Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Mother in law


__ADS_3

Sebenarnya aku masih sakit hati mendengar ucapan Mama kemarin malam, tapi aku tidak ingin berdendam. Aku tidak mau calon anakku ini nanti akan mewarisi sifat dendam tersebut. Aku sudah memaafkan Mama, dan akan selalu memaafkan Mama bagaimanapun perlakuannya terhadapku.


"Mea, buruan masak gih. Sudah siang gini, males banget sih. Hamil itu bukan alasan untuk kamu malas-malasan." teriak Mama dari depan pintu kamarku.


"Iya, Ma. Sebentar." sahutku. Bukan aku tidak mau memasak, tapi tiba-tiba saja badanku terasa lemas. Padahal tadi pagi sudah sarapan, sudah minum Vitamin juga.


Kadang aku berfikir, apa dulu Mama ketika hamil tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini? Ah, rasanya seperti tidak punya tenaga sama sekali.


Karena takut Mama bertambah marah padaku, aku bangun perlahan-lahan dari ribaanku. Sakit sekali rasanya pinggang ini, tapi harus tetap beranjak.


Aku jalan perlahan-lahan menuju dapur sambil memegang pinggang dan mengelus-elus perutku. Tak sengaja mataku tertuju pada pakaian kotor milikku dan Bang Rafli, sudah empat hari aku belum mencuci pakaian.


Aku dan Mama memang mencuci pakaian masing-masing. Mama mencuci pakaiannya dan pakaian Papa. Sedangkan aku mencuci pakaianku dan juga pakaian Bang Rafli.


Aku buka kulkas untuk melihat stok sayuran. Jujur saja aku belum memikirkan menu apa yang akan aku masak hari ini.


Aku lihat ada ikan di freezer, ada tahu dan terong bulat. "Masak gulai ikan campur terong dan sambal tahu saja deh." gumamku dalam hati.


Kemudian aku mulai mengekseskusi ikan, membuang isi perutnya dan mencucinya hingga bersih. Tak lupa aku taburi jeruk nipis agar bau amisnya menghilang. Setelah itu aku lanjut mengiris-iris terong dan tahu. Aku racik dua jenis bumbu, satu untuk gulai dan yang satunya untuk sambal. Setelah siap merajang, aku mulai dengan memasak sambal terlebih dahulu, setelah itu lanjut masak gulai ikan.


Setelah selesai memasak aku berniat untuk kembali lagi ke kamar, tapi Mama menghentikan langkahku.


"Mea, jangan lupa sapu rumah sekalian di pel ya. Kaki Mama sudah risih nginjak lantainya." perintah Mama padaku.


"Baik, Ma. Tapi Mea mau baring sebentar boleh ya, Ma. Sekitar setengah jam lagi baru Mea kerjain." jawabku dengan perlahan dan merendahkan nada bicaraku agar Mama tidak marah dan mau mengerti.


"Alah, jangan manja kamu. Baru masak segitu saja sudah mau tiduran, sok kecapean."


"Badan Mea rasanya lemes banget, Ma." ucapku pelan.


"Berani kamu melawan Mama?" ucapnya sambil menatap mataku.


"Tidak, Ma." sahutku sambil menundukkan wajah.


"Ya sudah, tunggu apa lagi? Kerjain gih." ucapnya lalu pergi meninggalkanku.


Aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa berani mengucapkan sepatah katapun lagi.


Akupun melaksanakan perintah Mama. Menyapu lantai dan juga mengepel.


Setiap kali aku merasa sedih, sakit hati, stress, perutku terasa sakit seperti di tusuk-tusuk, anakku di dalam pun ikut gelisah. Benarlah kata dokter jika ibu hamil setres, bayinya di dalam juga ikutan setres, sebab itu ibu hamil tidak boleh setress.


***


Sudah hampir pukul delapan malam, sebentar lagi Bang Rafli pulang. Aku pergi ke ruang depan, menunggu kedatangan Bang Rafli untuk menyambutnya dan mencium punggung tangannya.


Saat Bang Rafli tiba, Mama menghampiri kami.


"Istri kamu hari ini berani melawan sama Mama." ucapnya pada Bang Rafli dengan nada marah.


