Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Meet up


__ADS_3

"Ting!" gawaiku berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk di aplikasi berwarna hijau.


Setelah aku melipat sejadah dan melipat mukena, aku segera meraih ponselku.


"Assalamu'alaikum, Aura." tulisnya.


"Wa'alaikumussalam. Iya, Cha." balasku. Icha juga teman baikku yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Jika mengendarai sepeda motor, mungkin hanya memakan waktu lima belas menit.


"Besok ada waktu tidak? Icha pingin ketemu sama Aura. Di pantai ya, habis Ashar."


"Oh, in syaa Allah bisa, Cha. Besok kalau sudah sampai pantai, kabari Aura ya."


"Iya, Ra." ucapnya.


"Btw, ada gerangan apa, Cha? Kenapa tiba-tiba pingin ketemu sama Aura?" tanyaku.


"Besok juga Aura bakalan tau." jawabnya.


"Oh, ya sudah deh."


"See you tomorrow, Ra."


"In syaa Allah, Cha." ucapku.


Tidak ada yang aneh sih kalau tiba-tiba Icha ngajak ketemuan. Kita memang sudah lumayan lama tidak bertemu. "Atau jangan-jangan, Icha mau memberi undangan pernikahan." fikirku.


***


"Assalamu'alaikum, Cha. Jadi hari ini meet up?" tanyaku setelah aku selesai melaksanakan sholat ashar empat rakaat.


"Wa'alaikumussalam. Jadi, Icha sudah mau on the way." jawabnya.


"Ok, kalau begitu Aura juga keluar sekarang."


"Baik, Ra." jawabnya.


Sebelum keluar rumah, aku akan pamitan terlebih dahulu pada Ibu. Agar nanti Ibu tidak bingung mencariku.


"Bu." ucapku sambil menghampiri Ibu yang sedang duduk di kios.


"Iya, Dik." jawab Ibu.


"Aura keluar sebentar ya, Bu."


"Mau ke mana?"


"Mau ke pantai, Icha ngajak ketemuan."


"Oh, ya sudah. Pulangnya jangan lewat maghrib." pesan Ibu.


"Baik, Bu. Aura pamit ya, Bu. Assalamu'alaikum." ucapku.


"Wa'alaikumussalam." sahut Ibu.


Perjalanan dari rumahku menuju pantai tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit. Aku juga hanya jalan kaki, tidak mengendarai sepeda motor.


Sesampainya di pinggir pantai, aku duduk di atas sebuah batu yang cukup besar. Aku tatap air yang mengalir, tenang dan tidak deras.


Terakhir kali aku ke sini bersama Luna. Setelah itu, kami tidak pernah lagi jalan-jalan di sini.


"Assalamu'alaikum, Ra." sapa Icha yang langsung duduk disebelahku.


"Wa'alaikumussalam. Eh, sudah sampai, Cha." sahutku.


"Iya, Ra. Kamu sudah lama menunggu?"


"Em, sekitar lima belas menit gitu." jawabku.


"Maaf ya. Icha telat, Aura jadi menunggu lama deh."


"Tidak apa-apa, santai saja, hehe." jawabku.


"Oh iya, Ra. Rizky ada nelpon kamu?"


"Hah? Rizky? Kamu kenal, Cha?"


"Iya, Rizky itu temen Icha."


"Oh, begitu."


"Iya, ada menelepon tidak?"


"Ada, banyak malah. Tapi tidak Aura jawab telponnya."


"Loh, kenapa begitu?"


"Karna Aura tidak kenal sama dia."


"Iya juga ya. Tapi ada chat juga kan?"


"Ada. Tapi tidak Aura balas, hehe."


"Waduuuhh, sombing amat, Ra. Hahaha." ucapnya sambil tertawa dan menutup mulutnya dengan tangan kanan.


"Sombing apaan, Cha? Haha." tanyaku yang juga tertawa.


"Sombong maksudnya, Ra. Supaya Aura tidak tersinggung, jadi kalimatnya Icha plesetin." jawabnya.


"Tersinggung? Tidak semudah itu Markonah. Hahahaha."


"Ini Icha, bukan Markonah. Hehe."


"Iya, i know. Bay the way, kenapa Icha memberi nomor Aura sama si Rizky itu?"


"Karena katanya dia lagi nyari calon istri, kalau bisa yang sholehah. Jadi Icha rekomendasiin Aura ke dia." jawabnya pelan.


"Oh, gitu." jawabku singkat.


