
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Thank you. *Hug.
Happy Reading.... 💕
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat aku sedang sholat isya berjamaah dengan Bang Rizky. Tiba-tiba aku ingin makan sate ayam.
Belum sempat aku buka mukenaku, aku langsung meminta Bang Rizky untuk membawaku makan sate ayam di luar.
"Bang, ayo makan sate ayam." ajakku.
"Hah? Tumben. Aura sayang ngidam?" tanya Bang Rizky dengan wajahnya yang kelihatan bingung.
"Iya, Bang. Aura sudah kepingin banget ini." jawabku.
Aku dan Bang Rizky bergegas pergi. Bahkan Bang Rizky masih memakai baju koko dan juga pecinya.
Dalam perjalanan, kami berdua celingak celinguk mencari dimanakah gerangan Bapak penjual sate.
"Nah, di situ ada yang jual sate, Bang." ucapku sambil menunjuk ke arah tukang sate yang aku maksud.
Bang Rizky melihat tukang sate yang aku maksud dan langsung memarkir mobilnya dipinggiran jalan.
Bang Rizky memesan dua piring sate ayam dengan kuah bumbu padang.
"Aura sayang, tunggu sebentar ya. Satenya masih di masak." ucap Bang Rizky lalu duduk disampingku.
"Oh, siap boss, hehe." jawabku sambil tertawa kecil.
Lebih kurang kami menunggu sekitar lima belas menit hingga akhirnya sate yang di pesan dihidangkan.
"Waa.. Alhamdulillah... Selamat menikmati." ucapku sumringah. Baru kali ini aku merasa sangat senang melihat sepiring sate.
"iya, hehe," jawab Bang Rizky sambil tertawa kecil. Tertawa karena melihat tingkahku yang seperti kekanak-kanakan.
Dengan lahap aku menyantap sate yang ada dipiringku.
"Aura sayang, makannya pelan-pelan. Nanti tersedak." ucap Bang Rizky mengingatkan aku.
"Iya, maaf, hee." sahutku. Aku pun meneguk air minumku.
Aku dan Bang Rizky sudah menghabiskan sate yang ada di piring kami masing-masing.
"Alhamdulillah." ucap Bang Rizky lalu membersihkan mulutnya dengan tisu. "Aura sayang, sudah kenyang?" tanyanya.
"Alhamdulillah." jawabku. "Tapi, Bang..." lanjutku.
"Tapi apa?" tanyanya.
"Aura masih ingin makan donat." jawabku.
"Hahahaha." Bang Rizky malah tertawa. "Ayo, kita pergi ke toko kue." ajaknya.
Setelah Bang Rizky membayar sate, kami pergi ke toko kue.
"Donat mau berapa, Ra?" tanya Bang Rizky.
"Donat paha ayam saja, Bang. Berapapun boleh." jawabku.
__ADS_1
Setelah mengambil donat paha ayam, Bang Rizky juga mengambil beberapa kue lagi untuk di bawa pulang.
Kue untuk Ummi dan juga yang lainnya.
Dalam perjalanan pulang, aku ceritakan tentang masalah Jihan pada Bang Rizky sambil melahap donat paha ayam.
"Bang." ucapku.
"Iya, ada apa?" tanya Bang Rizky.
"Beberapa hari ini Aura lihat Jihan selalu sedih setiap kali pulang dari kampus." jawabku menjelasakan.
"Kenapa?" tanya Bang Rizky lagi sambil fokus mengemudi.
"Sepertinya di kampus ada yang tidak suka padanya." jawabku.
"Aura tidak ajak dia bicara?"
"Sudah, Bang."
"Lalu? Jihan ada ceritakan masalahnya pada Aura?"
"Ada." jawabku. "Di kampus ada yang sering membullynya karena cemburu padanya." sambungku.
"Cemburu karena apa?" tanya Bang Rizky.
"Cemburu karena pria yang di sukai oleh si pembully malah suka dengan Jihan, hehe. Masalah cinta anak ABG." jawabku sambil cengengesan. "Kira-kira Abang bisa lakukan sesuatu tidak? Kasihan Jihan masih kecil. Apa lagi dia sendirian di sini." sambungku.
"Owh begitu. In syaa Allah, Abang pasti akan menolongnya." jawab Bang Rizky.
Akhirnya kami tiba di rumah.
"Rizky, Aura, dari mana?" tanya Ummi begitu melihat kami masuk ke dalam rumah.
"Pantas saja Ummi mau ajak makan malam tapi kalian sudah tidak ada di kamar." ucap Ummi.
