
Setelah pulang kerja, Arumi bergegas pulang ke rumah untuk menemui Kakaknya.
Setibanya di rumah, Arumi melihat Arin duduk di kursi tamu.
“Assalamu’alaikum, Kakak.” Ucap Arumi menyapa Kakaknya.
“Wa’alaikumussalam, adikku sudah pulang.” Sahut Arin.
“Wah, Kakak buat rambut model baru?” Tanya Arumi.
“Iya, ini trend terbaru, beberapa teman Kakak juga membuat model rambut seperti ini.” Jawab Arin. “Apa kamu mau membuat model rambut seperti ini juga?”
“Tidak, Kak.”
“Lagi pula kalau kamu membuat model rambut juga tidak akan ada yang mengetahuinya. Kamu selalu memakai jilbab.”
“Iya, tentu saja. Aku juga berharap Kakak mau memakai jilbab.”
“Huufftt.” Arin menghempas nafasnya.
Ini bukan pertama kalinya Arumi memintanya memakai jilbab.
“Hmm, mari kita bahas tentang calon suamimu.” Ucap Arin mencairkan suasana yang canggung. “Boleh aku melihat potertnya?” Tanyanya.
“Tentu saja boleh.” Jawab Arumi.
Arumi mengeluarkan ponsel dari dalam handbagnya. Lalu memperlihatkan potret Amir pada Arin.
“Wah, lumayan tampan. Walaupun tak setampam Tuan Muda Rizky.” Ucap Arin.
“Untuk orang susah seperti kita, menikah dengan keluarga kaya adalah pencapaian yang luar biasa. Tidak perlu lagi kerja keras untuk mencari uang. Setiap bulan hanya menunggu transferan dari suami.” Ucap Arin dalam hatinya.
“Iya, Kak. Alhamdulillah.” Ucap Arumi yang membuyarkan lamunan Arin.
“Lalu, setelah menikah apakah kamu masih harus tetap bekerja?” Tanya Arin mencari tahu.
“Emm, kami belum membahas masalah ini kak.” Jawab Arumi. “Oh ya, aku hampir lupa memberitahukan Kakak.” Arumi tiba-tiba teringat dengan pernikahan dadakannya dan Amir.
“Hal apa itu?” Arin penasaran.
“In syaa Allah aku dan Bang Amir akan menikah minggu depan.” Ucap Arumi sumringah.
“What? Are you serious?” Arin tampak sangat kaget.
“Iya, Kak. Kakak tidak keberatan kan?”
“Tentu saja tidak, Adikku akan menikah dengan pria yang ia cintai. Bagaimana mungkin aku akan keberatan.” Ucap Arin sembari membelai kepala Arumi.
“Alhamdulillah. Aku tau Kakak sangat menyayangi aku.” Arumi lalu memeluk Arin.
Arumi begitu bahagia menantikan hari pernikahannya.
Tiga hari kemudian Amir dan Arumi membagikan undangan untuk rekan kerja mereka.
“Wah, ternyata selama ini kamu dan Amir pacaran diam-diam.” Ucap Nayya pada Arumi.
“Tidak. Tidak seperti itu. Kami tidak pacaran.” Arumi memberi penjelasan.
“Zaman sekarang, siapa yang percaya kalian tidak pacaran.” Ucap Dodi.
__ADS_1
“Benar, mana mungkin kalian menikah sebelum pacaran.” Sahut Mirna.
“Iya, memang benar yang kalian katakan. Tapi itu hanya untuk orang-orang seperti kalian yang menikah melalui pacaran terlebih dahulu.” Ucap Zila membela Arumi.
“Maksudmu? Kamu menghina kami?” Tanya Mirna sinis.
“Kata-kataku yang mana yang menghina kalian? Aku hanya mengatakan orang seperti kalian yang menikah melalui pacaran terlebih dahulu. Sedangkan Arumi dan Amir, mereka tahu batasan, taat agama. Karena itulah mereka menikah terlebih dahulu baru kemudian berpacaran. Tidak ada yang aneh dengan hal itu.” Zila berbicara panjang lebar.
“Well, yang kamu katakan masuk akal.” Ucap Nayya. “Lagi pula selama ini aku juga tidak pernah melihat Arumi dan Amir pergi kencan.” Lanjutnya.
“Terima kasih Zila, sudah membelaku.” Ucap Arumi.
“Tidak masalah, mereka hanya belum tahu.” Jawab Zila.
“Maafkan aku Arumi, aku juga sudah mencurigaimu sebelumnya.” Ucap Nayya.
“Tidak apa-apa, Nay.” Sahut Arumi.
Setelah itu mereka bubar dan kembali ke meja kerja masing-masing.
