Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Lilian…


__ADS_3

Sebulan kemudian….


Lilian datang menemui Aura karena sudah sebulan ini Wahyu tidak ada menghubungi dan memberi kabar padanya.


“Ra, aku galau nih.” Ucap Lilian.


“Baru saja sampai, kamu sudah galau.” Sahut Aura. “Ayo kita duduk dulu, baru lanjut ngobrol.” Lanjutnya.


Mereka berduapun menuju ruang tamu dan duduk bersebelahan.


Lilian menggenggam jari-jemari Aura dan menatap mata Aura.


“Aku sudah putus asa, Ra.” Ucap Lilian dan mulai meneteslah air matanya.


“Hah? Segitu doank sudah bisa bikin kamu putus asa?” Tanya Aura dan membelalakkan kedua bola matanya.


Aura bukan tidak merasa sedih atas kesedihan sahabatnya, hanya saja Aura ingin bersikap biasa saja dan santai agar Lilian juga tidak berlarut dalam kesedihan dan kegalauannya. Intinya Aura hanya ingin terlihat tegar agar Lilian juga tegar.


“Kamu nggak pernah patah hati, Ra. Makanya kamu nggak tau seperti apa perasaanku saat ini.” Ucap Lilian pelan dan menundukkan wajahnya.


“Iya, kamu benar. Aura memang tidak pernah patah hati karna Aura juga tidak pernah mencintai seseorang secara berlebihan, apa lagi hubungan itu belum halal.” Jawab Aura dengan lembut.


“Lalu, apa menurutmu aku mencintai Wahyu secara berlebihan?” Tanya Lilian dan menatap wajah Aura.


“Maybe. Kalau tidak, kenapa kamu bisa segalau ini? Kenapa kamu bisa dilema? Kenapa juga kamu jadi putus asa?” Aura melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.


“Hufffftttt…..” Lilian menghempas nafasnya. Ia merasa apa yang dikatakan Aura ada benarnya.


“Lupakan.. Apa kamu tau sesuatu tentang Wahyu?” Tanya Lilian kemudian.


“Iya, bukankah waktu itu Aura sudah mengatakan kalau Dokter Wahyu ingin berusaha menata hati.” Jawab Aura. “Mungkin saat ini itulah yang sedang ia lakukan, makanya dia masih butuh waktu untuk menyendiri dan tidak menghubungimu.” Lanjutnya.


“Kira-kira butuh waktu berapa lama?” Lilian bertanya-tanya.


“Sabar, Li. Jika sudah tiba waktunya, dia pasti akan mendatangimu.” Ucap Aura. “Lagi pula, kamu juga tidak mau kalau dia terus menganggapmu sebagai Alisya, bukan?” Tanyanya.


“Iya sih.” Sahut Lilian. Kemudian Lilian memeluk Aura. “Aku memang tidak mau dia menganggapku sebagai Alisya, tapi ntah kenapa terkadang aku berfikir bahwa Alisya adalah penyebab kami bisa saling mengenal.” Lanjutnya.


“Iya, kamu tidak salah berfikir seperti itu. Mungkin juga Alisya adalah asbab kalian berdua bisa berjodoh.” Ucap Aura sambil menatap wajah ayu sahabatnya.

__ADS_1


Keduanyapun saling melemparkan senyuman.


“Wah, ada tamu. Lilian kapan datang, Nak?” Tanya Bu Ayu yang datang menghampiri mereka berdua.


“Baru saja, Buk.” Jawab Lilian yang langsung menoleh ke arah Bu Ayu.


“Loh loh loh, matanya kenapa sembab begitu? Habis nangis kah? Berantem sama Aura?” Tanya Bu Ayu yang merasa heran. Padahal Aura anaknya tidak pernah bertengkar dengan teman-temannya, tapi kenapa teman Aura yang satu ini malah menangis saat bersama anaknya.


“Tidak, Buk. Kami tidak bertengkar.” Lilian langsung membantah ucapan Bu Ayu. Dia tidak mau Bu Ayu salah paham pada dia dan Aura. “Tadi aku hanya curhat masalah pribadi dengan Aura. Lalu terbawa perasaan, jadi nangis deh, hehe.” Lanjutnya sambil cengengesan.


“Iya, Bu.” Sahut Aura membenarkan ucapan Lilian. “Lagian apa Ibu pernah melihat Adik bertengkar dengan Lilian?” Tanya Aura.