"Sungguh?" tanya Bang Rafli padaku.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Mana mungkin dia mau mengakuinya. Masak saja harus Mama ingatkan. Jika tidak, dia cuma tiduran saja di kamar. Mama suruh nyapu dan ngepel juga membantah." ucap Mama lagi.


"Jadi begitu kelakuan kamu jika Abang tidak di rumah? Untuk apa di rumah ini ada menantu kalau hal sepele seperti itu masih Mama yang mengerjakannya." bentak Bang Rafli padaku.

__ADS_1


"Tidak seperti itu, Bang..." belum siap aku berbicara, omonganku di putus oleh Mama.


"Makanya kamu harus bisa mendidik istri kamu supaya nurut sama mertua kalau kamu tidak ada. Pakaian kotor juga sudah mau seminggu itu dibiarkannya saja, tidak dicuci-cuci Mea." ucap Mama.


"Iya, Ma. Mama tidak perlu khawatir. Rafli pasti akan menasehati Mea." sahut Bang Rafli sambil menarik tanganku menuju kamar.


"Pelan-pelan, Bang. Perut Mea sakit." ucapku dengan air mata yang berlinang. Tapi Bang Rafli tidak memperdulikannya.


"Menantu kurang ajar kamu Mea." ucap Bang Rafli dan mengangkat tangan kanannya, dia hendak menamparku.


"Ampun, Bang." ucapku dan berlutut dihadapannya. Aku menangis terisak-isak. Berharap dia iba padaku.


"Kamu keterlaluan Mea, Ibuku itu juga Ibumu. Kamu harus bisa patuh padanya." bentak Bang Rafli.


"Iya, Mea minta maaf, Bang. Please jangan marah lagi." pintaku.


"Kalau kamu masih kurang ajar sama Mama, Abang tidak akan segan-segan mengusir kamu dari sini." ucapnya lalu merebahkan badannya di kasur.


"Kejadian yang sebenarnya tidak seburuk yang Abang fikirkan, Bang. Hiks,, hiks,, hiks.." ucapku sesenggukan.


"Diam kamu, tidak usah banyak alasan. Biar bagaimanapun juga Abang lebih percaya sama omongan Mama dari pada omongan kamu." jawabnya, lalu ia beranjak dari tempat tidur dan pergi meninggalkanku.


Aku masih terduduk di tempatku, masih sesenggukan karena takut di hajar oleh suami sendiri.


Saat Bang Rafli keluar dari kamar, aku dengar Papa memanggilnya.


"Rafli, berantem lagi sama Mea?" tanya Papa pada Bang Rafli.


"Iya, Pa." jawabnya.


"Sudahlah, Papa jangan marahin Rafli. Papa kalau mau marah, marah saja sama Mea." ucap Mama.


"Mea itu anaknya pemalas, mentang-mentang perut gede." jawab Mama.


"Owh, Mama lupa dulu seperti apa manjanya sewaktu Mama hamil tua? Masak tidak mau, nyuci tidak mau, beberes rumah juga tidak mau. Semua Mamanya Papa yang mengerjakan. Mamanya Papa yang bantuin Mama sewaktu Mama hamil. Mamanya Papa sayang sama Mama, tidak di anggap menantu tapi di anggap anaknya sendiri. Kenapa Mama tidak bisa bersikap seperti itu pada Mea?" ucap Papa panjang lebar.


Aku tekejut mendengar omongan Papa. Ternyata Mama dulu di manjakan oleh mertuanya, di sayang oleh mertuanya. Lalu kenapa tidak ada sedikitpun rasa sayangnya padaku?


"Halah, bawaan orang hamil mah beda-beda, Pa. Buktinya kalau di suruh Mea bisa mengerjakan pekerjaan rumah." ucap Mama membela dirinya.


"Iya, tapi terpaksa karena di paksa sama Mama. Papa harap mulai besok Mama mau membantu Mea masak dan beresin rumah. Kalau tidak, Rafli dan Mea jangan tinggal di sini lagi, supaya Mama tidak manja." ucap Papa.


Ya Allah, Alhamdulillah. Ternyata masih ada yang mau membela Mea. Biarpun aku jarang berbicara dengan Papa, karena Papa sering kerja ke luar kota. Ternyata Papa lebih baik padaku dari pada Mama.


