Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Kejutan


__ADS_3

Hari ini Bang Rizky pergi kerja pagi-pagi sekali. Aku tau, pasti beberapa hari ini dia tidak fokus pada kerjaannya karena terlalu memikirkanku. Maafkan Aura, Bang. Hiiksss.


Sebelum berangkat kerja Bang Rizky mengatakan padaku bahwa hari ini akan ada kejutan untukku. Dia juga meyakinkanku bahwa aku pasti akan merasa sangat bahagia dengan kejutan yang telah ia siapkan.


Bang, seandainya kamu tau bahwa seluruh hati dan kebahagiaanku telah pergi bersama anak kita. Hikss.


Betapa sulitnya aku bangkit hanya untuk membuatmu bahagia. Meskipun kamu termasuk orang yang sangat penting bagiku, tapi semua usahaku untuk bangkit rasanya sia-sia belaka.


Untuk saat ini aku hanya bisa membuat diriku bertahan untuk tetap waras. Aku tau, semua orang di rumah ini sedang mengkhawatirkan kesehatan mentalku.


Bahkan untuk hal sepenting itu tidak ada satu orangpun yang mengatakannya kepadaku, kalau bukan karena waktu itu aku tidak sengaja mendengar obrolan Jihan dan Chaca, mungkin hingga saat ini aku tidak akan pernah tau mengenai hal itu.


Sejak saat itu, aku lebih rajin untuk berdzikir dan beristighfar. Agar aku senantiasa ingat pada Allah, agar kesehatan mentalku tetap terjaga. Meskipun aku sedang sendirian dan sedih, aku selalu memasang murotal disampingku agar para syaitan tidak akan mendekat dan menghasutku. Begitulah caraku untuk menjaga diriku agar tetap waras.


“Ah!! Suara berisik-berisik apa di depan pintu kamar?” Tiba-tiba aku mendengar ada yang membuat keributan di depan pintu kamarku.


Aku beranjak dari tempat dudukku dan pergi menuju pintu.


Krakkk!! Aku membuka pintu kamar.


“Nyonya Muda!” Chaca kaget saat melihatku membuka pintu.


“Aura!! Hahaha!!” Lucy tertawa.


Ntah apa yang ia tertawakan?


“Ada apa?” Tanyaku dengan tenang.


“Maaf, Nyonya Muda. Nona Lucy dan Nona Dona ngotot ingin bertemu dengan Nyonya Muda.” Jawab Chaca dengan serba salah. Ia kelihatan gelisah.


“Tidak apa-apa.” Ucapku pada Chaca. “Ayo mengobrol di bawah!” Ajakku.


“Apa kami tidak boleh masuk ke dalam kamarmu?” Tanya Lucy.


“Tentu saja tidak boleh. Ini adalah tempat saya bermesraan dengan Bang Rizky. Mana mungkin saya membiarkan orang lain masuk seenaknya!” Jawabku dengan tegas.


Aku menutup pintu kamar dan berjalan lebih dulu. Mereka bertiga mengikutiku dari belakang.


“Na, sepertinya dia memang beneran sudah gila. Mana pernah dia seberani ini dengan kita.” Samar-samar aku mendengar Lucy berbisik pada Dona. Tapi meskipun samar-samar, aku mengerti apa yang dia katakan.


Aku langsung duduk di sofa begitu kami sampai di ruang tamu.


“Tidak mungkin ini kejutan yang dimaksud oleh Bang Rizky kan?” Aku bertanya-tanya di dalam hatiku.


Aku lihat Lucy mengeluarkan sebuah boneka dari dalam handbagnya.


“Boneka? Untuk apa?” Aku masih belum bisa menebak apa yang mereka berdua inginkan.


Lucy memencet dada boneka tersebut dan keluarlah bunyi “Mama, Mama.”


“Hahahaha.” Lucy dan Dona tertawa bersama-sama.


Aneh sekali mereka ini.


Aku hanya diam dan berfikir. Mungkinkah mereka berdua berharap aku gila. Baiklah, aku akan meladeni kalian.


Lucy memencet tombol itu sekali lagi.


“Mama, Mama.” Suara yang keluar dari boneka.


“Ahh!!” Aku memegang kepalaku dan menggaruk-garuknya. “Anakku, anakku.” Aku masih menggaruk-garuk kepalaku.


