
“Eh, maaf, Bang. Nggak sengaja.” Ucap Zara lalu menarik kembali tangannya.
“Kenapa kamu lebih kaget dariku?” Tanya Zayn.
“Emm.” Zara terlihat bingung. “Aku cerita atau tidak pada Bang Zayn?” Ia memalingkan wajahnya lalu berpikir.
“Apa ada sesuatu yang kamu ketahui?” Tanya Zayn lagi.
“Ugh. Aku… akan menceritakannya. Huuuuhhhh.” Zara membuang nafas perlahan.
“Sebelum Om Amir dan Tante Arumi menikah, Ayah sudah pernah bertemu dengan Tante Arumi. Ayah memberitahu Ibu bahwa Tante Arumi adalah orang yang baik, lembut dan juga sopan santun.” Zara mulai bercerita. “Tapi setelah menikah yang aku dan Ibu lihat, Tante Arumi adalah orang yang kasar. Seperti kebalikan dari cerita Ayah dan Om Amir tentang sifatnya.” Lanjutnya.
“Oh, begitu. Pasti ada misteri dibalik semua ini.” Zayn memberi kesimpulan. “Kamu bersiap-siaplah. Besok pagi kita akan berangkat ke pesantren.” Lanjutnya.
“Baik, Bang.” Sahut Zara.
Sementara itu, dikediaman Rizky.
Amir jarang pulang ke rumah, ia memberitahu Arini bahwa dia memiliki banyak pekerjaan dan membuatnya sering tidur di kantor. Padahal sebenarnya dia menginap di salah satu hotel milik Rizky.
Namun Arini sama sekali tidak merasa curiga, dia malah merasa senang akan hal itu. Karena ia tidak perlu berpura-pura menjadi gadis lembut dan lemah seperti Adiknya.
Saat Amir pulang ke rumah malam itu, ia menemui Rizky diruang baca.
“Bang, sudah selama ini apa tidak ada kabar sedikitpun tentang keberadaan Arumi?” Tanya Amir.
“Hmm.” Rizky menghela nafas. “Siang tadi Arthur meneleponku.”
“Oh ya? Apa yang ia katakan? Kenapa Abang tidak memberitahuku?” Amir antusias.
“Aku memang berencana memberitahumu saat kamu pulang ke rumah.” Jawab Rizky. “Hanya saja, kabar ini tidak begitu baik. Apa kamu sudah siap mendengarnya?”
“In syaa Allah siap. Jika Abang tidak menceritakannya, aku pasti merasa sangat penasaran.” Jawab Amir.
“Arthur mengatakan bahwa malam hari sebelum kalian menikah, dini hari ada beberapa orang pria yang keluar dari kontrakan Arumi membawa sesuatu. Hal itu diketahui oleh tetangga yang hendak melaksanakan sholat tahajud. Saat ia keluar dari dalam kamarnya, ia mendengar suara-suara yang aneh diluar, lalu ia mengintip melalui jendelanya. Ia mengira bahwa pria-pria itu adalah maling. Karena merasa takut, ia pun kembali masuk ke dalam kamarnya.” Rizky menceritakan.
“Maling?” Amir kaget. “Aku sudah pernah pergi ke rumah itu. Rumah itu sangat sederhana bahkan hampir tidak layak untuk ditempati. Apa yang dicari maling dari rumah seperti itu?” Amir mengernyitkan dahinya.
“Itulah yang dipikirkan oleh Arthur. Jadi dia berpendapat bahwa mereka bukan maling.” Ucap Rizky. “Mungkin saja mereka adalah pencul*k atau mungkin juga pem-bu-n*-h.” Lanjut Rizky pelan.
“Apa?” Kali ini Amir lebih kaget lagi. Jantungnya berdebar sangat kencang. “Jika terjadi sesuatu pada Arumi. Maka Arini harus menanggung akibatnya.” Amir mengepalkan tangannya.
“Kita tidak bisa menuduh Arini tanpa bukti.” Ucap Rizky. “Bersabarlah sedikit lagi. Kita pasti akan mendapatkan orang-orang itu.” Rizky coba menenangkan Amir.
“Baiklah, Bang. Aku akan menuggu kabar baik dari Abang. Maaf karena aku tidak bisa membantu apapun.”
“Tidak apa-apa. Yang perlu kamu lakukan adalah menbuat Arini betah tinggal di rumah ini. Agar saat kita memiliki bukti atas kejahatannya, ia bisa segera ditahan.”
__ADS_1
“Baik, Bang. Aku pasti akan melakukannya sesuai perintah Abang.” Sahut Amir.