“Kenapa hari ini Amir tidak masuk kerja?” Tanya Nayya pada Arumi.
“Aku juga tidak tahu. Dia tidak mengatakan apa-apa padaku.” Jawab Arumi. “Mungkin ada hal yang perlu ia urus diluar kantor.” Lanjutnya.
“Oh, begitu. Baiklah, mari kita lanjut kerja.”
“Ok.”
***
Di rumah sakit.
Zayn sedang serius memeriksa seorang pasien yang terkena penyakit jantung.
“Iya, Dok. Saya sudah merasa lebih baik.”
“Kalau begitu, dosis obatnya akan saya kurangi. Apa Ibu ada pertanyaan lagi?”
“Tidak ada, Dok.”
“Baik. Silahkan Ibu tunggu obat di apotik.
“Terima kasih, Dok.”
“Sama-sama.” Sahut Zayn.
Kemudian pasiennya keluar dari ruangan tersebut.
“Apa masih ada pasien lagi?” Tanya Zayn pada perawat yang membantunya.
“Sudah tidak ada, Dokter.” Jawabnya.
“Baiklah. Aku akan langsung pulang.”
“Baik, Dok.”
Perawat tersebut kemudian merapikan meja kerjanya dan juga meja kerja Zayn.
Saat keluar dari ruangannya, Zayn berpapasan dengan Nana.
__ADS_1
“Dokter Zayn. Sudah mau pulang?” Sapa Nana.
“Iya.” Sahut Zayn dengan cuek.
“Apa bisa minum kopi terlebih dahulu denganku? Ada beberapa kasus yang kurang aku mengerti.” Ajak Nana.
“Dokter Nana, Dokter spesialis jantung di rumah sakit ini bukan hanya aku. Kamu bisa bertanya dengan senior yang lebih berpengalaman dariku.” Ucap Zayn, menolak dengan tegas.
“Baiklah, aku tidak akan memaksa.”
“Good.” Ucap Zayn lalu pergi meninggalkan Dokter Nana.
Sejak masih kuliah kedoteran, Nana sudah mulai mengejar Dokter Zayn. Namun Zayn tidak pernah memperdulikannya.
Zayn hanya fokus pada pelajarannya, dan sekarang ia juga hanya fokus pada pekerjaannya.
“Kapan kamu akan peduli padaku, Zayn? Kapan kamu akan memandangku?” Nana merasa kesal karena terus-terusan di tolak oleh Zayn.
Dalam perjalanan pulang.
Saat sedang menyetir mobil, Zayn tiba-tiba teringat dengan Om Amir. Ia belum ada kesempatan untuk bertemu dan mengucapkan selamat atas pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi.
Ia meraih ponselnya lalu menghubungi nomor Amir. Tapi Amir tidak menjawab.
“Hmm, mungkin Om Amir sedang sibuk.” Pikirnya.
“Sebaiknya aku pikirkan tentang hadiah. Apa yang akan aku berikan padanya nanti saat pernikahan?”
“Sebaiknya nanti aku tanya pada Ummi setelah tiba di rumah.”
Setelah menyetir selama lebih kurang tiga puluh menit, Zayn tiba dirumahnya.
Ia membunyikan klakson agar security membukakan gerbang untuknya.
Setelah masuk ke dalam, ia memarkirkan mobilnya lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum, Ummi.” Zayn langsung mencari Alisya.
“Wa’alaikumussalam.” Alisya menghampiri Zayn dari arah dapur. “Ada apa, Nak?” Tanya Alisya.
“Ummi, tiba-tiba aku teringat untuk menyiapkan hadiah untuk pernikahan Om Amir nanti. Apa Ummi punya ide?” Tanya Zayn to the point.
“Oh, hadiah untuk Amir. Kamu tidak usah repot-repot memikirkannya. Ummi dan Abi sudah menyiapkannya.” Jawab Alisya.
“Benarkah?” Zayn tak percaya.
“Iya, tentu saja.” Jawab Alisya meyakinkan. “Yang seharusnya kamu pikirkan adalah pernikahanmu dan Zara.” Lanjutnya.
“Hal itu, aku serahkan pada Ummi dan Abi saja, hehe.” Ucap Zayn cengengesan.
“Apa kamu yakin?”
“Yakin. Seratus persen yakin. Ummi dan Abi pasti menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.”
“Hehe.” Alisya tertawa kecil.
“Ummi, aku izin pergi ke kamar. Mau bersih-bersih.”
“Baiklah, istirahat juga.” Perintah Alisya.
__ADS_1
“Baik, Ummi.” Sahut Zayn.
Kemudian Zayn pergi ke kamarnya dan siap-siap untuk mandi.