
Pagi hari.
Zayn keluar dari kamarnya dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
Tidak seperti biasanya, dia tidak melihat Zara.
“Kemana dia? Biasanya sudah menungguku untuk pergi bersama.”
Setiap hari Zayn mengantarkannya terlebih dahulu ke kampus barulah pergi ke rumah sakit.
Tokk.. Tokk.. Tokk… Zayn mengetuk pintu kamar Zara.
“Zara, kamu masih didalam?” Zayn sedikit berteriak.
Tetapi Zara tidak menyahut.
Zayn menjadi khawatir.
“Zara…” Panggilnya sekali lagi.
Tidak lama kemudian..
“Kreakk!!” Zara membuka pintu.
“Kenapa lama sekali membuka pintu?” Tanya Zayn dengan garang.
“Aku..” Ucap Zara lemah.
Zayn menyentuh dahi Zara.
“Ya Allah. Panas sekali. Kamu demam?” Zayn jadi semakin khawatir. “Ayo, aku akan membawamu ke rumah sakit.” Lanjutnya.
Zara mengangguk. Lalu ia memakai jilbab dan cadarnya.
Setelah itu mereka berdua berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Zayn mendadak diminta untuk melakukan operation.
“Aku harus melakukan operasi, kamu akan diperiksa oleh Dokter Anna.” Ucap Zayn pada Zara.
“Tolong periksa dia dan langsung berikan obatnya.” Ucap Zayn pada Dokter Anna.
“Baik, Dok.” Sahut Dokter Anna.
Setelah itu Zayn meninggalkan Zara di ruangan Dokter Anna.
Dokter Anna menyuruh Zara berbaring di atas tempat tidur lalu mulai memeriksanya.
Setelah bertanya ini itu, Dokter Anna sudah mendapatkan diagnosa dan sudah tau harus memberikan obat apa.
“Terima kasih, Dokter.” Ucap Zara setelah ia meminum obat yang diberikan oleh Dokter Anna.
“Sama-sama, Zara.” Sahut Dokter Anna.
“Dokter, bolehkah saya meminta tolong?”
“Ingin minta tolong apa?”
“Tolong hantarkan saya ke ruangan Dokter Zayn.” Pinta Zara.
“Owh, baiklah. Aku akan meminta perawat mengantarkanmu ke ruangan Dokter Zayn.”
__ADS_1
“Terima kasih, Dokter.”
“Iya, sama-sama. Semoga cepat sembuh.”
“Aamiin.”
Setelah itu Zara pergi ke ruangan Dokter Zayn bersama seorang perawat.
“Ini ruangan Dokter Zayn.” Perawat tersebut mengantar Zara hingga depan pintu.
“Terima kasih.” Ucap Zara dengan lemah.
“Sama-sama.” Sahut perawat tersebut.
Zara pun membuka pintu dan hendak masuk ke dalam ruangan Zayn untuk beristirahat.
Kebetulan Nana juga sedang berada dikoridor itu.
Melihat ada wanita yang akan masuk ke dalam ruangan Zayn, Nana menjadi tidak senang.
Nana bergegas menghampiri Zara.
“Siapa kamu?” Tanya Nana dengan sinis dan menghalangi Zara agar tidak masuk ke dalam ruangan Zayn.
“Permisi, Dokter. Aku mau masuk ke dalam ruangan Dokter Zayn. Aku ingin beristirahat.” Ucap Zara dengan lembut.
Tubuhnya lemah, rasanya ia sudah tidak sanggup lagi berdiri terlalu lama.
“Untuk apa mencari Dokter Zayn? Dia sedang tidak ada diruangannya. Kebetulan aku juga Dokter Spesialis Jantung. Aku bisa memeriksamu.” Ucap Nana sinis.
“Tidak perlu, Dokter. Aku tidak datang untuk memeriksa jantung.” Suara Zara semakin lemah. “Tolong izinkan aku masuk.” Pintanya.
“Ahhh!” Zara tersungkur. Ia begitu lemah hingga tidak mampu untuk bangun, bahkan hanya untuk duduk.
Para perawat yang menyaksikan kejadian itu merasa sangat kesal terhadap perilaku Dokter Nana.
Salah seorang dari mereka pergi mencari Dokter Zayn.
“Seharusnya sekarang sudah selesai operasi.” Ucapnya.
Ia bergegas menuju ruangan operasi. Sesampainya disana ia melihat Dokter Zayn sedang berbincang dengan keluarga pasiennya.
“Permisi, Dokter.” Ucap perawat itu.
“Iya, ada apa?” Tanya Zayn.
“Dokter Nana sedang berdebat dengan seorang wanita didepan ruangan Dokter.” Jawabnya.
“Apa?” Zayn sangat kaget.
Ia lalu berlari-lari kecil menuju ruangannya.
