
Pagi hari, Rizky berfikir untuk menemui seorang Ustadz terlebih dahulu untuk bertanya mengenai pernikahan Arumi dan Amir.
Rizky pun bergegas pergi bersama Amir menuju rumah Ustadz tersebut.
“Assalamu’alaikum, Ustadz.” Ucap Amir dan Rizky serentak.
Keduanya kemudian mencium punggung tangan Ustadz Imran secara bergantian.
“Wa’alaikumussalam. Mari, Mari Nak. Silahkan masuk.” Sahut Ustadz Imran yang menyambut dengan hangat kedatangan mereka berdua.
Ustadz juga mempersilahkan mereka untuk duduk.
Amir dan Rizky mengangguk lalu duduk bersebelahan.
“Afwan, Ustadz. Apakah kedatangan kami mengganggu Ustadz?” Tanya Rizky dengan sopan.
“Tentu saja tidak.” Jawab Ustadz dan tersenyum.
“Ustadz, sebenarnya kedatangan kami berdua kesini ingin berkonsultasi dengan Ustadz.” Ucap Rizky.
“Oh ya? Tentang hal apa itu?”
Kemudian Rizky menceritakan kronologi kejadian Amir yang menikahi Arin bukannya Arumi.
“Hmm. Begitu rupanya.” Ustadz Imran manggut-manggut. “Saat mendaftar ke Kantor Urusan Agama. Apakah semuanya adalah data-data Arumi?” Tanyanya kemudian.
“Benar Ustadz.” Jawab Amir.
“Kalau begitu in syaa Allah sudah cukup hanya dengan Akad saja. Secara hukum kalian sudah resmi menjadi suami istri.” Ucap Ustadz Imran.
“Alhamdulillah.” Rizky dan Amir merasa lega.
“Apakah Ustadz punya waktu untuk menikahkan mereka berdua?” Tanya Rizky.
“In syaa Allah.” Ustadz Imran mengangguk.
Setelah menentukan hari dan tempat. Rizky dan Amir memutuskan untuk pulang ke rumah.
“Besok?” Arumi kaget.
“Kenapa? Apa kamu tidak bersedia?” Tanya Amir dan mengernyitkan dahinya.
“Tidak, bukan begitu. Aku hanya…” Ucapan Arumi terbata karena ia merasa gugup.
Meskipun itu adalah impiannya yang pernah tertunda, tapi saat itu tiba ia tetap saja masih merasa gugup.
“Tenangkan dirimu.” Ucap Aura lembut.
“Baik, Kak.” Arumi tersenyum tipis dan menghela nafas.
“Apa dia masih keberatan untuk menikah denganku?” Amir bertanya-tanya didalam hatinya.
__ADS_1
“Aku, hanya merasa sangat gugup, hehe.” Ucap Arumi tiba-tiba dan tertawa kecil.
“Hal itu sangat normal. Zara waktu itu juga merasakan hal demikian.” Ucap Rizky.
“Iya, betul.” Aura menimpali. “Sekarang sebaiknya kamu tenangkan dirimu dan segera istirahat. Agar besok saat kamu bangun tidur kamu kembali fresh.” Nasehatnya.
“Baik, Kak.” Sahut Arumi.
Hari berlalu, malampun demikian. Keesokan hari tiba dengan begitu cepatnya.
Aura, Rizky, Amir dan Arumi beserta para saksi berkunjung ke rumah Ustadz Imran untuk melaksanakan akad nikah.
Aura sudah menghubungi Zara dan menyampaikan berita bahagia itu.
Zara ikut bahagia namun sayangnya ia tidak bisa menghadirinya karena harus kuliah. Zayn juga harus bekerja dirumah sakit.
Malam hari barulah Zara dan Zayn berkunjung ke rumah orang tuanya untuk mengucapkan selamat kepada pengantin baru itu.
“Selamat ya, Bibi.” Ucap Zara sembari memeluk dan mengecup pipi kiri dan kanan milik Arumi.
“Terima kasih. Tanpa bantuanmu dan Zayn, aku tidak akan berada dititik ini.” Sahut Arumi.
“Qodarullah, Bibi. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah. Kami hanya perantara saja.” Ucap Zara. “Oh ya. Ini ada hadiah kecil dariku dan Bang Zayn.” Lanjutnya dan menyerahkan sebuah bingkisan pada Arumi.
“Wah, terima kasih lagi. Hehe.” Ucap Arumi tertawa kecil.
