
Pagi-pagi saat aku terbangun dari tidurku. Aku segera meraih ponselku untuk melihat jam. "Sudah adzan subuh atau belum?" tanyaku di dalam hati.
Aku kaget saat melihat layar ponselku, ada sebuah chat dari Bang Rizky pukul 11:15PM. Ketika dia chat aku pasti sudah tertidur pulas.
Aku menahan diri untuk tidak langsung membuka chatnya. Aku berencana akan membalas chat tersebut jika aku sudah selesai melaksanakan sholat subuh.
Adzan subuh berkumandang merdu, dengan langkah yang masih berat aku pergi menuju kamar mandi. Aku menggosok gigi dan mencuci muka agar kantukku hilang. Setelah itu aku berwudhu' dan menunaikan sholat subuh.
Setelah selesai sholat, aku mencari ponselku untuk membalas chat Bang Rizky.
"Assalamu'alaikum. Sudah pulang, Ra?" itulah yang ia tulis tadi malam.
"Wa'alaikumussalam. Maaf Bang Rizky, tadi malam Aura pulang pukul setengah sebelas. Karena sudah malam, Aura tidak berani menghubungi Abang. Aura sungkan." balasku panjang lebar mencoba untuk menjelaskan kondisiku agar ia mau mengerti.
Tiba-tiba aku mendengar suara-suara dari depan, "Sepertinya Ibu sudah mulai membuka kios. Sebaiknya aku membantu Ibu, lagi pula chatku belum di balasnya." gumamku di dalam hati.
Kemudian aku pergi ke kios dan menghamipiri Ibu.
"Bu, bagaimana keadaan Ibu saat ini? Apa sudah baikan? Kalau Ibu masih merasa tidak sehat, hari ini kita tutup saja kiosnya, Bu." ucapku saat aku tiba di samping Ibu.
"Alhamdulillah Ibu sudah baikan. Tadi malam Ibu sudah minum obat, tidak perlu khawatir lagi." jawab Ibu.
"Alhamdulillah kalau begitu, Bu."
Setelah aku dan Ibu selesai membuka kios. Aku pergi untuk mengambil gawaiku di dalam kamar.
"Iya, tidak apa-apa. Sekarang Aura sudah bisa mulai cerita. Saya sangat penasaran." tulis Bang Rizky saat aku melihat balasan chat darinya.
"Baik, Bang. Tapi sebelum Aura menceritakannya dengan Abang. Aura mau bertanya terlebih dulu, boleh?" balasku.
"Iya, boleh. Mau tanya tentang hal apa?"
"Apa Abang juga sudah sholat?"
"Sudah, saya sudah sholat. Bahkan sebelum saya menyerahkan proposal pada Aura." jawab Bang Rizky.
"Owh, begitu."
"Iya." tulisnya singkat.
"Jadi, selama satu minggu ini Aura sholat istikharah setiap malam sebelum tidur. Aura memimpikan hal yang sama sebanyak tiga kali.
Di dalam mimpi, Aura sedang berjalan di sebuah ruangan yang sangat gelap.
Aura tidak tau harus pergi ke mana. Dengan rasa takut, Aura teruskan berjalan ke depan meskipun Aura tidak bisa melihat apa-apa.
Setelah beberapa lama berjalan, Aura melihat satu titik cahaya di depan. Aura berlari-lari kecil mendatangi setitik cahaya tersebut.
Semakin lama cahaya tersebut semakin terang. Dan sesampainya di sana, Aura melihat seorang pria sedang sholat dengan khusyu'. Dia adalah...." tulisku.
__ADS_1
"Dia siapa? Apa Aura mengenal pria tersebut?" tanya Bang Rizky.
"Iya. Aura baru mengenal pria tersebut." jawabku.
"Siapa dia?" tanyanya lagi.
Aku sengaja tidak langsung menjawab pertanyaan Bang Rizky yang terakhir. Biar dia penasaran dulu, fikirku.
Sepuluh menit kemudian, Bang Rizky bertanya lagi padaku.
"Ra, dia siapa? Apakah saya mengenalnya?" tulisnya.
"Tentu saja. Bahkan Abang lebih mengenalnya dari pada Aura." balasku
"Benarkah? Siapa namanya?"
"Dia, Rizky Mahesa Putra." aku menulis nama lengkap Bang Rizky.
"Ma syaa Allah. Alhamdulillah." tulisnya. "Saya kira Aura memimpikan pria lain." lanjutnya dan memberikan emoticon sedih.
