Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 37


__ADS_3

Hari berikutnya..


Semua perlombaan berjalan dengan lancar. Para juri sudah menggabungkan nilai mereka dan sudah mendapatkan nama-nama pemenang lomba. Juara 1, 2 dan 3.


Hari berikutnya pun tiba.


Semua santri dan santriwati deg degan mendengar pengumunan pemenang.


“Dalam perlombaan, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Yang menang Alhamdulillah, yang kalah juga jangan patah semangat, jangan menyerah. Terus belajar hingga lomba berikutnya, in syaa Allah ada kesempatan untuk menang.” Pesan Ustadz Ridwan pada semua santri dan santriwatinya.


Dua hari kemudian Zara dan Zayn pamit untuk pulang ke kota.


“Ustadz, jika dia sudah siuman. Tolong langsung beri kabar kepada saya.” Pinta Zayn.


“In syaa Allah, Nak Zayn. Kalian berdua hati-hati dijalan. Jangan ngebut.” Pesan Ustadz Ridwan.


“Baik, Ustadz.” Sahut Zayn.


Zayn mencium punggung tangan Ustadz Ridwan.


Begitu juga dengan Zara, ia mencium punggung tangan Ustadzah Amina. Kemudian Maryam mencium punggung tangan Zara.


Perjalan untuk kembali ke kota pun di mulai.


Sama seperti sebelumnya, Zara tertidur didalam mobil hingga tiba di apartment.


“Zara, bangun. Sudah sampai.” Ucap Zayn.


“Hah? Sudah sampai? Cepat sekali.” Gumam Zara yang masih setengah sadar.


“Bagaimana tidak cepat. Kamu tidur.” Ucap Zayn ketus.


“Hehe.” Zara cengengesan.


Zayn turun dari mobil lalu mengeluarkan 2 buah koper dari dalam bagasi.


Ia membawa kedua koper itu menuju lift, Zara mengikutinya dari belakang.


Sesampainya didalam apartment, Zayn langsung masuk ke dalam kamarnya. Begitu juga dengan Zara.


Keduanya menunaikan sholat dzuhur di kamar masing-masing.


Setelah selesai sholat, Zayn mengambil gawainya dari dalam ransel. Ia pun memesan makanan secara online. Karena mereka berdua belum makan siang dan sudah pukul dua lebih lima belas menit.


“Zara, aku mau istirahat sebentar. Kamu tunggu diruang depan, tidak lama lagi akan ada kurir yang mengantarkan makanan. Jika sudah lapar, makanlah duluan.” Zayn mengirim pesan kepada Zara melalui aplikasi berwarna hijau.


Setelah mengirim pesan untuk Zara. Zayn berbaring dan menutup matanya.


Sementara itu di dalam kamar Zara. Zara baru saja selesai tilawah.


Ia mengambil ponselnya dan ingin bertanya pada Zayn tentang makan siang.


Lalu ia lihat di ponselnya sudah ada pesan masuk dari Zayn.

__ADS_1


“Ok.” Balas Zara singkat.


Zara duduk dan berpikir.


“Hmmm. Aku rindu masakan dirumah Ayah. Masakan Nenek dan Mbak Rini jauh lebih enak dari pada makanan yang dibeli Bang Zayn dari luar. Apalagi masakan Bibi Jihan.” Ucap Zara pelan.


“Ahaa.” Zara bersemangat. “Kenapa tidak pernah terpikirkan olehku untuk memesan makanan dari Aura Cafe & Resto milik Bibi Jihan.” Zara menepuk jidadnya.


“Nanti aku harus membicarakan hal ini pada Bang Zayn. Jadi Bang Zayn tidak perlu memesan makanan secara random lagi seperti saat ini.” Lanjutnya.


Zara memakai jilbab dan cadarnya lalu keluar dari kamar.


Dia duduk di depan TV dan menunggu kurir datang.


“Kruukkk.” Perutnya berbunyi.


“Ya Allah, berapa lama lagi makanannya akan tiba? Aku lapar sekali. Hufffttt.” Zara menghela nafas.


Zara berbaring di sofa dan lanjut menonton televisi.


Tidak berapa lama kemudian pintu apartment diketuk.


“Alhamdulillah, makanan tiba.” Zara sumringah lalu bergegas membuka pintu.


Setelah menerima makanan, Zara menghidangkanya di atas meja makan.


Kemudian Zara langsung menyantap makanannya karena sebelumnya Zayn sudah mengizinkan dia untuk makan duluan tanpa menunggu Zayn.