"Sekarang Ummi sudah makan atau belum?" tanya Bang Rizky.
"Alhamdulillah sudah tadi, Ummi makan malam bersama Abi." jawab Ummi.
"Ini Rizky ada bawa kue." ucap Bang Rizky.
"Oh, ayo di makan, Ummi juga mau." ajak Ummi.
"Iya." jawab Bang Rizky.
Bang Rizky, Ummi dan Abi duduk di depan TV. Aku pergi ke belakang untuk memberikan kue pada Bi Sumi.
"Bi, ini ada kue buat Bibi, Jihan, Chaca, Pak ujang dan Mang Jaja." ucapku sambil menyodorkan bungkusan kue.
"Terima kasih, Nyonya Muda." ucap Bi Sumi lalu meraih bungkusan kue tersebut.
Bi Sumi memberikan beberapa kue pada Pak Ujang dan juga minta tolong untuk memberikannya pada Mang Jaja di depan.
Setelah memberikan beberapa kue untuk Jihan dan Chaca, Bi Sumi masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan aku masuk ke dalam kamar Jihan dan Chaca. Aku ingin ngobrol lagi dengan Jihan.
"Jihan, hari ini di kampus bagaimana? Masih di ganggu?" tanyaku.
"Masih, Nyonya Muda. Saya sudah meminta Firman untuk tidak mengganggu saya tapi..." ucapan Jihan terputus.
__ADS_1
"Tapi apa, Han?" tanya Chaca.
"Tapi Kanaya bilang selama Firman masih menyukai saya, selama itu juga dia akan terus membenci saya." jawab Jihan.
"Oh, sepertinya makin rumit." ucapku.
"Kanaya salah faham pada Firman." ucap Jihan.
"Salah faham bagaimana maksudnya?" tanyaku.
"Kanaya mengira Firman adalah anak pengusaha. Padahal Firman hanya anak angkat." jawabku.
"Jadi maksudnya Kanaya menyukai Firman karena statusnya sebagai anak pengusaha?" tanya Chaca.
"Jihan juga tidak tau pasti, Kak. Firman yang bilang seperti itu." jawab Jihan.
"Kamu yang sabar ya menjalaninya. Kalau Kanaya berani main tangan sama kamu, jangan segan-segan untuk mengatakannya pada kami." ucapku dengan lembut.
"In syaa Allah, Nyonya Muda." jawab Jihan.
"Aura.... Aura....." terdengar suara Bang Rizky memanggil-manggil namaku di dapur.
"Sepertinya Tuan Muda mencari Nyonya." ucap Chaca.
"Iya. Saya pergi sekarang, ya. Kalian berdua istirahat saja." ucapku.
"Baik, Nyonya Muda." jawab Jihan dan Chaca secara bersamaan.
Lalu aku keluar dari kamar Jihan dan langsung ke dapur untuk menemui Bang Rizky.
"Bang Rizky." sapaku setelah aku berada dibelakangnya.
"Aura dari mana?" tanyanya.
"Dari kamar Jihan dan Chaca. Tadi ngobrol sebentar." jawabku.
"Oh, sudah selesai ngobrolnya?" tanya Bang Rizky lagi.
"Sudah." jawabku sambil mengangguk.
"Kalau gitu ayo kita ke kamar, Abang sudah ngantuk." ajaknya.
"Iya." sahutku.
Bang Rizky menggandeng tanganku hingga masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di kamar, Bang Rizky langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok gigi dan berwudhu' sebelum tidur. Setelah Bang Rizky selesai, gantian denganku.
"Minggu depan Abang libur 3 hari. Aura mau pulang ke kampung tidak?" tanya Bang Rizky saat kami berdua sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Alhamdulillah. Mau Bang, mau banget." jawabku sumringah sambil memegan tangannya.
"Hehe." Bang Rizky tertawa kecil.
"Kalau begitu besok pagi Aura akan bilang pada Ibu kalau kita akan ke kampung minggu depan." ucapku.
"Iya." sahut Bang Rizky.
"Aura mau minta Ibu masakkan lauk kesukaan Aura, hee." ucapku sambil membayangkan sayur asam ikan nila.
"Iya, sekarang istrihat ya. Sudah malam." pinta Bang Rizky.
__ADS_1
Aku mengangguk lalu masuk ke dalam pelukannya. Tempat terbaik bagi seorang istri adalah berada di sisi suami. Dan bantal ternyaman adalah bahu suami. Hehe.