“Hahahaha, ternyata dia beneran sudah gila!” Lucy terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


“Hahahaha, ia benar. Kasihan sekali dia.” Dona ikut mentertawakan keadaanku. “Aku tidak menyangka, wanita sepertinya juga bisa gila. Bukankah dia ini wanita sholehh? Hahahaha.” Lanjut Dona.


Lucy berkali-kali memencet tombol yang ada di dada boneka, bahkan saat dia merasa lelah, ia bergantian dengan Dona hanya untuk membuatku terus mengingat calon anakku yang telah pergi.


Mereka berdua ingin membantu mempercepat prosesnya dan membuat mentalku benar-benar terganggu.


Selama mereka berdua memencet tombol yang menimbulkan suara “Mama, Mama.” Selama itu pula aku benar-benar bertingkah layaknya orang gila.


Aku terus memegang dan menggaruk-garuk kepalaku, hingga jilbabku berantakan. Sesekali aku berdiri dan memutari mereka berdua sambil terus memanggil-manggil anakku.


Mereka berdua benar-benar terlihat sangat bahagia. Ah, anggap saja aku sedang berbaik hati untuk menghibur mereka berdua. Jarang-jarang kan aku mau melakukan ini demi mereka.


Tiba-tiba aku berhenti dan tidak memberikan respon apapun terhadap bunyi “Mama, Mama.”


Aku duduk cantik di sofa dan merapikan jilbabku.


“Sudah puaskan mainnya? Aku sudah lelah.” Ucapku pada mereka sambil mengipas-ngipas wajahku dengan tangan.


“Loh, kamu kenapa bisa kembali normal?” Lucy terlihat sangat heran.


“Memangnya kenapa? Saya kan memang masih normal. Kalian berdua yang tidak normal.” Ucapku dengan senyum sinis.


“Maksudmu apa?” Tanya Dona.


“Lalu untuk apa kalian berdua datang membawa boneka seperti ini dan ketawa ketiwi? Apa itu normal?” Aku balik bertanya. “Saya hanya merasa kasihan pada kalian, makanya saya ikut bermain.” Sambungku.


“Jadi maksudmu kamu tadi hanya pura-pura?” Lucy kaget dan membelalakkan kedua matanya.


“Tentu saja. Dari pada kalian terlihat seperti orang gila yang ketawa-ketawa dengan boneka, maka saya yang berpura-pura gila. Anggap saja itu saya sedang berbaik hati dan mau menghibur kalian, hehe.” Jawabku sambil cengengesan.


“Jadi kamu anggap kami gila?” Tanya Dona.


“Iya.” Jawabku singkat.


“Siapa yang berani mengatakan Aura gila??” Bentak Bang Rizky secara tiba-tiba.


Aku kaget, spontan aku berdiri dan menatapnya tanpa henti.


Bang Rizky menghampiriku dan memelukku, disandarkannya kepalaku di dadanya.


Aku hanya diam dan menuruti kemauannya. Mungkin saat ini dia ingin melindungiku dan ingin membuatku bergantung padanya.


Sama sepertiku, Lucy dan Dona juga terdiam ditempatnya.


“Sebelum saya bertindak lebih kasar, sebaiknya kalian cepat keluar dari rumah ini!” Ucap Rizky dengan tegas.


“Ngusir orang seenaknya!” Bantah Lucy. Ia melipat kedua tangannya di dada dan memalingkan wajahnya tanda tidak suka.


“Meskipun saat ini saya belum menemukan dalang di balik peristiwa keguguran Aura. Tapi kalian berdua adalah tersangka yang sangat tepat bagi saya.” Ucap Bang Rizky.


Aku kaget, aku menanatap wajah Bang Rizky yang terlihat sangat garang. Segera aku kembali menundukkan wajahku karena merasa ngeri melihat raut wajahnya yang seperti itu.


Lucy juga merasa kaget dan langsung menatap wajah Bang Rizky. Tapi tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutnya.


“Kalau tidak ada bukti, jangan menuduh orang sembarangan.” Ucap Dona.


“Memang belum ada bukti, hanya saja saya punya firasat seperti itu.” Sahut Bang Rizky.