“Maaf, berarti Ibu salah paham.” Ucap Bu Ayu. “Emm, sepertinya kalian sedang membahas masalah serius. Kalian lanjutkan saja ngobrolnya, Ibu mau ke dapur.” Lanjutnya.


“Iya, Bu.” Sahut Aura, sedangkan Lilian hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Suasana menjadi hening, Aura dan Lilian hanya diam dan tidak tau mau memulai dari mana lagi.


Aura menatap wajah Lilian, dia lihat sahabatnya itu seperti orang yang sedang melamun.


“Hey, kamu tersesat diplanet mana?” Goda Aura sambil menyenggol lengan Lilian.


“Ra, aku akan menunggu seminggu lagi. Kalau Wahyu masih diam saja. Aku akan datang lagi ke sini untuk menenangkan hatiku bersamamu.” Ucap Lilian kemudian.


“Iya, Li. Aura pasti akan selalu ada untuk kamu. Kamu jangan ragu-ragu untuk datang menemui Aura.” Sahut Aura.


“Tentu saja, Ra. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku punya. Tentu aku tidak akan menyia-nyiakan sahabat sepertimu. Bahkan aku juga sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Terkadang aku berfikir, kenapa kita tidak terlahir dari rahim yang sama?” Ucap Lilian panjang lebar.


“Eh, untuk menjadi saudara tidak harus terlahir dari rahim yang sama. Buktinya kita bisa sedekat ini meskipun kita tidak satu darah.” Sahut Aura.


Mereka berdua kemudian berpelukan. Mereka satu sama lain merasa sangat bahagia karena bisa kenal, bersahabat bahkan bisa dekat seperti saudara sendiri. Di luar sana tidak banyak orang yang seberuntung mereka berdua. Bahkan saudara sendiri bisa jadi musuh dalam selimut.


Setelah selesai curhat, Lilian pamit pulang. Lilian sudah merasa lebih lega karena sudah berbagi cerita dengan Aura sahabatnya.


***


Dikediaman Anton.


“Sudah hampir satu bulan aku tinggal disini bersamamu. Kenapa kamu masih belum melakukan sesuatu pada Aura?” Tanya Lucy yang sedang kesal pada Anton.

__ADS_1


“Sabarlah Lucy. Jika aku sudah menemukan waktu yang tepat, aku pasti akan melenyapkan dia.” Jawab Anton dengan santai.


“Halahh.. Kamu selalu berkata seperti itu. Dan ini sudah entah yang keberapa kalinya kamu melontarkan kalimat yang sama.” Sahut Lucy yang masih kesal bercampur emosi.


Kring… Kring… Kring… Telephone yang ada dimeja berdering.


“Halo.” Ucap Anton.


“Tuan, kami sudah mendapatkan informasi yang sangat bagus.” Sahut seseorang di seberang sana.


“Benarkah? Informasi apa itu?” Tanya Anton.


Lalu si penelepon menceritakan dengan detail informasi yang ia terima, lalu membuat rencana yang sempurna.


“Bagus. Kerjakan dengan mulus, jangan sampai ada kesalahan. Dan jangan sampai ada yang tau bahwa itu adalah perbuatan kita.” Ucap Anton dengan tegas.


“Baik, Tuan.” Sahut anak buah Anton.


Lalu Anton meletakkan gagang telephone.


“Siapa yang menelepon barusan?” Tanya Lucy.


“Salah satu anak buahku.” Jawab Anton.


“Apa yang ia katakan?” Tanya Lucy lagi yang penasaran.


“Kita sudah menemukan waktu yang tepat untuk beraksi.” Jawab Anton sembari tersenyum.


“Benarkah?” Tanya Lucy sumringah.


“Tentu saja.” Jawab Anton meyakinkan.


“Akhirnya, waktu yang aku tunggu-tunggu akan segera tiba.” Lucy terlihat sangat bahagia. “Aku sudah tidak sabar menunggu kabar kematian Aura.” Lanjutnya dengan sorot mata yang tajam dan mengerikan.


Lucy terlalu merasa sangat bahagia sampai-sampai dia tidak sadar bahwa Anton juga memiliki niatnya sendiri.


Anton sudah tidak lagi menghargai Rizky, bahkan dia juga sudah tidak respect kepada Rizky yang sudah rela membebaskan Lucy dari penjara.


Niat jahat yang ada didalam diri mereka berdua sudah berhasil menguasai diri mereka masing-masing sehingga mereka berdua sudah tidak lagi memiliki hati nurani dan belas kasihan.

__ADS_1


__ADS_2