"Iya, Ra. Maaf ya, tidak minta izin dulu sama Aura."


"Iya, tidak apa-apa, sudah terjadi. Tapi seharusnya sebelum memberikan nomor HP seseorang, sebaiknya Icha minta izin terlebih dahulu sama pemiliknya. Supaya tidak terjadi kesalah fahaman."


"Iya, Icha minta maaf banget ya, Ra." ucapnya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.

__ADS_1


"Tidak usah terlalu dramatis deh, biasa saja. Hehe." ucapku cengengesan dan menurunkan tangannya.


"Kalau sama orang lain, pasti Icha sudah dimarahi."


"Makanya, berfikir dulu sebelum bertindak. Supaya tidak ada yang kesal."


"Baik Bu Ustadzah."


"Oh ya, tujuan Icha ngajak meet up di sini cuma mau ngomongin Rizky?"


"Tidak, Ra. Ada yang jauh lebih serius dari itu." ucapnya mulai serius.


"Serius amat wajahnya, Cha. Aura jadi deg degan deh, ehehe." ucapku sambil cengengesan.


"Karna ini memang masalah serius, Ra."


"Oh, ok." ucapku sambil menganggukkan kepalaku.


"But, wait, Ra."


"Ada apa?"


"Ayo ke warungnya Nek Ijah, kita ngobrol di sana aja sambil minum es kelapa." ajaknya.


"Ayo, sudah lama juga sih Aura tidak minum es kelapa." jawabku penuh semangat.


Lalu kami berdua beranjak dari atas batu besar yang kami duduki. Berjalan menuju warung Nenek.


Sesampainya di warung Nenek, kami duduk berhadapan dan langsung memesan dua buah es kelapa.


"Nek, kami pesan es kelapa dua ya, Nek." ucap Icha pada Nenek.


"Iya, Nduk." sahut Nenek.


"Jadi begini, Ra. Karna Aura yang lebih faham tentang Agama, Icha mau minta nasehat atau masukan dari Aura."


"Tentang apa itu, Cha?" tanyaku yang sudah mulai serius mendengarkan Icha.


"Ada seorang teman lama yang melamar Icha."


"Wah, Alhamdulillah. Congratulation, Cha." ucapku sambil mengulurkan tanganku.


"Ih, apaan sih, Ra. Pake acara salaman segala. Memangnya acara wisuda. Hehe." ucapnya dan menepuk tanganku pelan.


"Kenapa? Memangnya tidak boleh salaman? Hehe."


"Boleh, tapi nanti saja di acara pernikahan kita. Haha."


"Oh iya, Aura kenal tidak sama orangnya?"


"Kenal donk. Bang Abdul." jawabnya.


"Oh, bang Abdullah senior Icha di sekolah pondok?" tanyaku.


"Senior kita, bukan cuma senior Icha." jawabnya.


"Iya, hehe."


"Minggu lalu dia datang ke rumah untuk melamar Icha. Orang tua Icha sih setuju, tapi Icha belum bisa memberikan jawaban padanya."


"Iya, karena dia baik makanya Icha jadi merasa tidak pantas buat dia. Icha takut buat dia kecewa, takut tidak bisa jadi seperti yang dia harapkan. Dia juga belum tau sifat Icha itu seperti apa."


"Em, memangnya sebelum dia datang melamar, kalian tidak pernah kontekan? Tidak pernah chatting?" tanyaku lagi.


"Pernah, tapi cuma beberapa kali. Dari messenger." jawabnya.


"And then?" tanyaku lagi.


"Dia bilang kalau waktu itu dia sholat istikharah beberapa kali. Dan tiga kali mimpiin Icha."


"Waw, terus isi mimpinya bagaimana?" tanyaku antusias.


"Pertama, dia mimpi berdiri di depan pintu. Kemudian dia ketuk pintu itu, setelah dia ketuk pintunya, dia buka. Di dalam ada Icha yang sedang duduk, masih memakai jilbab." jelasnya


Aku hanya menganggukkan kepalaku dan mendengarkan Icha dengan seksama.


Tiba-tiba Mba Jannah datang membawakan pesanan kami. Mba Jannah adalah cucu Nenek yang selalu membantu Nenek berjualan di warung.


"Ini, Dik. Es kelapanya. Selamat menikmati." ucapnya.


"Iya, Mba. Terima kasih." ucapku dan Icha secara bersamaan.


"Kalau ada yang mau di pesan lagi, bilang ya." ucap Mba Jannah.


