
Sebulan kemudian....
Pengorbanan seorang Ibu yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Beberapa hari terakhir, Ibu dan Bi Risa (Adik Ibu) pergi menyebarkan undangan mengendarai sepeda motor.
Mereka pergi ke kampung halaman untuk memberitahukan kabar bahagia ini kepada Paman dan Bibiku.
Kampung halaman Ibu masih termasuk daerah pelosok. Jalanan pun belum di aspal. Jalannya masih tanah berwarna kuning kecoklat-coklatan.
Hanya ada sebagian jalan yang sudah di beri batu kerikil agar tidak licin ketika sedang turun hujan.
Ketika itu, Ibu dan Bi Risa pergi berdua ke kampung halaman. Aku di rumah menjaga kios. Hari terlihat tidak bersahabat, karena waktu itu hari sedang mendung. Awan hitam menyelimuti langit.
Tapi Ibu dan Bi Risa tetap memutuskan untuk pergi, waktu yang di tempuh untuk sampai ke sana sekitar 2 jam perjalanan. Menjadi 4 jam perjalanan pergi dan pulang.
Ketika Ibu dan Bi Risa di tengah perjalanan, tiba-tiba turun hujan. Akhirnya jalanan menjadi licin. Karena itulah ban sepeda motor Ibu tergelincir, hingga akhirnya Ibu dan juga Bi Risa jatuh tersungkur.
Setelah selesai mengabari seluruh keluarga, Ibu dan Bi Risa memutuskan untuk pulang meskipun hari masih gerimis. Karena jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Ibu dan Bi Risa takut jika hari sudah gelap tapi belum sampai ke rumah kami, bisa jadi diperjalanan nanti ada begal atau orang jahat.
Saat perjalanan pulang, jalanan masih licin. Akhirnya Ibu kehilangan kendali saat berada di tanjakan, hal itu membuat Ibu dan Bi Risa jatuh lagi.
Keesokan harinya, Bi Risa terkena flu dan tidak bisa menemani Ibu untuk menyebarkan undangan di sekitar perumahan tempat kami tinggal.
Aku tau, Ibu pasti masih merasa sangat lelah. Aku juga yakin kaki Ibu pasti masih sakit setelah dua kali jatuh bersama Bi Risa. Tapi Ibu tetap ngotot untuk menyebarkan undangan pada tetangga kami di sekitar perumahan ini, karena tanggal pesta pernikahan sudah semakin dekat.
__ADS_1
Aku jadi merasa sedikit menyesal karena setuju jarak antara lamaran dan menikah hanya satu bulan. Hal itulah yang menbuat Ibu jadi keteteran.
Akhirnya, Ibu jatuh lagi untuk yang ketiga kalinya dari sepeda motor. Setelah Ibu pulang, Ibu langsung menelepon tukang kusuk.
Sedangkan aku, tidak ada main hujan dan tidak ada terkena air hujan. Tiba-tiba aku jatuh sakit. Aku demam, kurang darah, diare dan muntah-muntah, badanku terasa sangat lemah. Ibu mengatakan bahwa aku terkena sawan pengantin.
Ibu membawaku periksa ke bidan, dan selama tiga hari berturut-turut aku sakit, aku sudah di suntik sebanyak tiga kali. Bu Bidan menyarankan agar aku di infus, tapi Ibu menolak. Ibu tetap mau membawaku pulang. Akupn menuruti kemauan Ibuku.
Alhamdulillah ada tetengga kami yang sangat baik. Dia adalah suami Bu Asma, seorang Ustadz. Pak Ridwan membantu Ibu mengurus surat-surat yang berkenaan dengan KUA. Pak Ridwan juga yang menjadi saksi nikah dari pihak perempuan.
Hari ini Ibu booking dua kamar untuk keluarga Bang Rizky. Mereka akan menginap di penginapan yang paling dekat dengan rumah kami. Karena besok pukul 10:00AM kami sudah harus berkumpul di masjid untuk melaksanakan Ijab Qobul.
Semoga saja besok berjalan dengan lancar semuanya, meskipun kini badanku masih terasa lemas.
