Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Berpisah dengan Naura


__ADS_3

“Kedengarannya kamu sangat menderita, Ra.” Ucap Aura dengan lembut setelah Naura selesai bercerita.


Ia lihat Naura meneguk air minumnya beberapa kali. Lalu terdiam seperti memikirkan sesuatu.


“Kedengannya memang menyeramkan, Ra. Tapi jika kita sabar menjalaninya, in syaa Allah semuanya akan terasa mudah.” Jawab Naura.


“Iya, kamu benar. Lalu kamu sudah semester berapa sekarang?” Tanya Aura.


“Alhamdulillah sudah semester tiga.” Jawab Naura.


“Alhamdulillah. Lalu rencananya berapa tahun lagi kamu akan tinggal di sini?” Tanya Aura lagi.


“In syaa Allah dua tahun lagi, Ra. Setelah itu saya akan end contact dan melanjutkan kuliah di Indonesia. Jika tidak meleset, hanya akan sisa satu semester saja lagi.” Jawab Naura dengan yakin.


“Owh, masih lama lagi. Semoga Allah selalu memudahkan jalan hijrahmu, kuliahmu dan juga kerjamu.” Ucap Aura sambil tersenyum manis.


“Aamiin Allahumma Aamiin. Jazakillah khoir katshir.” Sahut Naura seraya membalas senyum Aura.


Tiba-tiba Rizky datang dan langsung duduk di sebelah Aura.


“Astaghfirullah.” Ucap Aura yang kaget. “Abang datang tidak ada aba-aba. Bikin kaget saja.” Lanjutnya.


“Hehe, maaf.” Ucap Rizky sambil tertawa kecil. “Ini siapa?” Tanyanya.


“Oh, ini Naura. Teman Aura di kampung, ketika masih kecil dulu.” Jawab Aura. “Naura, ini Bang Rizky. Suami Aura.” Lanjutnya.


“Wah, ternyata kamu sudah menikah.” Ucap Naura.


“Iya, Alhamdulillah. Sudah hampir dua tahun.” Sahut Aura.


“Anaknya tidak di bawa?” Tanya Naura.


“Em, itu...” Aura bingung mau menjawab apa.


“Allah masih memberi kami waktu untuk pacaran lebih lama, hehe.” Ucap Rizky cengengesan. Dia merasa bahwa suasana hati istrinya berubah karena tiba-tiba membahas tentang anak.


“Owh, begitu. Semoga lekas di beri momongan ya.” Ucapku Naura.


“Aamiin Allahumma Aamiin.” Jawab Aura dan Rizky serentak.

__ADS_1


“Sekarang sudah hampir maghrib, kita pulang yuk.” Ucap Rizky pada Aura.


“Iya.” Sahut Aura.


“Iya. Saya juga mau pulang. Kapan-kapan kita ngobrol lagi kalau kamu masih ada waktu luang.” Ucap Naura pada Aura.


“In syaa Allah. Kita tukaran nomor HP saja supaya bisa lebih mudah kominikasinya.” Jawab Aura.


“Ok.” Sahut Naura.


Kemudian Aura dan Naura saling menyimpan nomor HP masing-masing. Setelah itu, Rizky dan Aura kembali ke hotel. Sedangkan Naura kembali ke asramanya.


***


Di kantor polisi.


Anton datang menjenguk Lucy.


“Kapan aku bisa bebas? Aku sudah tidak tahan tinggal di sini.” Tanya Lucy dengan nada kesal.


“Bertahanlah sedikit lagi. Aku sedang berusaha menjamin kebebasanmu. Hal itu tidak mudah, semuanya butuh proses.” Jawab Anton.


“Itu tidak akan mungkin terjadi. Tapi kamu jangan lupa dengan janjimu. Setelah keluar dari sini, kamu akan menikah denganku.” Ucap Anton.


“Iya iya. Aku masih ingat. Tapi aku masih punya satu syarat lagi.” Ucap Lucy seraya menatap kedua netra Anton.


“Apa lagi itu?” Tanya Anton seraya mengernyitkan dahinya.


“Sini, dekatkan telingamu.” Pinta Lucy.


Anton pun menuruti kemauan Lucy.


“Aku mau kamu melenyapkan Aura. Dialah sumber kesengsaraanku.” Bisik Lucy seraya melirik ke sana ke sini untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar ucapannya.


“Apa kamu sudah gila? Ingatlah Lucy, saat ini kamu berada di balik jeruji besi karena mencelakai Aura. Dan sekarang kamu malah berfikir untuk melenyapkannya? Aku tidak habis pikir.” Ucap Anton berbisik.


“Iya aku tau. Ini terjadi karena aku tidak pandai menghapus jejak. Sekarang aku mengandalkanmu, kamu pasti bisa menyelesaikannya dengan baik.” Lucy seolah-olah sungguh-sungguh bergantung pada Anton.


“Aku tau, kamu hanya ingin menjadikanku kambing hitam sama seperti kurir itu kan?” Anton tersenyum sinis seraya menatap Lucy.

__ADS_1


“Terserah apa katamu. Jika kamu mau menikah denganku, kamu harus melakukan hal itu.” Ucap Lucy. Ia membalikkan badannya dan membelakangi Anton.


“Baiklah. As you wish.” Sahut Anton lalu ia pun pergi meninggalkan kantor polisi.


Saat ia masuk ke dalam mobil, ia mulai memikirkan bagaimana cara untuk mencelakai Aura.


Meskipun jika ia melakukan hal itu sama saja dengan menghianati Rizky, tapi ia tidak peduli.


***


Empat hari kemudian di Pulau Penang.


Aura merasa bosan karena terus-terusan di tinggal sendirian di hotel. Meskipun ia bisa menikmati pemandangan yang bagus dari teras kamarnya, tapi ia ingin mengunjungi tempat itu dan melihatnya lebih jelas.


Sore hari saat Rizky kembali ke hotel, wajahnya terlihat sangat bahagia.


“Assalamu’alaikum Aura sayang.” Ucap Rizky.


“Wa’alaikumussalam. Abang sudah pulang? Wajahnya terlihat sangat bahagia. Ada apa?” Sahut Aura seraya bertanya pada suaminya.


“Alhamdulillah urusan Abang sudah selesai.” Jawab Rizky.


“Alhamdulillah.” Sahut Aura. “Tapi kita masih punya waktu beberpa hari di sini.” Lanjutnya.


“Tentu saja kita akan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Hehe.” Ucap Rizky sumringah.


“Sungguh?” Tanya Aura antusias sambil menggenggam jari jemari Rizky.


“Tentu saja, sayang.” Rizky mengelus kepala Aura dengan penuh kasih, lalu mengecup lembut keningnya. “Aura ingin pergi kemana?” Tanyanya.


“Nanti Aura chat Naura, minta rekomendasi tempat-tempat yang bagus dan menarik untuk kita kunjungi.” Jawab Aura sambil tersenyum manis.


“Ok. Sekarang Abang mau mandi dan bersih-bersih.”


“Iya, Aura akan siapkan pakaian untuk Abang.” Sahut Aura.


Hati Aura berbunga-bunga karena merasa sangat bahagia akan pergi jalan-jalan esok hari.


Akhirnya, berakhir sudah masa-masa membosankan yang ia jalani.

__ADS_1


__ADS_2