"Baik, Mba." sahut Icha.


Setelah itu Mba Jannah pergi meninggalkan kami.


"Lanjutin ceritanya, Cha." pintaku pada Icha yang tengah asik menyeruput es kelapa miliknya.


"Sebentar, Ra. Tenggorokan Icha seret nih, dari tadi ngomong mulu, hehe." ucap Icha sambil cengengesan.


"Iya juga ya. Maaf, Cha. Habisnya Aura penasaran sama kelanjutannya."


"Iya, tidka apa-apa. Bay the way, tadi sampai mana? Icha lupa, hehe."


"Icha tadi masih ceritain mimpi yang pertama." jawabku.


"Oh iya. Mimpi yang kedua, Bang Abdul berdiri lagi di depan pintu itu. Sama seperti mimpi yang sebelumnya, dia ketuk pintunya dan dia buka. Di dalam ada Icha yang sedang duduk, masih memakai jilbab."


Aku menganggukkan kepalaku sambil menyeruput es kelapa yang ada di hadapanku. Icha pun menyeruput miliknya.


"Yang ketiga, Bang Abdul berdiri lagi di depan pintu yang sama. Dia ketuk pintunya dan dia buka. Di dalam ada Icha yang sedang duduk, tapi sudah tidak memakai jilbab." lanjut Icha.


"Kemudian, Bang Abdul ada bilang apa lagi Cha? Dia memang sholat istikharah untuk Icha, ya?" tanyaku.


"Tidak, Ra. Bang Abdul tidak niat sholat istikharah buat memastikan Icha ini jodohnya apa bukan. Tapi memang jawaban sholat istikharahnya yang mengarah ke Icha." jelasnya.


"Ma syaa Allah. Bagus donk. Berarti memang Allah memberi petunjuk pada Bang Abdul kalau Icha jodohnya dia." sahutku.


"Iya, Bang Abdul juga bilang begitu sama Icha. Dia sudah tanya sama Ustadz tentang mimpi itu. Dan Ustadznya bilang mungkin Icha jodoh yang sudah di pilihkan Allah untuk dia."


"Ma syaa Allah, keren." ucapku histeris.

__ADS_1


"Biasa saja donk, Ra. Nanti orang lain mengira ada apa-apa kalau Aura histeris begitu."


"Oh iya, sorry. Aura terlalu semangat, hehe." ucapku malu. "Lalu apa yang membuat Icha masih belum menerima lamarannya Bang Abdul?" tanyaku.


"Ntah kenapa, masih ada perasaan yang mengganjal." jawabnya.


"Apa yang mengganjal?" tanyaku lagi.


"Lilian pernah cerita sama Icha, kalau dia suka sama Bang Abdul." jelasnya.


"Oh, itu masalahnya."


"Iya, Ra."


"Em, Icha sudah sholat istikharah?"


"Sudah, ada beberapa kali setelah Bang Abdul datang ke rumah."


"Lalu hasilnya bagaimana?"


"Rasanya Icha mantap ingin menikah dengan Bang Abdul, Ra. Tapi Icha merada tidak enak sama Lilian." ucapnya pelan.


Seketika itu suasana berubah menjadi hening dan sunyi. Kami berdua menyeruput es kelapa dengan perlahan, bahkan hampir tak bersuara. Banyak kata yang bermain dalam fikiranku, tapi bingung bagaimana cara mengungkapkannya.


"Cha." ucapku pelan.


"Iya, Ra." jawabnya.


"Kalau Bang Abdul sudah yakin mau menikah dengan Icha, begitupun sebaliknya. Icha juga sudah yakin dan merasa mantap untuk menikah dengan Bang Abdul. Kenapa harus memikirkan Lilian? Yang menjodohkan kalian berdua adalah Allah. In syaa Allah, Allah pasti punya rencana untuk membuat lilian ikhlas. Icha cukup bantu do'a, do'akan Lilian ikhlas dan tidak salah faham sama Icha." ucapku panjang lebar.


"Iya sih, Ra. Tapi kalau nanti Lilian berfikir Icha teman makan teman bagaimana, Ra?"


"Icha jelaskan pelan-pelan sama Lilian. Kalau nanti dia tidak percaya sama Icha, in syaa Allah, Aura siap untuk membantu." ucapku dan tersenyum padanya.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak ya, Ra." ucapnya bersemangat.


"Iya, don't worry. Kita kan sahabat."


"Icha memang tidak salah curhat sama Aura. Icha yakin Aura memang tempat curhat yang tepat." ucapnya.


