
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Thank you. *Hug.
Happy Reading... đź’•
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah selesai sarapan pagi bersama Ummi dan Aura, Rizky bersiap-siap untuk pergi ke Toko Kue Melati.
“Ummi, Rizky mau pergi ke Toko Kue Melati.” Rizky berpamitan pada Ummi dan mencium punggung tangan Ummi.
“Iya. Hati-hati.” Jawab Ummi.
“Abang pergi sebentar ya Aura sayang.” Rizky juga berpamitan pada Aura dan mengecup keningnya.
“Iya, Bang.” Sahut Aura dan tersenyum pada Rizky.
Kemudian Rizky keluar dan meninggalkan ruangan Aura. Saat berjalan di koridor, Rizky bertemu dengan Dokter Wahyu.
“Eh, Ky. Kebetulan kita ketemu di sini.” Sapa Dokter Wahyu.
“Iya. Ada apa, Wahyu?” Tanya Rizky.
“Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu. Ini menyangkut kesehatan Aura.” Jawab Dokter Wahyu.
“Kesehatan Aura? Apa masih ada hal yang harus dikhawatirkan?” Tanya Rizky penasaran.
“Iya. Sebaiknya kita bicara diruanganku saja.” Ajak Dokter Wahyu.
“Waduhh, ada hal penting lain yang ingin saya urus sebentar. Nanti setelah saya kembali ke sini, saya pasti akan langsung mencari kamu.” Ucap Rizky.
“Ok, baiklah.” Jawab Dokter Wahyu.
Sesungguhnya kesehatan Aura adalah hal yang paling penting bagi Rizky. Tapi jika dia mengikuti Dokter Wahyu dan mengetahui hal yang tidak baik tentang Aura, dia khawatir konsentrasinya akan terganggu untuk menyelidiki masalah kue ini.
Karena itu dia putuskan untuk pergi ke Toko Kue Melati terlebih dahulu barulah pergi menemui Dokter Wahyu.
Rizky pergi ke tempat parkir dengan tergesa-gesa dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Setelah beberapa menit diperjalanan, akhirnya ia tiba di Toko Kue Melati. Kebetulan sekali jarak antara rumah sakit dan Toko Kue Melati tidak begitu jauh. Rizky langsung masuk ke dalam dan menghampiri meja kasir.
“Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” Tanya wanita penjaga kasir dengan sopan.
“Saya mau melihat rekaman CCTV toko ini.” Jawab Rizky to the point.
“Maaf, Tuan. Untuk hal itu kami tidak bisa mengizinkan sembarangan orang untuk melihat rekaman CCTV di toko kami.” Jawab wanita penjaga kasir dengan sangat sopan dan lembut.
“Oh, kalau begitu saya langsung saja menuntut Toko Kue ini atas tuduhan meracuni istri saya!” Ucap Rizky dengan tegas.
Sorot matanya begitu tajam dan membuat wanita yang ada dihadapannya menjadi ketakutan.
“Maaf, Tuan. Apa boleh saya tau alasan Tuan, kenapa Tuan sangat ingin melihat rekaman CCTV di Toko Kue kami?” Tanya penjaga kasir.
“Karena kemarin ada seorang pria yang mengantarkan kue ke rumah saya. Dan di dalam kue tersebut ada obat yang berbahaya untuk istri saya. Saya ingin tau siapa yang membeli kue itu.” Jawab Rizky.
“Apa Tuan yakin kue itu di beli di Toko Kue Melati?” Tanyanya lagi.
“Iya. Ini foto kue yang dia beli.” Ucap Rizky seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.
Ia mencari foto kue yang ia maksud dan menyerahkannya pada penjaga kasir.
“Oh iya, kemarin memang ada seorang pria yang membeli kue ini.” Ucap penjaga kasir tersebut. “Ayo silahkan Tuan ikut saya.” Lanjutnya.
Rizky mengikuti wanita itu dari belakang. Mereka berdua memasuki ruang control CCTV.
“Mas Diki, maaf mengganggu. Tuan ini ingin melihat rekaman CCTV.” Ucap wanita itu pada salah satu penjaga di ruang control CCTV.
“Oh, silahkan. Ingin melihat rekaman yang mana, Tuan?” Tanya Diki.
“Saya ingin melihat rekaman yang kemarin, seorang pria yang datang ke sini membeli kue.” Jawab Rizky.
“Saya tinggal ya, Tuan dan Mas Diki.” Ucap wanita penjaga kasir.
