
Pov Aura.
Beberapa bulan sudah berlalu sejak Kak Mea dan Bang Rafli tiba-tiba datang ke rumah.
Aku dan Ibu belum ada mendengar kabar terbaru dari mereka. Ibu juga tidak mau menghubungi Kakakku, kata Ibu biarkan mereka berdua mandiri dulu, Ibu tidak mau terlalu dalam ikut campur urusan rumah tangga anak dan menantunya.
Ibu yakin, jika nanti ada apa-apa, Kak Mea pasti akan menghubungi kami. Lagi pula di sana ada Ayah mertua yang selalu membelanya. Hati Ibu jadi merasa lebih tenang. Tapi tetap saja rasa rindu semakin lama semakin besar.
"Bu, Adik kangen sama Kak Mea. Bagaimana kabarnya sekarang ya, Bu?" ucapku saat sedang menonton TV bersama Ibu.
"Ibu juga kangen, Nduk. Tapi Kakak belum ada memberi kabar apa-apa. Kemarin sebelum dia pulang, Ibu sudah pesan 'Kabarin Ibu jika sudah pindah ke rumah baru,' tapi sekarang masih belum ada menelepon." ucap Ibu panjang lebar menjelaskan. Rasa khawatir terpancar dengan jelas di wajah Ibu.
"Apa kita telepon Bang Rafli saja, Bu?" ucapku coba membangkitkan semangat Ibu.
"Jangan, Dik. Ibu masih sebal sama dia." jawab Ibu.
"Iya sih, Bu. Adik juga masih sebal sama dia. Jadi laki-laki tidak bisa tegas." ucapku ketus.
"Hurmm." Ibu menghela nafas.
Memang sejak saat itu, aku dan Ibu jadi kurang suka terhadap Bang Rafli. Tapi jika nanti sifatknya berubah, mungkin aku dan Ibu bisa menghargainya lagi. Sebagai seorang menantu dan Abang ipar.
Malam hari, saat aku sedang rebahan di kamar.
Drt.. Drt.. Drt... Handphoneku berdering pertanda ada panggilan masuk.
Aku langsung meraih gawaiku dan aku lihat ada sebuah panggilan dari unknown caller.
Karena aku tidak suka menjawab telepon dari unknown caller, aku abaikan saja panggilan tersebut.
Lalu masuk sebuah message dari nomor asing barusan.
"Dik, ini nomor Kakak." tulisnya. "Wah, ini pasti Kak Mea." gumamku dalam hati.
Aku langsung beranjak dari katilku dan mencari Ibu.
"Ibuuuuu... Kak Mea nih, Bu." ucapku sedikit berteriak.
"Mana?" tanya Ibu penasaran.
"Sebentar, Bu. Adik telepon dulu." ucapku. Lalu aku membuat panggilan.
__ADS_1
Tuutt... Tuutt... Tutt... Pertanda panggilan tersambung. Aku dengan sabar menunggu hingga si empunya nomor menjawab panggilan dariku.
"Halo, Assalamu'alaikum." sahut seseorang dari seberang sana. Suara ini sangat familiar. Tak salah lagi, ini adalah suara emas Kakakku.
"Wa'alaikumussalam, Kak Mea." ucapku. Ada perasaan haru di dalam hatiku, mungkin karena sudah lama tidak mendengar suaranya.
"Iya, Dik." sahutnya. Aku lalu menyerahkan gawaiku pada Ibu.
Aku lihat mata Ibu sudah berkaca-kaca ketika mendengar suara putri sulungnya. Mungkin rasa rindu seorang Ibu terhadap anak, berbeda dengan rasa rindu seorang Adik terhadap Kakak.
Rasa seperti itu hanya akan bisa aku mengerti suatu hari nanti, jika aku sudah berada di posisi itu. Menjadi seorang Ibu.
"Ibu kangen, Kak." ucap Ibu, butiran-butiran bening itu kini sudahpun mengalir di kedua pipi Ibu yang sudah mulai keriput.
"Sama, Bu. Mea juga kangen sama Ibu, kangen sama Adik." ucapnya.
"Iya, Kak. Adik juga kangen nih. Ini Kakak pakai nomor handphone siapa, Kak?" Tanyaku.
"Ini nomor handphone Kakak. Di save ya." jawabnya.
"Ok, Kak." sahutku.