"Kenapa malah Mama yang di bilang manja?" tanya Mama tidak terima.


"Kenyataannya memang begitu." jawab Papa. "Rafli, masuk kamar sana dan minta maaf sama Mea." sambungnya.


Tak lama kemudian Bang Rafli masuk ke kamar. Ia meraih tanganku, membantuku untuk berdiri dan langsung memelukku.


"Abang minta maaf ya." ucapnya lembut.


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


"Maafin Abang yang kadang terlalu emosian. Itu karena Abang sayang banget sama Mama. Tapi bukan berarti Abang tidak sayang Mea, abang cuma tidak mau ada yang menyakiti hati Mama Abang." jelasnya.


"Iya, Mea mengerti." jawabku pelan.

__ADS_1


"Mea sudah makan malam?" tanyanya.


"Belum, Mea menunggu Abang pulang baru kemudian makan, agar bisa makan malam bersama." jawabku.


"Kalau begitu ambilin makanannya ya. Abang sudah lapar. Kita makan di kamar saja berdua." pintanya.


"Baik, Bang." sahutku sambil menganggukkan kepalaku.


Kemudian aku keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil makanan. Ternyata ada Mama dan Papa yang sedang menyantap makan malam.


"Mea mau makan?" tanya Papa saat melihatku mengambil piring.


"Iya, Pa." jawabku.


"Sini duduk, kita makan sama-sama, ajak Rafli juga." pinta Papa.


"Tidak, Pa. Bang Rafli katanya mau makan di kamar." jawabku.


"Owh, ya sudah kalau begitu." sahutnya.


Aku melihat ke arah Mama, Mama hanya diam tanpa berkata apapun. Mungkin diam karena habis di marahin sama Papa, fikirku.


Setelah mengambil makanan dua piring dan juga air minum dua gelas, aku menaruhnya di atas talam dan langsung pergi menuju kamar.


"Ayo makan, Bang." ajakku.


Kemudian Bang Rafli pun duduk didepanku. Dengan lahap kami menyantap makanan yang ada di hadapan kami.


"Ini Mea yang masak?" tanyanya.


"Iya Bang, kenapa? Tidak enak ya?" aku balik bertanya padanya.


"Enak. Tapi sejujurnya Abang juga rindu makan masakan Mama. Semenjak ada Mea, Mama jadi tidak pernah masak." jawabnya.


Aku hanya diam, tidak tahu mau menjawab apa.


"Tapi masakan Mea tidak kalah enak." ucapnya sambil tersenyum, ia menatap mataku lalu mengelus-elus kepalaku perlahan.


"Terima kasih, Bang." jawabku dan membalas senyumannya.


Setelah selesai makan, aku mengantarkan piring kotor ke dapur. Aku lihat meja makan masih berantakan.


Aku sempatkan untuk membereskan piring kotor yang ada di atas meja dan menyimpan sisa makanan ke dalam lemari makan.


"Loh, kenapa malah Mea yang beresin?" ucap Papa dan mebuatku kaget, aku langsung menoleh ke belakang dan menghadap Papa.


"Tidak apa-apa, Pa. Sekalian tadi Mea hantar piring kotor dari kamar." jawabku.


"Mama ini benar-benar kebangetan." gerutu Papa.


"Tidak apa-apa, Pa. Beneran deh Mea tidak apa-apa. Jangan marahin mama lagi ya, Pa." pintaku.


"Ya sudah." jawab Papa pelan.


Setelah selesai membereskan meja makan, aku pun kembali ke kamar.


Setiap kali habis makan Papa pasti akan merokok, Papa merokok di teras belakang. Katanya asap rokok tidak baik untuk wanita hamil sepertiku, sebab itulah Papa selalu menikmati rokoknya di luar rumah. Kalau tidak di teras depan, ya di teras belakang.

__ADS_1


Saat sampai di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di samping Bang Rafli. Aku lihat dia sudah terlelap, mungkin hari ini dia banyak kerjaan, hingga merasa sangat lelah. Apa lagi tadi sesampainya di rumah ia terbakar emosi, hal itu pasti membuatnya bertambah lelah.


Aku tutup mataku, perlahan-lahan aku hilang kesadaran dan menyusul Bang Rafli ke alam mimpi.


__ADS_2