Saat keluarga Bang Rafli tiba, Ibu langsung mengantarkan mereka ke penginapan. Agar bisa lansung beristirahat.
Tanggal 02, tanggal yang sangat bersejarah dalam hidupku. Pagi ini aku bangun dari tidurku tanpa ada rasa kantuk yang tersisa. Begitu aku terbangun, aku langsung merasa segar.
Setelah suntik sebanyak tiga kali dan minum obat. Alhamdulillah di ha H ini aku sudah merasa lebih baik.
Aku segera pergi menuju kamar mandi dan berwudhu', lalu menunaikan sholat subuh dua rakaat seperti biasanya. Aku panjatkan do'a pada sang Khaliq, aku memohon agar Allah memudahkan segala urusan kami hari ini.
Finally, aku memakai gaun pengantin juga. Aku memakai gamis berwarna putih, khimar berwarna putih, sarung tangan berwarna putih, slayer veil berwarna putih dan juga memakai mahkota. Makeup yang tidak terlalu mencolok membuatku masih terlihat natural, aku memang lebih suka seperti itu. Dan sekarang aku merasa menjadi seorang princess, hehe.
__ADS_1
Pukul 09:44AM Kak Mea menjemputku ke kamar dan menggandengku menuju mobil. Kamipun bergegas pergi ke masjid.
Sesampainya kami di masjid, di sana Ayah sudah menunggu bersama penghulu dan Pak Ridwan.
Seperti yang aku Inginkan, Bang Rizky setor hafalan surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali terlebih dulu baru kemudian memegang tangan Ayahku.
Saat para saksi mengucapkan kata "SAH" secara bersamaan, maka kami telah resmi menjadi suami istri. Kami sudahpun memasuki sebuah hubungan yang halal dan berlimpah pahala didalamnya.
Tapi aku merasa sedikit kecewa setelah tau bahwa Ayah pulang setelah akad nikah selesai, dia tidak ikut dengan kami ke rumah untuk resepsi. Aku tidak tau apa yang ada di dalam fikirannya.
Setelah sampai di rumah, Bang Rafli dan Kak Mea pergi mengantarkan nasi bungkus ke rumah Ayah. Sekalian menjemput Farhan yang sedang asik main PlayStation di rumah kakeknya. Karena saat Ayah pulang dari masjid, Farhan ikut dengan kakeknya.
Sebagai seorang istri yang masih baru, aku langsung melayani suamiku. Aku pergi ke meja hidangan untuk mengambil makan malam kami. Ternyata Bang Rizky sangat suka makan sepiring berdua dengan aku istrinya. Selain kesannya romantis, hal itu juga merupakan sunnah.
Acara respsi berlangsung hingga pukul 11:00PM. Setelah itu semua orang di luar langsung membereskan kursi dan peralatan makan.
Malam ini, untuk pertama kalinya aku tidur berdua di kamar bersama seorang laki-laki yang sudah menjadi imamku. Dialah nakhoda dalam rumah tangga yang harus aku patuhi setiap titahnya. Ridho Allah ada dalam Ridhonya.
Mulai saat ini aku bahkan harus menomor duakan Ibuku, Ibu yang sudah mempertaruhkan nyawanya ketika akan melahirkan dan membawaku ke dunia ini. Karena suamilah yang menjadi nomor satu dalam hidup seorang wanita setelah bergelar istri.
Itulah sebab mengapa aku harus sangat berhati-hati ketika memilih pasangan hidup. Meskipun nanti aku harus mematuhi segala keinginannya, tapi dia tidak akan memperlakukanku seperti budaknya.
Setelah menginap tiga hari di rumah Ibu, akhirnya aku dan Bang Rizky pulang ke kota Medan.
__ADS_1
Kami di hantar oleh Ibu dan juga saudara Ibu, dua mobil. Sesampainya di pekarangan rumah Bang Rizky, aku merasa sangat kaget. "Ini rumah atau istana? Kita tidak salah masuk, kan?" hatiku bertanya-tanya di dalam hati.
Kini, kisah hidupku yang baru akan segera di mulai. Bahagiakah aku? Atau malah menderita?