Mereka semua makan malam bersama dalam suasana yang membahagiakan.
Tapi menjadi begitu lambat bagi Arumi dan Amir.
Keduanya duduk di atas katil tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Suasana menjadi hening dan tegang. Keduanya merasa sangat gugup, mereka bahkan merasa bingung harus memecahkan keheningan dengan mengucapkan apa?
***
Pagi hari, saat Zayn sedang berjalan menuju ruangan kerjanya. Ia melihat sosok yang tak asing baginya.
“Deg!” Jantungnya tiba-tiba berdebar.
“Humairaaa…” Ucapnya pelan.
Saat Zayn menatap Humaira, tiba-tiba Humaira menoleh ke arah Zayn. Mereka pun bertatapan mata tanpa sengaja.
Humaira tersenyum pada Zayn.
Namun Zayn menundukkan kepalanya, ia merasa bungung apakah harus membalas senyuman wanita itu atau tidak.
Melihat Zayn yang menunduk, Humaira merasa sedikit kecewa.
“Mungkinkah Zayn sudah melupakanku?” Gumam Humaira didalam hatinya.
__ADS_1
Zayn pun masuk ke dalam ruangannya.
Setelah memeriksa beberapa pasien, akhirnya tibalah giliran Humaira yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
Ini pertama kalinya mereka periksa di rumah sakit ini.
Setelah perawat selesai memeriksa tensi dan menimbang berat badan seorang pasien yang sudah paruh baya itu, Dokter Zayn meminta pasiennya untuk duduk dihadapannya.
“Bagaimana Ibu?” Tanya Dokter Zayn.
Wanita paruh baya tersebut menjelaskan keadaannya dan menceritakan segala keluhannya.
“Dokter, apa Ibu saya bisa sembuh?” Tanya Humaira yang terlihat cemas dan khawatir.
“In syaa Allah, masalahnya tidak terlalu besar. Masih bisa dikontrol dan harus minum obat tepat waktu.” Sahut Zayn.
“Alhamdulillah.” Sahut Humaira dan Ibunya serentak.
Setelah memberi masukan, Zayn mempersilahkan mereka berdua untuk menunggu obat didekat apotik.
“Emm, Dokter. Bolehkah saya minta kartu nama Dokter?” Tanya Humaira. “Agar saya bisa menghubungi Dokter jika terjadi sesuatu pada Ibu saya.” Lanjutnya.
“Baiklah, ini kartu nama saya.” Jawab Zayn sembari menyerahkan selembar kartu nama miliknya.
“Terima kasih, Dokter.” Ucap Humaira.
“Terima kasih, Dokter.” Ucap Ibu Humaira.
“Sama-sama.” Sahut Zayn.
“Ayo, Bu.” Ucap Humaira sembari membantu Ibunya beranjak dari kursi.
Setelah mereka berdua keluar, perawat lanjut memanggil pasien berikutnya.
“Humaira, kamu kenal dengan Dokter itu?” Tanya Ibunya setelah mereka berdua mengantri obat di dekat apotik.
Karena Ibunya memiliki insting tentang hal itu, dan karena penasaran ia pun bertanya pada putrinya.
“Iya, Bu.” Dia temanku ketika masih sekolah di pesantren dulu.
“Tapi jika Ibu lihat, dia seperti tidak mengenalimu.”
“Mungkin karena dia profesional, Bu.” Jawab Humaira. “Atau mungkin juga karena dia sudah lupa padaku. Atau mungkin karena kami dulu juga tidak begitu akrab, Bu. Apalagi di pesantren, sudah pasti berkomunikasi hanya hitungan jari.” Lanjut Humaira menjelaskan. “Dan masih banyak lagi kemungkinan lainnya, hehe.” Ia akhiri dengan tertawa kecil.
“Benar juga.” Sahut Ibunya. “Alangkah bagusnya jika dia menjadi menantu Ibu, hmmm.” Lanjutnya.
“Ibu, kenapa berbicara seperti itu? Kita bahkan tidak tahu apakah dia sudah menikah atau belum.” Ucap Humaira pelan.
Ibunya hanya diam.
“Alangkah bagusnya jika dia belum menikah.” Ucap Humaira didalam hatinya. “Bulan depan Ibu masih harus periksa, aku jadi bisa bertemu lagi dengannya. Semoga ia masih memiliki rasa padaku seperti dahulu.”
__ADS_1