"Mea sekarang sudah boleh pakai handphone, Nak?" tanya Ibu.
"Wah, HP baru. HP yang lama kemana, Kak?" tanyaku.
"Sudah rusak. Karena sudah lama tidak digunakan. Jadi sudah tidak bisa di cas lagi." jawabnya.
"Oh, sayangnya." sahutku.
"Mea sekarang di mana?" tanya Ibu.
"Alhamdulillah Mea dan Bang Rafli sudah pindah ke rumah baru, Bu. Sudah seminggu." jawabnya.
"Alhamdulillah." ucapku dan Ibu serentak.
"Farhan bagaimana kabarnya, Nak?" tanya Ibu.
"Alhamdulillah baik, Bu." jawab Kak Mea.
"Ibu bahagia mendengar Mea sudah pindah ke rumah baru. Apa lagi sekarang Mea sudah di beri izin menggunakan handphone. Pasti sikap Rafli sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya kan, Nak?"
__ADS_1
"Iya, Bu. Mea juga sangat bersyukur sekarang sudah tidak tinggal dengan Mama lagi. Jadi Mama sudah tidak bisa lagi mengatur-ngatur Bang Rafli. Kalau dulu Mama selalu ikut campur dengan rumah tangga kami, Bang Rafli jadi tidak bisa mandiri dan tidak bisa membuat keputusan sendiri. Dulu Mea tidak diizinkan Bang Rafli main HP juga karena usulan dari Mamanya." ucap Kak Mea panjang lebar.
"Iya, Nak. Yang sudah berlalu tidak usah di bahas lagi. Yang penting sekarang Mea sudah menjalani hidup yang jauh lebih baik dari sebelumnya." ucap Ibu.
"Iya, Bu. Alhamdulillah. Sekarang Mea sudah bisa sering-sering telepon Ibu dan Aura."
"Iya, Ibu sangat bersyukur."
"Rumah Kakak jauh tidak dari rumah orang tua Bang Rafli?" tanyaku.
"Tidak terlalu jauh. Masih satu kompleks." jawab Kak Mea.
"Mertua Kakak sering datang?" tanyaku lagi.
"Tidak, sekarang Mama di rumah sudah ada yang menemaninya. Anisa sudah lulus kuliah, jadi dia bisa menemani Mama di rumah." jelas Kak Mea.
"Oh, Anisa Adiknya Bang Rafli ya, Kak?"
"Iya." jawabnya.
"Mea tidak merasa kerepotan mengurus rumah sambil menjaga Farhan?" tanya Ibu.
"Sebenarnya repot, Bu. Jadi Bang Rafli mengusulkan kalau pakaian di cuci dan di setrika sama Bi Jumi."
"Owh, begitu. Bi Jumi itu datang ke rumah?" tanya Ibu lagi.
"Iya, Bu. Dalam seminggu Bi Jumi datang dua kali." jawab Kak Mea.
"Alhamdulillah, roda kita sudah berputar. Dulu kita yang mencuci dan sterika pakaian tetangga. Sekarang Kak Mea malah memiliki Bi Jumi untuk mencuci dan setrika pakaiannya, hehe." ucapku dan tersenyum bahagia.
"Iya, Alhamdulillah. Apalagi Bi Jumi baik banget. Kalau sudah selesai mencuci dan menyetrika, dia pasti akan memasak lauk untuk Kakak sebelum pulang." jelas Kak Mea.
"Alhamdulillah, Nak. Ibu ikut bahagia buat Mea. Sekarang Ibu sudah tidak perlu cemas lagi." ucap Ibu bahagia.
"Iya, Bu. Alhamdulillah." sahut Kak Mea yang dari nada bicaranya juga terdengar bahwa dia merasa sangat bahagia.
"Adik juga ikut bahagia, Kak." timpalku.
Sesulit apapun kehidupan yang kita jalani saat ini, pasti Allah sudah menyiapkan hikmah di sebaliknya. Percayalah pada-Nya, bahwa kebahagiaan yang telah disiapkan-Nya bahkan jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan.
Berharap kepada Allah dan berserah kepada Allah adalah keputusan yang tepat dan tidak akan sia-sia.
__ADS_1
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.S.Al-Baqarah ayat 153).
Akupun percaya bahwa kebahagiaan yang telah Allah siapkan untukku pastilah luar biasa. Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi, hingga aku menghampiri kebahagiaanku yang hakiki.