Dari jauh ia melihat Zara terbaring dilantai. Sedangkan Nana menyilangkan tangannya. Bersikap angkuh dihadapan Zara yang sedang sakit. Hatinya begitu kesal menyaksikan pemandangan seperti itu.
Zayn langsung membantu Zara untuk berdiri.
“Zayn.” Ucap Nana kaget.
“Bang Zayn.” Ucap Zara dengan matanya yang memerah. Setelah melihat Zayn datang, air mata Zara mulai mengalir.
“Kenapa kamu meperlakukannya seperti ini?” Wajah Zayn memerah karena menahan amarah.
__ADS_1
“Aku.. Aku..” Nana menjadi takut melihat wajah Zayn yang penuh dengan amarah.
“Apa yang terjadi disini? Siapa yang bisa menceritakannya padaku?”
“Begini Doket Zayn, wanita ini ingin masuk ke dalam ruangan Dokter. Tapi Dokter Nana tidak mengizinkannya.” Ucap seorang perawat. Dia menceritakannya karena kesal atas perbuatan Nana.
“Oh.” Zayn mengangguk. “Apa hakmu melarangnya masuk ke dalam ruanganku?” Tanya Zayn pada Nana.
“Apa salahku? Dia juga bukan pasienmu. Aku bahkan sudah berbaik hati menawarkan diri untuk memeriksanya. Hmph.” Nana masih saja sinis, tidak merasa bersalah.
“Dia memang bukan pasienku.” Jawab Zayn.
“Lalu untuk apa membelanya? Lagipula aku lihat dia menutup rapat auratnya bahkan wajahnya. Tapi merasa nyaman dipelukan seorang pria. Benar-benar munafik. Apa baiknya wanita munafik seperti ini?” Nana merendahkan Zara.
“Dia ini istriku!!!” Teriak Zayn yang merasa sangat marah mendengar Nana merendahkan Zara.
“Apa?” Kali ini Nana yang berteriak. “Kamu jangan bercanda.”
“Aku tidak tertarik bercanda denganmu. Sekarang tinggalkan ruanganku. Istriku harus istirahat.” Zayn mengusir Nana dengan tegas.
Nana menyingkir dari depan pintu seperti orang ling lung. Ia masih terdiam, tak percaya bahwa ternyata Zayn sudah menikah.
“Waah, berita yang sangat besar. Gossip terhangat bulan ini, ternyata Dokter Zayn sudah menikah.” Ucap seorang perawat.
“Benar, pantas saja Dokter Zayn tidak pernah peduli dengan Dokter Nana. Ternyata sudah memiliki wanita yang ia cintai.” Sahut rekannya.
“Kasihan sekali Dokter Nana, selama ini sudah tidak dihiraukan oleh Dokter Zayn, masih tidak mengerti kalau sudah tidak memiliki kesempatan memiliki Dokter Zayn.”
“Ia, benar. Dokter Nana sungguh kasihan. Tapi salah dia sendiri, mengapa begitu tidak tahu malu dan tebal muka. Ckckk.”
“Dokter Nana bahkan pernah mengatakan bahwa hanya akan dia yang akan menikah dengan Dokter Zayn. Benar-benar konyol. Hahahaa.”
Hiks.. Hiks.. Hiks.. Nana berlari sambil berderai air mata.
“Jahat! kalian semua jahat!” Gumamnya didalam hatinya.
Ia masuk ke ruangannya lalu menangis sejadi-jadinya.
Sementara itu di ruangan Dokter Zayn.
Zayn membantu Zara untuk berbaring di atas tempat tidur.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Zayn yang masih merasa khawatir. “Zara adalah amanah yang besar dalam hidupku, aku tidak boleh membuatnya menderita.” Bathinnya.
“Dokter Zayn. Anda sangat hebat, bisa membuatnya begitu mencintai Anda.” Ucap Zara.
“Bukannya menjawab pertanyaanku, kamu malah membual.” Ucap zayn datar.
“Itu bukan bualan, tapi kenyataan. Aku bisa menebaknya dengan benar, apakah Bang Zayn sudah tau kalau dia mencintaimu?”
“Apakah hal ini penting untuk dibahas?” Zayn balik bertanya.
“Mungkin bagi Abang tidak penting. Tapi ini… ermm.. sedikit penting bagiku.” Jawab Zara terbata.
“Baiklah, ini penting bagimu. Akan aku jawab setelah kamu mengakui satu hal.”
“Hal apa itu?” Zara mulai penasaran dengan isi pikiran Zayn.
“Bukankah kamu juga sangat hebat, sehingga mampu membuat seorang presdir tergila-gila padamu?”
“Apa?” Zara kaget dan membelalakkan kedua bola matanya. “Bagaimana Bang Zayn bisa mengetahui hal ini?” Zara bertanya didalam hatinya.
__ADS_1