“Iya.” Sahut Diki.
Lalu Diki mulai membuka rekaman CCTV yang kemarin dari pagi. Ada seorang pria masuk ke dalam toko kue.
“Coba lihat dia mengambil kue apa?” Pinta Rizky.
Diki mempercepat rekaman tersebut dan berhenti saat pria itu ada di meja kasir dengan sekotak kue.
Saat penjaga kasir membuka kotak kue tersebut, Rizky memperhatikannya dengan seksama.
“Huh, bukan dia.” Ucap Rizky.
Lalu mereka mencari lagi pelanggang pria yang lain.
“Ini ada lagi laki-laki, Tuan.” Ucap Diki.
“Iya, ikuti terus.” Sahut Rizky.
Mereka pun mulai mengintip kotak kue yang di bawa pria tersebut di meja kasir.
“Aih, masih bukan dia yang saya cari.” Ucap Rizky sedikit kesal. “Sudah setengah jam masih belum mendapatkan orang misterius itu.” Lanjutnya.
__ADS_1
Sementara Diki terus saja fokus pada layar komputernya.
“Tuan, saya sudah mendapatkan jejak seorang pria lagi.” Ucap Diki.
“Iya.” Sahut Rizky yang kemudian ikut fokus pada layar komputer.
Saat penjaga kasir membuka kotak kue yang di bawa oleh pria itu, Rizky sumringah.
“Akhirnya, dapat juga kamu.” Ucap Rizky. “Tolong cari gambar yang jelas, kemudian print wajah orang ini.” Pinta Rizky pada Diki.
“Baik, Tuan.” Jawab Diki.
Diki pun mulai mencari gambar yang lebih jelas, lalu mengeprint wajah pria itu. Setelah selesai, Diki langsung memberikannya pada Rizky.
“Coba lihat rekaman CCTV yang di luar, saya mau lihat nomor kendaraannya.” Ucap Rizky.
“Baik, Tuan.” Sahut Diki.
Diki pun mulai melihat rekaman CCTV yang berada di luar toko.
Sebelum pria itu menaiki kendaraannya, pria itu menelepon terlebih dulu.
Setelah beberapa menit menelepon, pria itu berbelok ke arah kanan.
“Kendaraannya di luar jangkauan CCTV, Tuan.” Ucap Diki.
“Baiklah, tidak apa-apa. Terima kasih atas bantuan kamu.” Ucap Rizky seraya menepuk bahu Diki dengan pelan.
“Sama-sama, Tuan. Saya juga senang bisa membantu Tuan.” Sahut Diki.
Meskipun di rekaman CCTV tersebut tidak ada menunjukkan bahwa pria itu memasukkan sesuatu ke dalam kue, tapi Rizky yakin dia pelakunya.
Bisa saja dia memasukkan antivirus itu setelah keluar dari toko dan sebelum mengantarkannya ke rumah Rizky.
“Cepat atau lambat kamu pasti akan tertangkap.” Gumam Rizky.
Setelah keluar dari toko kue, Rizky langsung pergi ke kantor polisi dan membuat laporan. Kemudian dia kembali ke rumah sakit.
“Assalamu’alaikum, Aura, Ummi.” Ucap Rizky saat membuka pintu ruangan Aura.
Ia lihat Ummi sedang tertidur pulas di sofa. Lalu ia lihat Aura sedang merenung ke arah jendela.
“Aura.” Panggil Rizky.
Aura hanya diam.
“Aura sayang.” Panggilnya lagi.
Aura tetap masih diam.
Aura masih tenggelam dalam lamunannya. Aura sama sekali tidak menyadari keberadaan Rizky.
“Sayang.” Ucap Rizky lalu memeluk tubuh Aura dari belakang.
“Eh, Abang kapan datang?” Aura tersadar dari lamunannya.
Rizky melihat wajah Aura, Aura tampak bingung. Padahal sudah sedari tadi Rizky berada di sisi Aura.
“Aura kenapa terlihat bingung seperti itu? Seharusnya Abang yang bingung, dari tadi Abang panggil tapi Aura diam saja.” Ucap Rizky.
“Iyakah?” Aura mengernyitkan dahinya.
“Iya.” Jawab Rizky. “Oh ya, Ummi sedang tidur, Aura juga istirahat ya. Abang mau pergi menemui Dokter Wahyu diruangannya.” Sambungnya.
“Iya.” Jawab Aura dan tersenyum pada Rizky suaminya.