“Firasat itu tidak selalu benar. Meskipun aku tidak suka dengan Aura, bukan berarti aku juga tidak menyukai anaknya. Biar bagaimanapun juga, anak itu adalah keponakanku!” Ucap Dona membela dirinya dan juga Lucy sahabatnya.


“Whatever!! Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.” Ucap Bang Rizky.


“Hiiiihhh, kamu menyebalkan sekali Rizky!” Ucap Dona, ia meraih tangan Lucy dan menarikya. “Ayo kita pergi saja dari sini.” Sambungnya.

__ADS_1


Aneh sekali, kenapa Lucy tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk membela dirinya? Malah Dona yang begitu ngotot membela diri. Kenapa mereka jadi tidak kompak begitu? Hurmm.


“Abang kenapa bisa tiba-tiba pulang?” Tanyaku dengan lembut.


Bang Rizky mengajakku duduk.


“Tadi Chaca yang menelepon Abang.” Jawab Rizky. “Chaca mengatakan bahwa mereka berdua memperlakukan Aura seperti orang gila.” Lanjutnya seraya menatap kedua netraku.


“Oh begitu. Sebenarnya tadi Aura hanya pura-pura gila, Bang. Hehe.” Ucapku sambil cengengesan.


“Oh ya?” Tanya Bang Rizky serius.


“Iya.” Jawabku dan menganggukkan kepalaku berkali-kali dengan cepat. “Oh ya, apa mereka kejutan yang Abang maksud?” Tanyaku.


“Hah? Mereka? Tentu saja bukan.” Jawab Bang Rizky. “Mungkin sebentar lagi sampai kejutannya. Sekarang Abang mau balik lagi ke hotel.” Lanjutnya lalu mengecup keningku dengan penuh kasih.


“Baiklah. Abang hati-hati di jalan.” Sahutku.


“In syaa Allah. Assalamu’alaikum.” Ucapnya.


“Wa’alaikumussalam.” Jawabku.


“Sepertinya sudah lama aku tidak membaca buku, aku pergi ke ruang baca saja deh.” Gumamku di dalam hati.


Aku melangkahkan kakiku menuju ruang baca dan langsung memilih dan memilah buku yang menarik minatku untuk membacanya.


Setelah beberapa menit membaca buku, Jihan datang menghampiriku.


“Nyonya Muda, maafkan saya mengganggu.” Ucap Jihan menyapaku dengan sopan.


“Tidak masalah. Ada apa?” Tanyaku seraya menutup buku yang ada ditanganku.


“Di depan ada tamu.” Jawabnya.


“Oh begitu. Ayo!” Ajakku ke depan untuk menemui tamu yang di maksud oleh Jihan.


Kami keluar dari dalam ruang baca secara beriringan.


“Jihan masih ada masalah di kampus?” Tanyaku untuk membuat suasana tidak tegang.


Semenjak aku mengurung diri di dalam kamar, aku tidak pernah lagi mengobrol dengannya, dengan Chaca dan juga Bi Sumi.


“Alhamdulillah sudah tidak ada, Nyonya Muda. Hanya saja ada beberapa tugas yang ingin saya tanyakan dengan Nyonya Muda.” Jawabnya pelan.


“Owh, Alhamdulillah kalau sudah tidak ada masalah apa-apa dengan Kanaya. Kalau masalah tugas, kamu bisa datang kepada saya kapan saja.” Ucapku dan tersenyum padanya.


“Baik, Nyonya Muda.” Sahut Jihan. Ia terlihat sangat girang mendengar jawabanku tersebut.


Sesampainya kami di ruang tamu. Aku melihat ada sosok wanita paruh baya yang sedang duduk.


Tunggu! Sosok ini sangat familiar. Aku langsung berlari dan berdiri dihadapannya.


“Ibu!” Teriakku.


“Astaghfirullah.” Ibu kaget mendengar teriakanku.


“Ini beneran Ibu?” Tanyaku masih tak percaya.


Ibu berdiri dan langsung memeluk tubuhku.


“Iya, Nak. Ini beneran Ibu.” Sahut Ibu.


“Ibuu... Hiks hiks hiks..” Aku pun terisak dalam pelukan Ibu. Ibu membelai kepalaku dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang.

__ADS_1


Menangis di dalam pelukanmu Ibu, membuatku merasa nyaman dan tentram.


__ADS_2