***
Pagi hari.
Zara menelepon Jihan.
“Bi, untuk beberapa hari ini kami akan pergi. Jadi tidak perlu mengirimkan makanan ke rumah.” Ucap Zara.
“Oh, baiklah. Jika sudah kembali lagi segera beritahu Bibi.”
“Baik, Bi.” Sahut Zara.
Setelah itu Zara dan Zayn keluar dari apartment.
Mereka pergi ke sebuah restoran terlebih dahulu untuk sarapan pagi. Baru kemudian melanjutkan perjalanan.
“Bang, sesampainya disana nanti apa yang akan Abang tanyakan pada Bibi?” Tanya Zara.
“Banyak.” Jawab Zayn.
“Bang, apa Dokter wanita itu masih sering mendekatimu?” Tanya Zara. Lalu menutup mulutnya. “Apa yang aku tanyakan?” Gumamnya didalam hatinya. Tanpa sadar ia bertanya seperti itu.
“Masih.” Jawab Zayn dengan jujur.
“Oh.” Ucap Zara pelan.
“Ah, aku lupa membertahu Nayla.” Ucap Zara lalu mencari-cari ponselnya didalam handbagnya.
Zara membuka aplikasi berwarna hijau lalu mengirim pesan pada Nayla.
“Assalamu’alaikum. Nay, maaf. Hari ini aku tidak masuk, ada urusan mendadak. Tolong bantu aku minta izin libur dengan dosen.” Tulis Zara.
Sementara Zayn sendiri fokus menyetir.
Tidak lama kemudian Nayla membalas pesan dari Zara.
“Baiklah. Kali ini berapa lama kamu akan libur?”
“Aku tidak tau.”
“Hah? Bagaimana bisa tidak tau?”
“Emm, maaf. Aku beneran tidak tau. Jika aku akan kembali ke kota, aku pasti akan mengabarimu.”
“Ok. No problem. Take care.”
__ADS_1
“Thanks honey.” Zara menyelipkan emoji kiss.
Zayn diam-diam memperhatikan Zara.
“Kenapa kamu selalu merasa bahagia saat melihat layar ponselmu?” Tanya Zayn yang kepo. “Bahkan lebih bahagia dari pada berhadapan denganku.” Ucapnya didalam hatinya.
“Tentu saja karena orang yang berkirim pesan denganku adalah orang yang ramah dan hangat. Bukan orang yang dingin bagai gunung es.” Jawab Zara sembari menatap keluar jendela mobil.
“Kamu menyindir aku?”
“Tidak.” Sahut Zara.
“Hmmm.” Zayn menghela nafas pelan.
Zara tersenyum tipis disebalik cadarnya.
Setelah beberapa jam berlalu.
“Bang Zayn. Aku mengantuk.” Ucap Zara pelan.
“Tidurlah.” Sahut Zayn.
“Em.” Zara mengangguk lalu mengatur posisinya agar bisa tidur dengan tenang.
“Astaghfirullah.” Zayn Istighfar pelan karena khawatir akan membangunkan Zara yang sudah tertidur lelap.
Ia lupa untuk mengisi bensin. Lalu fokus mencari pertamin* disepanjang jalan.
Tidak lama kemudian ia menemukan pertamin* lalu mengisi bensin hingga full.
Zara yang tertidur lelap sama sekali tidak menyadari akan hal itu.
Setelah selesai mengisi bensin. Zayn memarkirkan mobilnya ditepi pertamin* untuk beristirahat sejenak.
Ia melihat jam tangannya.
“Hmm. Masih dua jam lagi baru tiba di pesantren.” Gumamnya pelan.
Lima belas menit untuk istirahat sudah cukup bagi Zayn. Ia menyalakan enjin lalu melanjutkan perjalanannya.
Dua jam berlalu, Zara terbangun saat mobil sudah masuk ke dalam pekarangan pesantren.
“Ugh, kita sudah sampai.” Ucapnya pelan dengan suaranya yang agak serak.
“Iya.” Sahut Zayn.
Mereka berdua turun dari mobil setelah Zayn memarkirkan mobil.
__ADS_1
Zayn dan Zara menuju Masjid untuk menunaikan sholat dzuhur baru kemudian masuk ke dalam rumah Ustadz Ridwan untuk bertemu dengan Arumi.
Setelah selesai sholat, Zayn mengambil kopernya dan juga koper milik istrinya dibagasi mobil kemudian membawanya masuk ke dalam rumah Ustadz Ridwan. Sedangkan Zara mengikutinya dari belakang.