Saat Aura berabring, Rizky memakaikan selimut untuknya. Rizky mengecup kening Aura lalu meninggalkan ruangannya.
Tokk.. Tokk.. Tokk.. Rizky mengetuk pintu begitu ia sampai di depan ruangan Dokter Wahyu.
“Silahkan masuk.” Ucap Dokter Wahyu dari dalam.
Krakk.. Suara pintu di buka.
“Oh, Rizky. Sini, Ky. Silahkan duduk.” Ucap Dokter Wahyu dengan sopan mempersilahkan Rizky untuk duduk didepannya.
“Iya, terima kasih.” Sahut Rizky. “Hal apa yang ingin kamu sampaikan?” Tanyanya.
“Ini menyangkut kesehatan mental Aura.” Jawab Dokter Wahyu.
“Apa? Mental?” Rizky kaget.
“Iya.” Jawab Dokter Wahyu kemudian hening seketika.
“Katakanlah.” Pinta Rizky.
“Kalau kita lihat dari luar, Aura sepertinya baik-baik saja. Ia mau tersenyum dan mau mulai mengobrol. Mau bercanda dan lain-lain. Tapi sebenarnya mental Aura sedikit terganggu. Saat dia sedang sendirian, dia bisa kehilangan kendali dirinya. Dia bisa melamun, mengingat-ingat hal-hal yang membuatnya sedih dan itu bisa membuatnya menjadi setres. Saat dia sedang sendirian, dia juga tidak menyadari apapun yang terjadi disekitarnya, karena dia tenggelam dalam lamunan dan kesedihannya.” Dokter Wahyu menjelaskan panjang lebar.
“Contohnya seperti apa?” Tanya Rizky.
“Macam-macam. Bisa tiba-tiba menangis, atau mungkin saat di panggil dia tidak mendengarnya.” Jawab Dokter Wahyu.
“Begitu ya. Pantas saja tadi saya panggil-panggil dia tidak menoleh.” Ucap Rizky.
“Iya, benar. Jika dibiarkan terus seperti itu, dia bisa kehilangan kesadarannya.” Ucap Dokter Wahyu.
__ADS_1
“Maksudmu kehilangan kesadarannya?” Tanya Rizky yang sebenarnya paham dengan apa yang dimaksud oleh Dokter Wahyu, hanya saja ia enggan menerima kenyataannya.
“Aku minta maaf, memang berat bagiku untuk menyampaikannya. Dan pasti berat pula bagimu untuk menerimanya, tapi memang begitulah kenyataannya. Dia bisa gila jika terus berlarut-larut dalam kesedihannya.” Jawab Dokter Wahyu. “Sabar, Ky. Sekarang tergantung pada kamu, bagaimana cara kamu menghiburnya.” Sambungnya.
Rizky terdiam mendengar ucapan Dokter Wahyu. Hatinya sakit, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan jika Aura benar-benar kehilangan kesadarannya.
“Berat sekali cobaan yang Engkau berikan pada Aura ya Allah.” Ucap Rizky pelan.
“Bay the way, jika kamu sibuk kerja kamu bisa minta bantuan orang lain untuk datang menemani dan menghibur Aura. Contohnya orang tuanya, saudaranya atau teman-temannya. Dan orang-orang yang ada dirumahmu memiliki perang yang paling penting. Mereka harus bisa memperhatikan Aura terus menerus, jangan biarkan Aura sendirian dan merasa sedih.” Dokter Wahyu memberi saran dan nasehat pada Rizky.
“Iya, pasti akan saya laksanakan saran darimu.” Ucap Rizky. “Lalu kapan Aura bisa keluar dari rumah sakit?” Tanyanya.
“Nanti sore sudah boleh pulang. Kamu bisa mengurus biaya administrasinya sekarang.” Jawab Dokter Wahyu.
“Ok. Masih ada dal lainnya lagi?” Tanya Rizky lagi.
“Ini resep obat yang harus dikonsumsi oleh Aura.” Dokter Wahyu menyerahkan selembar kertas pada Rizky.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi.” Ucap Rizky seraya mengambil kertas yang diberikan oleh Dokter Wahyu ke padanya.
“Iya.” Sahut Dokter Wahyu.
Setelah meninggalkan ruangan Dokter Wahyu, Rizky bergegas pergi menuju tempat penebusan obat lalu membayar biaya administrasi selama Aura berada di rumah sakit.
Rizky kembali ke ruangan Aura membawa sebuah plastik yang berisi obat-obatan untuk Aura.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Rizky. “Ummi sudah bangun.” Lanjutnya.
