Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Mendadak di lamar?


__ADS_3

Begitulah kehidupan, terkadang kita di bawah dan terkadang kita di atas. Yang di atas tidak selamaya berada di atas dan yang di bawah juga tidak selamanya berada di bawah.


Ting!! handphoneku berbunyi. Aku raih dan di sana ada WhatsApp dari Bang Rizky. Pria yang sudah seminggu ini tidak menghubungiku.


Aku buka chat darinya, dia menulis "Assalamu'alaikum, Aura."


"Wa'alaikumussalam. Eh Bang Rizky, bagaimana kabarnya?" balasku.


"Alhamdulillah bikhoir, Aura sendiri bagaimana keadaannya di sana?"


"Alhamdulillah baik-baik juga, Bang." jawabku.


"Abang mau ngabarin Aura. Abang mau kita ketemu di First Love Cafe ya, hari sabtu jam dua siang, setelah sholat dzuhur. Bisa, kan?" tulisnya.


"In syaa Allah bisa, Bang. Sama Kakak Abang juga, kan?"


"Iya, dan juga keponakan-keponakan Abang."


"Wah, kalau begitu rame donk."


"Iya, hehe." balasnya.


Dari dalam kamar aku mendengar ada tamu laki-laki datang dan sedang mengobrol bersama Ibu. Suaranya terdengar tidak asing di telingaku.


"Bang, sepertinya sedang ada tamu. Sudah dulu ya ngobrolnya." tulisku.


"Iya, baik." balasnya.


Lalu aku keluar dari kamar, aku menghampiri Ibu dan tamu tersebut.


"Mau minum apa Pak Bedu?" tanya Ibu.


"Kopi tubruk saja, Bu." jawabnya.


"Dik, buatin kopi ya untuk Pak Bedu." perintah Ibu setelah Ibu menyadari kehadiranku.


"Baik, Bu." ucapku.


Kemudian aku pun pergi ke dapur. Aku masak air panas untuk membancuh kopi. Setelah selesai, aku kembali lagi ke depan dan meletakkan kopi tersebut dihadapan Pak Bedu.


"Ini kopinya, Pak." ucapku.


"Terima kasih cahayu." sahutnya.


Aku merasa sangat geli mendengar ucapan itu keluar dari mulut bapak-bapak seperti dia. "Astaghfirullah." gumamku di dalam hati.


"Jadi sebenarnya tujuan saya datang ke sini untuk melamar." ucapnya terus terang.

__ADS_1


Aku langsung kaget mendengar ucapannya itu. "Bukankah masih punya istri?" batinku.


"Maaf, Pak. Di usia yang sudah senja seperti ini, saya tidak ada niat untuk menikah lagi." ucap Ibu.


"Loh, siapa yang mau menikah sama sampeyan?" ucapnya sedikit kaget.


Aku yang lebih kaget, "Kalau bukan mau melamar Ibu, lalu melamar siapa? Aku? No way!" gumamku dalam hati.


"Lalu sampeyan mau melamar siapa?" tanya Ibu pelan.


"Sudah pasti cahayu Aura." ucapnya sambil tersenyum.


"Tidak usah senyum-senyum deh, ingat umur!" gumamku di dalam hati.


"Astaghfirullah." ucap Ibu. Kelihatannya Ibu lebih kaget dari pada aku. "Sampeyan masih waras, kan?" tanya Ibu.


"Masih, masih waras dan perkasa." jawabnya.


"Hhuuweeeekkkkk. Mau muntah didepannya, tapi takut dosa." ucapku di dalam hati.


"Heh, sampeyan masih punya istri. Jangan harap bisa menikahi putri bungsuku!" ucap Ibu tegas.


"Betul, Bu. Aura juga tidak mau menikah sama Bapak-bapak." ucapku menyetujui omongan Ibuku.


"Halahh, jangan sok nolak. Saya mau sama kamu seharusnya kamu bersyukur dan berterima kasih sama saya." ucapnya bangga.


"Bapak kepedean." sahutku ketus.


Aku jadi merasa menyesal tadi sudah membuatkan dia kopi itu. Hufffttt!!


"Wah, rasa kopinya manis, semanis wajah Aura calon istri Mas." ucapnya sambil tersenyum.


Tolong,, tolong,, tolong,, tolong bawa Pergi bapak yang rasa PD nya kelewatan ini. Hatiku meronta-ronta mendengar dia menyebut dirinya dengan sebutan Mas. Rasanya mual banget ya Allah.