“Alhamdulillah, kenyang.” Ucap Zara. “Apa sebaiknya aku membangungkan Bang Zayn? Nanti makanan ini semuanya menjadi dingin jika dibiarkan terlalu lama.” Pikir Zara.


Zara meneguk minumannya lalu beranjak dari tempat duduknya untuk mencuci piringnya yang kotor.


Setelah itu ia berencana untuk memanggil Zayn.


Tapi saat ia membalikkan tubuhnya, Zayn sudah duduk manis di meja makan.


“Eh, Abang kapan datangnya? Kenapa selalu tanpa mengeluarkan suara??” Zara heran.


“Baru saja.” Jawab Zayn singkat lalu mulai menyantap makanannya.


Zara kembali duduk di meja makan. Ia menemani Zayn makan meskipun Zayn tidak menghiraukannya.


Setelah Zayn selesai makan, Zara membersihkan meja makan lalu mencuci piring kotor.


Zayn duduk di sofa sembari melihat-lihat file.


Zara berniat untuk menyampaikan idenya tentang memesan makanan dari Aura Cafe & Resto milik Jihan.


“Bang, boleh bicara sebentar?” Tanya Zara.


“Apa?” Tanya Zayn singkat.


“Aku berpikir bagaimana kalau kita memesan makanan sehari-hari di Aura Cafe & Resto milik Bibi Jihan?”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Haiiissshh…” Zara mengusap keningnya. “Pelit amat sama kosa kata.” Ucapnya didalam hatinya. “Agar lebih memudahkan Abang dalam menentukan budget perbulan dan In syaa Allah lebih higienis.” Jawab Zara.


“Oh, Ok.” Sahut Zayn yang masih fokus dengan file-filenya.


Karena Zayn sudah setuju. Zara tidak mengatakan apapun lagi. Ia beranjak dari sofa lalu masuk ke dalam kamarnya.


“Dasar, gunung es.” Ucapnya karena merasa kesal dengan sikap dingin Zayn itu.


***


Keesokan harinya..


Seperti biasa, Zara pergi ke kampus di antarkan oleh Zayn.


Saat Zara turun dari dalam mobil, kebetulan Angel juga baru turun dari mobilnya.


Angel bergegas menghampiri Zara sebelum mereka berdua melewati pintu gerbang kampus.


“Heh, wanita aneh. Cepat beritahu aku dimana Bang Arfa?” Tanya Angel yang galak.


“Aku tidak tahu.” Jawab Zara pelan.


Zara berniat meninggalkan Angel lalu masuk ke dalam kawasan kampus. Akan tetapi Angel menarik cadarnya hingga tersingkap.


“Ah!!” Zara kaget lalu tangannya spontan memegang cadarnya yang tersingkap.


Zayn yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua pun menjadi geram.


Zayn keluar dari mobil lalu menghampiri Zara yang sedang memperbaiki cadarnya.


“Apa-apan kamu ini? Tidak punya sopan santun!” Ucap Zayn dengan tegas.


Angel menatap wajah Zayn.


“Wah, yang ini tidak kalah tampan dari Bang Arfa.” Ucap Angel didalam hatinya.


“Siapa kamu?” Tanya Angel. “Oh aku tau. Kamu pasti Zayn, suami wanita aneh ini.” Lanjutnya sembari menunjuk Zara. “Aku beri tahu padamu, dia masih keganjenan di kampus, suka tebar pesona dan menggoda laki-laki padahal sudah bersuami.” Ucapnya sinis.


“Aku tahu.” Ucap Zayn.


“Apa? Kamu sudah tahu tapi masih saja tidak mendidiknya untuk tidak ganjen dengan laki-laki lain. Iddiiihhh.” Angel berkacak pinggang.


“Aku tahu laki-laki itu yang mengejarnya. Jika laki-laki itu menyukainya apakah itu adalah salahnya? Lalu kamu bisa melimpahkan kekesalanmu padanya?” Zayn sedikit keras pada Angel.


Angel kaget lalu menatap wajah Zayn dengan penuh emosi.


“Aku sudah ingat namamu, aku pasti akan melaporkan hal ini pada Papaku. Aku pastikan kamu akan menyesali perbuatanmu hari ini. Memangnya kamu siapa berani membentakku?.” Angel mengancam Zayn.


“Ugh, masih begini saja sudah mengancam. Dasar anak kecil yang manja!” Ucap Zayn.


Angel ngambek lalu masuk ke dalam mobilnya. Ia bolos kuliah lagi dan segera pergi mencari Papanya untuk mengadu.

__ADS_1


__ADS_2