“Sudah. Kamu kenapa lama sekali perginya?” Tanya Ummi.
“Tadi setelah kembali dari Toko Kue Melati, Rizky pergi lagi ke ruangan Dokter Wahyu, Mi.” Jawab Rizky.
“Oh ya? Dokter bilang apa?” Tanya Ummi lagi.
“Alhamdulillah nanti sore Aura sudah boleh pulang.” Jawab Rizky pelan lalu menatap Aura yang sedang tertidur pulas.
“Ada apa?” Ummi mulai curiga ada sesuatu yang terjadi karena tatapan Rizky pada Aura tidak seperti biasanya.
“Kita bicara di luar saja ya, Mi. Rizky khawatir nanti Aura akan mendengarnya jika kita bicara di sini.” Ajak Rizky.
“Baiklah, ayo.” Sahut Ummi.
Rizky dan Ummi keluar dari dalam ruangan Aura. Mereka berdua mengobrol di depan pintu.
“Mi, Dokter Wahyu mengatakan bahwa Aura merasakan kesedihan yang sangat mendalam.” Ucap Rizky pelan.
“Itu wajar, siapapun akan merasa sedih jika kehilangan anak.” Ucap Ummi.
“Tapi Aura berbeda, Mi. Jika dia terus-trusan larut dalam kesedihan, suasana hatinya juga tidak baik, dia sering melamun, maka itu semua akan membuatnya setres dan mengalami kesehatan mental.” Ucap Rizky.
Rizky terlihat sangat sedih, dia tidak pernah bisa menyembunyikan ekspresi sedihnya dihadapan Ummi.
“Sabar, Nak. Kamu tidak boleh terlihat sedih seperti ini dihadapannya Aura. Itu akan membuatnya ikut merasa sedih. Jika kamu mau Aura merasa gembira, maka kamu harus bisa menunjukkan bahwa kamu sedang bahagia.” Ummi menasehati putranya.
“In syaa Allah, Mi.” Jawab Rizky seraya menghapus air matanya.
“Begini saja, bagaimana kalau nanti Aura sudah sehat, kamu ajak dia jalan-jalan ke luar negeri.” Saran Ummi pada Rizky.
“Ide yang sangat bagus, Mi.” Ucap Rizky lalu ia melihat ke dalam ruangan. Dilihatnya Aura sudah bangun. “Ayo kita masuk, Mi. Aura sudah bangun.” Lanjutnya.
“Oh, iya.” Sahut Ummi lalu membuka pintu ruangan Aura.
“Abang dan Ummi dari mana?” Tanya Aura dengan lembut.
“Baru dari depan.” Jawab Ummi.
“Oh ya sayang, Alhamdulillah nanti sore Aura sudah boleh pulang.” Ucap Rizky.
“Oh ya? Alhamdulillah. Jam berapa kita akan pulang?” Tanya Aura sumringah.
“In syaa Allah setelah sholat Ashar.” Jawab Rizky.
Tokk.. Tokk.. Tokk... Pintu di ketuk dan masuklah seorang perawat.
“Selamat siang. Saya mau mengantarkan makan siang untuk Ibu Aura.” Ucap perawat tersebut. Lalu ia menata makanan di atas nakas.
“Terima kasih, Sus.” Ucap Ummi.
“Sama-sama Ibu. Saya permisi.” Ucap perawat tersebut lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
Ummi mengambil makanan yang di bawa oleh perawat tadi, lalu dengan lembut menyuapi Aura makan hingga selesai.
“Mi, Rizky keluar sebentar ya mau membeli makan siang untuk kita.” Ucap Rizky.
“Iya.” Jawab Ummi.
“Terima kasih, Mi. Aura sudah kenyang.” Ucap Aura setelah selesai makan.
“Iya, sama-sama.” Sahut Ummi lalu mengambilkan beberapa tablet obat untuk Aura. “Ini obatnya di minum.” Lanjut Ummi.
“Baik, Mi.” Ucap Aura lalu meraih obat dari tangan Ummi.
Tidak lama kemudian Rizky kembali membawa dua bungkus makanan. Ia dan Ummi pun menyantap makan siang bersama-sama.
Sudah dua hari ini Aura tidak mood untuk memainkan gawainya. Dan saat Aura mulai memainkan gawainya, dilihatnya di dalam aplikasi berwarna hijau sudah ada ratusan chat di dalam group BFF.
__ADS_1