"Hehehe. Maaf, sudah membuat Abang penasaran dan membuat Abang jadi berfikir sembarangan."
"Iya, tidak apa-apa. Tapi lain kali tidak boleh seperti itu lagi ya." pintanya.
"Iya, Bang. Hee."
"In syaa Allah. Aura sudah merasa yakin, Bang." jawabku mantap.
"Lalu, apa Abang boleh datang tanggal 5 bulan depan?" tanya Bang Rizky lagi.
"Iya, boleh. Aura juga sudah menyampaikan hal ini pada Ibu."
"Lalu Ibu Aura bilang apa?"
"Ibu sih setuju saja, Bang. Selama Aura yakin dengan pilihan Aura."
"Owh begitu. Alhamdulillah. Kita udahan dulu ya, ngobrolnya. Abang mau membicarakan hal ini dengan Ummi dan Abi."
"Baik, Bang. Assalamu'alaikum." tulisku.
"Wa'alaikumussalam." balasnya.
Setelah itu, aku juga menyampaikan hal ini pada Ibu.
"Bu, Bang Rizky jadi datang ke sini bulan depan, tanggal 5." ucapku pada Ibu.
"Serius, Dek?" tanya Ibu tak percaya.
"Iya, Bu. Barusan Adik chatting dengannya." jawabku.
__ADS_1
"Waduuhh.. Waktu tersisa hanya dua minggu. Ibu juga belum mengabari paman-paman dan Bibi-bibimu." ucap Ibu panik.
"Aura juga belum memberi tau Ayah, Bu." ucapku.
"Iya, Adik harus segera memberi tau Ayah. Kapan Adik pergi mengunjungi Ayah?"
"In syaa Allah besok, Bu." jawabku.
"Kenapa tidak pergi sekarang saja?" tanya Ibu.
"Tidak apa-apa, Bu. Sepertinya Adik belum siap untuk pergi ke rumah Ayah hari ini."
Hingga saat ini, meskipun pernikahan kedua Ayah sudah memasuki usia 13 tahun. Ibuk masih saja bersikap seperti saat pertama kali menikah dengan Ayah.
Ibuk selalu acuh tak acuh padaku jika aku pergi ke rumah mereka. Begitu juga dengan kedua Adikku, Salsa dan Raka. Mereka selalu terlihat sibuk setiap kali aku ke sana.
Hanya Ayah seorang yang selalu menemaniku duduk jika aku bertamu ke rumahnya.
"Ibu kapan mengabari saudara-saudara kita, Bu?" tanyaku pada Ibu.
"In syaa Allah kalau tidak besok, lusa. Ibu juga harus belanja bahan makanan lagi untuk acara lamaran nanti."
"Ibu mau masak apa, Bu?" tanyaku bersemangat.
Pasti nanti akan banyak makanan enak, tapi belum tentu aku berani memakan semuanya. Ntah bagaimana rasanya nati saat berhadapan dengan keluarga Bang Rizky. Terutama Ummi dan Abinya.
"Ibu belum tau mau masak apa? Nanti Ibu tanya dulu saja dengan Bibimu." jawab Ibu.
"Owh, iya." sahutku. "Bu, Aura sudah merasa yakin untuk menikah dengan Bang Rizky, tapi Aura masih belum mengenal orang tuanya. Aura jadi merasa sedikit takut, Bu." ucapku pelan.
"Adik sudah sholat untuk meminta petunjuk dari Allah?" tanya Ibu.
"Sudah, Bu." jawabku.
"Lalu bagaimana hasilnya?"
"Alhamdulillah baik, Bu."
"Nak, kamu harus yakin pada Allah. Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat Adik. Jika hasil sholatnya bagus, berarti bagus pula nanti yang akan menjadi takdir Adik. Allah tergantung prasangka hamba-Nya. Maka dari itu, adik harus berprasangka baik kepada Allah s.w.t." ucap Ibu lembut, menasehati aku.
"Aamiin Allahumma Aamiin. Baik, Bu. Aura akan selalu mengingat nasehat Ibu ini." ucapku.
"Bagus, begitu lebih baik dari pada terus berprasangka buruk."
"Iya, Bu." jawabku.
Hatiku merasa lega setelah mendengar nasehat dari Ibu. Bagaimana aku bisa lupa bahwa Allah tergantung prasangka hamba-Nya. Astaghfirullah!!
Mulai sekarang aku harus bisa berprasangka baik kepada-Nya. Dengan begitu aku bisa lebih berserah diri kepada Allah s.w.t.
__ADS_1