"Ah biasa saja, hehe." ucapku dan tertawa kecil.


"Ayo habiskan esnya, sudah mulai mencair." ucap Icha.


"Iya." sahutku.


"Oh ya, Ra. Kalau Rizky chat lagi, di balas ya. Rizky juga orang baik." gumam Icha padaku setelah ia selesai menghabiskan es kelapa yang ada di hadapannya.


"Lihat nanti deh, Cha."


"Memangnya kenapa, Ra? Kamu sudah punya pilihan?" tanya Icha.


"Belum sih. Kemarin sempat ada yang mau serius. Tapi akhirnya malah jadi salah faham karena Aura menolak dia." jawabku coba menjelaskan.


"Cara kamu menolaknya bagaimana?" tanya Icha lagi.


"Awalnya dia sholat istikharah, lalu hasilnya baik. Hal itu membuat dia jadi semakin yakin untuk mempersunting Aura. Tapi giliran Aura yang sholat istikharah, perasaan Aura jadi hambar. Aura juga jadi tidak yakin mau menikah sama dia." jelasku pada Icha.


"Lalu?"


"Dia tidak terima dengan keputusan Aura. Dia anggap sholat istikharah itu cuma kedok doank. Dia bilang Aura munafik." gumamku pelan.


"Astaghfirullah. Segitunya dia." ucap Icha. Ia kaget dan membelalakkan kedua bola matanya.


"Iya. Karena itu Aura jadi malas mau kenal lagi sama orang baru. Takut nanti hal itu terulang lagi."


"In syaa Allah, Rizky tidak seperti itu. Nanti Icha beri pengertian terlebih dulu sama Rizky. Agar nanti dia bisa legowo kalau misalnya tidak berjodoh sama Aura."


"Iya, Cha. Terserah kamu saja gimana baiknya. Tapi bilang sama Rizky, jangan chat Aura dalam waktu dekat ini. Aura belum siap." pintaku.


"Ok. Nanti Icha sampaikan sama Rizky."


"Oh ya, Cha. Sudah mau maghrib nih. Ayo pulang." ajakku.


"Iya juga ya. Keasikan ngobrol nih kita, jadi tidak ingat waktu. Hehe." ucapnya.


"Iya, hehe. In syaa Allah kapan-kapan kita ketemuan lagi ya."


"Siiippp. Do'akan Icha ya, Ra. Semoga bisa bahagia bersama Bang Abdullah."


"Aamiin Allahumma Aamiin. Pasti itu, pilihan Allah tidak pernah tidak baik." ucapku sambil tersenyum manis padanya.


Setelah membayar es kelapa pada Mba Jannah, kamipun pulang ke rumah masing-masing. Aku jalan kaki sedangkan Icha mengendarai sepeda motor.


Sesampainya di rumah. Aku buka chat Rizky, lalu aku save nomor HPnya.


"Ternyata aku masih punya PR. PR untuk memilih antara Rizky dan Arfa." gumamku dalam hati.


Setelah aku menolak Ryan, Arfa masuk dalam hidupku. Sama seperti Rizky, aku belum memberikan respon pada Arfa.


Mereka berdua memang orang baik-baik. Tapi sekali lagi aku tegaskan, aku hanya akan menikah dengan pria yang di pilih oleh Allah.


"Dik, sudah Adzan tuh, buruan sholat. Nanti gantian sama Ibu." ucap Ibu dan membuyarkan lamunanku.


"Eh, iya, Bu."


"Adik melamun apa?" tanya Ibu.


"Tidak ada, Bu. Cuma agak pegal daja kakinya habis jalan, hehe." jawabku.


"Oh. Ya sudah, buruan wudhu."


"Baik, Bu." sahutku lalu segera pergi ke kamar mandi.


Setelah selesai berwudhu', aku tunaikan sholat maghrib tiga rakaat dan di tambah sholat rawatib dua rakaat. Kemudian aku pergi menghampiri Ibu.


"Bu, Adik sudah selesai sholat." ucapku.


"Adik di sini ya jaga kios." pinta Ibu.


"Iya, Bu. Ibu sholat saja dulu."


"Iya." ucap ibu.

__ADS_1


Setelah ibu pergi meninggalkan aku di kios. Aku meraih gawaiku dan mebuka aplikasi Al-Qur'an. Lalu aku baca beberapa halaman. Seketika itu aku bisa melupakan masalah jodoh yang sedang aku hadapi.


__ADS_2