?" ucapku.
"Loh, tadi katanya teman di ponpes. Bagaimana sih? Hehe." ucap Kak Agatha dan tertawa kecil.
"Iya, maksud Rizky satu sekolah, tapi belum jadi teman, Kak." ucapku coba menjelaskan.
"Kalau kamu belum kenal sama dia, kenapa mau mengajukan proposal ta'aruf?"
"Rizky memang tidak pernah kenalan sama dia. Tapi Rizky selalu mengamatinya, Kak."
"Ciiew, ternyata Adiknya Kakak ini seorang secret admirer. Haha." ucapnya dan mentertawakanku.
"Ya gitu deh, Kak." ucapku pelan.
"Maaf, Kakak tidak bermaksud mentertawakan kamu. Lucu sih, setau Kakak sih kamu yang punya banyak secret admirer. Sampai mengirimoan bucket bunga ke depan pintu rumah. Haha." ucapnya lagi sambil tertawa.
"Justru itu yang bikin Rizky tidak suka sama mereka, Kak. Berbeda dengan Aura yang super cuek itu." ucapku.
"Owh, jadi namanya Aura?"
"Iya, namanya Aura."
__ADS_1
"Nama yang cantik."
"Iya, Kak. Bukan hanya namanya saja yang cantik, tapi wajah dan akhlaknya juga." ucapku sambil tersenyum.