"Assalamu'alaikum." ucap Bi Yuyun istri Pak Bedu. Tiba-tiba dia datang dan langsung masuk ke dalam.


Sepertinya bakalan ada perang di sini. Tapi tidak apa-apa, lebih baik begitu supaya Bi Yuyun segera membawa pergi suaminya dari sini.


"Saya cari-cari ternyata kamu ada di sini, Mas. Ngapain main ke rumah janda? Ada urusan apa?" ucap Bi yuyun sambil menjewer telinga Pak Bedu.


"Tolong suaminya di bawa pulang, Yun. Saya dari tadi sudah nek sama kelakuannya." ucap Ibu.


"Iya, Bi. Bawa pulang saja Pak Bedu. Sepertinya sudah tidak ada urusan apa-apa lagi." timpalku.


"Loh, loh, loh, kenapa saya malah di usir. Padahal tadi di layan dengan baik, bahkan di biuatkan kopi loh." ucap Pak Bedu.


"Itu sebelum saya tau niat sampeyan datang ke sini mau melamar Aura." ucap Ibu.

__ADS_1


"AAPPAAAAAAAAAAAAAAAAA?????" teriak Bi Yuyun.


Aku dan Ibu menutup telinga kami.


"Suara teriakannya mengerikan, sepertinya ada toak di tenggorokan Bi Yuyun." ucapku di dalam hati.


"Berani-beraninya kamu, Mas." ucap Bi Yuyun sambil mengguncang-guncang tubuh Pak Bedu.


"Aduh, Aduh, tolong. Sabar dulu, Yun. Mas bisa jelasin." ucap Pak Bedu mencoba membujuk Bi Yuyun agar berhenti menggoncang tubuhnya.


"Jahat kamu, Mas." ucap Bi Yuyun. Sepertinya dia mulai menangis.


"Adduuhhh.. Bi, jangan sedih ya. Aura tidak akan mau menikah sama Pak Bedu. Aura tidak mau menikah sama laki-laki yang seumuran sama Ayah Aura." ucapku.


"Iya, Bibi juga ndak percaya kalau kamu mau nikah sama si tua ini." ucap Bi Yuyun. "Ayo pulang, kita selesaikan di rumah. Siap-siap kamu Mas!" ucapnya dengan tegas sambil menarik tangan Pak Bedu.


“Waduh, bakalan berabe nih." ucap Pak Bedu pelan.


"Kami pulang dulu ya. Assalamu'alaikum." ucap Bi Yuyun.


"Iya, wa'alaikumussalam." ucapku dan Ibu serentak.


"Tua-tua keladi, makin tua makin tidak tau diri. Astaghfirullah." ucap Ibu.


"Hahahaha, Adik dari tadi mual, Bu. Pingin muntah tapi takut kualat, orang tua soalnya." ucapku sambil tertawa terbahak-bahak. "Rasa percaya dirinya tingkat dewa." sambungku.


"Sama, Ibu juga nek liatnya, hehe." ucap Ibu tertawa kecil. "Makanya Adik buruan menikah, supaya tidak di lamar lagi sama Bapak-bapak seperti dia." lanjut Ibu.


"In syaa Allah, Bu. Ini ada yang mau melamar Aura." ucapku.


"Melamar? Kapan datang ke rumah?" tanya Ibu antusias. Ekspresi wajah Ibu tiba-tiba berubah drastis.


"Melamarnya belum secara resmi, Bu. In syaa Allah nanti hari sabtu Adik mau ketemu sama dia dan Kakaknya di First Love Cafe." jelasku pada Ibu.


"Owh, begitu. Ya sudah. Ibu do'akan semoga dia yang terbaik buat Aura. Kalau Ibu boleh tau, namanya siapa?"


"Namanya Rizky, Bu. Senior Adik di ponpes dulu." jawabku.


"Oh dulu satu sekolah. Berarti sudah saling kenal?" tanya Ibu lagi.


"Belum, Bu. Cuma tau namanya saja, tidak pernah kenalan" jawabku.


"Tapi menurut Adik, dia orang baik atau tidak?"


"In syaa Allah dia orangnya baik, Bu." ucapku.


"Syukurlah kalau begitu." ucap Ibu.

__ADS_1


Sudah sepuluh tahun tidak bertemu, pasti banyak hal yang telah berubah. Semoga nanti aku tidak malu-maluin di sana. Apalagi nanti langsung kenalan sama Kakak dan keponakannya.


Semoga pertemuan kita yang pertama kalinya berjalan dengan lancar. Aamiin ya Allah.


__ADS_2